Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
CAT - 138 (revisi)


Manik kucing melirik ke arah pintu dan melihat Archi dengan mata berkilat-kilat amarah. Kucing bangkit dan turun dari sofa.


"Yoongi!" panggil Irene.


Kucing putih mendekati Archi. Archi mengangkat dan menggendong kucing dalam pelukannya.


"Heh...mau kamu bawa kemana kucing itu?" tanya Irene mendekati Archi.


"Dia suamiku, suka-suka akulah mau dia kemana!" ketus Archi.


"Kamu nggak boleh pulang di jam kerja!" sungut Irene ingin merebut kucing putih.


"Eh...apaan sih. Aku udah izin sama Pak Ridwan untuk pulang."


"Ada apa sih ini ribut-ribut?" tanya Ridwan memasuki ruangan Agust. "Hatchi...WAAH....ada kucing!" pekik Ridwan menutup hidungnya. "Hatchi... kalian lanjutkan saja bertengkar nya. Aku mau pergi." Ridwan beringsut keluar.


"Kirain mau jadi pahlawan yang menghentikan pertengkaran ini malah kabur. Badannya doang yang besar sama kucing hatchi hatchi!" gerutu Agust dalam hati.


"Males aku bertengkar sama mak lampir! Aku mau pulang!" sewot Archi melengos pergi.


"Heh...dasar kamu mba kunti!"


"Weeee!" Archi menjulurkan lidah sebelum melalui mulut pintu.


"Haduuuh.... cewek-cewek rempong ini. Berisik aja!" keluh batin kucing.


Archi pun membawa Agust pulang. Sesampainya di rumah.


"Kakak bawa kucing!" seru Kenji girang.


"Itu...?" Ibu melongo menunjuk ke arah Agust.


"Iya ibu. Ini Agust. Dia berubah jadi kucing."


"Jadi yang kamu dan ayahmu ceritakan itu bukan dusta? Dia benar-benar bisa berubah jadi kucing?"


"Iya Bu."


"Kakak...aku boleh main sama kucing?"


"Boleh Kenji."


"Horeeee!"


Selepas bermain atau tepatnya bermain sambil disiksa oleh Kenji Agust kabur ke kamar Archi.


"Meeooong!"


"Boodo...aku ngambek!"


"Ngambek terus kerjaannya." dengus batin kucing.


"Ngambek lah. Mau-maunya kamu dielus-elus Mak lampir."


"Ya ampun aku ini kucing. Bisa apa kalau manusia mau elus aku. Ya pasrah." sahut kucing lagi dengan batinnya tentunya.


"Ya kan bisa kabur. Memangnya aja kamu memanfaatkan situasi.


"Ya ampun...kabur ya percuma dia mengejar. Lagian kesempatan apa,? Bisa apa aku dengan rupa kucing begini." sambung batin kucing.


"Biarin kamu jadi kucing aja terus biar nggak bisa ketemu Irene!"


"Archi...jangan gitu dong."


Sore harinya....


"Jadi Agust berubah jadi kucing?"


"Iya yah." sahut Ibu sambil memasak.


"Ini!" Ayah memberikan sebotol kecil cairan.


"Apa ini?" tanya Archi.


"Apa kamu nggak menyadari Agust bisa jarang berubah jadi kucing selama ini?"


Archi menatap Ayah bingung."


"Ayah diam-diam mencampur cairan itu di makanan atau minumannya. Itu bisa mencegah perubahan Agust sementara, tetapi nggak ada yang bisa mengira kapan reaksi obatnya berakhir. Jadi dia bisa berubah jadi kucing sewaktu-waktu." jelas Ayah.


"Wah...keren!" sahut Archi.


"Berikan itu saat dia sudah berubah jadi manusia. Bila kamu memberikannya sekarang. Dia malah akan menjadi kucing terus." kata Ayah.


"Biarin, biarin jadi kucing terus!" ketus Archi menatap sinis ke arah kucing di atas kursi meja makan.


"Masih aja ngambek!" desis kucing di batinnya.


Dua hari kemudian....


"Jadi Kak Yoongi masih menjadi kucing?" tanya Ridwan.


"Iya."


"Apa dia akan selamanya jadi kucing?"


"Nggak." sergah Archi buru-buru menepis pemikiran buruk itu. "Ayah bilang sih nggak mungkin. Dia pernah lebih lama dari ini menjadi kucing." kata Archi.


"Begitu ya." kata Ridwan.


"Tetapi walau bagaimanapun Kak Yoongi kan kakakku. Dan kami dulu sangat akrab dan saling menyayangi." sambung hatinya.


Setelah dua minggu berlalu, akhirnya Agust kembali berubah jadi manusia. Dan dengan menjadi manusia kembali, kehidupan Archi sebagai seorang istri pun dimulai. Dia harus ikut tinggal di rumah kakek mertuanya. Walau Archi merasa berat namun dia tidak bisa mengecewakan Agust.


Hari Sabtu itu mereka pun pindah. Tidak lupa Archi berpamitan kepada ayah dan ibunya.


"Aku pasti merindukan masakan ibu." kata Archi dalam pelukan ibu.


"Iya Archi. Nanti kan kamu bisa sering mampir ke sini kalau kangen." jawab Ibu.


"Iya bu." mereka melepaskan pelukan mereka.


"Ayah!"


"Jaga dirimu di rumah mertuamu ya. Hormati dia seperti kamu menghormati orang tuamu sendiri." nasehat Ayah dengan bijak.


"Iya ayah."


"Kalian ni rada lebay ya!" celetuk Kakak. "Archi hanya pindah ke rumah mertuanya. Itu pun nggak jauh dari sini. Tapi kaya Archi bakal di bawa keluar negeri aja. Apalagi ayah, kan masih bisa bertemu di pabrik."


"Yee sirik aja nih kakak."


Kakak tersenyum dan memeluk adiknya sambil menangis. "Huaaaa... Archi. Kakak pasti bakal kangen banget sama kamu. Rumah ini pasti bakal sepi banget nggak ada kalian. Jaga diri kamu ya Archi!" kata Kakak.


"Ya ampun... katanya lebay...dia sendiri juga lebay." sungut Ibu.


Setelah berpamitan, Archi berangkat ke rumah Agust dengan menggunakan mobil Yoongi yang dikirimkan ke rumah.


"Hah...selamat datang hidup yang menyesakkan." kata hati Archi sesampainya di rumah Tuan Ludwig.


Mereka pun memasuki rumah itu.


"Kalian ke kamar saja dulu." kata Tuan Ludwig. "Ridwan antar Kak Yoongi."


"Nggak usah kek. Aku bisa mengingat arah ke kamarku." kata Agust.


Agust pun menuntun Archi ke kamarnya.



"Waw...yang benar ini kamarmu?" kata Archi terpukau dengan kamar Agust."


"Iya lihat saja foto-fotonya."


"Ini besar sekali Agust."


"Kamu suka? Kalau ada yang ingin kamu rubah atau tambahkan untuk kamar ini bilang aja. Aku ingin kamu betah tinggal di sini." kata Agust.


Archi menggeleng, "Ini sudah cukup bagus." kata Archi melihat koleksi CD musik Agust. "Kamu sangat suka musik juga?"


"Yah... passion ku lebih di musik daripada bekerja di kantor. Tetapi apa daya, aku pewaris."


"Kan bisa kerja kantor sambil bermusik. Ini pintu menyambung ke taman?" Archi membuka pintu kaca besar di sisi tempat tidur.


"Iya. Kamu mau pelihara kucing, kita bisa buat rumah kucing di taman itu."


"Untuk apa? Aku sudah punya kucing, buat apa punya kucing lain." goda Archi menyunggingkan sudut bibirnya.


"Kucing tampan lagi ya." Agust menaik-naikan alisnya. Archi melengos geli. "Haha... Kasurnya di sini besar. Apa kita ganti saja jadi yang kecil, seperti di kamarmu." kata Agust.


"Duh buat apaan lagi itu?"


"Biar bisa dempet-dempetan!" Agust merapatkan lengan sampingnya di punggung Archi.


"Ih...nggak mau. Enak seperti ini lega." sahut Archi.


"Haha...aku ke kamar mandi dulu ya." kata Agust.


"Oke." Agust pun pergi ke kamar mandi di dalam kamar.


"Archi!" Ibu Yoongi menghampiri.


"Jangan santai-santai di sini. Kamu kan menantu, bantu kami di dapur." katanya ketus.


"Baik Ibu mertua." jawab Archi lemas lalu mengikuti Ibu mertuanya dari belakang.


Agust keluar dari kamar mandi dan terkejut tidak melihat Archi di dalam kamar. Dia pergi keluar untuk mencari Archi.


Di dapur...


Archi nampak sangat terkejut ketika sampai di dapur. Gadis itu, gadis berambut panjang dan berkulit putih itu ada di sana. Menggunakan apron putih dengan renda-renda yang malah membuatnya nambah cantik dan menarik.


"Karena hari ini, hari besar, hari menyambut kembalinya Yoongi ke rumah. Maka kita akan membuat acara makan besar di sini. Tentu semua anggota keluarga harus datang. Termasuk Irene." jelas Ibu Yoongi memegang kedua bahu Irene dari belakang. Irene sibuk menyiangi sayuran dengan senyum sombong di wajahnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Archi bersikap acuh.


Di luar kamarnya, "Kamu melihat Nona Archi?" tanya Agust kepada seorang pelayan.


"Nona membantu Nyonya memasak di dapur, tuan muda." jawab pelayan dengan sopan.


"Apa?"


Dalam benaknya tergambar kebakaran besar di dapur.


"Archi!" Agust berlari ke dapur.


...~ bersambung ~...