Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Menjemput Jane


Noah tidak pernah membayangkan jika ia sekarang berada di dalam kamar bersama seorang wanita cantik, dan lagi beberapa saat yang lalu mereka terlibat dengan aktivitas, yang seharusnya tidak dilakukan, oleh pasangan yang belum terikat hubungan resmi.


Mereka memang tidak melakukan hubungan badan dan saling berbagi kehangatan, tapi mereka melakukan sesuatu di kamar mandi, yaitu mandi bersama dalam keadaan polos tanpa adanya pakaian yang menutupi tubuh keduanya.


Sebelumnya saat masih berada di kamar mandi, Noah setengah mati menahan keinginannya menjamah tubuh Joy. Sedangkan Joy, dengan wajah semerah tomat, ia membantu Noah menggosok punggungnya, dan itulah satu-satunya interaksi diantara keduanya selama berada di kamar mandi.


Dengan kedua mata kepalanya sendiri ia sempat melihat junior Noah yang sebanding dengan ukuran lengannya. Membayangkan junior Noah menyatu dengan miliknya, ia tidak yakin semua itu bisa muat di miliknya. Namun, ia penasaran bagaimana rasanya jika ia menyatu dengan Noah.


Membayangkan semua itu membuatnya merasakan basah di titik sensitif di tubuhnya, bahkan tubuhnya menghangat, dan perhatiannya semakin sulit teralihkan dari junior Noah. Beruntung ia dan juga Noah masih sama-sama bisa menahan diri, dan sampai saat ini belum terjadi penyatuan diantara mereka.


Di dalam kamar, meski sudah berpakaian lengkap, keduanya masih terlihat canggung, tapi kecanggungan diantara mereka mulai memudar setelah kedatangan Agnes, yang mana ia datang bersama Jihan.


Sedangkan Agnes yang baru memasuki kamar Noah, dan melihat jika terjadi kecanggungan antara Noah dan Joy, ia yakin telah terjadi sesuatu diantara keduanya. Ia adalah wanita yang sudah berpengalaman dalam sebuah hubungan, jadi tentu saja ia tahu jika telah terjadi sesuatu antara Noah dan Joy.


Namun, ia tidak akan bertanya langsung pada mereka tentang apa sebenarnya yang sudah terjadi. Akan tetapi, dikarenakan ia memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi, ia berencana menanyakan semua pada Joy, tentunya saat tidak ada keberadaan Noah diantara mereka. Ia merasa akan ikut canggung jika bertanya saat ada Noah.


“Kalian ini, aku sudah lama nunggu kalian di bawah untuk sarapan bersama, tapi kalian justru diam di sini!” kata Agnes dan begitu saja ia membiarkan Jihan berpindah ke gendongan Noah, sedangkan ia langsung menarik lengan Joy, membantunya berdiri.


Agnes dan Joy keluar dari kamar lebih dulu, di susul Noah yang berjalan dua langkah di belakang keduanya. Sambil jalan, Joy terlihat membisikkan sesuatu pada Agnes, dan tidak lama wajah Agnes tiba-tiba bersemu merah dan terlihat jika ia sedang menahan senyumannya.


‘Mereka ini, apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan?’ kata Noah dalam hati, dan senyum merekah di wajahnya saat melihat Jihan yang tersenyum dalam gendongannya.


Kamar Noah berada di lantai dua, dan setelah berjalan menuruni anak tangga, mereka langsung saja melangkahkan kaki menuju ruang makan, dimana di atas meja makan saat ini sudah tersaji segala jenis makanan, yang biasa dimakan di pagi hari. Setelah duduk, meraka langsung memukai acara sarapan bersama dalam tenang.


Joy dan Agnes duduk di kanan dan kiri Noah, sedangkan Jihan, ia sudah berpindah ke tangan babysitter, dan saat ini keduanya sedang bermain di ruang keluarga. Joy dan Agnes mengambilnya apa saja yang diinginkan Noah, membuat Noah merasa jika dirinya adalah seorang Raja, yang mendapatkan pelayanan langsung dari para istrinya.


Kecanggungan juga tidak lagi terlihat diantara Noah dan Joy, bahkan Joy sudah menunjukkan senyum termanisnya saat Noah melihat ke arahnya. Agnes sendiri merasa senang melihat keduanya tidak lagi canggung, dan tanpa bertanya ia tahu dari Joy, kenapa keduanya sempat terlihat sangat canggung.


‘Jika aku yang berada di posisi Jioy, aku juga pasti merasa sangat canggung, meski itu jelas bukan pertama kalinya aku melihat milik seorang pria. Bagaimanapun juga aku adalah wanita yang sudah pernah menikah,’ kata Agnes dalam hati, dan kembali ia fokus pada makanannya.


......................


Usai acara sarapan pagi bersama, Agnes dan Joy pamit karena ada pekerjaan yang menanti mereka. Sebelum pergi, Joy sempat menyerahkan undangan pada Noah. Itu adalah undangan pernikahan Edgar dan Nancy, yang akan berlangsung dua minggu lagi. Joy diminta Nancy membantu menyerahkan undangan itu pada Noah, dikarenakan Nancy tahu kedekatan yang terjalin antara Joy dan Noah.


Noah tentu saja menerima undangan itu. Jika saat menerima undangan pertunangan Nancy dan Edgar ia merasa sesak dan kecewa, sekarang saat menerima undangan pernikahan mereka, Noah justru merasa biasa-biasa saja, bahkan dengan senang hati ia akan menghadiri undangan pernikahan mereka, selayaknya ia datang dalam acara pertunangan mereka.


‘Menghadiri pernikahan mereka dengan status baruku sebagai anggota keluarga Ludwing, sepertinya akan menjadi kado pernikahan terindah untuk mereka, beserta anggota keluarga mereka,’ kata Noah dalam hati, dan terlihat seringaian tipis di wajahnya.


Awalnya Noah masih belum ingin memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari keluarga Ludwing. Bahkan ia kerap menolak keinginan kakeknya, memperkenalkan ia sebagai anggota keluarga Ludwing. Namun, demi kado terindah untuk pernikahan Edgar dan Nancy, ia memutuskan akan menerima keinginan kakeknya.


“Memang sudah saatnya aku menunjukkan pada dunia, jika aku adalah seorang Ludwing!” gumamnya.


......................


Di Mansion keluarga Ludwing yang berada di negara I, Richard yang baru saja membaca pesan Noah, ia tersenyum lebar setel membaca isi pesan singkat yang ditulis Noah. “Akhirnya ia mau membiarkan dunia mengetahui identitas aslinya,” gumamnya.


“Persiapkan acara terbaik untuk mengenalkan cucuku pada dunia? Panggil juga seluruh putraku supaya mereka datang ke negara ini, saat aku memperkenalkan cucuku pada dunia!” tegas Richard memberi perintah pada Diego, asisten pribadi yang sudah mengabdi pada keluarga Ludwing selama puluhan tahun.


Diego yang sejak dulu sangat irit bicara, ia hanya menganggukkan kepala, lalu begitu saja pergi menjalankan perintah Richard.


“Orang-orang yang selama ini menghina dan mencari masalah dengan cucuku, setelah mereka tahu identitas asli cucuku, aku ingin melihat secara langsung seperti apa ekspresi mereka!”


Tidak sulit bagi Richard mencari tahu apa yang selama ini sudah terjadi pada Noah, dan ia sudah menandai orang-orang yang pernah menyinggung ataupun menyakiti Noah, termasuk Nancy, mantan kekasih Noah, yang memilih meninggalkan Noah dan menjalin hubungan dengan pria pilihan keluarganya.


Kedua mata Richard menatap penih kebencian setelah mengetahui apa yang sudah terjadi pada Noah. ‘Akan aku pastikan mereka membayar lunas setiap perbuatan, yang sengaja mereka lakukan pada cucuku!’ katanya dalam hati, dan ia akan mulai membalas di acara pernikahan, yang mana ia sudah menggenggam undangan pernikahan Edgar dan Nancy.


Keluarga Edgar memiliki beberapa kerjasama dengan keluarga Ludwing, oleh karena itu tidak ada yang aneh jika undangan pernikahan Edgar dan Nancy sampai di tangan Richard, bahkan Richard langsung menerima undangan dari Edgar dan Nancy yang beberapa waktu yang lalu berkunjung ke Mansion keluarga Ludwing.


“Memang wanita cantik dengan tutur kata yang sopan, tapi sayang ia telah membuang berlian demi menerima batu kerikil yang disodorkan keluarganya!” kata Richard menilai sosok Nancy.


Di hari itu juga ia ingin mengungkap kebusukan keluarga Edgar, dan memutuskan seluruh kerjasama yang hanya merugikan keluarga Ludwing. Kehancuran, itulah yang ingin ia berikan pada mereka yang pernah menyakiti cucunya, dan siapapun itu yang melakukannya, pasti akan dihancurkannya.


......................


Siang menjelang sore, Noah meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil Bugatti Chiron berwarna hitam. Ia memiliki sepuluh pilihan mobil sport yang merupakan hadiah sistem, dan pilihan pertamanya jatuh pada mobil Bugatti Chiron, yang sekarang ia kemudikan menuju sekolah Jane.


Ya, siang ini ia sudah membuat janji menjemput Jane di sekolahnya, dan ia akan menemani Jane berkeliling mall. Mereka tidak hanya berdua saar nantinya di mall, melainkan ada beberapa pria dan wanita yang merupakan para sahabat Jane di sekolah.


Sengaja Jane kali ini ingin bepergian dengan ditemani Noah, dikarenakan ia malas berurusan pada pria, yang terus saja mengungkapkan cinta padanya, padahal ia sudah mengatakan pada pria itu jika dirinya sudah memiliki kekasih.


Lucas, pria yang dimaksud Jane, ia baru percaya jika wanita incarannya sudah memiliki kekasih, jika ia melihat keberadaan kekasih wanita itu secara langsung. Oleh karena itu, Jane sangat ingin mempertemukan Lucas dengan Noah.


Broom... Broom... Ciitt...


Bunyi knalpot mobil yang meraung-raung sudah terdengar dari kejauhan, dan bunyi gesekan antara roda mobil dan aspal terdengar saat mobil Bugatti Chiron berwarna hitam berhenti di dekat Jane dan para sahabatnya, yang berdiri di pinggir jalan.


“Apa kamu sudah lama menunggu? Maaf jika aku membuatmu menunggu terlalu lama!” kata Noah begitu ia sudah keluar mobil, dan berdiri di hadapan Jane yang tersenyum melihat keberadaan pria yang begitu ia rindukan, meski mereka kapanpun bisa bertemu.


“Aku belum lama menunggu, dan bagaimana kalau kita segera berangkat sebelum hujan turun!” ungkap Jane, dan ia jelas bisa melihat hujan mulai turun di kejauhan.


Menuruti apa yang menjadi keinginan Jane, Noah membukakan pintu mobil, lalu mempersilahkan wanita itu masuk kedalam mobilnya, dan setelahnya baru ia yang masuk ke dalam mobil.


Untuk para sahabat Jane, mereka segera masuk ke dalam dua mobil yang terparkir tepat di depan mobil Noah, dan setelah semua orang sudah berada di dalam mobil, satu-persatu mobil mulai melaju pergi menjauhi area sekolah.


Untuk Lucas dan para sahabatnya, mereka sudah lebih dulu berangkat ke mall, dan menunggu kedatangan Jane serta yang lainnya di parkiran mall.


Di dalam mobil sahabat Jane yang diisi oleh para wanita, mereka sedang asik membicarakan sosok kekasih sahabat mereka.


“Pantas saja Jane menolak Kak Lucas, lah itu kekasihnya sangat sempurna! Kak Lucas yang merupakan siswa paling keren di sekolah, ia tidak sebanding dengan kekasih Jane.”


“Bukan hanya tidak sebanding dari penampilan, tapi dari kekayaan sepertinya mereka juga tidak sebanding! Bugatti Chiron dibandingkan motor sport Kak Lucas, jika dibandingkan, itu bagaikan langit dan bumi, sangat jauh!”


“Dari sifat mereka juga sangat berbeda. Kekasih Jane dengan kelembutannya, dan Kak Lucas dengan sikap kasar yang tidak mencerminkan jika ia pria baik! Sempurna, itu mungkin kata yang tepat untuk mendeskripsikan kekasih Jane!”


“Ia memang kekasih sempurna, dan aku berharap masih ada pria sempurna seperti itu untuk menjadi kekasihku!”


“Bukan hanya kamu, tapi kita juga ingin!”


Setelah itu, suara gelak tawa mulai terdengar dari mulut tiga gadis yang berada dalam satu mobil.


Mereka bertiga menilai kekasih Jane adalah sosok yang sangat sempurna, meski sebelumnya mereka hanya melihat wajah pria itu dari samping, dan jarak mereka juga sedikit jauh karena Jane sebelumnya memilih menghampiri kekasihnya, daripada membiarkan pria itu menghampirinya, yang sedang berkumpul dengan seluruh sahabatnya.


Kalau saja mereka melihat lebih dekat dan lebih jelas sosok Noah, mungkin mereka bertiga akan langsung berjingkrak senang, dikarenakan sosok Noah tentu tidak asing bagi mereka.


Sampai di parkiran mall, Jane mengirim pesan supaya para sahabatnya menunggunya di dalam mall, sedangkan ia dan kekasihnya akan lebih dulu menyelesaikan urusan dengan Lucas. Mengerti dengan keinginan Jane, para sahabat Jane langsung saja masuk mall, tapi itu hanya untuk ketiga wanita sahabat Jane, sedangkan tiga pria yang merupakan sahabat Jane sejak mereka sama-sama masih di sekolah dasar, keduanya ikut menemani Jane dan Noah bertemu Lucas.


Mereka akhirnya menemukan Lucas dan lima sahabatnya, setelah berjalan ke tempat parkir paling ujung. Jane berjalan sambil memeluk mesra lengan Noah, sedangkan tiga pria di belakang mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah manja Jane pada seorang pria, yang mana ia tidak pernah memperlihatkan tingkah manjanya pada pria lain.


“Sayang, jadi pria buruk rupa itu yang menginginkan kamu menjadi kekasihnya? Sungguh pria buruk rupa tidak tahu malu, dan terlalu berani menginginkan kekasihku!” Noah berkata dengan santainya, bahkan ia menunjukkan senyuman di wajahnya, dan senyuman itu dapat dilihat oleh Lucas dan ke-lima sahabatnya.


Lucas dan ke-lima sahabatnya, jelas mereka melihat senyuman Noah yang awalnya terlihat biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan senyuman itu berubah menjadi mengerikan, dan mereka mulai takut pada sosok Noah.


Merasakan rasa takut yang tidak pagi bisa ditahan, Lucas memutuskan membawa ke-lima sahabatnya pergi meninggalkan area mall. ‘Aku merasa akan bernasib buruk jika berurusan dengan pria itu,’ batin Lucas.


...----------------...


Bersambung.