Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
80. The End


Manik Archi membulat. Dia terperangah, terkejut karena Agust bisa mendapatkan video itu.


"Kenapa? Nggak bisa mengelak lagi?" sindir Agust dengan sinis.


"Darimana kamu dapat video itu?" tanya Archi.


"Nggak penting aku dapat dari mana. Tetapi yang terpenting isi dari video itu,"


"Ya ampun Agust...kamu salah paham. Video itu nggak menunjukkan kebenarannya."


"Maksudmu video ini di edit? Ini rekayasa?" cecar Agust.


"Bukan. Iya aku memang ngomong kaya gitu. Tetapi aku berani bersumpah, aku nggak serius mengatakan itu. Saat itu aku sedang ada masalah dengan gadis di video. Dia terus menyudutkan aku dengan fitnah-fitnah nya tentang aku sama Ridwan, hanya karena nggak mau bantu dia PDKT sama Ridwan. Untuk balas dia aku bilang kaya gitu. Tapi percaya deh, aku nggak dari hati mengatakan itu." jelas Archi.


"Sungguh sulit buat aku percaya lagi sama kamu Archi." jawab Agust.


"Agust..., jangan gitu. Katakan gimana caranya agar kamu percaya lagi sama aku. Aku udah jujur dengan video itu. Masalah itu di kantor juga sudah selesai, itu hanya salah paham. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa ngobrol sama Icha." Archi mengambil handphone-nya dan hendak menghubungi nomor Icha.


"Nggak usah." Agust merebut handphone Archi.


"Aku tahu kalian itu sahabat dekat. Dan yang aku lihat mereka sangat support kamu dekat dengan Ridwan."


"Ya Allah Agust..., walau mereka sahabat dekat aku, mereka juga tahu mana yang benar dan yang salah. Apalagi Icha, dibanding dua temanku yang lain dia yang paling lurus pikirannya. Jadi kamu bisa percaya sama dia." jawab Archi.


"Aku berani bersumpah, aku ngomong gitu tanpa rasa beneran kepada Ridwan." sambung Archi.


Agust bergeming. Dia masih memasang ekspresi marah dan tidak percaya.


"Kalau kamu mau, demi membuktikan aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ridwan, aku akan menjaga jarak dengan Ridwan. Atau berhenti bekerja sekalian, biar aku nggak bertemu Ridwan lagi. Apapun itu, tetapi tolong percayalah sama aku Agust!" kata Archi memohon dengan amat sangat.


"Ini nggak ada hubungannya dengan takut sama ayah atau hal seperti itu. Aku benar-benar ingin mempertahankan rumah tangga ini karena kita, karena cinta," air mata memaksa keluar dari mata Archi ketika mengatakannya.


Tidak ada hal yang lebih buruk bagi Archi selain membayangkan mereka harus berpisah. Dirinya begitu tulus mengatakan itu, dari hatinya yang paling dalam.


Air mata mengalir semakin deras. Archi memejamkan matanya dengan wajah tertunduk.


"Aku mencintai kamu Agust. Sangat mencintai kamu." ucap Archi dalam tangisnya.


Air mata dan ketulusan Archi sampai di hati Agust dan melelehkan hati Agust yang keras. Agust bisa merasakan istrinya bersungguh-sungguh dalam ucapannya.


Tangan kekar Agust memegang kepala belakang Archi dan mendorongnya perlahan kedalam pelukannya.


"Aku nggak mau kamu menjauhi aku apalagi kalau sampai kita berpisah." sambung Archi.


"Mungkin ini terdengar klise, tapi bagiku kamu adalah rumah, tempat ternyaman untuk aku pulang." pungkas Archi.


"Baiklah," jawab Agust memandang ke atas. menahan air mata harunya. Kemudian ia mengecup puncak kepala Archi.


"Jadi kamu percaya kepadaku, kan?" tanya Archi.


"Iya Archi. Aku percaya." Archi memeluk Agust begitu erat.


Tangisnya kini bercampur senyum bahagia di wajahnya. Dia merasa bersyukur karena Agust percaya kepadanya, percaya akan cintanya. Dia senang Agust tidak lagi salah sangka.


"Apa kamu juga mencintai aku, Agust?" tanya Archi.


"Kamu sudah dengar sendiri aku mengatakannya, kan?" jawab Agust.


"Aku ingin mendengarnya sekali lagi, dengan lembut. Tanpa emosi seperti tadi." Archi merenggangkan tubuhnya dengan tangan masih merangkul pinggang Agust.


Matanya yang masih menyisakan air mata menatap Agust penuh harap. Binar-binar matanya menanti pernyataan cinta dari sang suami.


"Aku mencintai kamu, Archi. neomu..neomu.. saranghae!" Archi tersenyum lebar dan kembali memeluk Agust.


Ini pertama kalinya dalam hidupnya Archi menerima pernyataan cinta dari seorang laki-laki. Baginya ini terlalu indah bahkan jauh lebih sangat indah karena pernyataan cinta ini dia dengar dari pasangan halalnya. Suaminya yang dia harapkan akan menjadi teman hidupnya selamanya.


Akhirnya cinta mereka saling menyambut dalam perasaan yang tulus dan mereka pun hidup bahagia selamanya. TAMAT 😹.


...****************...


Tapi bohong....😹😹😹😹


Ini bukanlah dongeng yang akan berakhir dengan kata-kata indah itu. Kisah Archi dan Agust akan tetap berlanjut dengan lika liku dan alur turun naik yang belum dipastikan endingnya 😸.


...****************...


Pagi harinya, Archi turun dari kamarnya menuju ke dapur. Di sana dia melihat ibu sedang sibuk memasak sarapan sendiri. Ibu tersenyum mencurigakan saat melihat wajah ceria Archi saat datang.


"Kelihatannya bahagia banget!" goda Ibu mengerling nakal.


"Ini Agust sampai telat turun untuk bantu Ibu masak sarapan. Kecapean semalam, ya?" goda dengan Ibu terkekeh.


"Nggak...ih. Apaan sih ibu inih. Suka gosip aja." Archi tertawa kecil.


"Habis ngapain aja hayo kalian, semalam?" ibu tertawa kecil.


"Nggak ngapa-ngapain Ibuku yang cantik. Kita semalam habis bertengkar hebat dan bersyukur masalahnya bisa selesai." cerita Archi menampakkan sedikit kemurungan saat mengingat apa yang terjadi semalam.


"Jadi beneran belum ngapa-ngapain juga?" ibu memastikan tanpa malu-malu. Archi menggeleng.


"Memang kita mau ngapain Ibu?" tanya Archi.


"Buatin Ibu cucu atuh Archi. Kan ibu udah minta sama kamu dari kemarin-kemarin." tukas Ibu hilang kesabaran.


"Minta sama Allah atuh bu."


"Ya minta sama Allah, tapi kalian nggak bikin-bikin gimana Allah mau ngasih coba. Pakai sulap tahu-tahu ada diperut kamu gitu." Archi tertawa ngakak.


"Hahha...iya Ibu. Pelan-pelan atuh."


"Pelan-pelan terus. Ibunya keburu tua." jawab ibu kesal.


"Ya kan nenek udah tua bu. Kalau masih muda nanti dipanggilnya tante lagi."


"Kamu nih, jahil banget sih Archi!"



bayangin aja dulu, segernya lihat muka cerah Agust D dengan rambut setengah basah abis kesiram air wudhu menjelang pagi 😹 alamak . . Baru di bayangin aja udah kelepek-kelepek authornya nih 😹 ada yang sama kaya author? 😆 Tuh yang lagi senyum-senyum sendiri sambil baca ini kayanya 😆


Dengan wajah cerah, sehabis mandi dan melaksanakan shalat shubuh Agust masuk ke dalam dapur.


"Maaf Ibu mertua, aku telat membantu." kata Agust, langsung membantu pekerjaan memasak Ibu Archi.


"Nggak apa-apa, Agust. Ini udah hampir siap." jawab Ibu.


Senyum tergores di wajah Archi melihat sang suami. Dia terus memandang Agust yang sedang memasak dengan perasaan kagum dan bahagia. Di selingan memasak Agust pun curi-curi pandang melihat istrinya sambil melempar senyum. Mata mereka memancar-kan aura yang sama, aura cinta yang begitu besar.


Selesai sarapan Archi bersiap pergi ke kantor.


"Aku akan jaga jarak sama Ridwan, biar kamu nggak cemburu." kata Archi sambil memakai sepatu kerjanya.


"Nggak usah sampai sejauh itu. Aku percaya kepadamu sekarang. Tetapi kamu juga harus bisa jaga kepercayaan aku." pesan Agust mengambilkan tas sling bag Archi.


"Iya. Pasti." jawab Archi mengambil tas sling bagnya dari tangan Agust.


"Tapi kalau kamu jaga jarak ya sama bos kamu. Dia kelihatannya agresif banget." kata Archi walau hanya sebatas feeling nya. Karena Agust belum menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya dan Irene tempo lalu.


"Iya. Aku juga merasakannya." jawab Agust.


"Iya, kan. Nggak ada yang boleh merebut Agust milikku." ucap Archi bernada manja seperti anak kecil seraya melingkarkan lengannya di pinggang Agust.


"Nggak ada yang bisa merebut diriku darimu, tenang aja." sahut Agust menepuk pipi Archi dengan lembut sambil tersenyum menunjukkan gummy smilenya yang imut.


Archi tersenyum, sangat bahagia. Pikiran nakalnya membuat matanya memandang bibir Agust dan berharap dia mendapatkan ciuman dari Agust.


"Ayolah cium aku!" rutuknya dalam hati. Membentuk senyum mupeng.


"Kenapa memandangku begitu?" tanya Agust cuek dan nggak peka dengan keinginan istrinya.


"Hmmm!" Archi mende sah kecewa. "Aku berangkat kerja dulu, ya." kata Archi memasang senyum kembali.


"Iya sayang." jawab Agust berjalan bersama keluar kamar.


Setelah berpamitan dengan Ayah dan Ibu, Archi dengan diantar Agust pergi keluar rumah. Seperti biasa Agust mengantarkan Archi hingga keluar gerbang.


Archi mencium tangan suaminya untuk berpamitan. Saat itu tanpa dia duga...,


Cup...


Agust mencium kening Archi dengan mesra. Archi tertegun dengan mata membesarnya. Meski hanya baru sampai kening, Archi merasa sangat bahagia dengan kemajuan hubungannya dengan Agust.


Tanpa mereka ketahui, di kejauhan, di belakang kemudi sebuah mobil, seseorang tengah memperhatikan mereka. Wajahnya terlihat marah, terbakar rasa cemburu.


...~ bersambung ~...