
"Itu ayah!" gumam Archi terbelalak ketika menyadari keberadaan ayahnya.
Sebelum ayahnya mengetahui dirinya berada di sana, Archi beringsutan mencari tempat untuk bersembunyi. Di waktu bersamaan, dari sudut matanya, Ayah melihat pergerakan tak biasa seorang gadis di depan meja resepsionis. Dengan rasa penasaran dia mengarahkan wajahnya untuk menoleh ke arah pergerakan itu.
Archi menyuruk ke balik meja resepsionis, berjongkok di sebelah kursi resepsionis. Wajahnya yang tegang menengadah menatap mbak-mbak resepsionis yang kaget dan bingung. Archi pun memberikan isyarat kepada mbak mbak yang tengah berjaga itu untuk diam dengan menaruh telunjuk di bibirnya. Meskipun tak mengerti, mba resepsionis menuruti permintaan Archi dan kembali bekerja.
"Aku seperti melihat Archi?" gumam Ayah mengedarkan pandanganya namun tak menemukan apapun. Dia pun kembali fokus dengan obrolan bersama temannya. "Mungkin hanya bayanganku saja." kata Ayah seraya memasuki lift.
Menarik tubuhnya setengah keatas, Archi mengintip ke arah Ayahnya berada tadi. Untuk memastikan ayahnya telah pergi. Merasa telah aman, Archi pun keluar dari balik meja resepsionis sambil mengelus dada dan menghembuskan nafas lega.
"Terimakasih mbak." kata Archi kepada mbak-mbak resepsionis yang cantik dengan rambut cepol kebelakang, dan berpakaian seragam rapi berwarna hijau.
"Iya," jawab sang resepsionis dengan name tag bertuliskan Widya sambil tersenyum ramah.
"Oh iya mbak, saya mau bertemu Tuan Ludwig." kata Archi kepada mbak resepsionis.
"Sudah buat janji sebelumnya?" tanya Mbak Widya yang cantik.
"Sudah." jawab Archi
"Dengan nona siapa? Membuat janjinya via apa?" tanya mbak Widya untuk memastikan.
"Archi, via ponsel seluler." jawab Archi.
"Baiklah Nona Archi, Tuan Ludwig ada di ruangannya di lantai 6. Nanti akan ada resepsionis lainnya di sana, silahkan bertanya lagi di sana." kata Mbak Widya menjelaskan.
"Oh baik. Terimakasih sekali lagi." ucap Archi dengan senyum cerianya.
"Sama-sama."
Archi menaiki lift menuju ke lantai enam. Setelah sampai di sana dia menuruti kata mbak Widya untuk bertanya lagi kepada resepsionis di situ. Dengan ramah dan sopan resepsionis di sana, yang bernama Fuji mengarahkan Archi ke ruangan Tuan Ludwig.
Setelah memastikan kepada Tuan Ludwig, Sekretaris ramah mempersilakan Archi untuk memasuki ruangan Tuan Ludwig.
"Oh Nona Archi. Tuan Ludwig sudah menunggu di dalam," dia membukakan pintu untuk Archi. "Silahkan Nona!" ucapnya mempersilakan.
Dengan gerakan bibirnya Archi membentuk kata Waw ketika melihat ruangan Tuan Ludwig yang besar dan bergaya modern. Sebuah sofa kulit besar membentuk huruf L berwarna putih berada di tengah ruangan. Meja kopi terbuat dari kaca sangat cocok di depan sofa tersebut. Di sisi lain terdapat meja kayu besar berwarna cokelat pekat mengkilap. Di baliknya, Tuan Ludwig duduk bersandar dengan nyamannya di atas kursi kerjanya yang besar.
"Oh...kamu sudah datang Archi!" sambut Tuan Ludwig berdiri dan berjalan pelan dengan tongkat berjalannya.
Archi menghampiri Tuan Ludwig dengan langkah cepat dan membantu, memapahnya berjalan sampai ke sofa.
"Terimakasih!" ucap Tuan Ludwig perlahan duduk di sofa.
"Sama-sama Tuan." jawab Archi tersenyum.
"Akh...kenapa kamu jadi memanggil ku Tuan, bukan Kakek lagi." protes Mr. Ludwig.
"Oh, maaf Kakek. Tadi, karena aku bicara dengan Pak Ridwan jadi memanggil Kakek dengan Tuan."
"Oh begitu. Duduklah!" suruh Tuan Ludwig, menunjuk sofa. "Dari mana kamu dapat nomor handphone ku?" tanya Tuan Ludwig yang penasaran setelah Archi duduk.
"Oh, dari Pak Ridwan. Pak Ridwan dapat dari CEO."
"Oh. Senang sekali bisa bertemu kamu lagi. Aku pikir kita akan lama lagi bisa bertemu." kata Tuan Ludwig tertawa kecil.
"Iya Kakek. Aku pikir juga begitu."
Sekretaris pribadi Tuan Ludwig masuk dan mengantarkan minum untuk mereka berdua lalu kembali ke luar.
"Terimakasih Kakek." jawab Archi mengangkat cangkir tehnya dan meminumnya tanpa malu-malu. Karena Jujur Archi merasa haus selama perjalanan sampai ke sini.
"Tetapi ngomong-ngomong apa yang membuatmu datang menemuiku? Apakah ada yang mengganggu kamu di kantor?" tanya Tuan Ludwig.
"Ah...bukan Kakek. Bila ada yang menggangguku di sana aku hanya tinggal jawab, aku adalah cucu Tuan Ludwig." jawab Archi dengan bangga seraya terkekeh.
"Hahaha...kamu masih mengingatnya." Tuan Ludwig ikut tertawa.
"Tentu kakek." jawab Archi menaruh cangkir teh kembali ke atas meja.
"Jadi kamu kemari untuk?"
"Em...gimana ya?" Archi menimbang jawaban yang akan dia berikan kepada Tuan Ludwig agar dapat memuluskan langkahnya dalam penyelidikan identitas Agust sebenarnya.
"Kalau aku bilang langsung, aku ingin melihat data base karyawan, Kakek akan curiga dan berpikir macam-macam. Sebaiknya jangan, aku harus mencari informasi ini perlahan." batin Archi.
"Aku ingin meminta tolong kepada kakek." jawab Archi pada akhirnya.
"Tolong apa?" Mata Tuan Ludwig menyipit dengan pandangan menyelidik.
"Aku ingin bisa bekerja di perusahaan ini, Kakek." cetus Archi sedikit menunduk.
"Heu?" Alis Tuan Ludwig terangkat, terkejut dengan yang baru saja di dengarnya.
"Kamu ingin pindah kerja? Memangnya kenapa dengan perusahaan mu yang sekarang?" tanya Tuan Ludwig.
"Nggak kenapa-kenapa Kakek. Aku...hanya ingin mencoba tantangan baru." jawab Archi.
"Hem...begitu ya. Kalau begitu kamu bisa menemui Manager yang mengurus hal ini. Dia ada di ruangan di sebelahku. Temuilah dia dan katakan kamu disuruh olehku ya." kata Tuan Ludwig tersenyum cerah.
"Yang benar Kek?" tanya Archi terperangah tak percaya.
"Tentu, pasti diterima. Tetapi untuk bagian apanya dia yang akan menentukan yang cocok dengan kualifikasi mu."
"Wah...terimakasih banyak Kakek... Terimakasih banyak!" ucap Archi seraya mencium tangan Tuan Ludwig.
"Iya...iya...sama-sama!" Tuan Ludwig tertawa kecil melihat tingkah Archi yang kegirangan.
"Senang sekali kamu bisa bekerja di sini." kata Tuan Ludwig.
"Iya Kek." Archi masih tersenyum.
"Aku senang karena aku bisa dengan mudah nya bekerja di sini. Dengan begini aku bisa mencari tahu tentang Agust. Apapun akan aku lakukan demi Agust." pikir Archi dengan tekad membara.
Sesuai petunjuk Tuan Ludwig Archi menemui Manager di sebelah ruangan kerja Tuan Ludwig.
Setelah bertemu sekretaris sang Manager dan mengatakan niatnya, Archi dipersilakan olehnya masuk ke dalam ruangan Manager.
"Permisi!" sapa Archi di ambang pintu dengan pintu yang sedikit terbuka.
"Ya masuk!" Manager yang sedang sibuk bekerja dengan laptopnya mengangkat kepalanya.
Archi melongo saat melihat wajah Manager itu. Dia hanya terdiam kaku, matanya yang membulat tak berkedip. Ini sungguh kejutan yang tidak menyenangkan bagi Archi. Langkahnya sudah dipermudah untuk bisa sampai sejauh ini namun kenapa harus menemui akhir seperti ini? Pikirnya.
Teringat, demi masa lalu dan masa depan Agust yang ditentukan oleh usahanya kini, membuat Archi mencoba menguatkan dirinya. Dengan susah payah dia melawan rasa takutnya. Meredakan getaran hebat di tubuhnya ditengah degup jantungnya yang berdetak tak beraturan.
...~ bersambung ~...