Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
23. Amygdala


Archi pun pulang ke rumah setelah lelah mengantri. Dia begitu cemas berjalan menuju ke kamarnya. Kemeja dan pakaian lain yang di pakai Agust berada di kolong tempat tidur.


"Kamu benar-benar berubah jadi kucing?" tanya Archi menggendong kucing putih.


"Meeoong...!" sahut kucing itu.


"Jadi kamu sudah bisa mengenali tandanya kalau kamu mau berubah?" tanya Archi lagi.


""Meeoong...!" sahut kucing itu lagi.


"Haduuuh... Kacau deh!" keluh Archi menaruh kucing di atas tempat tidurnya. "Lama nggak ya kamu berubahnya?" tanya Archi yang lagi-lagi di jawab meong oleh kucing itu.


"Huh....Meong meong doang!" protes Archi kesal.


"Aku mau jawab apa lagi, masa aku harus menggonggong tapi aku kan bukan anjing," batin Agust.


"Coba aku bisa bahasa kucing," harap Archi.


"Sebaiknya jangan, nanti kamu bisa mendengarku mengumpat kepadamu. Lalu kamu akan mengembalikan aku ke kolong jembatan," sahut batin Agust.


"Archi...Kakak...!" terdengar panggilan Ibu dari lantai bawah.


"Itu ibu, aku ke bawah dulu," ujar Archi pergi ke lantai bawah.


"Archi..., apa ada tamu tadi?" tanya Ibu menunjuk gelas dan cemilan di atas meja.


"Nggak tahu bu, aku juga baru pulang dari luar sama Agust," jawab Archi. Dia tidak menyadari ada gelas dan cemilan itu di meja saat masuk tadi. Karena dalam pikirannya hanya mengkhawatirkan Agust yang akan berubah menjadi kucing.


"Kakakmu mana?" tanya Ayah yang sedang duduk bersandar dengan nyaman di sofa.


"Di kamar mungkin," jawab Archi.


"Coba kamu lihat dan tanya kepadanya!" perintah Ibu. Archi pun kembali ke lantai atas dan menuju kamar Kakak.


"Kakak tidur," jawab Archi yang sudah kembali ke bawah setelah mengecek kamar Kakak.


"Ya sudah, nanti saja tanyanya," sahut Ibu sambil merapihkan gelas ke dalam nampan. "Kamu dan Agust sudah makan?" tanya Ibu.


"Sudah," jawab Archi berbohong. "Aku ke atas lagi ya Bu? Aku mau menghabiskan hari Mingguku dengan istirahat," pamit Archi.


"Ya sudah!" jawab Ibu sambil berjalan membawa nampan ke dapur.


Di kamar Kakak....,


"Aku...?" Kakak membuka matanya setelah tidak sadarkan diri cukup lama. Kakak menggeserkan tubuhnya naik untuk duduk. Dia memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah.


"Kok aku bisa di kamar ya?" tanyak Kakak merasa bingung. Kepalanya masih terasa pusing karena efek obat. "Tadi aku sedang mengobrol dengan Jeremy di bawah, lalu...," meski kakak mencoba mengingat namun hanya itu yang bisa kakak ingat.


"Aneh..., kenapa aku bisa di kamar? Dan Kapan Jeremy pulang?" Kakak bertanya-tanya sendiri tidak mengerti.


Dia meraih handphone-nya di atas nakas dan mengirimkan pesan ke nomor Jeremy. Namun tidak mendapatkan jawaban.


Tok...tokkk....


Pintu kamar Archi di ketuk. Namun yang punya Kamar tidak mendengarnya karena memakai airpods di telinganya memutar lagu Haegeum by Agust D dengan volume yang lumayan kencang memekakkan telinga.


"Archi...!" panggil Ibu dengan nada tinggi dan menarik airpods dari telinga Archi.


"Ibu...!" Archi gelagapan bangkit dari rebahannya. "Kok Ibu nggak mengetuk dulu," gerutu Archi.


"Ibu mengetuk...tetapi kamu nggak denger karena pakai ini...," Ibu memasang earphone di telinganya dan segera menjauhkan dari telinganya lagi setelah mendengar suara kencang di sana.


"Agust mana?" tanya Ibu melihat sekeliling kamar.


"Dia..., aku tadi menyuruhnya membeli obat mual ke apotik depan komplek," jawab Archi.


"Haduuh... Dari sekian banyak penyakit kenapa aku menyebutkan mual?" tanya hatinya.


"Kamu mual?" tanya Ibu mulai khawatir.


"Eu..., Agust yang mual," jawab Archi.


"Kalau Agust yang mual kenapa kamu menyuruhnya ke apotik sendiri? Bukannya kamu aja yang beli,"


"Maksudku aku yang mual,"


"Gimana sih? Tadi kamu bilang Agust yang mual sekarang kamu yang mual. Jadi siapa yang mual?" tuntut Ibu kesal.


"Kami berdua,"


"Ya ampun kamu itu...!" geram Ibu seolah hendak memakan Archi. "kalau dia kembali, kalian pergi ke bawah untuk makan malam,"


"Iya Ibu," Ibu keluar dari kamar Archi.


"Bagaimana ini? Dia masih menjadi kucing!" Archi mulai cemas karena tidak mungkin dia membawa kucing ke meja makan.


Archi menyibakkan selimut yang menutupi kucing putih yang sedang tidur.


"Kenapa di saat seperti ini kamu masih bisa tertidur pulas?" rengek Archi memeluk kucingnya. Kucing itu mengeluarkan suara dengkuran khas kucing dengan mata masih terpejam dan menikmati tidurnya.


Archi merebahkan sisi kepalanya di tempat tidur, berhadapan dengan wajah kucingnya.


"Gimana cara kita keluar sekarang?" tanyanya merasa putus asa.


Dia takut Agust akan lama menjadi kucing seperti yang terjadi sebelumnya. Dia pun tidak ingin bila harus bersembunyi lagi dengan keadaaan seperti ini. Rasanya lelah dan mendebarkan saat dia harus bohong dan berpura-pura menutupi semua ini.


Pikirannya melayang terlalu jauh dan meratapi nasibnya kini yang harus jadi seperti ini. Menikah dengan manusia setengah kucing dan harus menjaga rahasia suaminya agar tidak terjadi kehebohan di tengah keluarga.


Samar-samar suara lagu Amygdala by Agust D terdengar dari airpods Archi di atas tempat tidur. Membuat kesedihan itu semakin nyata terasa di hatinya.


Hal-hal yang tidak kuinginkan


Hal-hal yang diluar kendaliku


Masukan satu per satu


Aku tidak tau namamu, namamu, namamu


...........


Amygdala-ku (amygdala-ku)


Cepat selamatkan aku, cepat selamatkan aku


Cepat keluarkan aku, cepat keluarkan aku


Selamatkan aku dari tempat ini, cepat keluarkan aku eh


Terjemahan dari setiap lirik lagu itu terputar di otak Archi beriring dengan suara Agust D saat menyanyikan nya.


Lengan Archi masih melingkari tubuh kucing itu. Memeluknya erat dengan linangan air mata yang seolah tidak akan surut. Sampai sebuah tangan kekar dengan urat-urat bersemburat di punggung tangan berkulit putih itu menghapus air mata Archi di pipinya.



Archi menegakkan wajahnya. Tangannya yang memeluk tubuh kucing meninggi sesuai ukuran tubuh manusia yang dia peluk.


Dengan air mata membanjiri matanya Archi sangat senang melihat wajah itu lagi. Wajah yang kini masih terbaring tersenyum menatapnya. Dengan tubuh bagian bawah tertutup selimut Agust setengah duduk di atas tempat tidur.


"Agust...!" Archi memeluk Agust erat sambil menangis lebih keras.


"Udah..., jangan nangis! Nanti disangkanya aku habis ngapa-ngapain kamu lagi," ledek Agust masih sempet bercanda.


"Kamu nggak tahu gimana cemasnya perasaanku kamu berubah lagi kucing... Tetapi syukurlah ini cuman sebentar," isak Archi.


"Mungkin ini karena air mata kamu," jawab Agust mengisyaratkan seperti kisah Beauty and the Beast. "Eh...aku nggak pakai baju loh nih!" kata Agust mengingatkan.


Archi yang menyadarinya segera melepaskan pelukannya dan membalikkan badan.


"Kenapa nggak ngomong dari tadi sih?" sungutnya.


"Kamu aja yang betah meluk aku," jawab Agust.


"Idiiih...!" ketus Archi.


Setelah berpakaian Archi dan Agust turun ke lantai bawah dan menuju ruang makan.


"Kamu udah pulang, Agust?" tanya Ibu terlihat terkejut.


"Sudah Ibu Mertua," jawab Agust sambil duduk di kursinya sebelah Kenji seperti biasa. Mereka tos ala anak gaul.


"Ibu nggak ngeliat kamu masuk tadi," heran Ibu.


"Aku lewat jendela atas," gurau Agust.


"Apa?"


"Nggak Ibu Mertua, mungkin Ibu sedang sibuk di dapur tadi,"


"Oh mungkin,"


Kakak datang bersama Ayah yang jalan di depannya. Mereka duduk di kursi masing-masing.


"Tadi kamu menerima tamu Levi?" tanya Ibu.


"Iya bu," jawab Kakak.


"Siapa?" tanya Ayah.


"Jeremy," jawab Kakak.


"Pacar kamu itu?" tanya Ayah.


"Iya Ayah. Kalian juga kan sudah mengenal dia lama,"


"Kalian nggak ngapa-ngapain, kan?" intrograsi Ayah. "Karena di rumah nggak ada siapa-siapa tadi,"


"Ayah...!" gretak Kakak. "Memangnya aku Archi yang bawa cowok ke kamar untuk tidur sama dia," sindir Kakak.


"Enak aja! Aku nggak pernah bawa cowo ke kamarku,!" sungut Archi.


"Lupa, ya? Itu di sampingmu hasil apa?" ujar Kakak menatap Agust sinis. Archi menoleh ke arah Agust. "Hasil gerebek!"


"Tapi kami memang nggak ngapa-ngapain kok, malam itu! Aku tahu ada dia aja nggak!" lawan Archi lagi.


"Munafik!"


"Udah... Udah..., kenapa kalian malah ribut sih? Kasian kan Kenji mendengarkan kalian," tegur ibu.


"Tapi memang benar kok, sampai sekarang aja aku nggak pernah ngapa-ngapain sama Agust walau kami satu ranjang," pikir Archi kesal selalu dituduh telah berhu*ungan int*m. Padahal hingga saat ini saja dia belum tau bagaimana rasanya ciuman dengan lawan jenis.


...****************...


Di suatu tempat, di sebuah rumah besar yang hampir menyerupai istana Buckingham kerajaan Inggris.


"Sudah kamu dapatkan rekaman itu?" tanya seorang pria berambut hitam di sisir klimis ke arah samping. Pria itu terlihat berusia di atas lima puluh tahunan. Wajahnya terlihat antogonis dengan tatapan tajam.



"Belum, Ayah," Jawab Jeremy menundukkan wajah berdiri di hadapan Ayahnya yang tengah duduk bersandar dengan gelas wine di tangannya.


"Payah!" hardik pria itu membanting gelas wine nya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Mengambil rekaman di rumah sekecil itu saja kamu nggak bisa!" lanjutnya.


"Temukan rekaman itu secepatnya," tuntut pria itu berdiri dari duduknya. "Sebelum rekaman itu di temukan orang lain dan membuat masalah untuk kita," sambung Ayah Jeremy berbicara bersebelahan dengan Jeremy namun wajahnya tetap menghadap ke depan.


"Baik, Ayah!" jawab Jeremy.


"Sial!" cela Jeremy kesal setelah Ayahnya keluar dari ruang kerja itu. "Kalau aku bilang aku gagal karena melihat hantu, tua bangka itu pasti lebih marah lagi kepadaku!"


...****************...