Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Pemalakan Tiga Remaja Wanita


Menyambut pagi hari yang cerah, saat ini Noah sedang lari pagi di sekitar taman kota. Ia tiga puluh menit yang lalu datang ke taman kota seorang diri, tapi sebuah kebetulan sekarang ia sedang bersama Liam, yang pagi ini ia juga melakukan lari pagi di taman kota. Rumah Liam tidak jauh dari taman kota, jadi ia sering melakukan lari pagi di sekitaran taman kota.


Noah di masa lalu sering menikmati suasana pagi di taman kota, dikarenakan apartemen yang ia sewa hanya berjarak dua kilometer dari taman kota. Namun, semenjak ia pindah ke rumah yang baru beberapa waktu ini ditempati, ia sudah jarang pergi ke taman kota, bahkan tidak pernah lagi menikmati suasana pagi di tempat itu.


Di masa lalu taman kota juga menjadi salah satu tempat paling banyak menyimpan kenangan saat ia masih menjalin hubungan dengan Nancy, bahkan ia mengutarakan perasaannya dan jadian dengan wanita itu di taman kota. Namun, semua itu hanyalah secuil cerita kenangan masa lalu, dan ada kalanya ada kenangan masa lalu yang tidak berguna, dan pantas untuk dilupakan.


Setelah sepuluh kali berlari memutari taman kota, yang jika ditotak setidaknya Noah dan juga Liam telah berlari sejauh sepuluh kilometer, keduanya memutuskan istirahat di dekat lapangan basket, yang merupakan salah satu fasilitas olahraga di taman kota, selain lapangan futsal dan tempat yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai jenis olahraga.


“Bagaimana, apa kamu puas dengan kinerja Rizal dan Prima?” tanya Liam pada Noah sambil menyodorkan boto berisikan air mineral yang baru dibelinya.


“Kinerja mereka baik, dan keberadaan keduanya bisa aku andalkan untuk mengurus dua usaha, yang saat ini sedang berkembang pesat! Jika kinerja mereka konsisten atau semakin lebih baik, bulan depan aku berencana menaikkan gaji mereka dan seluruh karyawan, supaya mereka lebih bersemangat dan lebih giat dalam menjalankan pekerjaannya!” jawab Noah.


“Mereka dari dulu memang bisa diandalkan, dan tidak pernah membuatmu kecewa!” kata Liam, dan sama dengan Noah, ia juga mengenal baik siapa itu Rizal dan Prima.


Noah hanya tersenyum mendengar itu, dan setelah menghabiskan minuman dalam botol yang diberikan Liam padanya, ia membiarkan tubuhnya menyerap hangatnya sinar matahari pagi, yang mana sinar matahari belum terasa panas karena saat ini waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi.


“Noah, aku pergi duluan! Pagi ini banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan yah semua merupakan pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggalkan!” kata Liam, dan ia pamit pergi lebih dulu.


Sekarang tersisa seorang Noah seorang diri di taman kota. Meski banyak orang di sekitarnya yang sedang berolahraga, dikarenakan ia tidak mengenali siapa mereka, jadi meski banyak orang tetap saja ia terlihat seorang diri, apalagi sejak dulu ia sedikit kesulitan berkomunikasi dengan orang baru, yang benar-benar baru dilihatnya.


“Sistem, apa tidak ada misi yang bisa aku kerjakan saat ini? Sangat menyenangkan jika ada misi di tempat ini dengan hadiah yang menggiurkan!” katanya pada sistem.


Sangat bosan rasanya jika ia kembali ke rumah saat ini juga. Jika ada misi yang bisa dikerjakan saat ia masih ditempatnya saat ini, ia merasa itu jauh lebih baik dan menarik, daripada harus pulang dan nantinya ia bingung ingin melakukan apa saat sudah berada di rumah.


Baru juga Noah bertanya pada sistem tentang ada tidaknya misi yang bisa ia kerjakan, memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam, ia melihat tiga remaja wanita sedang dihalangi jalannya oleh lima orang pria yang lengannya dipenuhi tato. Dari apa yang ia dengan, ia tahu jika kelima pria adalah preman yang menguasai taman kota, dan saat ini mereka sedang melakukan aksi pemalakan, yang mungkin akan berkembang ke tindakan pelecehanp, pada ketiga remaja wanita.


[Misi sistem terpicu]


[Tuan harus mengerjakan misi sistem, memberi pelajaran pada para preman supaya mereka tidak meneruskan aksinya, memalak tiga remaja wanita]


[Hadiah misi]


[Uang tunai lima ratus miliar rupiah]


[Sebuah permintaan, dan sistem akan mengabulkan apapun yang menjadi permintaan Tuan, asalkan itu tidak berhubungan dengan tindak kejahatan, menghidupkan orang mati, dan memutar waktu]


“Uhuk... Uhuk...” Noah tersedak air liur nya sendiri, setelah ia mendengar informasi hadiah apa saja yang akan didapat, begitu menyelesaikan misi yang harus segera ia kerjakan.


“Hadiah yang sangat menarik dan aku pasti mendapatkannya!” katanya, kalau ia segera bangkit berdiri, dan dengan langkah yang begitu tegas, ia menghampiri lima preman yang sedang melakukan aksi pemalakan.


Noah dengan santainya berdiri di hadapan kelima preman, membuat ketiga remaja wanita terlindungi di belakang tubuhnya. Sebenarnya ia cukup heran dikarenakan tidak ada orang yang datang membantu ketiga gadis remaja yang sedang dipalak, sedangkan banyak orang melihat kejadian, yang saat ini sedang terjadi.


‘Negara ini memang aneh, ada kejadian seperti ini bukannya di tolong, tapi justru direkam dari kejauhan, dan hasil rekamannya akan diunggah ke media sosial masing-masing!’ kata Noah dalam hati, dan ia merasa risih dengan keadaan di sekitarnya.


“Apa yang kau lakukan di tempat ini? Jika ingin menjadi pahlawan, sebaiknya kau punya lebih dari satu nyawa, dikarenakan aku tidak segan membunuhmu!” teriak preman dengan separuh wajah dipenuhi tato, dan ia berteriak pada Noah.


“Bugh...” Sebuah tinju melayang menghantam wajah preman, yang mana separuh wajahnya dipenuhi tato, dan satu tinju itu lebih dari cukup untuk membuatnya pingsan.


“Aku paling tidak suka ada orang yang berteriak di depanku, jadi terima saja akibatnya karena kau telah berani berteriak di hadapanku!” kata Noah, dan ia lah orang yang telah melayangkan tinju ke wajah preman yang saat ini masih dalam keadaan pingsan.


Mengabaikan preman yang sudah pingsan, sekarang tatapan mata tajam Noah tertuju pada ke-empat preman, yang nyalinya tidak sebesar preman yang sudah pingsan.


“Pergi dari sini dan jangan lagi melakukan tindakan kejahatan, atau kalian berempat memilih, aku membuat kalian terbaring lama di atas tempat tidur?” tanya Noah pada ke-empat preman.


“Hei, kita berempat, sedangkan orang ini hanya seorang diri, kita keroyok saja orang ini dan bikin dia kritis!” kata salah satu preman, dan kata-katanya menjadi motivasi teman-temannya.


“Kalian memang ingin celaka di tanganku!” ungkap Noah saat ia melihat ke-empat preman bukannya pergi, tapi justru berusaha mengeroyok nya.


Bugh... Bugh... Bugh... Bugh...


Perkelahian terjadi segera saja terjadi anta Noah dan ke-empat preman yang menyerangnya, ke-empat preman mencoba memukul Noah, tapi justru mereka yang terkena pukulan Noah.


Dikarenakan Noah hanya main-main dengan pukulannya, ke-empat preman tidak langsung pingsan seperti preman yang separuh wajahnya dipenuhi tato. Meski tidak pingsan, mereka dapat merasakan sakit di area yang terkena pukulan Noah.


Kembali melirik orang-orang yang ada di taman kota, Noah melihat banyak orang yang datang, tapi bukannya datang membantu, meraka justru datang untuk mengabadikan perkelahiannya dengan para preman.


‘Benar orang yang otaknya tidak jauh dari konten-konten tidak penting, perusak generasi muda!’ kembali Noah berkata dalam hati, dan karena tidak ingin lebih lama menjadi perhatian banyak orang, ia langsung saja memukuli para preman sampai pingsan.


Enam anggota kepolisian datang, dan Noah merasa tidak asing dengan wajah dua anggota kepolisian yang datang menghampirinya. Ingatannya tentang kedua polisi itu, membawanya pada ingatan saat ia menyelamatkan keluarga Joy dari perampokan. [Episode 19]


Mengingat dua polisi yang saat itu ingin menangkap dirinya yang menyelamatkan keluarga Joy, mengingat semua itu membuatnya tertawa dalam hati, dan ia memiliki keyakinan jika akan kembali mendapatkan masalah dengan kedua polisi, yang sepertinya meraka juga mengingat siapa dirinya. Namun, Noaj tetap terlihat acuh saat kedua polisi mengarahkan sorot mata tajam ke arahnya.


Dengan memiliki kartu Identitas pasukan khusus yang senantiasa dibawanya kemanapun ia pergi, Noah tidak perlu takut pada kedua anggota kepolisian, yang sepertinya akan mencari masalah dengan dirinya.


Namun, ia yang saat ini malas berurusan dengan orang tidak penting, seperti dua anggota polisi yang sudah berdiri di hadapannya, ia langsung saja mengeluarkan dompetnya, dan menunjukkan keberadaan kartu Identitas pasukan khusus miliknya. Kedua anggota kepolisian tentunya tidak bodoh, dan keduanya tahu pasti jika apa yang mereka lihat adalah kartu asli.


“Urus mereka yang pingsan, dan ke depannya aku tidak ingin melihat adanya preman di tempat ini!” kata Noah, dan ia mengarahkan sorot mata tajamnya pada dua polisi yang wajahnya terlihat pucat.


“Ba... Baik, kami akan segera mengurus mereka, dan ke depannya tempat ini akan terbebas dari keberadaan preman!” balas salah satu polisi.


“Satu lagi, jangan pernah salah menangkap orang! Apapun yang terjadi, mereka yang jahat adalah pihak yang pantas disalahkan dan dihukum! Jangan kalian justru menangkap mereka yang sudah membantu tugas anggota kepolisian!” kata Noah tegas, dan tidak menunggu balasan dari kedua anggota kepolisian, ia pergi dari tempat itu bersama tiga remaja wanita yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi pada diri mereka.


Untuk keterangan apa yang sebenarnya terjadi, banyak orang sok penting, yang bersedia menceritakan, apa sebenarnya yang terjadi pada pihak kepolisian. Noah yang memang tidak peduli dengan keberadaan orang-orang seperti itu, ia akan diam selama mereka memberi keterangan sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya.


Jika mereka berani memberi keterangan palsu dan keterangannya justru membuat dirinya dirugikan, Noah tidak akan mengampuni orang itu, dan ia akan membuat kehidupan orang itu penuh dengan penderitaan.


Mendengar keterang orang-orang sama persis dengan kejadian yang sesungguhnya, Noah merasa senang, dan sekarang ia bisa fokus pada ketiga remaja wanita, yang mulai terlihat tenang setelah ia memberi minuman pada mereka.


“Setelah kalian merasa baikan, kalian bisa langsung pergi dari tempat ini! Untuk urusan dengan pihak kepolisian, aku menjamin kalian tidak akan dilibatkan, dan untuk para preman, merak akan dipenjara selama kurun waktu yang tidak sebentar!” kata Noah dan ia tersenyum.


Tidak lama kemudian datang lima wanita berpakaian rapi. Melihat mereka, Noah jadi teringat penampilan para bodyguard Ellena, dan nyatanya mereka adalah bodyguard dari tiga remaja wanita, yang sebelumnya diam-diam pergi dari pengawasan para bodyguard mereka.


Ke-tiga remaja wanita langsung saja pergi dengan para bodyguard mereka, sedangkan Noah, ia sudah berada di dalam mobilnya.


[Selamat, Tuan berhasil mengerjakan misi sistem, memberi pelajaran pada para preman supaya mereka tidak meneruskan aksinya, memalak tiga remaja wanita]


[Mendapatkan hadiah misi]


[Uang tunai lima ratus miliar rupiah]


[Sebuah permintaan, dan sistem akan mengabulkan apapun yang menjadi permintaan Tuan, asalkan itu tidak berhubungan dengan tindak kejahatan, menghidupkan orang mati, dan memutar waktu]


[Apa saat ini Tuan ingin meminta sesuatu pada sistem?]


[Ya/Tidak]


“Saat ini aku tidak menginginkan sesuatu. Apa bisa hadiah itu di tunda sampai aku benar menginginkan sesuatu?” tanya Noah.


[Tentu saja bisa ditunda, dan kapanpun Tuan ingin, satu permintaan Tuan akan sistem berikan saat itu juga]


Saat ini ia memang tidak menginginkan apa-apa, oleh karena itu ia memilih menunda permintaannya pada sistem, dan ia senang karena dapat menundanya. “Sebaiknya sekarang aku pulang sebelum ada yang mencari-cari keberadaanku!” katanya.


Noah mengemudikan mobilnya meninggalkan taman kota, dan dengan kecepatan sedang mobil menyusuri jalanan menuju komplek perumahan, tempat rumahnya berada. Jarak taman kota dan rumahnya tidak terlampau jauh, jadi setelah berkendara selama tiga puluh menit, akhirnya Noah sampai di rumahnya.


Begitu sampai di rumah, Noah langsung saja masuk ke dalam kamar, dan tanpa melihat sekeliling ia melepas seluruh pakaian olahraganya, dan hanya menyisakan ****** ***** berwarna hitam.


Saat ingin mengambil handuk dan pakaian ganti, ia dikejutkan karena melihat sosok Joy yang sedang duduk di tepian tempat tidurnya, dan wanita itu tersenyum saat melihat benda di balik ****** ***** Noah, yang mana benda itu terlihat besar meski tidak dalam keadaan terbangun.


“Padahal aku berharap kamu melepas itu juga, jadi aku bisa melihat sesuatu yang bisa membuatku kenyang selama beberapa bulan!” kata Joy dengan santainya.


Ingin rasanya Noah menunjukkan apa yang ingin dilihat Joy, dan membuat wanita itu menjadi wanita pertama yang melihatnya. Namun, ia tidak mungkin melakukan itu, dikarenakan bisa saja ia lepas kendali dan akhirnya melakukan sesuatu yang belum seharusnya dilakukan bersama Joy.


“Joy, jangan menginginkan sesuatu yang nantinya bisa membuatmu menyesalinya!” kata Noah.


“Hehehe... tenang saja, aku tidak akan menyesal, dan kalau kamu menginginkannya, aku bisa memberikan semua saat ini juga!” balas Joy.


Tidak pernah membayangkan apa yang akan dilakukan Joy setelah selesai bicara, tiba-tiba kedua mata Noah terbuka sempurna dan ia merasa juniornya semakin tegang. Apa yang terjadi pada Noah, semua itu terjadi karena secara tiba-tiba Joy menanggalkan seluruh pakaiannya, dan hanya meninggalkan lapisan terakhir pakaiannya.


...----------------...


Bersambung.