
"Archi mikirin apa ya? Apa benar dia lagi ada masalah?" tanya Agust di hatinya.
"Apa aku tanya langsung sama Archi, ada apa?" tanyanya lagi menimbang.
Archi kembali dari dapur dengan segelas air putih di tangan.
"Ini minum untuk kamu," kata Archi menyerahkan gelas air ke Agust.
"Terimakasih," jawab Agust dengan lemah.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Archi yang melihat Agust murung.
"Harusnya kan aku yang tanya ada apa, kenapa malah dia yang bertanya kepadaku?" pikir Agust menenggak habis minumnya.
"Aku nggak ada masalah apa-apa." jawab Agust dengan canggung sambil menaruh gelas air di atas meja di sisi atas tempat tidur.
"Ya sudah kalau begitu. Aku mau tidur," pamit Archi sambil merebahkan diri di tempat tidur.
Dia tidur menyamping membelakangi Agust.
"Apa Agust menyukai Irene ya? Aku terlalu cepat menarik kesimpulan kalau Agust serius dengan hubungan kami. Padahal itu wajar karena Agust belum banyak bertemu orang.
"Saat ini dia memiliki orang lain, bisa saja hatinya lebih memilih orang lain daripada aku. Dengan aku karena dia terpaksa, tetapi hatinya, aku nggak tahu," racau Archi dengan mata terpejam.
Tanpa dia sadari air mata menuruni matanya dan mengalir ke bantalnya.
Esok harinya....
Di kantor Archi.
"Pagi!" sapa Welin dengan nampan berisi cangkir teh menghampiri meja Archi.
"Pagi. Wah ada apa nih?" tanya Archi tersenyum cerah.
"Aku membuatkanmu teh. Semoga kamu suka ya," kata Welin
"Iya Welin. Terimakasih." jawab Archi.
"Weh...si Welin jadi baik ke kamu," bisik Andini saat Welin telah pergi.
"Mungkin ungkapan terimakasih," jawab Archi.
"Bisa jadi." jawab Andini.
Saat istirahat tiba, seperti biasa Archi dan kawan-kawan duduk bersama di satu meja sampai Pak Manager menghampiri.
"Nih...buah untukmu biar sehat!" kata Ridwan sambil duduk bersebrangan dengan Archi.
"Terimakasih Pak," jawab Archi.
Sebuah jus mangga tiba-tiba muncul dari arah belakang Archi dan ditaruh di atas meja Archi.
"Ini untuk kamu Archi. Di minum ya." kata Welin.
"E...tapi Welin."
"Udah...untukmu. Di minum ya!" kata Welin tersenyum ramah kepada semua yang berada di meja Archi.
"Haduh...kok jadi dapat minuman gratis," kata Archi.
"Alhamdulillah sih. Tapi aku udah kenyang." sambung Archi kecewa pada diri sendiri karena nggak bisa menikmati jus buah dari Welin.
"Ya udah buat aku aja," jawab Susan mengambil jus Archi.
"Huh...dasar si Susan!" ledek Andini.
"Dia jadi baik sama kamu?" kata Ridwan keheranan.
"Iya. Tapi apa Welin udah dapat hukuman-nya?" tanya Archi.
"Dia nggak jadi di hukum atas permintaan kamu." jawab Ridwan menyesap kopi instan bermerek dari cup nya.
Malam harinya...
Agust pulang bekerja dan memasuki kamar Archi.
"Kamu udah pulang Archi?" tanya Agust kepada Archi yang sedang membaca novel online.
"Sudah," jawab Archi yang tidur tengkurap di atas tempat tidur.
"Ini!" Agust memberikan kotak makan berwarna putih.
"Apa ini?" Archi mengambil dan membukanya.
"Lucu ya?" tanya Agust memperhatikan makanan dalam kotak.
"Ini dari Nona Irene. Enak deh. Cobain!" suruh Agust menyumpitkan makanan ke dalam mulut Archi.
"Apa maksudnya dia pakai ngasih makanan segala ke Agust. Memang dia pikir Agust kurang makan di rumah ini?" pikir Archi sambil mengunyah.
"Enak kan. Nona Irene pandai memasak loh. Dia bisa memasak apa aja." puji Agust terlihat kagum.
"Hem...pakai puji-puji dia segala. Iya tau, dia mah pinter masak. Nggak kaya aku yang bisanya makan doang," sungut hati Archi bertambah panas hati.
"Kalau cuman masak aku juga bisa." sahut Archi nggak mau kalah.
"Oh ya? Kamu tahu bumbu buat bikin sayur sop?" uji Agust kepada Archi.
"Taulah. Yang pasti harus ada bawangnya kan,"
"Bawang merah, bawang putih, cabe. Eh tunggu nggak pakai cabe. Kalau pakai cabe jadi merah." Agust terkekeh mendengarkan Archi yang tampak bingung.
"Apa yang lucu?" sungut Archi kesal.
"Nggak. Nggak ada yang lucu," timpal Agust mengeluarkan gummy smilenya.
Keesokan harinya lagi 🙀 ...
Ibu memasak dengan di bantu Agust di dapur. Archi memasuki dapur dengan pakaian kerjanya. Dia memperhatikan keduanya yang sibuk memasak.
"Aku mau bantu," kata Archi menawarkan diri.
"Jangan, kamu kan sudah rapih. Sudah cantik gitu. Masa mau masak. Nanti bau masakan." tolak ibu secara halus.
Mata Archi tertuju kepada Agust yang tengah mengoseng-ngoseng masakannya di wok pan. Agust nampak menahan tawa mendengar alasan ibu menolaknya membantu.
"Hahaha!" Tawa renyah kakak menyahut memasuki dapur.
"Archi mau bantu apa? Bisa masak aja nggak. Megang piring aja pecah," sindir kakak mengambil tempat duduknya di kursi biasanya.
"Kenapa sih sirik aja kakak ini!" sungut Archi menarik-narik tissue makan dengan kesal.
"Lagi PMS ya kamu?" tanya Kakak.
"PNS," jawab Archi sewot.
Kemudian di kantor,
"Apaan mereka itu. Masak, masak aja dibanggain. Irene pintar masak. Huh...aku kalau diizinin ke dapur juga bisa masak." dumel Archi di dalam hatinya.
"Bisa masak, apa bisa kebakaran ya jadinya?" pikirnya sendiri.
"Pagi!" tiba-tiba Welin datang menghampiri Archi.
"Kamu suka kopi instan merk seabrek ini kan Archi?" kata Welin memberikan satu gelas cup coffee kepada Archi.
"Suka. Tapi aku jadi ngerepotin Welin," jawab Archi merasa nggak enak.
"Nggak apa-apa kok. Aku sekalian beli buat aku. Jadi aku beliin buat kamu juga," jawab Welin lalu pergi ke mejanya.
"Lama-lama jadi nggak enak kalau terus diperlakukan seperti ini sama Welin." pikir Archi.
"Cie...dapat kopi merek seabrek gratis nih!" kata Andini yang baru datang.
"Iya dikasih si Welin. Kamu mau?" tanya Archi menyodorkan kopinya.
"Maulah. Join coffee kita," jawab Andini.
"Pagi all!" sapa Susan yang baru datang.
"Pagi!" sahut yang mendengar.
"Eh...besok Minggu. Kita hangout yuk!" ajak Susan, nggak ada hujan dan nggak ada angin tiba-tiba mengajak jalan-jalan.
"Ayok! Mau kemana?" tanya Andini.
"Aku nggak bisa." jawab Archi.
"Kenapa? Mau jalan pasti, sama mas Agust, ya?" terka Susan.
"Jalan dari mana? Dia kan kerja kalau Minggu."
"Terus mau ngapain kamu? Ada acara keluarga?" tanya Andini.
"Nggak. Aku mau belajar masak." jawab Archi terdengar sangat serius.
Andini dan Susan saling menatap bingung.
"Kamu? Belajar masak?" tanya mereka berbarengan, nggak percaya.
"Iya kenapa?" Archi balik bertanya.
"Tumbenan kamu mau belajar masak?" tanya Susan.
"Mau aja. Aku kan cewek harus bisa masak." jawab Archi.
"Tapi mas Agust kan sudah pintar masak, jadi kamu nggak perlu belajar masak lagi Archi. Tinggal nikmatin aja masakan mas Agust." saran Andini menutupi kebenarannya yang melarang Archi memasak.
"Aku juga pengen dong sekali-sekali masakin buat suami aku."
"Feeling aku nggak enak nih!" bisik Andini kepada Susan.
"Iya sama." timpal Susan dengan berbisik juga sambil melihat kepada Archi yang tengah melihat aneka resep masakan di mesin pencarian google.
Namun mereka berdua melihat kilatan di mata Archi. Matanya dipenuhi api keyakinan dengan tekad membara untuk belajar masak.
"Gimana kalau kita taruhan?" usul Susan.
"Hah?" Andini terperangah mendengar ide Susan.
"Iya, gua yakin Archi bakal gagal."
"Duh...kalau soal yakin, aku juga yakin Archi bakal gagal. Tapi ya udahlah, mungkin bakal ada keajaiban yang bikin dia bener bisa masak dan nggak menghancurkan dapur ibunya." jawab Andini pasrah.
"Jadi kita deal?" tanya Susan.
"Deal!" jawab Andini bersalaman dengan Susan.
...~ bersambung ~...