
Noah yang sore hari berencana jalan-jalan dengan Agnes dan Jihan setelah siang tadi membuat janji, saat ia baru saja sampai di rumah Agnes, dan disambut hangat oleh Agnes yang senantiasa terlihat cantik meski tanpa polesan make-up di wajahnya, ia dan juga Agnes yang sudah bersiap pergi dengannya, mereka dibuat penasaran dengan suara mobil yang berhenti di halaman rumah.
Keduanya yang sudah berada di teras rumah dengan Jihan berada di gendongan Noah, mereka melihat seorang pria keluar dari mobil. Keduanya mengenali pria itu yang tidak lain adalah Morgan, dan ternyata ia tidak datang sendirian melainkan ada dua orang lainnya yang satu mobil dengannya.
Noah merasa sangat asing dengan dua orang yang turut keluar dari mobil yang dikemudikan Morgan, tapi tidak dengan Agnes yang sangat mengenali dua orang, yang datang bersama Morgan. Kedua orang itu tidak lain adalah kedua orangtua Morgan, tapi ia tidak tahu apa tujuan mereka datang ke rumahnya.
Morgan bersama kedua orangtuanya menghampiri Agnes, terlihat senyum di wajah mereka saat melihat Agnes, tapi senyum itu seketika luntur saat mereka melihat keberadaan Noah yang sedang menggendong Jihan.
Melihat Jihan begitu nyaman di gendong Noah, Morgan yang melihatnya tidak terima dan ia berusaha merebut Jihan dari Noah, tapi sebelum ia berhasil merebut Jihan, Noah lebih dulu menjauhkan Jihan dari jangkauan Morgan.
Kedua orangtua Morgan tentu saja tidak terima saat melihat putra mereka dijauhkan dari Jihan, yang rencananya akan mereka jadikan alat, supaya Agnes mau membuka hatinya untuk Morgan, dan menerima keberadaannya.
Tentunya, dengan keterampilan membaca pikiran yang dimilikinya, Noah bisa membaca pikiran mereka, dan tentu saja ia tidak akan membiarkan rencana mereka berakhir. Ia masih saja menggendong Jihan, dan senantiasa menjauhkan Jihan dari jangkauan Morgan yang kekeuh mencoba merebut Jihan dari gendongannya.
Agnes kesal dengan apa yang dilakukan Morgan, dan dengan tegas ia berkata, “Morgan, apa yang kau lakukan? Apa kau sedang berusaha menyakiti putriku? Jauhkan tanganmu dari putriku, dan jangan berusaha menyentuhnya!”
Morgan ingin mengatakan sesuatu pada Agnes, tapi ibunya lebih dulu berkata, “Nak Agnes, Morgan hanya ingin menggendong calon putrinya, tapi pria itu sepertinya sengaja menjauhkan Jihan dari calon ayahnya! Jadi, yang mau mencelakai Jihan itu bukanlah Morgan, tapi justru pria itu!”
Agnes mengerutkan keningnya bingung mendengar perkataan ibunya Morgan. “Calon putrinya Morgan? Sejak kapan Jihan menjadi calon putri Morgan? Morgan tidak memiliki hubungan apapun dengan putriku, jadi putriku tidak akan pernah menjadi putri Morgan!”
Ibu Morgan tersentuh mendengar perkataan Agnes, dan setelahnya ia berkata, “Sekarang Morgan memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Jihan, tapi begitu nak Agnes menjadi istri Morgan, tentu saja otomatis Jihan akan menjadi putri Morgan, putraku!”
Begitu percaya diri ibu Morgan dengan apa yang ia katakan, sedangkan Agnes, ia memutar bola matanya jengah, melihat kepercayaan diri wanita paruh baya di hadapannya, yang menurutnya sungguh tidak tahu malu.
“Tante, siapa yang akan menikah dengan Morgan? Jika maksud Tante yang akan menikah dengan Morgan itu aku, sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi! Lagipula aku sudah memiliki calon suami, yang dilihat dari sisi manapun jauh lebih baik dari Morgan, dan satu lagi, putriku sudah nyaman dengannya, dan lihatlah mereka sudah selayaknya pasangan ayah dan anak!” Agnes menyuruh kedua orangtua Morgan melihat Jihan yang begitu manja di gendongan Noah.
“Nak Agnes, apa yang kamu lihat darinya, sampai ia kamu anggap jauh lebih baik dari Morgan? Jujur saja, Tante melihat pria itu hanyalah pria biasa, yang mungkin saja keberadaannya hanya mengincar harta milikmu!” kata ibu Morgan menyindir keberadaan Noah, meski dalam hati ia harus mengakui jika Noah memang jauh lebih sempurna dibandingkan putranya.
Bibir Agnes berkedut mendengar itu, dikarenakan ia sudah tahu kalau Noah adalah pemilik Paradise Beach Hotel.
Ia tentu tahu seberapa besar aset yang dimiliki Noah, yang bahkan bisa disetarakan dengan aset berharga milik keluarganya. Namun, ia yakin masih ada yang disembunyikan oleh Noah, apalagi setelah ia tahu Noah adalah bagian dari Keluarga Ludwing, yang memiliki kekuasaan jauh diatas keluarga Kaivan. Bahkan jika ada sepuluh keluarga Kaivan di dunia ini, mereka masih belum bisa disetarakan dengan kekuasaan keluarga Ludwing.
“Sebaiknya Tante tidak menyindir calon suamiku! Tante tidak tahu apa-apa tentangnya, dan takutnya Tante akan menyesal begitu tahu siapa dia yang sesungguhnya!” Agnes marah saat ada yang menyindir Noah. Meskipun Noah nya hanya pria biasa, ia tetap akan marah pada siapapun yang berani menyindir pria, yang sangat dicintainya.
Di masa lalu ia masih ingat jika kedua orangtua Morgan juga menyindir mendiang suaminya, dan terus saja mencari masalah dengannya, sebelum ia resmi menikah dengan pria yang telah memberinya sosok Jihan yang begitu imut. Namun sayangnya usia pernikahan itu tidak berlangsung lama, dan maut adalah pemisah mereka.
“Apa Tante lupa di masa lalu seberapa banyak sindiran dan hinaan, yang kalian berikan untuk mendiang suamiku? Nyatanya sindiran dan hinaan kalian tidak terbukti kebenarannya, jadi kalian tidak perlu menggunakan cara yang sama, untuk memaksakan kehendak kalian, supaya aku mau menikahi putra kalian!” kata Agnes tegas.
Ibu Morgan ingin mengatakan sesuatu pada Agnes sebagai pembelaan diri, tapi ia seketika diam saat pria yang merupakan suaminya terlihat menggelengkan kepala. “Sebaiknya kita pergi dari sini, dan kembali menemui Agnes saat ia tidak sedang bersama pria itu! Keberadaan pria itu saat kita bertemu dengan Agnes, hanya akan membuat Agnes terus melayangkan pembelaan untuknya!” bisik ayah Morgan, dan dalam diam sebenarnya ia juga tidak menyukai keberadaan Noah, yang menghalangi keinginannya menikahkan Agnes dengan Morgan.
Mendengar bisikan suaminya, ibu Morgan memilih diam, tapi kedua matanya menatap tajam keberadaan Noah yang acuh dengan keberadaannya. Setelah itu, mereka begitu saja pergi, tanpa pamit pada Agnes, yang merupakan pemilik rumah.
“Datang tanpa diundang, dan pergi tanpa pamit, mereka benar-benar seperti hantu yang menghantui kehidupanku!” kata Agnes yang sangat membenci Morgan dan keluarganya. Jika diingat-ingat, sudah sepuluh tahun lamanya orangtua Morgan ingin menikahkan putra mereka dengannya.
Di masa lalu Agnes sempat menjalin hubungan pertemanan baik dengan Morgan, tapi itu hanya sebatas gunung teman tanpa adanya perasaan lebih. Namun, pertemanan itu haru berakhir saat Morgan berusaha menjebak Agnes, dan malam itu, malam dimana Agnes masuk jebakan Morgan, pria itu hampir saja menodai kesucian Agnes. Beruntung kedua kakak Agnes berhasil menemukan keberadaan adik mereka, yang saat ditemukan sudah dalam keadaan hikmah kesadaran.
“Sayang, sebaiknya kamu lebih berhati-hati dengan mereka! Aku merasa mereka akan melakukan sesuatu yang buruk padamu dan juga Jihan, tapi selama ada aku, mereka tidak akan pernah bisa mencelakai kalian!” kata Noah memperingatkan Agnes untuk senantiasa hati-hati.
Agnes mengangguk pelan mendengar itu, dan setelahnya ia berkata, “Dari dulu mereka memang senantiasa memiliki niatan buruk padaku, aku bahkan pernah mencurigai mereka adalah dalang dari kematian mendiang suamiku!”
Noah yang mendengar Agnes menyebut kematian mendiang suaminya, ia bukannya merasa cemburu karena buat apa juga cemburu pada orang yang sudah tiada, ia justru merasa perlu menyelidiki kematian mendiang suami Agnes, dan ia ingin tahu apa kematiannya murni kecelakaan, atau ada campur tangan orang lain dalam kecelakaan itu.
Jika ada campur tangan orang lain, ia akan mengungkap siapa orang itu, dan nantinya akan membiarkan Agnes menentukan hukuman yang tepat untuk orang yang memisahkan Jihan, dengan ayahnya. ‘Sebaiknya aku memulai penyelidikan dari mereka!’ kata Noah dalam hati, dan mereka yang dimaksudnya adalah Morgan serta kedua orangtuanya.
‘Jika mereka berani melakukan semua itu pada Agnes dan Jihan, sebelum mereka melakukannya, aku yang akan lebih dulu datang memusnahkan mereka! Namun, aku malas mengotori tanganku, jadi mungkin aku akan membiarkan Jacob membereskan mereka! Aku yakin Jacob dan yang lainnya bakalan senang mendapatkan sedikit kesenangan!’ katanya dalam hati.
“Sayang, apa kita jadi pergi?” tanya Agnes yang melihat Noah hanya diam, seolah ia sedang memikirkan sesuatu.
Mendengar pertanyaan Agnes, Noah yang sebelumnya diam karena memikirkan rencana untuk membereskan Morgan dan kedua orangtuanya, ia cepat mengangguk. “Tentu saja jadi, benarkan sayang?” Bukan bertanya pada Agnes, ia justru bertanya pada Jihan yang dibalas senyuman senang gadis kecil yang begitu manja saat bersama dengannya.
Setelahnya mereka pergi ke mobil milik Noah, yang sebelumnya sudah terparkir di halaman rumah Agnes. Tidak jalan sore ke taman komplek perumahan seperti biasanya, kali ini mereka akan pergi ke mall yang ada di pusat ibukota.
...----------------...
Di waktu yang sama, Morgan dan kedua orangtuanya saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, setelah sebelumnya mereka gagal memaksa Agnes menuruti apa yang menjadi keinginan mereka.
Bukan hanya gagal, tapi mereka gagal total, dan apa yang mereka lakukan barusan justru memperburuk hubungan antara Morgan dan Agnes. Namun, Ziko, ayah Morgan yang sampai sekarang masih menjadi anggota salah satu kelompok Mafia terkuat di ibukota, ia sudah menyiapkan rencana supaya Agnes mau menjadi istri Morgan.
Sambil fokus mengemudikan mobil, Morgan yang sudah sangat penasaran dengan rencana ayahnya, akhirnya ia memutuskan bertanya pada Ziko. “Sebenarnya apa yang sudah Ayah rencanakan untuk membuat Agnes menerimaku menjadi Suaminya, sedangkan kita tahu jika ia sudah sangat mencintai pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya? Apa Ayah berencana menyingkirkan pria itu, seperti yang kita lakukan pada suami Agnes sebelumnya?”
“Aku memang berencana menyingkirkan pria itu seperti pria sebelumnya, tapi itu akan menjadi rencana cadangan, jika rencanaku kali ini gagal!” Ziko sejenak terdiam, dan tidak lama kemudian ia kembali berkata, “Aku berencana menculik Jihan, dan jika Agnes tidak mau menuruti semua keinginan kita, aku akan membunuh putrinya itu tepat di hadapannya!”
Mendengar itu Morgan tersenyum senang, dan ia senantiasa setuju dengan rencana ayahnya, sekalipun rencana itu bertentangan dengan hukum. Lagipula, Morgan dan seluruh anggota keluarganya tidak pernah takut pada yang namanya hukum, selama mereka masih memiliki banyak uang bisa dipergunakan untuk membeli hukum.
Di zaman sekarang uang bisa melakukan semua. Nyawa menjadi tidak berguna saat berurusan dengan uang, begitu juga dengan hukum yang akan menghilang begitu saja jika sudah berurusan dengan uang.
...----------------...
Di mall, yang berada di pusat ibukota.
Noah, Agnes, serta Jiahn, ketiganya saat ini sedang berada di toko pakaian anak-anak. Perkembangan Jihan yang begitu cepat, membuat banyak pakaiannya sudah tidak lagi muat, dan hari ini Noah dan Jihan berencana membeli banyak pakaian baru untuk Jihan.
Saat sedang asik memilih pakaian untuk Jihan, keduanya dikejutkan dengan kedatangan Sasa dan Jane, tapi tidak lama kemudian muncul Joy dan Ellena.
Noah yang tidak mengira jika mereka juga berada di mall, tentu saja ia terkejut. Berbeda dengan Agnes yang tersenyum melihat keberadaan mereka, dikarenakan ia lah orang yang memanggik mereka untuk datang ke mall, dan bersenang-senang bersama. Noah sebenarnya juga mengajak mereka, tapi semua kompak mengatakan jika sibuk.
Mereka kompak mengatakan sibuk karena ingin memberi kejutan pada Noah, dan kejutan itu berhasil. Mereka berhasil mengejutkan Noah, dan sekarang meraka bisa bersenang-senang menikmati bersama di mall.
‘Ternyata mereka kompak mengerjaiku!’ kata Noah dalam hati setelah ia tahu semua rencana mereka dari Sasa, tentunya setelah Sasa minta izin pada yang lainnya. Ia tidak marah meski dikerjai mereka, dikarenakan memang tidak ada yang membuatnya marah.
Serelah membeli banyak pakaian untuk Jihan dan perlengkapan lainnya yang berhubungan dengan Jihan, mereka sekarang sedang membeli camilan, dikarenakan malam ini mereka berencana bermalam di rumah Agnes. Semua orangtua setuju putri mereka menginap di rumah Agnes, dan satu hal yang membuat Noah terkejut, yaitu tentang semua orangtua para kekasihnya, yang mana mereka sudah tahu, jika putri mereka adalah kekasih dari pria yang sama.
“Sepertinya kakek telah melakukan banyak hal di luar sepengetahuanku!” gumam Noah pelan, dan ia yakin semua itu tidak lepas dari campur tangan kakeknya, tapi ia juga yakin jika kakeknya telah dibantu kakek Ellena, untuk mengurus restu dari orangtua Sasa, Jane, dan juga Joy.
Untuk orangtua Agnes, Noah sudah lebih dulu mendapatkan restu dari mereka, lalu untuk orangtua Ellena, ia tidak perlu lagi meminta restu pada mereka, dikarenakan ia dan Ellena sudah terikat dengan janji pertunangan.
‘Keberuntungan 100 persen yang aku miliki, ternyata membuatku sangat beruntung, dan sepertinya kesialan benar-benar pergi jauh meninggalkan kehidupanku!’ katanya dalam hati, dan sambil menggendong Jihan, ia terus saja pergi mengikuti para wanita.
Noah bisa tenang menikmati kebersamaannya dengan para wanitanya, dikarenakan ia bisa melihat keberadaan bodyguard Ellena, dan juga bodyguard yang dikirim oleh kakeknya. Selain keberadaan mereka, ada juga sistem yang senantiasa memberi bantuan pada Noah, untuk memastikan keselamatan dirinya sendiri, dan keselamatan mereka yang memiliki hubungan dengannya.
...----------------...
Bersambung.