
Mengetahui kedua putra Riyo ingin pergi melarikan diri setelah tau mereka tidak mungkin dapat mengalahkan musuh. Flora tentu saja tidak akan membiarkan mereka pergi, begitu juga dengan tujuh wanita lainnya. Kedua putra Riyo baru diizinkan pergi begitu mereka telah menjadi mayat, yang tak lagi berguna.
Setelah menghentikan langkah kedua putra Riyo, Flora dan tujuh wanita maju bersama-sama menyerang kedua musuh mereka. Mereka semua memang wanita dengan kecantikan di atas rata-rata, tapi mereka akan bersikap kejam dan tanpa ampun pada siapapun yang telah dianggap sebagai musuh.
Mereka menyimpan senjata yang ada di tangan, dan menyerang kedua putra Riyo dengan tinju dan tendangan. Melihat bagaimana mereka menyerang lawan, mereka tidak ingin buru-buru membunuh keduanya, melainkan terlebih dulu ingin menyiksa keduanya, dan begitu puas menyiksa mereka baru akan membunuh kedua putra Riyo.
“Aku mau lihat sendiri, apa kalian tahan dengan siksaan, seperti yang pernah kalian lakukan pada para Elf wanita, yang kalian siksa dengan kejam sampai kematian mendatangi mereka,” kata Flora penuh dengan amarah.
Serangan mulai dilakukan oleh Flora dan tujuh wanita lainnya, dan target serangan mereka adalah kedua putra Riyo. Tak ada ampun untuk keduanya, mereka harus mengalami kematian dengan segala jenis rasa sakit, sama seperti yang selama ini mereka lakukan pada para Elf wanita, yang mereka culik lalu dikembalikan dalam keadaan tak bernyawa, dengan tubuh dipenuhi berbagai jenis luka.
“Serang dan jangan beri pengampunan pada mereka berdua!” kata Flora dengan suara lantang, sementara wanita lainnya dengan senang hati menuruti perkataannya.
“Mereka memang pantas disiksa sebelum mati!” kata Anggun.
Di sisi lain, kedua putra Riyo sama sekali tidak berdaya menghadapi serangan para wanita. Mereka mencoba melawan, tapi perlawanan mereka berakhir sia-sia karena para wanita jauh lebih kuat dari mereka, dan pada akhirnya mereka hanya bisa menjerit kesakitan, sembari memohon pengampunan yang mustahil diberikan pada mereka.
Dalam kondisi babak belur dan menahan rasa sakit, kedua putra Riyo terus saja memohon pengampunan. Akan tetapi, permohonan mereka dianggap angin lalu oleh para wanita, yang terus saja memukuli mereka, tak peduli dengan suara jeritan kesakitan dan permohonan mereka.
Aaargh...
Putra pertama Riyo menjerit kesakitan saat kedua kalinya dipatahkan, sama persis seperti yang pernah dia lakukan pada Elf wanita, setelah dia bosan dengan tubuh Elf wanita, yang dia culik dan dipaksa menjadi penghangat ranjangnya. Hanya karena bosan dia menyiksa dan membunuh Elf wanita itu, dan sekarang dia menerima balasannya.
Sama halnya dengan putra pertama Riyo yang saat ini mendapat balasan atas perbuatannya di masa lalu, putra kedua Riyo juga merasakan pembalasan yang sama, seperti yang pernah dia lakukan. Dia pernah mematahkan seluruh jari tangan Elf wanita sebelum membunuhnya, dan kini dia merasakan rasa sakit yang dulu dirasakan oleh Elf wanita, sebelum kematiannya.
“To-tolong lepaskan aku! Apapun akan aku lakukan jika kalian bersedia melepaskan aku, termasuk aku rela memberikan seluruh kekayaan desa ini pada kalian,” kata putra pertama Riyo.
“Melepaskan kau hanya dengan imbalan harta desa ini? Cih, tentu itu tidak akan terjadi karena hanya kematian, yang bisa membuat kami melepaskanmu!” balas Flora tegas.
Kedua putra Riyo merasa jika mereka benar-benar akan bertemu dengan kematian, di tangan para wanita yang sedikitpun tidak ingin memberi pengampunan pada mereka. Tidak mungkin juga ada yang sanggup menyelamatkan mereka, apalagi ibu mereka yang kemungkinan saat ini telah pergi melarikan diri, dengan membawa semua harta yang dimilikinya.
Mereka tahu pasti seperti apa sifat ibu mereka, yang mana wanita itu jauh lebih mementingkan harta miliknya, dibandingkan keluarganya sendiri, termasuk dengan kedua putranya. Wanita itu jauh lebih baik kehilangan seluruh anggota keluarganya, daripada kehilangan harta berharap miliknya.
“Sepertinya kalian sudah pasrah menerima kematian, setelah mendapatkan siksaan,” kata Victoria.
“Ce-cepat bunuh kami! Bu-bukannya kalian menginginkan kematian kami, jadi segera lakukan!” teriak putra kedua Riyo yang jauh lebih baik mati, daripada merasakan siksaan yang terasa begitu menyakitkan bagi mereka.
Mendengar semua itu, para wanita melihat ke arah Dua putra Riyo yang sudah dalam keadaan tubuh dipenuhi luka, tapi keduanya masih hidup, meski sudah berada di ambang kematian. Melihat keduanya yang masih bisa bicara, rasanya mereka masih ingin menyiksa keduanya.
“Tidak ada kematian cepat untuk kalian, sebelum kami puas menyiksa kalian! Kebetulan kalian masih bisa bicara, hari kami akan terus menyiksa kalian sampai puas, baru setelahnya kami akan memberikan kematian penuh dengan rasa sakit khusus untuk kalian!” kata Flora yang sebenarnya sangat ingin segera memberi kematian pada kedua putra Riyo.
Perkataan Flora mengejutkan kedua putra Riyo. Keduanya tidak menyangka jika saat mereka berbicara, ternyata semua itu justru membuat para wanita masih ingin melanjutkan siksaannya, dan baru akan membunuh mereka setelah puas memberi siksaan. Pada akhirnya, kedua putra Riyo hanya pasrah menerima siksaan.
‘Apa ini rasa sakit yang dialami oleh para wanita yang pernah aku siksa sampai akhirnya mereka mati di tanganku?’ batin putra pertama Riyo bertanya-tanya, dan kini dia mulai menyesali apa yang pernah dilakukannya di masa lalu. Namun penyesalan senantiasa datang terlambat, dan itu semua terasa percuma karena semua telah terjadi dan tidak mungkin dapat terulang.
Baaaam... Baaaam...
Tinju para wanita bergantian menghantam wajah kedua putra Riyo, membuat wajah mereka tak lagi bisa dikenali, tapi nampak jika keduanya masih sadar meski berada dalam keadaan mengenaskan.
Meski merasakan rasa sakit, tak ada suara jeritan keluar dari mulut mereka. Ingin rasanya mereka menjerit, tapi saat ingin membuka mulut rasa sakit itu justru semakin menyakitkan, membuat mereka enggan membuka mulut karena tidak ingin menambah rasa sakit.
“To-tolong bu-bunuh ka-kami sekarang juga!” Putra kedua Riyo memohon dengan suara terbata-bata, sementara putea pertama Riyo, dia hanya diam membisu karena mulutnya sama sekali tak bisa digerakkan.
Penampilan keduanya benar-benar menyedihkan dengan sekujur tubuh dipenuhi luka, terutama di bagian wajah, yang mana sebagian wajah mereka hancur tak lagi berbentuk. Bahkan mereka tak lagi bisa melihat dengan jelas, akibat kedua mata terluka akibat pukulan, dan rasa sakitnya membuat mereka mengeluarkan tangisan darah.
Para wanita menghentikan siksaan, memberikan jeda waktu pada kedua putra Riyo untuk menghela napas, sekaligus memulihkan sedikit saja keadaan tubuh mereka. Akan tetapi, dikarenakan luka mereka yang terlalu parah, tak sedikitpun mereka bisa memulihkan keadaan yang sudah begitu buruk.
Kalau saja kedua putra Riyo bisa mengakui hidup mereka sendiri, mungkin sudah sejak tadi mereka melakukannya, tapi sayangnya para wanita senantiasa berhasil menghentikan mereka bunuh diri, dan pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah, menunggu kematian mendatangi mereka.
“Mereka sudah terlihat sangat menjijikkan, bagaimana kalau kita langsung membunuhnya?” tanya Agnes yang kedua tangannya sudah sangat gatal ingin membunuh kedua putra Riyo.
“Aku tidak lagi menemukan celah di tubuh mereka yang belum kita siksa, bagaimana kalau kita bakar mereka hidup-hidup? Bukannya itu hal yang baik untuk siksaan penutup sebelum kematian mendatangi mereka secara langsung?” kata Amel menyampaikan ide terbaiknya untuk mengakhiri hidup musuh, sekaligus menyiksa mereka.
Saat para wanita menyetujui ide luar biasa yang diutarakan Amel, kedua putra Riyo merasa jika akhir hidup mereka akan ditutup dengan siksaan yang begitu menyakitkan. Ingin rasanya memberontak, tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa, akibat luka di setuju tubuh mereka.
Kedua putra Riyo tidak pernah menyangka jika kehidupan indah mereka akan berakhir sangat buruk, jauh lebih buruk dari akhir hidup ayah mereka. Mereka merasa Riyo cukup beruntung karena dari apa yang mereka tahu, ayah mereka mati dalam waktu singkat, tak melewati siksaan bertubi-tubi seperti yang saat ini mereka rasakan.
Suara wanita yang sedang berbicara tentang akhir hidup mereka kembali terdengar. “Patahkan seluruh tukang di tangan dan kaki mereka, sebelum kita melemparkan mereka ke atas bara api yang akan membakar tubuh mereka, merubahnya menjadi abu!” kata Vika dengan suara lantang, dapat didengar jelas semua orang, termasuk kedua putra Riyo.
Kedua putra Riyo tidak lagi bisa berkata-kata, setelah tahu akhir hidup mereka benar-benar buruk, jauh lebih buruk dari yang sebelumnya mereka bayangkan. Bukan hanya akan dibakar hidup-hidup, tapi mereka akan sangat menderita, sebelum penderitaan saat dibakar hidup-hidup.
Aaaargh... Aaaarg...
Suara jeritan kesakitan terakhir terdengar dari mulut kedua putra Riyo, saat para wanita mematahkan setiap tulang di tangan dan kaki mereka. Hanya Flora, Vika, Sasa, dan Agnes yang masih menyiksa mereka, sementara Victoria, Amel, Anggun, dan Suzy, mereka menyiapkan pembakaran untuk kedua putra Riyo.
Setelah puas memberi siksaan dan tempat pembakaran telah selesai, tubuh kedua putra Riyo diangkat, lalu dilemparkan begitu saja ke atas kobaran api, yang langsung saja membakar bagian tubuh kedua putra Riyo.
Hidup keduanya bisa dikatakan telah berakhir, meski saat ini mereka belum dipastikan mati, tapi kobaran api yang membakar tubuh mereka akan memastikan jika hidup mereka akan segera berakhir, dan itu bukanlah akhir yang baik untuk kehidupan mereka.
“Mereka sangat pantas menerima kematian, dan siksaan sampai akhir,” kata Flora puas melihat bagaimana kematian menghampiri kedua putra Riyo.
“Kalau darah mereka masih suci, aku mungkin akan menyedotnya sampai habis, tapi sayangnya darah mereka sudah tercemar, jadi kematian seperti saat ini memang pantas untuk mereka,” kata Victoria.
“Meski aku tidak tau pasti hal buruk apa yang pernah mereka lakukan, hanya dengan melihat wajah mereka, aku tahu jika mereka bukan orang baik,” ungkap Suzy, yang sangat sensitif dengan sifat seseorang.
Sasa, Anggun, Agnes, Vika, dan Amel, mereka kompak mengangguk setelah mendengar perkataan Suzy, dikarenakan mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh Suzy.
Selanjutnya, setelah memastikan kematian kedua putra Riyo, dengan memastikan tubuh mereka berubah menjadi abu, kedelapan wanita sebenarnya ingin membantu Noah mengalahkan ratusan Elf pria, yang merupakan pengawal keluarga Riyo, tapi saat melihat ke arah Noah, mereka telah melihat pertarungan di tempat Noah telah berakhir, dengan Noah keluar sebagai pemenang.
Noah benar-benar tidak memberi ampun pada lawan. Dia membunuh mereka semua tanpa sisa, dan mayat mereka berserakan dimana-mana dalam keadaan tidak utuh.
Melihat para wanita telah selesai dengan acara senang-senang nya, dan saat ini mereka sedang datang menghampirinya, Noah diam di tempat menunggu kedatangan mereka.
Baru juga para wanita datang, dari kejauhan semua orang melihat Rafael berjalan mendekat, sambil menyeret seorang wanita, yang membawa buntalan besar.
Noah, keenam kekasihnya, dan juga Victoria, mereka sama sekali tidak mengenali siapa wanita itu, tapi berbeda dengan Flora yang jelas saja mengenali wanita itu, dikarenakan dia pernah bertemu dengannya.
“Tuan, wanita ini adalah istri Riyo, pria Elf yang sebelumnya telah mati, saat dia ingin melakukan hal buruk pada desa Nona Flora. Wanita ini ingin pergi melarikan diri, beruntung salah satu pengawalku melihatnya, dan dia langsung ditangkap," kata Rafael menjelaskan pada Noah tentang identitas wanita yang dia bawa ke hadapannya.
Noah yang tidak ingin berurusan dengan wanita itu, dia menoleh melihat ke arah para wanita, baru setelahnya dia bicara, “Aku serahkan wanita itu pada kalian, dan terserah kalian mau melakukan apapun padanya!” Noah menyuruh Rafael menyerahkan wanita itu pada para wanita, dan dia membiarkan mereka melakukan apapun pada wanita itu.
Flora tersenyum senang melihat wanita yang diserahkan Rafael pada para wanita. “Nyonya yang terhormat, akhirnya kita bertemu kembali, tapi pertemuan kali ini jauh berbeda dari sebelumnya, dimana kamu sangat mendominasi jalannya pertemuan, bahkan dengan tanganmu itu kau membunuh salah satu temanku!” kata Flora.
“Saat itu aku tidak bisa melakukan apa-apa karena kekuatanku yang tak sebanding dengan kekuatan para Elf pria yang melindungimu. Namun kini semua jelas berbeda, dikarenakan aku bisa melakukan apapun padamu, yang tak lagi memiliki pelindung!”
Tak banyak membuang waktu, Flora langsung saja mengeluarkan pedangnya, dan dia langsung menusukkan pedang itu tepat di dada wanita, yang merupakan istri Riyo, ibu dari kedua pria yang telah berubah menjadi abu.
Uhuk...
Wanita itu memuntahkan darah segar dari mulutnya, dan dia menjerit kesakitan saat Flora menarik padangnya, yang sebelumnya digunakan menusuk dada wanita itu.
Sesaat kemudian wanita itu jatuh, dan setelah beberapa saat kejang-kejang, akhirnya dia bertemu dengan kematiannya.
“Flo, kenapa kamu langsung membunuhnya, bukannya lebih seru jika kita lebih dulu menyiksanya?” tanya Sasa.
“Aku hanya melakukan seperti apa yang dia lakukan saat membunuh temanku. Menusuknya tepat di bagian dada,” kata Flora menjawab pertanyaan Sasa.
Para wanita yang mendengar itu menganggukkan kepala, lalu setelahnya mereka mulai membakar desa yang tak lagi berpenghuni, setelah penduduk desa memilih pergi meninggalkan desa, tapi tak ada dari mereka yang selamat, setelah empat pengawal Rafael membunuh mereka semua.
Penduduk desa memiliki sifat sama buruknya dengan kedua putra Riyo, dan kematian adalah sesuatu yang layak mereka dapatkan.