Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
CAT - 126


"Yoongi hyung nggak pernah dekat dengan wanita manapun selain Irene." dengan senang hati Ridwan bercerita untuk Archi.


Tanpa dia menyadari yang mendengarkan ceritanya tengah menahan rasa gejolak di hati nya yang terasa sesak oleh kesedihan.


"Sudah waktunya istirahat. Yuk ke kantin!" ajak Ridwan.


"Aku akan shalat dulu."


"Oh, ok. Aku juga kalau begitu." kata Ridwan menimpali dan berjalan di belakang Archi dengan senyum lebar.


Keluar dari ruangan Ridwan, manik Archi menangkap pemandangan kurang sedap yang membuat hatinya jadi bisa untuk memasak air hingga mendidih.


Di depan ruangannya, "Baiklah, atur jadwal itu selanjutnya." Agust tersenyum hangat kepada Irene yang tampak cantik mengenakan blouse putih yang membuat kulit putihnya semakin berkilau.


"Ini perlu di tandatangani," Irene menyodorkan map yang dengan segera ditandatangani Agust.


"Ayo!" Archi menggenggam tangan Ridwan dan berjalan cepat ke lift.


"Archi!" panggil Agust mengejar Archi.


"Kenapa kamu jalan sama dia?" cecar Agust melepaskan pegangan tangan Archi dan Ridwan dan mengganti dengan tangannya.


"Kenapa? Dia kan atasanku." jawab Archi acuh melepaskan genggaman tangan Agust.


"Halo...boleh aku bergabung?" tanya Irene tersenyum dengan cantiknya.


"Kak Irene. Tentu boleh."


"Kalian saja makan berdua. Aku akan makan bareng Archi." jawab Agust melihat sinis kepada Ridwan dari sudut matanya. "Ya kan Archi."


Archi tersenyum dipaksakan, "Tentu boleh Nona Irene. Silahkan makan bersama atasan anda."


"Archi!" tegur Agust.


"Aku mau shalat dulu Pak CEO."


"Aku juga mau shalat." jawab Agust.


"Aku juga mau shalat!" sahut Irene.


"Archi!" Susan dan yang lain pun datang.


Kemudian setelah mereka shalat, mereka berkumpul dalam satu meja.


"Ada yang bisa mengambilkan aku air hangat?" tanya Archi.


"Aku saja!" sahut Agust buru-buru bangun.


"Nggak, aku aja!" Ridwan beringsut bangun dan berjalan cepat.


Agust berlari menyusul, "Aku duluan!"


"Siapa yang akan menyangka kalau itu adalah CEO dan Manager HRD di perusahaan ini!" kata Susan takjub dengan ulah mereka berdua demi menyenangkan Archi.


"Kelakuan mereka kaya anak kecil." yang lain terkekeh senang.


"Ini Archi!" keduanya berhasil sampai di waktu bersamaan.


"Aku sampai duluan!" ribut mereka di meja menyodorkan gelas air hangat.


"Udah cukup! Berhenti bertengkar!" pekik Archi sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat.


"Archi pucat. Kamu sakit?" tanya Icha khawatir.


"Iya, kepalaku sakit sekali." kata Archi tampak lemas.


Agust yang duduk disisinya segera merangkul nya. Archi merebahkan kepalanya di dada Agust menahan rasa sakit di kepalanya.


Dua orang di meja itu terlihat sangat cemburu dengan kedekatan mereka.


"Minum air hangatnya dulu Archi." Agust membantu Archi minum.


"Kita ke klinik ya." kata Agust menawari. Archi mengangguk. Agust menuntun Archi berjalan dengan memeluknya.


"Mereka itu suami istri?" beberapa karyawan mulai bergosip.


"Iya, dia bukan Pak Yoongi. Dia hanya mirip. Namanya Agust Devano. dan dia sudah menikah." jelas seseorang yang lebih tahu.


"Kok bisa ya ada orang yang begitu mirip dengan Pak Yoongi?"


"Aku juga heran."


"Iya. Sepertinya dia cantik, tapi tidak beruntung." yang lain tertawa mengejek.


"Tetapi nyalinya lebih besar. Dia tetap mau bekerja bersama Pak CEO yang telah menikah."


"Hati-hati saja Pak Agust bisa direbut Nona Irene."


Di klinik...


"Kamu istirahat saja di sini ya." kata Agust menemani Archi yang tengah berbaring di tempat tidur pasien setelah diperiksa Dokter klinik.


"Aku nggak mau. Aku mau kerja aja."


"Archi jangan ngeyel deh. Aku akan menemani kamu di sini. Tenang saja." kata Agust menendangkan Archi seraya mengusap rambut Archi.


"Nggak usah. Posisi kamu di sini kan penting. Mereka pasti membutuhkanmu. Apalagi Asisten mu itu." sindir Archi tanpa mau melihat Agust.


"Jangan ngomong gitu Archi. Kamu kenapa sih? Masih saja cemburu sama Irene."


"Wajarlah. Dia kan tunanganmu. Dan lihat senyummu kepadanya."


Agust memanyunkan bibirny, "Ugh...ada yang lagi cemburu toh. Cemburunya ngegemesin lagi!" Agust mencubit pipi Archi.


"Sakit Agust!"


"Jangan cemburu terus dong. Percaya sama aku ya. Biasanya kalau terlalu cemburu bisa jadi kenyataan loh."


"Memang maunya kamu sih itu."


"Ih...salah lagi ngomongnya. Nggak kok Archi. Aku nggak mau sama Irene. Maunya sama kamu." ucap Agust.


"Aku mau kembali kerja." Archi mencoba bangun dibantu Agust.


"Kamu benar kuat?" tanya Agust sambil membantu Archi bangun.


"Iya. Jaga jarak sama Irene! Jangan tersenyum kepadanya!" larang Archi dengan tegas.


"Ya ampun...kasian anak orang, nanti disangkanya aku nggak menyukai dia."


"Jadi kamu suka sama dia?" pekik Archi jengkel.


"Eh...bukan gitu maksudnya. Nanti disangka dia, aku membenci dia." Agust meralatnya dengan terburu-buru.


"Ya biarin. Biar dia juga nggak kegatelan sama kamu."


"Iya ibu negara. Aku nurut aja deh. Daripada Archi ngambek, nanti aku nggak dikasih jatah malam Jumat. Berabe kalau puasa."


"Agust!"


"Hahaha...bercanda sayang."


"Ayo!" Agust merangkul lengan Archi.


Di dalam ruangan Ridwan.


"Kok kamu ke sini? Nggak istirahat aja Archi?" tanya Ridwan dengan khawatir.


"Aku udah mendingan kok setelah minum Paracetamol tadi."


"Kalau kamu nggak kuat nggak usah dipaksa ya Archi."


"Iya."


Kemudian saat keduanya sedang sibuk bekerja. Ridwan duduk di belakang meja kerjanya. Memeriksa email yang masuk. Hingga tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk berdenting dari handphone nya. Tanpa melepaskan pandangannya ke komputer di depannya, Ridwan mengambil handphone nya.


Ridwan melihat satu pesan dari nomor asing, berisi sebuah video. Ridwan tertarik untuk melihatnya. Dia pun beralih memandangi layar handphone nya saat video terputar.


Maniknya membesar seketika. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke layar untuk melihatnya lebih jelas.


"Ini Ayah dan Jeremy hyung. Dan ini...?" tidak yakin dengan yang dia lihat Ridwan menzoom video untuk menampilkan orang-orang di video lebih jelas. "Benar ini...! Nggak mungkin... berarti..." gumamnya lirih tak percaya.


Di meja nya Archi memperhatikan perubahan emosi Ridwan yang terus menggumamkan sesuatu yang tak dia dengar. Dia pun bertanya-tanya di benaknya.


"Kenapa?" tanya Archi yang kelewat penasaran.


"Ah...nggak kenapa-kenapa." jawab Ridwan menaruh handphone nya lagi. Dia menjadi tidak fokus dengan pekerjaan nya meskipun matanya terus tertuju ke layar komputer. Otaknya tak dapat berhenti memikirkan apa yang baru saja dia lihat. Dan teori-teori yang bermunculan karenanya.


...~ bersambung ~...


Apakah ada yang menyadari Cover baru cerita ini? 😹 Setelah sekian purnama akhirnya Cover nya di ganti NovelToon...gimana pendapat semua dengan Cover baru buatan NovelToon? 😹 Lebih suka Cover lama atau Cover baru nih? Sebagai syukuran Author hari ini jadinya double update deh 😹 Happy reading 🥳