Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
41. Buah Tangan


Setelah membeli buah tangan seperti yang diinginkan Susan. Ketiga teman Archi berangkat menuju rumah Archi.


"Assalamualaikum!" sapa Icha memberi salam dari depan rumah Archi.


Saat itu baru saja selesai adzan maghrib.


Ibu membuka pintu,


"Eh...Susan, Andini, Icha...ayo masuk...masuk!" Seru ibu mempersilakan mereka masuk.


"Archinya sakit ya tante," kata Susan sambil mencium tangan Ibu.


"Iya. Duduk dulu!" kata ibu mempersilahkan.


"Sekarang Archinya lagi ke dokter dulu. Kalian tunggu sebentar ya. Mungkin sebentar lagi pulang," jelas Ibu Archi setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Oh, iya Tante nggak apa-apa." jawab mereka.


"Sambil nunggu boleh numpang shalat tante?" Icha pun meminta izin untuk melaksanakan ibadahnya.


"Oh...boleh dong. Ayo sini. Ada ruang shalat di sini," kata Ibu mengarahkan kesebuah ruangan khusus shalat di dekat tangga.


Setelah mengambil wudhu, Mereka pun shalat di sana. Sampai mereka selesai shalat Archi belum juga kembali.


"Kalau lama pulang aja deh. Yang penting kan kita udah ke sini," kata Susan.


"Ya udah." jawab kedua orang lainnya menyetujui.


Saat mereka akan pamit kepada Ibu Archi yang sedang berada di dapur, secara kebetulan mobil Ayah Archi sampai dan terparkir di depan rumah.


"Itu Archi sudah datang," kata Ibu.


"Oh iya," kata Icha sambil mengikuti Ibu ke ruang tamu bersama yang lain.


Archi berjalan memasuki rumah.


"Eh...ada tamu!" seru Archi sumringah melihat ke arah teman-temannya.


"Bisa sakit juga loe Chi!" ejek Susan.


"Duduk Archi. Kamu kan lagi sakit," kata Icha menyuruh Archi.


"Iya. Kalian juga duduklah," kata Archi.


Mereka duduk di sofa.


"Gimana udah baikan sekarang?" tanya Andini.


"Alhamdulillah, mendinganlah." jawab Archi.


Archi melihat teman-temannya terlihat tidak tenang, mereka terus melihat keluar. Archi menoleh ke arah mereka melihat.


"Kalian nyariin apaan sih?" tanya Archi bingung.


"Laki lu mana?" tanya Susan.


"Astagfirullah...kalian ke sini mau nengokin gue, apa mau ketemu laki gue nih?"


"Dua duanya atuh Chi," jawab Andini jujur.


"Eh...maksudnya nengokin lu," timpal Icha meralat jawaban Andini sesegera mungkin.


"Iya itu," Andini terkekeh. Yang lain ikut tertawa.


"Pada modus saja kalian ini!" ujar Archi.


Ayah datang, berjalan memasuki rumah sementara Agust mengekori dari belakang.


Teman-teman Archi mencium tangan Ayah tanpa saling bersentuhan. Dan mereka bisa melihat Agust di belakangnya. Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang sama. Tertegun, begitu terpesona melihat Agust.


Secara bergantian mereka mencari kesempatan bersalamanan dengan Agust. Sayangnya Agust mengikuti cara Ayah yang bersalaman tanpa menyentuh lawan jenis.


Archi menahan tawanya, melihat temen-temannya yang nggak bisa modus lagi. Dengan sengaja dia menghampiri Ayah, mencium tangan ayah dan mencium tangan Agust. Mencium tangannya lebih lama dari biasanya. Sengaja membuat teman-temannya meringis, iri.


"Agust, kenalin mereka teman kerja aku. Yang ini Susan, Andini dan Icha." Archi memperkenalkan mereka setelah ayah pamit masuk ke dalam.


"Oh...salam kenal. Nama saya Agust." ujar Agust dengan santun. "Archi, aku ke kamar, ya?" izin Agust. Agust mengusap rambut Archi, sesuatu yang jarang Agust lakukan. Wajah Archi memerah.


"Oke..." jawab Archi kemudian.


"Eh...mau kemana? Nggak duduk di sini aja? Ngobrol sama kita?" kata Susan.


"Mohon maaf, ada yang harus saya kerjain," dalih Agust berbohong lalu berjalan menaiki tangga.


"Eduuun....kasep pisan!" bisik Susan di telinga Andini.


"Kulitnya itu loh...kok bisa putih banget gitu," sahut Andini juga dengan berbisik.


"Tau si Archi, pelet nya kenceng. Udah mah si Ridwan ganteng, eh dapat suami juga ganteng,"


"Ngomongin apa sih?" tanya Icha yang merasa nggak diajak.


"Nggak ngomingin apa-apa," jawab Susan.


"Archi ni buat lu!" Andini memberikan plastik bening berisi kotak kue yang mereka beli.


"Terimakasih. Segala repot-repot," sahut Archi menerima dengan senang hati.


"Nggak repot kok cuman tekor," timpal Andini melotot ke arah Susan.


"Besok dah masuk kerja, Chi?" tanya Icha.


"Masuk kali," jawab Archi berubah muram. Dia terlihat berat menjawab.


"Udah...nggak usah dipikirin masalah kemarin Chi," ucap Susan.


"Iya emang, pasti berbekas banget buat lu. Tapi cuekin aja lah mereka. Toh udah nikah bukan aib, ya nggak?" sambung Susan.


"Iya, Chi." sahut Icha dan Andini berbarengan.


"Lihat besok aja deh," jawab Archi, enggan.


Setelah teman-teman Archi pulang,


"Terimakasih, ya!" ucap Archi kepada Agust.


"Buat?" Agust mengernyit, bingung di kursi meja belajar menghadap Archi.


"Sudah ngejagain aku semalaman," jawab Archi.


"Aku sebenarnya nggak ngejagain kamu kok, emang kebetulan aja aku belum bisa tidur semalam," kelit Agust berpura-pura cuek.


Archi mengangkat alis dengan bibir manyun,


"Ooh...," jawab Archi sedikit kecewa.


Agust berbalik menghadap ke meja, melipat tangan di atasnya. Senyum tipis membentuk di wajahnya yang tertunduk.


Rekaman kejadian semalam terputar kembali dalam ingatannya. Terasa manis dan hangat saat dia memeluk Archi yang menggigil kedinginan.


...****************...


Esok pagi pun tiba, Archi berangkat pergi bekerja.


Sesampainya dia di kantor...


"Susan...laporan yang kemarin saya minta, tolong antar ke ruangan saya!" suruh Ridwan saat baru datang ke kantor sambil memakai jasnya dengan benar.



Di balik mejanya Archi tertunduk dalam. Dia malu, tidak berani menatap Ridwan. Ridwan menoleh ke arah Archi. Hanya sebatas menoleh dengan wajah dinginnya. Tanpa senyum dan sapaan hangat seperti biasa. Lalu kembali berbalik bersikap acuh kepada Archi.


Sayatan terasa dihati Archi melihat Ridwan seperti itu.


Sementara itu di rumah Archi.


Agust baru selesai bersih-bersih rumah. Dia biasa membantu Ibu dengan pekerjaan rumah saat Ibu masih di sekolah Kenji.


Agust merasa sedikit bosan. Ada perasaan dalam dirinya yang menarik untuk bisa berjalan-jalan keluar rumah.


"Aku mau jalan-jalan keluar. Tapi kalau nanti aku berubah jadi kucing itu bisa merepotkan untuk Archi," kata Agust.


"Nggak apa-apa kali ah...sebentar doang," ucapnya lagi lalu bersiap mengenakan jaketnya.


Agust berjalan keluar rumah dan menuju ke depan komplek. Saat tengah berjalan-jalan dia melihat sebuah kertas ukuran A4 yang tertempel di dinding kaca depan sebuah restoran pizza. Kertas itu bertuliskan lowongan delivery.


"Lowongan artinya ada pekerjaan." gumamnya menimbang dalam hati.


"Aku akan coba melamar. Mungkin bisa diterima." kata Agust melangkah masuk ke dalam restoran yang menyewa dua unit ruko sekaligus itu.


Seorang karyawan wanita mengenakan polo shirt berwarna ungu dengan celana panjang pensil berwarna hitam dan celemek hitam yang melilit di pinggangnya, menyambut Agust.


"Permisi, saya ingin bertanya soal lowongan di depan." kata Agust menunjuk kertas yang di lihat barusan.


"Oh...itu. Itu baru di tempel, apa kaka berminat melamar?" tanya karyawan dengan rambut di cepol kebelakang itu.


"Boleh," jawab Agust berbinar di matanya.


"Persyaratannya bisa membawa lamaran lengkap," kata wanita yang tertulis Vita di name tag yang di pasang di dadanya.


"Lamaran lengkap ya. Saya punya KTP aja." jawab Agust.


"Nggak bisa Kak, coba saya lihat dulu KTP nya." Agust menyerahkan KTP dari saku celananya.


Wanita itu membaca kartu identitas dan menggeleng segera.


"Mohon maaf nggak memenuhi syarat Kak. Kakak kelahiran 83, maksimal umur untuk bekerja di sini 24 tahun." jelas karyawan itu.


"Vita!" seorang wanita berambut panjang berkulit putih, dengan wajah cantiknya itu memanggil karyawan itu. Wanita yang sedari tadi memperhatikan percakapan Agust dan Vita dari balik mesin kasir di meja konter.


Berbeda dengan Karyawan lain, wanita ini mengenakan blouse berwarna cream pastel, dengan lengan balon yang pendek. Sepertinya dia adalah pemilik restoran ini.


"Iya, Nona Irene," Vita mendekati wanita itu.


"Kenapa dengan pria itu?" tanya Irene dengan berbisik, untuk memastikan. Vita menjelaskan dari awal.


Irene bersama Vita mendekati Agust.


"Jadi kamu mau bekerja di sini?" tanya Irene yang memiliki tinggi badan 160 cm.


"Iya, Nona." jawab Agust kikuk.


"Punya izajah dan dokumen lainnya?" tanya Irene.


Agust berdiri kaku dan terdiam. Dia jelas tidak memiliki semua itu. Selain KTP, dia hanya punya KK dan Surat nikah yang bukan merupakan syarat melamar pekerjaan.


...****************...