
"Maafin aku Archi. Bukannya aku nggak mau melakukan itu sama kamu. Tetapi aku takut bayangan masa lalu itu muncul lagi saat kita melakukannya." batin Agust jadi sedih.
...****************...
"Bagaimana? Apa sudah berhasil?" tanya Ibu setengah berbisik.
"Sudahlah bu, jangan ngomongin itu terus." tukas Archi.
"Loh kenapa?" tanya Ibu bingung.
"Jangan meminta cucu dariku lagi. Minta Kakak aja segera nikah sama pacarnya dan minta cucu dari Kakak, kalau Ibu memang ingin segera menimang cucu." jawab Archi terdengar kesal.
"Archi...kok kamu begitu Nak? Ada apa sebenarnya? Agust nggak mau memberikan kamu nafkah batin?" tanya Ibu terdengar prihatin.
"Ya anggap aja seperti itu." jawab Archi ketus. "Yang terpenting aku sudah berusaha. Menuruti keinginan ibu mencoba mengajaknya. Sampai harus menyingkirkan gengsi dan harga diriku sebagai wanita, seperti cewek kegatelan, haus belaian. Walau dia suamiku sendiri tapi ditolak seperti itu tetap saja aku sakit hati. Kalau Agust nggak mau ya jangan dipaksakan." jawab Archi kesal.
"Hem..., aku nggak tahu apa yang terjadi. Tetapi ini kelihatannya serius. Ada apa sebenarnya ya?" tanya Ibu dalam hatinya.
...****************...
"Archi...ikut ke ruangan saya!" titah Ridwan.
"Baik, Pak!" jawab Archi berjalan mengekori Ridwan ke kantornya.
"Duduk!" suruh Ridwan lagi.
"Iya, Pak." Archi duduk di kursi di depan meja kerja Ridwan.
"Kamu sudah tahu kan, besok kamu harus ikut dengan saya menemui klien di Yogyakarta?" tanya Ridwan.
"Sudah Pak. Tapi apa nggak bisa diwakilkan dengan yang lain Pak?" tanya Archi memelas.
"Ya nggak bisa dong. Yang megang proyek ini kan kamu, masa diwakilkan orang lain." kata Ridwan.
"Memangnya kenapa? Kamu keberatan." tanya Ridwan.
"Ah...nggak sih Pak." jawab Archi. "Males aja," gumamnya.
"Apa?" tanya Ridwan yang mendengar gumamnya.
"Nggak Pak."
"Persiapkan semua bahan presentasi, dan keperluan lainnya. Jangan sampai ada yang terlewat atau ketinggalan. Karena ini jauh dari kantor."
"Baik Pak." jawab Archi begitu lesu.
"Kenapa harus proyek aku yang dipilih. Males banget harus pergi ke luar kota." bisik hatinya terasa berat.
Malam harinya Archi mempersiapkan keperluan dirinya selama berada di Yogyakarta.
"Kamu jadi berangkat ke Yogyakarta?" tanya Agust memandangi Archi mengemasi baju-baju dan perlengkapan lainnya.
"Jadi." jawab Archi tetap fokus berkemas.
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Agust lagi mencari perhatian Archi.
"Tiga harian." jawab Archi.
"Sama siapa aja perginya?"
"Ridwan." jawab Archi singkat.
"Berduaan doang?"
"Iya memamgnya kenapa?" tanya Archi. "Dia kan atasan aku. Yang melobi klien juga dia, aku cuman asisten yang menerangkan dengan proyek yang aku buat." jawab Archi.
"Tapi aku nggak percaya sama orang itu," pikir Agust.
Keesokan harinya, Archi dan Ridwan berangkat ke bandara untuk terbang dengan pesawat menuju ke Yogyakarta.
Mereka pun sampai di hotel tempat mereka menginap.
"Apa? Kita satu kamar hotel?" tanya Archi.
"Aku pesan kamar lain saja Pak. Nggak apa-apa saya bayar sendiri." kata Archi merasa keberatan bila harus berada satu ruangan dengan atasannya.
"Kamar di hotel ini penuh. Lagipula kita nggak akan tidur di ruangan yang sama. Di sana ada kamarnya, biar kamu tidur di kamar, dan aku tidur di tempat tidur yang luar." jelas Ridwan.
"Benarkah?" tanya Archi.
"Iya, masa iya aku setega itu sama kamu harus satu tempat tidur denganku. Ayo ke atas." Ajak Ridwan sementara tas Mereka dibawakan roomboy ke kamarnya.
Di kamar hotel, "Itu kamar mu!" menunjuk ruangan dengan pintu berwarna coklat. "Dan aku akan tidur di sini," jelas Ridwan duduk di tempat tidur berukuran queen bed.
"Baiklah." jawab Archi masuk ke kamarnya dengan tempat tidur berukuran sama dengan diluar.
Archi memasukan tasnya ke lemari tanpa dirapikan baju-baju. Dia hanya membuka sedikit tasnya untuk mengambil tas sabun cuci mukanya.
Kemudian Archi tertidur di atas tempat tidurnya dengan nyaman.
Sementara itu di dalam lemari, sesuatu bergerak keluar dari dalam tas Archi. Sebuah kepala berbulu nongol dari dalam tas,
"Hah...sesak banget di dalam," ucap batin kucing putih meregangkan tubuhnya. Dari pintu lemari yang tidak tertutup sempurna dia mengintip keluar dan melihat Archi tidur.
"Aku akan tetap di sini agar dia nggak tahu kalau aku ikut." kata hati si kucing, alias si Agust.
"Aku akan menjaga kamu dari pria itu." kata kucing meringkuk di dalam lemari.
Sebelum Archi terbangun kucing putih terbangun dan bersembunyi di belakang sofa putih di sudut kamar.
Malam pun tiba Archi dan Ridwan keluar hotel untuk berjalan-jalan. Sementara kucing putih naik ke atas meja untuk memakan sisa makanan yang Ridwan pesan.
"Untung masih ada ini, bisa buat aku makan. Aku lapar." batin kucing.
"Mereka enak bisa jalan-jalan, aku di sini makan makanan sisa." keluh kucing.
Esok harinya, Archi belum menyadari keberadaan Agust kucing di dalam kamar hotelnya.
"Hatchi..!" Ridwan terbesin sebelum keluar dari kamar untuk menemui klien bersama Archi.
"Kenapa hidungku gatal sekali kalau masuk kamar?" inner Ridwan memegang hidungnya.
Mereka pun bertemu klien eksklusif nya di sebuah restoran mewah bintang lima dengan ruangan khusus VVIP.
"Ini minumlah sedikit!" kata klien mereka, seorang ekspatriat Korea, berusia 48 tahun menawarkan soju asli Korea kepada Ridwan.
Karena tidak sopan menolak minum, Ridwan terpaksa menerima tuangan soju digelasnya dan menenggak minuman yang lama tidak dia sentuh. Tepatnya sejak dia mengenal Archi dan mengganti namanya menjadi Ridwan.
Setelah pertemuan mereka pun kembali ke kamar.
"Jangan khawatir toleransi alkohol aku tinggi." kata Ridwan yang terlihat mabuk berjalan menelusuri koridor hotel menuju kamar mereka.
"Katanya minum sedikit,"
"Ya...maaf. Aku keenakan minum." jawab Ridwan sambil membuka pintu kamar.
"Hufh...gerah banget!" kata Ridwan membuka jendela kamar.
"Ini kan pakai ac, kok bisa gerah?" pikir Archi merasa aneh.
Ridwan membuka jasnya dan melemparkan nya ke sofa. Dia membuka tiga kancing atas kemejanya lalu tidur tertelungkup sambil merentangkan tangan dan kakinya.
Hari semakin larut, Ridwan masih di posisi-nya saat Archi keluar dari dalam kamar mandi.
"Hufh...Ridwan...Ridwan." Archi membukakan sepatu dan kaos kaki yang masih terpasang di kakinya.
Saat itu Ridwan terusik dan bangun.
"Oh, aku ketiduran ya. Aku mau mandi dulu, ya." katanya lalu berjalan ke kamar mandi.
Archi menikmati cemilan sambil menonton televisi di atas sofa dekat jendela pintu menuju balkon.
Ridwan keluar hanya menggunakan boxer, dengan rambut masih setengah basah.
"Eh Archi, aku pikir kamu di kamar." kata Ridwan mengambil tasnya untuk mengambil baju.
Archi tidak berani menoleh ke arah Ridwan karena pemandangan yang bisa menggoda imannya.
"Aduuuh!" rintih Ridwan.
"Kenapa?" Archi yang khawatir bergegas mendekati Ridwan
"Tanganku kena resettling." jawab Ridwan menghisap telunjuknya yang berdarah.
"Apa nggak apa-apa?" tanya Archi memastikan.
"Nggak," jawab Ridwan. Archi berbalik, belum berbalik sempurna, tangan Ridwan menarik lengannya dan membawa ke dalam pelukannya.
"Ridwan!" Archi terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Ridwan. "Lepasin Ridwan!" Archi memberontak namun Ridwan semakin kencang menahannya.
Tanpa aba-aba, bibir bertindik Ridwan menyambar bibir Archi.
...~ bersambung ~...