Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
77. Dijebak bercintah


Ketika Archi dan yang lain mengobrol. Seseorang datang. Seorang pria dengan potongan rambut cepak layaknya tentara. Perawakannya tinggi, besar dengan otot-otot menggelembung di beberapa bagian tubuhnya membuatnya tampak gagah.


"Assalamualaikum!" ucapnya memberi salam dengan nada rendah. Seolah berat dengan rasa bersalah.


Archi dan yang lain tampak terkejut melihat pria itu berada di ambang pintu, kecuali Ridwan yang bahkan nggak mengenal siapa orang itu.


"Mau ngapain lagi kamu ke sini?" jerit Susan histeris kepada pria itu. Andini merangkul Susan untuk tenang.


"San...aku mohon maafin aku!" kata Pria yang ternyata adalah Boby, menghampiri Susan dengan wajah memelasnya.


Ia mengambil jemari Susan untuk dikecupnya sambil terus memohon pengampunan.


"Maafin aku San." bulir air mata Susan menuruni pipinya. "Ingatlah kita bukan sebulan dua bulan berpacaran tapi sudah sangat lama. Masa harus berakhir seperti ini."


"Sebelum kamu selingkuh, kenapa nggak mikir gitu?" tanya Susan.


"Aku sebelumnya dijebak sama dia San. Waktu itu, aku diminta ke kontrakannya untuk membetulkan sesuatu....," Boby pun bercerita apa yang saat itu terjadi.


Boby datang ke kontrakan dia, sebut saja Mawar.


Dari balik pintu Mawar membukakan pintu untuk Boby. Tanpa menaruh rasa curiga sebelumnya Boby dengan tenang masuk ke dalam kontrakan Mawar.


Saat telah di dalam dan Mawar mengunci pintu betapa terkejutnya Boby melihat Mawar menggunakan baju haram yang memperlihatkan bagian in timnya yang hanya tertutup seutas kain yang bahkan tidak menutupi apapun.


"Kamu kenapa?" tanya Boby menelan salivanya.


"Aku mau mengaku sama kamu Kak Boby. Aku itu sebenarnya suka dan cinta sama Kakak. Tapi kakak sudah punya Susan." Aku mawar menubruk tubuh besar Boby lalu memeluknya.


Gairah panas menggema ditubuh Boby. Darahnya menyalurkan nafsunya kesetiap bagian tubuhnya. Hingga hubungan terlarang itu pun terjadi antara mereka.


"Begitu ceritanya!" kata Boby mengakhiri kisahnya.


"Kalau dia menjebakmu, kenapa kamu terus melanjutkan itu?" tanya Susan.


"Dia mengancamku. Dia ingin jadi kekasihku, dia memintaku putus dari kamu. Tetapi aku nggak bisa karena aku mencintai kamu Susan."


"Tetapi karena aku menolak. Dia ingin dijadikan selingkuhanku kalau aku menolak juga dia akan mengatakan semua kepadamu. Dan akhirnya aku setuju." lanjut kisah Boby.


Susan mencengkram dahinya, "Menjebakmu, kamu dalam tekanannya, tetapi kamu dengan senang hati dan begitu menikmati tidur dengan dirinya. Aku nggak habis pikir."


"Sudahlah Boby. Apapun itu. Aku nggak peduli lagi. Hubungan kita sudah berakhir. Aku nggak mau melanjutkan hubungan kita."


"Susan...!" Boby mencengkram lengan Susan dengan kuat hingga Susan merintih kesakitan.


"Kamu nggak bisa meminta aku putus. Aku ingin tetap bersama kamu." teriak Boby.


"Sakit Boby."


"Bilang kita nggak akan berakhir!"


"Kita sudah berakhir!"


Plaaakkk


Susan di tampar Boby.


"Ya Allah...Boby!" Seru Ibu Susan yang mendengar keributan dan melihat anaknya di-tampar.


Boby menarik tangan Susan lagi.


Dengan kasar Ridwan mencengkram dan memelintir tangan Boby yang bebas.


"Lepaskan dia!" kata Ridwan yang telah mengunci lengan Boby.


"Heh...siapa loe berani ikut campur?"


"Gua Manager Susan. Kenapa? Kalau mau ribut, ribut sama gua. Jangan sama cewek, banci!" kata Ridwan meremehkan.


Boby yang juga tahu ilmu bela diri berhasil membuka kuncian Ridwan. Dengan cepat dia hendak meninju Ridwan, sebelum tinjunya mengenai Ridwan, tinju Ridwan mengenai wajahnya terlebih dahulu.


Dengan mudah Ridwan membuat Boby pergi keluar tanpa diusir. Susan dan Ibunya sangat berterima kasih kepada Ridwan yang telah menyelamatkan mereka.


"Karena jalannya melewati rumah Icha dan Andini, Pak Ridwan mau tidak mengantar mereka pulang ke rumahnya dulu?" tanya Archi sambil berjalan ke mobilnya.


"Boleh aja." jawab Ridwan dengan senang hati. Semakin lama mereka sampai rumah Archi, semakin lama dia bisa bersama dan melihat Archi. Itu lebih baik. Pikir Ridwan.


Mereka pun naik ke dalam mobil Ridwan. Archi duduk di bangku penumpang sebelah kemudi.


Satu persatu Ridwan mengantarkan Icha dan Andini sampai di rumahnya masing-masing. Tinggalah mereka berdua di dalam mobil.


"Bagaimana suamimu?" tanya Ridwan membuka pembicaraan.


Ridwan terlalu cemburu, hingga dia tidak pernah mau membicarakan suami Archi. Dia tidak ingin tahu sama sekali tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi rivalnya itu. Apalagi harus mendengarkan dari mulut gadis yang sangat dia cintai itu.


Archi terperangah, menatap Ridwan dengan memiringkan kepalanya. Ini terasa aneh. Karena ini pertama kalinya dia mendengar Ridwan bertanya tentang Agust. Apakah Ridwan sudah bisa berdamai dengan perasaannya.


"Baik." jawab Archi tersenyum senang.


"Aku belum tahu, apa pekerjaan suami kamu?" tanya Ridwan lagi. Terasa begitu canggung. Namun dia benar-benar ingin tahu sekarang semua tentang suami Archi.


"Dia bekerja di restoran Pizza." jawab Archi.


"Ternyata benar, suaminya bekerja di restoran Pizza. Tetapi restoran yang mana?" pikir Ridwan.


"Oh begitu. Ayahmu menjodohkan dirinya dengan dirimu?"


"Iya. Bisa dibilang seperti itu." jawab Archi dengan enggan.


Karena kurang lebih pun seperti itu meski dengan persepsi yang berbeda. Dia dipaksa menikah dengan ayahnya karena kesalah pahaman dan bagi Archi itu sama saja seperti dijodohkan.


"Kamu pernah bertemu dengan dia sebelumnya?" tanya Ridwan.


"Sama sekali belum. Kami bertemu menjelang pernikahan." jawab Archi.


Persis seperti yang dia dengar dari Susan waktu itu.


"Andai aku mengatakan lebih cepat saat itu," pikir Ridwan.


...****************...


Dari kejauhan Agust melihat rumah Irene yang besar, dua kali lipat dari rumah Archi, begitu gelap. Tidak ada satupun lampunya yang menyala. Jantungnya yang memompa cepat setelah berlari semakin cepat.


Sampailah dirinya di depan rumah Irene. Dengan mengendap Agust menuju ke jendela besar dekat pintu masuk yang tidak tertutup tirai. Agust menengok ke dalam rumah.


Agust mengambil handphone di dalam saku jaketnya. Dia menghubungi kembali nomor Irene. Tanpa perlu menunggu lama, panggilan tersambung.


"Aku nggak melihat apapun di luar." kata Agust berbisik.


"Suara mereka dari arah dapur. Cobalah masuk dulu pintunya nggak terkunci. Tetapi tetap hati-hati." kata Irene dengan amanat.


Perlahan Agust berjalan dan membuka pintu rumah Irene yang besar. Sebisa mungkin dia melakukannya tanpa menimbulkan suara. Agust memasuki kegelapan rumah Irene. Hanya cahaya putih dari pantulan lampu jalanan di luar yang masuk menerangi pandangannya kini. Agust melangkah perlahan ke dapur.


"Aaaaa!!!!" terdengar jeritan Irene dari lantai atas.


Agust berlari kencang menaiki tangga dan memasuki ruangan asal suara itu terdengar.


"Agust!" Irene ketakutan menempelkan tubuhnya ke Agust, menaruh kepalanya diatas dada Agust dengan tangan mengepal, menyatu dihadapannya.


"Ada apa?" tanya Agust.


"Orang itu keluar dari jendela!" tunjuk Irene kepada jendela yang terbuka. Tirai tipis putih di sisi jendela melambai ke dalam tertiup angin. Agust berlari ke arah jendela dan melongokkan kepalanya keluar.


"Keluar lewat sini?" Agust bergumam merasa tidak masuk akal.


"Kamar Irene berada di lantai dua. Terlalu tinggi untuk melompat keluar, walaupun orang itu nekat dia pasti akan terluka." pikirnya.


Tiba-tiba lampu kamar menyala. Mengalihkan pikiran Agust. Dia menolehkan kepalanya ke dalam. Ke tempat Irene berdiri, di dekat pintu yang tertutup, di sebelah saklar lampu.


...~ bersambung ~...