Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
72. Emosi Archi


Welin yang mendengarkannya terlihat muram, sedih dan juga marah. Dia berlari dengan kencang menahan air matanya menuju ke kamar mandi.


"Si Welin kenapa itu?" tanya Susan bingung melihatnya.


Selesai pembagian kopi gratis. Archi pergi ke kamar mandi. Di sana dia melihat Welin tengah menangis di atas sofa yang disediakan di kamar mandi.


"Kamu kenapa Welin? Apa ada yang mengganggu kamu?" tanya Archi terlihat khawatir.


"Apa benar ada sesuatu di antara kamu sama Pak Ridwan?" tanya Welin langsung ke inti.


"Apa? Aku dan Pak Ridwan? Kami nggak ada apa-apa. Hanya teman. Kamu kan tahu aku sudah menikah." jawab Archi duduk di sofa kamar mandi sebelah Welin.


"Zaman sekarang selingkuh bukan hal tabu. Bahkan ada yang berani terang-terangan. Apalagi kalau selingkuhannya Pak Ridwan."



Siapa yang bisa menolak pesonaku?


"Ng...!" Archi melihat bayangan Pak Ridwan dalam pikiran Welin.


"Tapi bener aku nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Ridwan. Kita pure cuman teman." jawab Archi.


"Kalau begitu," Welin berubah antusias. Dia menggenggam jemari Archi membuat Archi terkejut dan heran sekaligus.


"Comblangin aku sama Pak Ridwan. Kalian kan dekat. Pak Ridwan juga sangat menurut kepadamu. Dia pasti akan mendengar pengaruh darimu." pinta Welin. Archi mengangkat alisnya perlahan sebagai responnya.


"Kamu mau menjadikan aku apa? Mak comblangmu?" Archi mengerutkan alis mata kirinya.


"Iya. Tolonglah Archi aku sebenarnya mencintai Pak Ridwan. Aku sering jahat kepadamu karena kamu begitu dekat dengannya aku cemburu. Tetapi setelah kamu membelaku aku tahu kamu orang baik, dan nggak mungkin berselingkuh dengan Pak Ridwan."


"Jadi itu alasannya tiba-tiba baik kepadaku." pikir Archi.


"Maaf Welin. Bukannya aku nggak mau membantumu, tetapi ini menyangkut perasaan jadi aku nggak bisa memaksa Pak Ridwan." jawab Archi.


"Maaf ya Welin." kata Archi bernada muram.


"Tapi, Archi....," Archi berjalan pergi meninggalkan Welin.


Saat istirahat tiba....


"Jadi Welin suka sama Pak Ridwan?" tanya Andini tak percaya.


"Lagian berani banget ya dia minta Archi comblangin dia." sahut Icha.


"Iya, aku yang lebih punya akses ke Archi aja nggak berani minta comblangin. Karena aku sadar diri. Hahaha...!" timpal Susan terbahak.


Sementara itu di Irene's Pizza.


Sambil membawa papan list bahan yang ada di gudang penyimpangan Irene melihat stok yang masih tersedia di sana. Saat sedang mengecek bahan makanan tanpa sengaja dia menyenggol sebuah kardus hingga beberapa kardus lainnya yang ditaruh tidak benar ikut berjatuhan.


"Aaaaaa!" teriak Irene merunduk, memegangi belakang kepalanya.


Irene terkejut karena tidak satupun kardus jatuh mengenai dirinya. Dia mendongak dan melihat Agus merunduk di atasnya untuk melindunginya.


"Agust!" gumamnya.


"Ini terasa aneh. Kenapa aku selalu bisa menjadi pelindung Irene? Tetapi, kenapa aku tidak pernah menjadi apa-apa untuk Archi?" pikirnya sambil meringis kesakitan tertimpa kardus saus sachet.


"Mengapa kamu benar-benar bisa seperti mantan tunanganku yang selalu menjaga diriku?" pikir Irene.


"Kamu nggak apa-apa, Agust?" tanya Irene.


"Nggak apa-apa, Nona." jawa Agust memegang tengkuknya. Aku baik-baik saja." kata Agust.


"Terimakasih ya kamu selalu ada saat aku sedang dalam dalam bahaya." ucap Irene.


"Iya, aku hanya kebetulan lewat sini tadi." jawab Agust.


"Aku kembali bekerja, Nona." pamit Agust.


"Iya Agust. Tapi kamu benar-benar nggak apa-apa?"


Agust mengangguk berjalan ke dalam.


Selama bekerja Agust menahan sakit di tengkuk dan punggungnya yang tertimpa kardus berat.


Meski Irene mengetahui kesakitan Agust namun Irene tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Agust pasti akan menolak jika dia ingin membantu Agust.


Kembali ke kantor Archi.


Pukul 15.10. Archi merasa sangat mengantuk. Dia pun pergi ke pantry untuk membuat kopi instannya sendiri. Di sana Welin the gank sedang berkumpul.


"Dia pikir dia siapa?" kata seorang di gank Welin.


"Dia rakus. Semuanya mau dia embat!" sindir seorang lagi mendelik sinis ke arah Archi.


Archi yang telah selesai membuat kopi melengos pergi keluar pantry.


"Mereka pasti ngomongin aku," pikir Archi dengan yakin.


Sindiran, sindiran sumbang selalu terdengar di telinga Archi setelah permintaan Welin tadi pagi.


Hingga puncaknya ketika sebagian orang kantor telah pulang bekerja.


"Dia nggak mau nolongin karena dia maunya cowok itu cuman buat dia." celetuk seorang teman Welin.


"Nggak tahu diri banget, sudah punya suami masih mau deket sama cowok lain."


"Dia memang cinta kayanya sama Pak Ridwan!"


"CUUUUUKKKKUUUPPP!!!!" teriak Archi.


"Kalau mau ngomongin orang bisa nggak jangan sampai kedengaran orangnya?" pekik Archi menghampiri gank Welin.


"Kami sengaja kok biar kamu denger. Jadi cewek jangan kegatelan lah. Sana sini nempel." ucap Welin mendorong bahu Archi.


"Kalau gua kegatelan, sana sini nempel tapi cowoknya juga suka gua tempelin. Masalahnya apa buat loe?" emosi Archi keluar.


"Memangnya kalau gua nggak nempelin tu cowok. Tu cowok bakal jadi suka sama elo!" balas Archi mendorong bahu Welin.


"Yang tahu diri tuh elo. Minta tolong Sama gua buat bisa dekat sama Pak Ridwan. Emang kalau gua tolong, Pak Ridwan udah pasti jadi cinta sama kamu."


"Seenggaknya kalau kamu nggak suka sama Ridwan, kamu kan bisa sekedar nolongin biar buka jalan buat gua!" sungut Welin nggak mau kalah.


"Kamu nggak mau nolongin, sebenarnya karena kamu cinta dan nggak mau Ridwan dimiliki orang lain kan?" teriak Welin di wajah Archi.


"Iya! Emang gua cinta sama Ridwan. Kenapa?" sahut Archi melotot ke arah Welin.


"Apa?" kawan-kawan Archi yang mendengarnya semua terperangah. Mereka nggak menyanyka Archi akan menjawab seperti itu.


Ridwan yang baru keluar dari ruangannya setelah mendengar keributan lebih terkejut dari semuanya. Meski shock, hatinya tetap bisa merasakan kebahagian dengan pengakuan Archi yang tiba-tiba. Dia tersenyum dengan cerahnya.


...~ bersambung ~...


Pengumuman dari Author....



Aaaaaaa sumpah Author senang banget. Biarin deh dibilangin norak atau lebay. Tapi jujur Author seneng banget karya ini, "Bukan Kucing Biasa" bisa mendapatkan posisi ketiga lomba "Pasanganku Bukan Manusia"


Aku nggak nyangka bisa masuk list pemenang, apa lagi masuk 3 besar. Buat aku ini tuh dah prestasi yang luar biasa banget.


Untuk itu...


Author ngucapin terimakasih banyak banyak banyak tuk semua pembaca karya ini yang udah dukung Author sampai sejauh ini dan sampai bisa memenangkan posisi ketiga di lomba ini.


Tanpa kalian Author bukan apa-apa. Terimakasih juga buat NovelToon/MangaToon yang udah kasih kesempatan, dukungan, dan kepercayaannya. Terimakasih semuanya. Terimakasih banyak 🙏😘


Buat mas Agust D terimakasih juga because you are inspiration for this story 😹