
"Aaaa!" jerit Levi ketakutan.
"Kakak!" tubuh Archi gemetar hebat melihat kakaknya dalam bahaya.
Seseorang berlari kearah mereka, "Bos, ini suratnya!" serunya menyerahkan berkas kepada Jeremy.
"Oh sudah, baguslah!" sahut Jeremy tersenyum bahagia. "Tanda tangani di sini saja kalau begitu." sambungnya.
Anak buah Jeremy menaruh meja di hadapan Jeremy. Jeremy menaruh berkas dalam map di atas meja lalu membuka lembarannya.
"Tanda tangani ini Archi!" suruh Jeremy menaruh pulpen di meja.
"Tanda tangan untuk apa?" tanya Archi memicingkan matanya. Dia tidak bisa melihat tulisan dengan baik dari jarak jauh.
"Surat perceraian, dan perjanjian bahwa kamu akan menikah denganku setelah bercerai."
"Apa?" pekik kakak dan Archi berbarengan.
"Jangan...jangan Archi! Jangan tanda tangani itu!" sergah Kakak.
"Apa kamu mau mati Levi?" teriak Jeremy. "Melarang adikmu melakukan itu."
"Tanda tanga Archi! Atau kakakmu akan mati di sini!" ancam Jeremy. Anak buah Jeremy kembali menodongkan pistol ke sisi dahi Kakak. Kakak memejamkan matanya dan tubuhnya gemetar.
Archi menatap kakaknya dengan sorot mata sendu yang berkilau air mata. Pandangannya beralih menatap berkas di depannya dan lalu wajah Jeremy.
Jeremy mengangkat sudut bibir kanannya, dan melirikkan maniknya ke atas berkas.
"Kamu nggak akan rugi menikah denganku Archi. Daripada dengan suamimu yang nggak punya jabatan apa-apa itu. Aku punya jabatan bagus, aku Manager dan sebentar lagi akan menjadi direktur utama." Jeremy menyombong.
"Ayo tanda tangan atau tekan pelatuknya." teriak Jeremy tak sabar. Anak buah Jeremy bersiap menekan pelatuknya.
"Aaaa!!!" jerit kakak dan Archi berbarengan.
"Jangan...baiklah...baiklah. Tetapi berjanjilah lepaskan kakakku." kata Archi yang gemetaran.
"Archi jangan lakukan itu," pinta kakak kembali menangis.
Jeremy membuka ikatan tangan Archi. Archi memandang kakaknya lalu menandatangi setiap berkasnya.
Jeremy kembali mengikat Archi, "Kenapa kamu mengikatku lagi? Aku kan sudah menuruti kemauanmu!"
"Aku nggak akan menyiakan setiap kesempatan bagus Archi." sahut Jeremy.
"Ayo, ikut aku!" Jeremy menarik paksa tangan Archi yang terikat.
"Lepas!" pinta Archi memberontak namun Jeremy menahannya kuat-kuat.
"Jeremy lepaskan adikku! Kemana kamu akan membawanya." teriak kakak memberontak di kursinya. "Jeremy!"
"Diam! Atau aku tembak kau!" ancam anak buah Jeremy.
Jeremy menyeret Archi ke sebuah ruangan. Sepertinya dia memang telah menyiapkan segalanya untuk ini. Dalam ruangan terdapat sebuah tempat tidur tertutup seprai bersih dan bertabur bunga mawar.
"Lihat! Kita akan malam pertama di sini." tunjuk Jeremy dengan riang.
"Kita belum menikah Kak! Tunggu sampai aku bercerai." kata Archi mencoba membujuk Jeremy untuk tidak berbuat gila.
"Aku nggak mau menunggu selama itu." Jeremy melempar Archi ke atas tempat tidur.
"Arkh...!" Archi terbanting di atas tempat tidur dengan tangan masih terikat.
"Aku mohon, jangan lakukan sekarang kak. Kita tunggu kita menikah." Archi masih mencoba membujuk Jeremy.
"Menunggu menunggu terus!" hardik Jeremy dengan keras. "Kamu nggak pernah tahu berapa lama aku menunggu untuk memilikimu. Dari sebelum pria-pria bodoh itu hadir, aku sudah mencintaimu." jelas Jeremy.
"Selama itu aku menunggumu. Saat aku ingin mengutarakan niatku memilikimu ayahku malah menyuruhku bersabar, dan menyuruhku berpacaran dengan kakakmu yang menyebalkan itu! Yang selalu membuatku pusing dengan tingkah manjanya." jelas Jeremy kemudian.
Jeremy membuka kaos yang dia pakai. Memperlihatkan badan putihnya yang terawat dengan hiasan roti sobek berbentuk di perutnya.
"Itu hal berbeda Archi." Jawabnya merangkak naik ke atas tempat tidur. Archi bergerak mundur. "Aku memang akan melakukan apa pun yang kamu mau, kecuali satu itu. Aku sudah menunggu lama untuk ini." sambung Jeremy memperhatikan tubuh Archi dari atas sampai bawahnya.
"Aku terlalu sering melakukannya dimimpi denganmu. Aku begitu menginginkanmu, dan sekarang aku bisa mewujudkan mimpiku." Jeremy menyeringai.
Dia mengangkat tangan Archi yang saling terikat ke atas kepalanya. Dengan penuh nafsu Jeremy melu mat bibir Archi. Archi yang seolah membeku hanya bisa pasrah dengan airmata mengalir dari kedua matanya.
"Mmphhht...Archi. Rasanya lebih nikmat daripada di mimpiku." bisik Jeremy.
"Kamu menjijikan!" desis Archi.
Jeremy malah tersenyum seolah itu adalah pujian untuknya. Dia kembali melakukan aksi bejadnya, menciumi Archi dan satu tangannya menyelusup ke bawah baju Archi. Menangkup gumpalan kenyal di dada Archi dan mende sah nikmat.
Sementara itu di luar...
"Agust...Agust...!" panggil Kakak bahagia melihat Agust datang.
Para anak buah Jeremy bersiap untuk menghajar Agust bersama-sama. Dengan gagahnya Agust pun bersiap menerima serangan mereka.
Agust menangkis dan menyerang anak buah Jeremy. Saat itu Kakak bersorak riang mendukung Agust. Dan mengaduh saat Agust terkena pukulan mereka.
Di tempat lain, Ridwan masih berkendara dengan mobilnya.
"Benarkah? Aku akan ke sana." Ridwan memutar kemudinya cepat. Dengan skill mengemudi tingkat tingginya berbalik arah dengan mudahnya. Dia pun menuju gudang tempat kakak disekap.
Kembali ke gudang, Agust kalah jumlah. Dan tersungkur di lantai. Dia mengelap mulutnya yang berdarah dengan lengannya.
"Cih!" ia meludahkan darahnya.
"Cepat tangkap dia!" seru salah satu anak buah Jeremy.
Saat mereka mendekat, Agust melompat bangkit dan menghajar mereka tanpa ampun. Semua anak buah Jeremy terkalahkan tanpa bersisa. Agust yang hampir kehabisan tenaga, menarik salah satu pistol di sarung pistol salah satu anak buah Jeremy.
Dia menodongkan pistolnya ke arah mereka.
"Jangan ada yang bergerak atau aku tembak!" ancam Agust. Agust hendak menghampiri kakak.
"Agust, selamatkan Archi lebih dahulu. Jangan pedulikan kakak!" seru Kakak. "Archi di ruangan sebelah sana. Dia dalam bahaya." sambung kakak.
Agust mengantongi pistol di saku celananya dan berlari ke ruangan yang di tunjuk kakak. Pintunya terkunci saat Agust sudah berada di depannya. Dengan kuat Agust menendang pintu kayu itu hingga lepas dari engsel nya dan terlempar dari bingkainya.
Jeremy yang sedang melampiaskan nafsunya terkesiap. Menoleh ke arah pintu. Agust melihat Archi yang berlinang air mata di atas tempat tidurnya. Terlihat lemah. Bajunya telah terangkat ke atas. Penutup dua bulatan di dada Archi sudah tersingkap.
Manik Jeremy membulat sempurna, tubuhnya gemeter, "Ha-han-tu!...hantu!" Jeremy nampak ketakutan seraya menunjuk Agust.
"Kamu hantu bia dap!" Geram Agust menarik Jeremy turun dari atas Archi.
"Beraninya kamu menyentuh istriku!" Agust menghajar Jeremy.
"Bagaimana kamu bisa hidup lagi?" racau Jeremy yang pasrah dipukuli.
Di atas tempat tidur, setelah membetulkan bajunya yang terangkat, Archi duduk memeluk diri dan terus menangis.
Jeremy yang sedari tadi pasrah, menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dengan kekuatan-nya dia membalas memukul Agust. Baku hantam pun terjadi di antara mereka. Hingga Jeremy menarik pistol di saku Agust.
"Jangan bergerak!" ancam Jeremy menodongkan pistol ke arah Agust.
...~ bersambung ~...