
"Archi!" Agust memasuki dapur mengejutkan semua orang di sana.
"Yoongi? Kenapa lari-lari begitu?" tanya Ibu Yoongi.
"Eu...aku mau mengajak Archi tour house rumah ini." dalih Agust.
"Nggak boleh. Dia mau bantuin kami memasak." tolak Ibu Yoongi.
"Memasak kan urusan asisten rumah tangga. Archi akan sama aku."
"Kenapa sih, kamu kayak nggak ngizinin Archi masak?" tanya Irene kelihatan sewot.
"Nggak apa-apa."
"Pasti kamu takut ketauan kalau istri kamu itu nggak bisa masak ya?" terka Ibu Yoongi. "Kalau dia nggak bisa masak fungsi dia sebagai istri apa? Jangan-jangan selama ini kamu yang memasak untuknya? Kamu kan jago masak."
"Fungsi istri itu bukan cuman melayani urusan dapur Ibu. Kalau dia bisa melayaniku di tempat lain, itu udah cukup buatku." sanggah Agust. Dan malah membuat Arci mengernyit dengan jawabannya.
"Kalau istri harus multi talenta seperti Irene ini."
"Aku nggak perlu yang multi talenan. Aku cuman mau Archi. Ayo!" Agust menarik tangan Archi untuk pergi.
"Nggak. Aku mau bantu masak."
"Jangan Archi...kamu nggak ingat terakhir kali kamu masuk dapur. Udah kita jalan-jalan aja." Archi pun menuruti kata-kata Agust dan pergi dari dapur.
"Jangan sedih Irene. Tante janji akan bisa mendekatkan kalian lagi."
"Iya tante." jawab Irene menatap sedih ke arah kepergian Agust dan Archi. "Tetapi sepertinya Yoongi sangat mencintai gadis itu Tante."
"Itu karena dia sedang menjadi orang lain. Kalau ingatan dia kembali dan bisa mengingatmu dengan jelas dia pasti kembali padamu." kata Ibu Yoongi menenangkan Irene.
"Tetapi tatapan matanya saat melihat Archi berbeda." jelas Irene.
"Tatapannya berasal dari hati. Saat masih bersamaku dulu. Dia tidak pernah menatapku seperti itu." batin Irene merasakan cinta Yoongi untuk Agust.
"Itu hanya perasaanmu Irene. Jangan dipikirkan."
Saat makan malam bersama.
"Saat aku bahkan nggak tahu siapa aku. Tetapi Archi mau membantuku. Bahkan dia rela menikahi ku yang nggak jelas datang dari mana."
"Terimakasih sudah menjaga Yoongi saat dia kehilangan jati dirinya hingga sekarang, Archi." ucap Tuan Ludwig.
"Iya kek." jawab Archi malu-malu.
"Aku beruntung mendapatkan dirinya dalam hidupku." ungkap Agust menggenggam jemari Archi sambil menatapnya penuh cinta.
Irene dan Ridwan sama-sama memandang jealous ke arah mereka.
"Aku yang beruntung mendapatkan Agust."
"Agust...Agust...nama dia Yoongi!" tegur Ibu Yoongi.
"Agust apa Yoongi sama saja." jawab Agust.
"Tetapi kamu sudah tahu siapa dirimu. Dia harus sudah bisa menerima dirimu sebagai Yoongi. Dan melupakan Agust."
"Aku akan usahakan untuk membiasakan diri menganggap dia Yoongi." jawab Archi.
Baru beberapa hari di sana, Ibu Yoongi selalu mencari-cari kesalahan Archi. Hingga satu ketika, dia berani memfitnah Archi yang sedang mengobrol dengan Ridwan di malam hari dengan mengatakan mereka berciuman mesra.
"Jadi kamu lebih percaya sama ibumu? Aku mencium Ridwan?" tukas Archi.
"Masa aku harus menganggap ibuku pembohong. Dia nggak mungkin bohong." kata Agust.
"Tetapi aku hanya mengobrol dengan Ridwan. Pegangan saja tidak."
"Jadi kamu berkeras, Ibuku bohong. Kamu lupa kamu pernah menerima Ridwan menciummu?"
"Kenapa kamu mengungkit masa laluku untuk membela ibumu?"
"Sudahlah Archi. Percuma kamu pasti nggak mau mengaku."
"Aku kecewa kepadamu, Agust." ucap Archi sambil menangis. Dia pun memutuskan malam itu juga dia pergi dari rumah Tuan Ludwig.
Sesampainya di rumah, Archi menangis sambil memeluk ibunya. Dia pun menceritakan apa yang terjadi kepadanya malam itu.
"Kenapa Agust seperti itu?" kata Ibu yang ikut mempertanyakan sikap Agust.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu di sini saja dulu malam ini." kata Ayah. "Sambil menunggu, mungkin Agust akan menyesali perbuatannya." kata Ayah.
Tak lama bel pintu berbunyi. Mereka saling memandang siapa yang datang malam-malam begini.
"Ridwan!" kata Ayah terkejut melihat pria berperawakan tinggi besar karena ototnya itu di depan pintu mereka. Ayah pun mempersilahkannya masuk dan duduk.
"Aku ingin meminta maaf kepada Archi. Karena aku terjadi kesalahpahaman ini." kata Ridwan menunduk.
"Ini bukan salahmu. Ini salah Agust yang nggak bisa mempercayai istrinya sendiri." ketus Archi.
"Aku sudah mencoba menjelaskannya kepasa Ka Yoongi tetapi dia tetap tidak percaya kepadaku." jelas Ridwan lagi.
"Sudah biarkan saja dia seperti itu. Aku nggak peduli dengan pria yang nggak bisa percaya kepada istrinya sendiri." sungut Archi.
"Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu." Ridwan pun pamit pulang.
Tidak berselang lama, bel kembali berbunyi.
"Kenapa dia balik lagi? Apa ada barang yang tertinggal?" pikir Archi melihat ke atas meja dan sofa yang di duduki Ridwan tadi.
Archi pun membukakan pintunya,
Pria itu memeluk Archi tanpa permisi. Memeluknya begitu erat sambil menangis.
"Maafkan aku Archi!" katanya dengan berlinang air mata. "Aku salah. Nggak seharusnya aku tidak mempercayai kamu." katanya.
"Agust."
Agust merenggangkan tubuhnya. "Kamu mau memaafkan aku kan?" katanya.
"Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran seperti itu?" ketus Archi.
"Karena aku teringat cinta kita. Bila kita saling mencintai kita juga harus saling mempercayai, karena dua hal itu adalah dasar suatu hubungan." jelas Agust.
"Bagaimana dengan Ibumu?"
"Aku sudah tidak peduli." Archi melihat tas di bawah kaki Agust.
"Kamu?"
"Aku akan pindah ke sini lagi. Itu juga kalau kamu mau menerimaku lagi." jawab Agust. "Karena sejak kita tinggal di sana, kita jadi sering bertengkar. Aku lebih nyaman tinggal di sini denganmu." kata Agust jujur.
Archi terdiam, "Kamu nggak mau memaafkan aku lagi ya?" Agust murung.
Archi memeluk Agust. "Mana mungkin. Aku kan mencintaimu dan mempercayai kamu. Ayo masuk!" ajak Archi menggandeng tangan Archi memasuki rumah orang tuanya.
"Hah... syukurlah kalian telah berbaikan." kata Ayah. "Sebenarnya ayah ingin memberikan ini." Ayah menaruh botol kecil obat di atas meja.
"Apa itu?"
"Cairan penawar untuk membuat Agust nggak kembali lagi menjadi kucing."
"Benarkah? Ayah berhasil membuatnya?" tanya Archi sambil mengangkat dan memperhatikan botol kaca itu.
"Iya. Tetapi ada efek sampingnya." Ayah memicingkan matanya menatap tajam hingga Agust bisa merasakan sakit di ulu hatinya.
"A-apa itu?" tanya Agust.
"Kamu akan melupakan semua hal yang terjadi setelah kamu berubah jadi kucing." jawab Ayah.
"Maksudnya, aku akan melupakan Archi, ayah dan semua kejadian yang aku jalani disini?" tanya Agust memastikan perkiraannya salah.
"Ya, bahkan percakapan kita saat ini. Kamu hanya akan ingat memori masa lalumu sebelum kamu diminumkan obat perubah kucing oleh pamanmu."
"Bisa dikatakan ini kebalikan? Ini akan mengembalikan semua ingatan masa lalu Agust dari Agust lahir sampai dia minum obat perubah kucing. Tetapi dia akan melupakan kejadian setelah itu."
"Ya betul sekali. Bila obat perubah kucing menghilangkan ingatan masa lalunya. Obat ini akan menghilangkan ingatan masa sekarangnya."
Mudah-mudahan readers ngerti ya maksudnya. Author rada berbelit menjelaskannya 😹. Intina mah begitu lah ya pokona mah 😆
"Nggak...aku nggak mau!" tolak Agust mentah-mentah. "Lebih baik aku kehilangan masa laluku, daripada aku harus kehilangan masa kini ku." Mata Agust nampak berkaca-kaca sambil memandang Archi.
"Pilihannya ada di tanganmu Agust. Kalau kamu maunya seperti itu, kamu harus rela bila harus berubah sewaktu-waktu menjadi kucing." kata ayah.
Agust merenung begitu pula Archi yang sedang menatap Agust dalam kebimbangan. Sungguh pilihan yang sangat berat untuk Agust dan Archi.
...~ bersambung ~...