
Namun manusia kucing itu tak menjawab. Archi melihat ekpresi Agust berubah tiba-tiba. Agust tertegun dengan matanya yang membesar, warna merah meresapi kulit putihnya saat ia menelan salivanya.
Archi menyipit, bertanya apa yang terjadi pada pria dihadapannya ini. Mengapa ekspresinya cepat berubah. Semula dia merintih dan kini termangu.
Agust menundukkan wajahnya, menjaga pandangannya sebelum pikirannya terlalu jauh. Di saat yang sama Archi menyadari apa yang baru Agust lihat.
"Aaaa!" rengek Archi menutup dadanya. "Jadi kamu ngeliat itu!" omel Archi memukul Agust dengan tangan satunya.
"Bagaimana nggak lihat orang kelihatan?" jawab Agust.
"Aku mau ganti baju dulu," kata Archi berjalan ke lemari. Di hadapan lemari tiba-tiba Archi merasa tubuhnya gemetar, kaki-kakinya terasa seperti jelly, wajahnya tertunduk ketakutan dan keringat dingin mulai bercucuran. Dia teringat saat Jeremy mengungkungnya di sana.
"Kamu nggak apa-apa Archi?" tanya Agust melilitkan selimut di tubuh bawah nya menghampiri Archi.
Agust memegang pundak Archi.
"Heu...!" Tenggorokannya tercekat, dia terhenyak seraya berbalik. "Jangan sentuh aku!" jerit Archi jatuh terduduk.
"Sepertinya dia trauma," pikir Agust.
"Ini aku Archi, Agust..., suamimu," kata Agust mencoba menenangkan. Berlutut di hadapan Archi.
"Agust....!" Archi merangkak memeluk Agust dengan tubuhnya yang gemetar.
"Sudah...nggak apa-apa..., kamu sudah aman sekarang," ucap Agust menenangkan. Archi melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya sambil mengangguk.
"Aku yang akan mengambilkan kamu baju," kata Agust ke lemari dan mengambil baju untuknya dan Archi.
Agust mengembangkan selimut dengan merentangkan tangannya di udara, menutupi Archi yang berganti baju di baliknya dan begitupun sebaliknya saat Agust mengenakan bajunya.
"Aaa..." raung Agust saat berganti baju.
"Sakit sekali ya?" tanya Archi ingin menurunkan selimutnya.
"Jangan di buka aku lagi pakai celana," sergahnya.
"Maaf...,"
"Agh....," Agust memegang rusuknya yang nyeri sambil duduk di tempat tidur.
"Kita ke dokter, ya!" ajak Archi duduk melipat satu kaki di atas tempat tidur menghadap Agust.
"Aku nggak apa-apa," jawab Agust padahal wajahnya merintih nyeri.
"Itu pasti sakit banget, aku tahu. Kamu tadi terbentur keras sekali," kata Archi.
"Sudah nggak apa-apa. Kalau aku nggak banyak bergerak nggak sakit kok," dalihnya.
Archi menghela napasnya, "Ini semua karena aku. Karena menyelamatkan aku kamu jadi terluka," Archi menundukkan wajahnya terlihat sangat sedih dan menyesal.
"Ini bukan karena kamu. Tapi karena pria breng**k itu," lontar Agust kesal.
"Aku sangat menyayangkan kenapa di saat genting seperti tadi aku malah sedang berubah jadi kucing. Kalau nggak kan, aku bisa melindungi kamu,"
"Jangan bilang begitu, bahkan di saat kamu jadi kucing saja kamu bisa melindungi aku. Kalau kamu nggak ada tadi mungkin dia sudah....," Archi meringis takut.
"Stttt....!" Agust memeluk Archi.
"Aggh...!" dia merintih lagi karena rusaknya kembali terasa nyeri.
"Sudah, kita ke dokter saja," ajak Archi menggenggam lengan Agust.
"Aku khawatir melihat kamu seperti itu,"
"Tapi," Agust ingin menolak.
"Ayo!" Archi menarik tangan Agust.
"Pelan-pelan, sakit!" kata Agust.
"O...maaf...maaf.."
Archi dan Agust turun ke lantai bawah.
"Agust.., kamu sudah pulang?" tanya Ayah bangkit dari duduknya di sofa. "Kami nggak lihat kamu masuk ke rumah," Ayah merasa bingung.
"Sudah Yah," jawab Agust dengan wajah meringis memegang rusuknya.
"Tadi kalian sedang di kamar sepertinya," tambah Agust menahan sakitnya.
"Oh mungkin," sahut Ayah.
"Kamu sudah nggak apa-apa, nak?" tanya Ibu mengkhawatirkan Archi.
"Iya bu," jawab Archi. "Aku mau ke dokter,"
"Apa ada yang sakit, Archi?" tanya Ayah kepadaku.
"Bukan aku. Tetapi Agust. Rusuknya terasa nyeri,"
"Kamu cedera Agust?" tanya Ibu.
"Ya ampun..., kasian sekali kalian. Kamu sudah cerita dengan yang terjadi kepada Agust?" tanya Ibu. Archi mengangguk.
"Biar Ayah mengantar kalian ke dokter," kata Ayah.
"Iya pergilah bersama Ayah," dukung Ibu.
"Ayah ambil kunci mobil dulu,"
"Malang sekali nasib anak, menantu ku. Anakku hampir dilecehkan dan di saat yang sama menantuku juga cedera," gumam ibu mengurut dadanya merasa sedih.
Sesampainya di rumah sakit,
Ayah melakukan pendaftaran untuk nama Agust. Setelah menunggu antrian nama Agust dipanggil. Hanya Agust dan Archi yang masuk ruang pemeriksaan sementara Ayah menunggu di luar.
"Di lihat dari hasilnya ada sedikit keretakan di rusuk Pak Agust. Beruntung ini tidak terlalu parah," jelas dokter membaca hasil rontgen Agust.
"Saya akan meresepkan obat anti nyeri dan obat lainnya. Nanti di tebus di apotek ya, bu," pesan dokter menuliskan resep di secarik kertas dengan logo dan cap rumah sakit.
Agust dan Archi keluar dari ruangan dokter.
"Aku beruntung tulang rusuk ku hanya retak, nggak patah seutuhnya," ujar Agust begitu lembut sambil menatap Archi penuh makna.
Archi menegakkan wajahnya dan menatap Agust yang berjalan menjauhinya.
Archi menangkap maksud Agust dari kata-katanya. Filosofi Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Yang mengacu kepada dirinya kini. Tulang rusuknya adalah Archi. Archi bisa lolos dari bahaya dan kejadian yang lebih buruk tidak terjadi kepadanya.
Archi merenungi kata-kata Agust yang menyentuh dihatinya itu.
Sementara itu, Kakak mengantar Jeremy ke rumah sakit untuk mengobati matanya.
"Beruntung cakaran kucingnya tidak melukai bagian dalam matanya. Bila tidak, hal yang buruk bisa saja terjadi," kata Dokter setelah melakukan pemeriksaan.
Setelah berobat Jeremy dan kakak duduk di cafe rumah sakit.
"Kamu percaya kepadaku kan, Levi?" Jeremy beringsut menggenggam jemari panjang dan lentik milik kakak.
"Aku nggak mungkin melakukan itu kepada adikmu. Kepadamu saja aku nggak pernah memintanya kan?" sambung Jeremy.
"Aku bukan laki-laki bejad yang menginginkan tubuh wanita." pungkasnya terus berkelit.
"Entahlah Jeremy aku bingung," jawab Kakak muram.
"Apa itu tandanya kamu nggak percaya sama aku?"
"Bukan..., hanya saja Archi itu tetap adikku." jawab Kakak.
"Kamu kan tahu, Archi menikah dengan suaminya yang sekarang karena terpergok olehmu di kamarnya. Diam-diam Archi itu penuh nafsu sama laki-laki," hasut Jeremy mempengaruhi pikiran kakaknya.
"Kamu benar."
"Kalau aku mau begituan, kenapa aku harus memaksa Archi. Kalau aku mau, aku bisa meminta kepadamu, kamu kan pacarku."
"Tetapi kamu memang bernafsu kepada Archi," pikir Kakak teringat saat Jeremy memeluk Archi dihadapannya, mengangkat tubuh Archi dari belakang saat bermain basket. Dan juga cara Jeremy menatap Archi yang berbeda dari cara Jeremy menatap dirinya.
Setelah dari cafe kakak mengantar Jeremy pulang dengan mobil Jeremy. Dari sana dia menaiki taksi online.
Di rumah Jeremy. Jeremy menemui ayahnya di ruang kerja.
"Maaf Ayah, aku belum bisa mendapatkan memori card itu." ungkap Jeremy menundukkan wajahnya di hadapan ayahnya yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
"Gagal terus!" hardik Tuan Nicholas.
"Aku mendapatkan kecelakaan. Seekor kucing mencakar mataku," jelas Jeremy menunjuk perban di matanya.
"Bagaimana bisa kucing mencakar matamu? Apa yang kamu lakukan?" tanya Nicholas tidak habis pikir.
"Itu..., itu kucing garong yang tiba-tiba mengamuk lalu tidak sengaja mengenai mataku," dalih Jeremy.
"Kalau aku bilang aku mencoba melecehkan Archi dia pasti akan sangat marah." pikir batinnya.
"Bodoh..., sama kucing saja kamu kalah!"
"Coba saja ayah rasakan dicakar kucing di mata! Pasti sakit, kan." pekik Jeremy dengan sebal.
"Sudahlah. Lebih baik ayah yang akan mengurus kartu memori itu."
Tuan Nicholas pergi.
"Aw..., sakit banget cakaran kucing itu," rintih Jeremy memegangi matanya.
Di rumah Archi....
Archi meringkuk sedih di atas tempat tidurnya. Dia masih shock dengan apa yang menimpa dirinya. Batinnya terguncang. Dia tidak menyangka bahwa Jeremy yang sudah dia anggap kakaknya sendiri tega ingin berbuat jahat kepadanya.
Wajah Jeremy yang penuh nafsu terbayang dalam ingatan Archi lagi. Dia meringis, menutup matanya ketakutan.
"Pergi aku mohon!" gumamnya.
...~ bersambung ~...