
"Mengapa kamu mengatakan itu Ridwan?" Archi yang telah kembali kesadarannya memekik menyahut ucapan Ridwan.
"Kamu mengharapkan aku berpisah dengan suamiku? Iya?" cecar Archi.
"Bukan mengharapkan. Hanya saja, ini feeling orang yang mencintai kamu Archi. Aku memiliki keyakinan kalian nggak akan bisa bersama selamanya," ucap Ridwan dengan serius dan begitu yakin.
Archi bagaikan tersambar petir mendengar Ridwan bisa mengatakan hal itu dengan yakin. Archi membeku dalam duduknya. Sekonyong-konyong air mata menuruni pipinya.
"Kamu jahat Ridwan!" pekik Archi membuat Ridwan terkesiap.
"Aku nggak nyangka kamu bisa setega itu mendoakan pernikahan aku akan berakhir." timpal Archi.
"Maaf, bu-bukan maksud aku begitu, tapi...,"
"Meskipun aku nggak mencintai suamiku, bukan berarti kamu boleh berkata seperti itu." imbuh Archi lalu membuka pintu mobil dan segera keluar.
Ridwan mengejar Archi keluar.
"Chi!" panggilnya namun terlambat Archi yang sudah menyetop taksi biru bergambar burung dengan cepat memasukinya dan menutup pintunya. Taksi segera melaju.
"Archi!" geram Ridwan meninju angin.
"Siaall...kenapa juga gua harus ngomong gitu?" sesal Ridwan sambil menggigit buku telunjuknya.
"Walau gua rasa itu benar, dan gua yakin itu bakal terjadi," kata Ridwan lagi sambil berjalan memasuki mobilnya.
Archi mengusap airmatanya yang masih mengalir. Pak supir memperhatikan dari kaca spionnya.
"Tissue nya dek," kata Pak Supir memberikan kotak tissue yang berada di atas dashboard nya.
"Terimakasih, Pak," ucap Archi.
"Habis bertengkar dengan pacaranya ya Dek?" tanya Pak Supir.
Archi hanya mengangguk karena tidak mungkin dia menjelaskan lebih detail kepada Pak Supir.
Archi kembali mengingat perkataan Ridwan dan seketika pikirannya tertuju kepada Agust.
"Agust...apa benar kita akan berpisah? Apa mungkin kamu akan pergi meninggalkan aku?" pikir Archi menatap keluar jendela yang gelap bertaburan lampu jalan dan mobil yang berlalu lalang di sisi taksi yang ditumpanginya.
Ridwan sampai di apartemen nya. Dia berjalan menuju ke lift sambil menenteng paperbag Gucci.
"Gua memang keterlaluan," pikir Ridwan.
"Pak!" panggil Ridwan kepada Security yang berpapasan dengannya.
"Berikan ini kepada istri bapak," kata Ridwan memberikan paperbag ketangan security lalu berjalan memasuki lift yang terbuka.
"Alhamdulillah...Mimpi apa aku semalam ya? Dapat tas mahal," ucap security itu.
"Istriku pasti senang banget ini. Bisa minta jatah double combo nih," katanya lagi berjalan ke pos jaganya.
...****************...
Archi pun sampai di rumahnya. Setelah memasuki rumah, Archi segera berlari menuju kamarnya. Ketika pintu kamar dia buka, dia bisa melihat Agust sedang duduk di kursi meja belajar sedang sibuk dengan sesuatu sebelum dia terkejut dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.
Archi berlari menghampiri Agust, airmatanya mulai berlinang. Dia berhambur memeluk Agust. Yang terlihat bagaikan slow motion, Archi memeluk Agust. Agust yang terkejut terdorong sedikit kebelakang dengan mata sipitnya yang membesar . Agust tertegun sejenak mendapati Archi memeluknya secara tiba-tiba sebelum tangannya melingkar ke punggung Archi.
Dalam pelukannya Archi masih tersedu-sedu.
"Agust..." ucap Archi dengan susah payah mengeluarkan suaranya diantara isak tangis.
"Berjanjilah, jangan pernah tinggalkan aku!" pinta Archi.
"Kenapa Archi? Ada apa?" tanya Agust yang belum mengerti.
"Apa kamu nggak mau berjanji?" tanya Archi, memundurkan badannya dengan kedua lengannya masih melingkar di leher Agust.
Archi memandang wajah Agust yang bingung diantara linangan airmatanya.
"Apa mungkin yang dikatakan Ridwan benar?" robekan besar mengoyak hati Archi.
Perasaan kecewa memenuhi hati Archi kini. Tubuhnya terasa bagai jelly yang lunak. Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menopang kesedihannya.
Telapak tangan putih nan halus milik Agust mengusap airmata yang membasahi kedua pipi Archi. Archi mengangkat wajahnya yang mulai tertunduk pilu. Matanya terbuka lebar untuk melihat Agust yang kini tersenyum menatapnya dengan lembut.
"Aku berjanji, Insya Allah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi aku akan bersama denganmu, di dunia hingga akhiratku, sebagai suamimu." ucap Agust membuat Archi terharu.
Senyum merekah dibuat bibir Archi sambil kembali memeluk Agust dengan erat.
Tanpa mereka sadari, Ibu dan Ayah mengintip mereka sejak tadi dari balik tembok dekat pintu yang tidak tertutup.
Mereka saling berangkulan ikut bahagia dan terharu melihat putrinya bersama pria yang tepat.
"Alhamdulillah ya Yah," bisik Ibu lirih sambil tersenyum.
"Iya bu," jawab Ayah menyenderkan kepalanya ke kepala Ibu.
Kakak datang menaiki tangga. Dia mengangkat telapak tangannya ke atas, mengangkat alisnya, bertanya dengan isyarat tubuh.
"Ada apa?" tanyanya hanya menggerakan bibir tanpa bersuara. Mengendap kakak berjalan menghampiri ayah dan ibunya.
Kakak ingin menoleh ke dalam kamar Archi namun Ibu menariknya.
"Jangan, nanti kamu bapeur melihatnya." larang ibu dengan suara lirih.
"Ibu aah...." rengek kakak segera menutup mulutnya karena berbicara dengan suara kencang. Mereka buru-buru turun ke bawah.
Archi yang mendengar suara kakak melepaskan pelukannya. Agust mengacak rambut atas kepala Archi.
"Udah jangan nangis lagi, jelek!" gurau Agust.
"Iiih...jahat!" kata Archi menghapus airmatanya yang tersisa di pipinya sambil menahan tawa.
Esok harinya di kantor Archi...
Ridwan datang ke kantor, dia melewati meja Archi sambil memandang ke arah Archi yang masih marah.
"Pagi Pak!" sapa semua yang melihat Ridwan. Termasuk Andini.
"Kamu nggak nyapa Ridwan?" bisik Andini saat Ridwan sudah memasuki ruangannya.
Archi hanya diam memandangi layar komputernya.
"Kamu lagi marahan sama Ridwan?" tanya Andini lagi.
"Masa habis dibeliin tas branded kamu malah marah sama Ridwan sih Chi?"
Archi menggaruk sisi kepalanya yang tidak gatal seraya merengut,
"Duuh...bisa diam nggak sih. Pusing kepalaku tau!" jawab Archi ketus seraya berjalan menuju ke pantry.
"Kopi selalu bisa diandalkan saat suntuk," gumam Archi menyeruput kopi instannya yang dibuatnya.
"Archi!" panggil suara pria dibelakangnya membuat Archi berlonjak kaget.
Archi menoleh dan Ridwan berjalan ke sisinya, ke depan meja mesin pembuat kopi. Dia mulai meracik kopinya sendiri.
Archi hendak berbalik, namun tangannya di pegang oleh Ridwan hingga langkahnya terhenti.
"Maafin aku, Chi!" bujuk Ridwan.
"Aku tahu, aku salah banget. Nggak seharusnya aku ngomong gitu. Tolong maafin aku," mohonnya lagi, menatap ke dalam mata Archi.
Archi menatap biji manik Ridwan yang berkilauan dengan tatapan polos khas bayi milik nya.
Archi mendengus kasar. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Ridwan lalu berjalan keluar pantry. Ridwan mengekori dibelakangnya. Archi menoleh dan kembali berpaling dengan kesal.
Saat istirahat di meja kantinnya, Ridwan ikut bergabung bersama Archi dan tiga sahabatnya. Archi merasa tidak nyaman dalam diamnya karena kehadiran Ridwan.
Mereka berdua bersebrangan di meja. Ridwan bersikap biasa saja dan membuat seolah tidak sedang terjadi apapun kepada mereka. Archi hanya menunduk sepanjang itu. Sementara Ridwan terus mencuri pandang ke arah Archi seolah membujuknya untuk kembali berbaikan.
Pukul tiga sore. Archi pergi ke kamar mandi sendiran untuk menenangkan pikirannya yang sibuk memikirkan Ridwan.
"Padahal semalam perasaan aku baru lega karena Agust. Tetapi saat aku berhadapan lagi dengan Ridwan, perasaanku menjadi kacau lagi." kata hati Archi uring-uringan memasuki kamar mandi wanita.
Archi mencuci wajahnya di wastafel. Hanya ada dirinya kini di dalam kamar mandi. Archi memandang wajahnya di cermin.
Ketika Archi hendak keluar dari kamar mandi, Ridwan yang kebetulan lewat untuk pergi ke kamar mandi cowok tiba-tiba meraih tangan Archi, membekap mulut Archi dengan tangannya yang lain sambil mendorong Archi kembali memasuki kamar mandi.
Ridwan menutup pintu kamar mandi. Membalikkan tubuh Archi dan kemudian menghimpitnya bersandar ke daun pintu. Satu tangan masih membekap mulut Archi dan tangan lainnya mengunci pintu kamar mandi.
"Jangan berteriak, kalau nggak mau dapat masalah," ancam Ridwan dengan suara lirih. Matanya menatap tajam ke mata Archi. Membuat Archi bergidik takut. Jantungnya mulai memompa darah dengan kecepatan penuh.
...****************...