Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Keseharian Para Wanita (2)


Saat Joy dan Ellena dalam perjalanan pulang ke Mansion keluarga Milito, Sasa yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia pergi menjemput Agnes yang sebentar lagi tiba waktunya pulang kerja.


Keduanya sudah membuat janji pulang bersama, setelah menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Dikarenakan pekerjaan Sasa selesai lebih dulu, dia yang akhirnya pergi menjemput Agnes.


Jarak Cafe Sasa dan kantor Agnes yang tidak jauh, dalam sepuluh menit Sasa sudah sampai di kantor Agnes, dan tinggal menunggu saudarinya itu keluar.


Setelah memarkirkan mobilnya, Sasa memilih menunggu Agnes di lobby perusahaan.


Sambil berjalan menuju lobby perusahaan Agnes, Sasa mengecek ponselnya dan ternyata ada satu pesan dari Agnes.


“Ternyata dia masih ada pekerjaan, dan baru pulang lima sepuluh menit lagi!” Sasa bergumam, dan terus melangkahkan kaki menuju tujuannya.


Sementara itu, di ruang kerjanya, Agnes yang didampingi Gaby sebagai asisten pribadinya, dia sedang membahas kerjasama dengan seorang pengusaha muda dari negara tetangga.


Sebenarnya Agnes sudah menolak menjalin kerjasama dengan pria bernama Teo Dominic, dikarenakan kerjasama itu tidak terlalu memberi keuntungan pada perusahaan Agnes.


Pembicaraan antara Agnes dan Teo sudah berlangsung hampir satu jam lamanya, dan sudah bosan rasanya Agnes menolak kerjasama dengan pria yang sejak tadi membuatnya risih dengan tatapannya.


Puncaknya, Agnes benar-benar dibuat risih saat Teo tiba-tiba berusaha meraih tangannya, tapi terlebih dahulu dia bisa menjauhkan diri dari pria itu.


“Saya tegaskan sekali lagi, kerjasama itu tidak akan pernah terjadi, dan sebaiknya anda segera pergi karena saya harus segera pulang!” Agnes tegas berbicara, tepat setelah dia menjauhkan diri dari Tio.


“Kalau memang tidak bisa menjalin kerjasama antar perusahaan, bagaimana kalau Nona Agnes bekerjasama dengan saya di bidang lainnya? Contohnya seperti kerjasama dalam hal percintaan!” kata Tio sambil menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Tio percaya diri pesonanya dapat menjerat Agnes, wanita yang terlihat begitu sempurna di matanya, meski dia tahu jika status Agnes adalah seorang ibu satu anak.


Dia sama sekali tidak peduli dengan status Agnes. Lagipula dia hanya ingin bersenang-senang dengan Agnes, dan begitu bosan dia akan meninggalkannya, selayaknya para wanita yang selama ini menjalin hubungan dengannya.


Namun, sayangnya pesona Tio sama sekali tidak cukup untuk menjerat seorang Agnes.


Bagaimana mungkin Agnes terjerat pesona Tio, sedangkan kekasihnya jauh lebih mempesona dibandingkan pria yang sudah membuatnya jijik dan risih?


“Saya tidak tertarik bekerjasama dalam hal apapun dengan anda, apalagi kerjasama dalam hal percintaan! Terakhir dari saya, pergi secara baik-baik, atau saya panggil petugas keama untuk menyeret kalian?” Agnes memberi dua pilihan, dan dia hanya memberi Tio serta asistennya waktu selama 10 detik untuk berpikir.


Bukannya segera pergi, Tio saat ini justru terkekeh pelan, “Hehehe... jika saya keluar dari tempat ini tanpa hasil, saya bisa pastikan perusahaan ini tidak akan bisa bekerjasa dengan siapapun, dan cepat atau lambat akan hancur!” Gagal menjerat dengan pesona, Tio kini beralih menggunakan kekuasaannya.


“Aku sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Ludwing dan keluarga Milito, jadi aku tidak butuh kerjasama dengan perusahaan lain, dan aku penasaran apa kamu bisa membuat kedua keluarga itu mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaanku?” Agnes tersenyum setelah mengatakan semua itu.


Tio yang mendengar semuanya, seketika dia diam dan setelahnya bangkit berdiri, lalu dia berjalan keluarga dari ruangan Agnes.


‘Jika cara baik-baik tidak bisa membuatku mendapatkannya, aku masih punya banyak cara untuk mendapatkannya!’ batin Tio, yang sekarang sudah berada di dalam lift bersama dengan asistennya.


Keluar dari lift setelah sampai di lantai 1, baru melangkah keluar dari lift, pandangan Tio segera tertuju pada wanita, yang menurutnya pesona milik wanita itu sama dengan apa yang dimiliki Agnes.


“Sepertinya aku akan sedikit lama tinggal di kota ini!” gumam Tio, dan dia berusaha mendekati wanita yang sudah mencuri perhatiannya.


Akan tetapi sebelum dia berhasil mendekatinya, wanita itu sudah lebih dulu pergi, dan perginya wanita itu menuju lift khusus yang seharusnya hanya bisa diakses pemilik perusahaan dan orang-orang terdekatnya.


‘Sepertinya dia memiliki hubungan dekat dengan Agnes! Sangat menarik, dan mungkin aku bisa mendapatkan keduanya sekaligus!’ batin Tio, dan dia melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar.


Sementara itu, wanita yang telah mencuri perhatian Tio, wanita yang tidak lain adalah Sasa, dia saat ini telah sampai di ruang kerja Agnes. Di dalam ruang kerja luas dan mewah itu, dia melihat Agnes dan asistennya sedang merapikan meja kerja yang dipenuhi lembaran kertas.


Sasa yang tidak ingin mengganggu pekerjaan Agnes dan asistennya, dia menunggu memutuskan duduk di sofa menunggu mereka menyelesaikan pekerjaannya.


Untuk asistennya, Sasa menyuruh wanita yang menjadi asistennya mengawasi pekerjaan orang-orang di Cafe miliknya, dan pekerjaannya itu akan dianggap selesai setiap pukul 3 sore.


Agnes yang melihat keberadaan Sasa, dia tersenyum melihat saudarinya yang tidak masalah menunggunya merapikan meja kerja.


“Maaf membuatmu sedikit menunggu!” kata Agnes begitu dia dan asistennya selesai merapikan meja kerja, dan sekarang sudah siap pulang.


“Tidak perlu meminta maaf, lagian aku tidak lama menunggu!” balas Sasa lalu dia tersenyum.


Sedangkan Agnes, tiba-tiba wajahnya terlihat lesu saat mengingat tingkah pria yang belum lama ini dia usir dari ruang kerjanya.


“Kalau saja pria barusan tidak memaksakan keinginannya bekerjasama denganku, aku pasti sudah sejak tadi menyelesaikan seluruh pekerjaan!” ungkap Agnes.


Mendengarnya tiba-tiba saja Sasa teringat pria yang keluar dari dalam lift, hampir bersamaan dengan dirinya yang pergi ke lift khusus.


“Apa yang dilakukan pria itu sampai membuatmu terlihat begitu kesal padanya? Apa dia telah melakukan sesuatu yang melewati batas padamu?” tanya Sasa.


Agnes yang mendengar semua itu, segera saja dia menggelengkan pelan kepalanya.


“Dia tidak sampai melakukan sesuatu yang melewati batas padaku, tapi dia hampir menyentuh tanganku setelah berkali-kali aku menolak menjalin kerjasama dengan perusahaannya, yang mana kerjasama itu hanya sedikit memberi keuntungan pada perusahaanku, sedangkan resiko besar jika ada kesalahan harus ditanggung perusahaanku!”


“Kerjasama bisnis ditolak, eh dia memaksa ingin menjalin kerjasama masalah percintaan denganku, jelas saja aku menolaknya!” ungkap Agnes, dan setelahnya dia mengajak Sasa keluar ruangan lalu melanjutkan obrolan mereka sambil berjalan.


“Sepertinya aku sempat melihat pria yang sedang kamu bicarakan, sebelum aku masuk ke lift khusus. Pria yang didampingi seorang asisten, dan kalau saja aku tadi tidak cepat pergi, sepertinya dia bakalan datang menghampiriku!” kata Sasa.


“Dia memang pria menjijikkan!” balas Agnes setelah mendengar perkataan Sasa, tapi setelahnya baik Agnes maupun Sasa, mereka merasa jika ke depannya masih akan berurusan dengan pria itu.


......................


Di waktu yang sama, di restoran yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung perkantoran milik Agnes.


Dua pria yang baru saja bertemu, mereka terlibat dalam obrolan santai.


“Aku tidak menyangka kalau kau pergi jauh-jauh ke negara ini hanya untuk memburu kedua wanita itu, sekaligus mengejar seorang wanita yang sudah membuatmu tertarik sejak pertama kali melihatnya!”


“Cih, bukannya kau pergi ke negara ini juga karena wanita, apalagi wanita itu adalah seorang ibu dengan satu anak!”


“Hei hei, biarpun dia sudah seorang ibu, tapi dia memiliki pesona selayaknya gadis, dan dia menjadi salah satu wanita paling sempurna yang pernah aku lihat!”


“Bukannya semua wanita itu terlihat sempurna di matamu?”


“Hei, tentu saja tidak! Seumur hidup aku baru melihat dua wanita yang terlihat begitu sempurna, dan mereka memiliki hubungan dekat dan aku pasti berhasil mendapatkan keduanya!”


“Tahan dulu membahas soal wanita, sekarang kita beralih ke bisnis! Bagaimana, apa aku sudah bisa melihat barang-barang itu?”


“Semua sudah terbungkus rapi, dan kapanpun ingin melihatnya, kamu bisa melihatnya!”


Pria yang mendengar itu mengangguk, lalu dia bicara, “Kalau begitu malam ini juga aku ingin melihatnya, dan soal pembayaran dalam 2 hari aku akan melunasinya!”


“Aku tidak terlalu mempermasalahkan soal pembayaran karena kita memiliki musuh yang sama!”


Kedua pria itu tersenyum bersamaan, lalu mereka saling mengangkat minuman masing-masing, dan setelahnya meneguk habis minuman dalam gelas di tangan mereka.


......................


Bersambung.