Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Akhir Tragis Eden Dan Tio


Door...


Suara tembakan terdengar di tengah kesunyian malam.


Bukan Noah yang mengawali tembakan, tapi Eden yang lebih dulu mengarahkan tembakan ke arah Noah.


Door... Door... Door...


“Kau harus mati! Dengan kau mati, aku bisa memiliki semua milikmu!” Eden terus menembaki Noah menggunakan senapan serbu yang ada di tangannya.


Puluhan peluru sudah ditembakkan Eden, tapi dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan bagaimana seluruh peluru yang ditembakkan di tangkap oleh Noah.


“Hanya ini tidak akan cukup untuk membunuhku!” gumam Noah.


Door... Door... Door...


Saat Eden tercengang melihat apa yang dilakukan Noah dan menghentikan tembakannya, Tio yang semula ketakutan pada sosok Noah, dia memberanikan diri mengarahkan pistol di tangannya ke arah Noah, dan menembakkan peluru tajam ke arahnya.


Saat peluru yang ditembakkan hampir mengenai Noah, jelas Tio melihat seluruh peluru ditangkap, dan di buang begitu saja oleh Noah.


“Di-Dia bukan manusia!” kata Tio dan dia menjatuhkan pistol di tangannya, yang tidak lagi memiliki tenaga setelah melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Noah.


Sedangkan Eden yang tidak percaya jika Noah tidak dapat dibunuh menggunakan peluru tajam, dia kembali menembaki Noah dan dia akan terus melakukannya sampai amunisi senapan serbu miliknya habis.


Door... Door... Door... Door...


Kaca anti peluru di mobil Eden akan langsung hancur jika terkena tembakan dari sisi dalam.


Kaca bagian depan mobil sudah hancur sejak pertama kali Eden menembaki Noah, dan sekarang dengan dibantu supir yang mengemudikan mobilnya, dia berusaha membunuh Noah dengan menghujaninya menggunakan peluru tajam.


Door... Door... Door...


Tembakan dilakukan dari jarak dekat, dan seharusnya tembakan itu bisa membunuh Noah, seandainya dia hanyalah manusia biasa.


“Sialan, apa-apaan dia itu! Bagaimana mungkin dengan tangan kosong dia berhasil menangkap seluruh peluru yang di tembakkan padanya, dan terlihat tangannya masih dalam keadaan baik-baik saja?” Eden yang awalnya yakin dapat membunuh Noah dengan menembaknya dari jarak dekat, kini dia frustasi setelah melihat apa yang terjadi.


Meski jelas terlihat jika peluru tajam yang dia tembakkan tidak cukup untuk membunuh Noah, Eden terus saja menembaki Noah, begitu juga dengan supirnya. Sedangkan Tio, dia kali ini benar-benar lemas, dan sama sekali tidak memiliki tenaga untuk bergerak.


Tak... Tak...


Senapan serbu di tangan Eden akhirnya kehabisan amunisi begitu juga dengan dua pistol yang berada di tangan supir, yang mengemudikan mobil Eden. Keduanya sulit percaya dengan apa yang terjadi, meski semua kejadian terjadi tepat di depan kedua mata kepala mereka sendiri.


Manusia bisa menangkap peluru tajam yang ditembakkan dengan tangan kosong dan membuangnya begitu saja. Semua itu biasanya hanya dapat mereka lihat di film-film, dan mustahil terjadi di dunia nyata.


“Apa mungkin dia manusia super seperti yang ada di film-film? Sial! Jika benar sosoknya seperti manusia super yang ada di film-film, aku jelas bukan lawan sepadan untuknya!” gumam Eden tidak tau lagi harus menggunakan apa untuk melawan Noah.


Namun Eden bukanlah sosok yang mudah berputus asa, sekalipun dia dihadapkan pada situasi antara hidup dan mati.


Dia melihat pistol milik Tio yang masih memiliki sisa amunisi. Diambilnya pistol itu dan dia kembali ingin menembak Noah, tapi saat melihat ke arah depan, dia tidak lagi melihat keberadaan Noah.


“Kemana perginya orang itu?” Eden benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan Noah, dan dia baru sadar jika sosok supirnya juga tidak ada di tempat.


Belum sempat menoleh untuk mencari keberadaan Noah, pintu di sebelahnya tiba-tiba terbuka, dan dengan kasar seseorang menariknya keluar dari mobil.


Brak...


Pintu kembali tertutup begitu Eden sudah berada di luar mobil, dan saat dia menengadahkan kepala untuk melihat wajah orang yang menariknya secara paksa keluar dari mobil, dia dibuat tercengang sekaligus ketakutan saat tahu jika orang yang menariknya adalah Noah.


Aaaargh...


Tidak hanya menginjak tangan Eden, selanjutnya Noah menendangi tubuh Eden seolah tubuhnya adalah bola sepak.


Bugh... Bugh... Bugh...


Crack... Aaaargh...


Tendangan keras Noah berakibat buruk pada tulang-tulang berharga, yang ada di tubuh Eden.


Seorang Eden yang biasanya tidak peduli dengan rasa sakit, kini dia benar-benar kesakitan saat satu-persatu tulang ditubuhnya patah ataupun retak akibat tendangan keras yang dilakukan Noah.


Tidak kuat menahan rasa sakit, akhirnya Eden jatuh pingsan.


Mengabaikan Eden yang sudah pingsan dengan luka-luka yang ada di tubuhnya, dan jangan bertanya kemana perginya supir Eden yang pastinya dia telah berubah menjadi mayat.


Noah kembali melangkahkan kaki berjalan mendekati mobil Eden, dan sekarang pandangannya tertuju pada Tio yang hanya diam di dalam mobil.


Tio terlihat memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong, menunjukkan jika dia mengalami goncangan jiwa yang parah setelah melihat, apa yang dilakukan Noah.


Melihat itu Noah sama sekali tidak iba pada keadaan Tio, dia justru dengan kasar menyeretnya ke tempat Eden yang tergeletak tidak berdaya.


“Aku tahu apa yang membuatmu ingin membunuhku, sampai kau melakukan kerjasama dengan Eden, yang merupakan musuh keluarga Ludwing! Kau ingin memiliki wanitaku, dan itu bukan keinginan yang bisa kau wujudkan sampai kapanpun!” kata Noah tepat di dekat telinga Tio, yang masih saja diam mematung, disaat hidupnya berada di bawah ancaman Noah.


Dalam diam, Tio mendengar semua yang dikatakan oleh Noah tanpa terkecuali.


Mendengarnya, dia benar-benar menyesal karena telah berani berurusan dengan sosok mengerikan seperti Noah.


Dari awal dia tidak terlalu mengenal siapa Noah. Dia hanya tahu Noah adalah kekasih Agnes dan beberapa wanita lainnya, yang mana salah satu wanita lainnya itu, adalah wanita yang diinginkan Eden, sahabatnya.


Dikarenakan memiliki tujuan yang sama dan dia yakin dirinya aman dibawah perlindungan Eden, dia setuju bekerjasama dengan Eden, merencanakan pembunuhan pria yang merupakan kekasih Agnes.


Meski pada akhirnya dia tahu jika Noah, pria kekasih Agnes adalah bagian dari keluarga Ludwing yang terkenal akan kekejamannya, dikarenakan janji perlindungan yang diberikan Eden, dia tetap melanjutkan kerjasamanya bersama pria itu, dan inilah akhir buruk yang dia dapatkan.


Bukan hanya gagal membunuh pria yang ingin dia bunuh, tapi hidupnya yang justru terancam oleh pria yang ingin dibunuhnya. Bahkan dia yakin telah kehilangan seluruh anak buahnya tanpa terkecuali para pengawal yang senantiasa berada di dekatnya.


“Apa kau tidak punya maaf untukku, dan membiarkanku pergi dari tempat ini?” tanya Tio begitu dia kembali mendapatkan kesadarannya secara penuh.


Sebelumnya dia memang sadar, tapi seolah pikirannya ada di tempat lain, yang membuat dia terlihat selayaknya orang mati.


Mendengar apa yang dikatakan Tio, Noah terkekeh, “Hehehehe... apa kau pikir aku ini orang yang pemaaf, apalagi pada orang yang menginginkan kematianku? Kalau sebelumnya aku tidak tahu rencana kalian, mungkin saat ini aku yang berada di posisi kalian, dan apa mungkin kalian memberi pengampunan padaku?” Noah bergantian menatap Tio, dan Eden yang pingsan.


“Aku yakin kalian tidak akan memberi pengampunan, dan dengan perasaan senang kalian akan membunuhku! Jadi, jangan harap ada maaf dariku untukmu, apalagi untuk Eden!” kata Noah, dan setelahnya dia menghadiahi Tio sebuah tinju, yang tepat menghantam rahangnya.


Seketika Tio pingsan hanya dengan sebuah pukulan.


Wajar dia pingsan hanya dalam sekali pukul, dikarenakan dia bukanlah seorang petarung, dan selama ini dia senantiasa berlindung di belakang anak buahnya. Kalaupun tidak berlindung, dia senantiasa menggunakan pistol untuk melindungi dirinya.


“Kalian berdua hanyalah manusia biasa yang sangat lemah, tapi kalian begitu berani berurusan denganku! Beruntung malam ini aku sedang tidak ingin membunuh seseorang, jadi kalian masih memiliki kesempatan hidup sampai hari esok!” Noah segera menyuruh Jacob dan Hans, membereskan Eden dan Tio.


Meninggalkan mereka yang sama sekali tidak memberi perlawanan berarti padanya, Noah kembali ke tempat para wanita.


Akan tetapi, bukannya langsung menghampiri salah satu dari ke-enam kekasihnya, Noah justru menghampiri Vita dan Prilly. “Jika kalian memiliki urusan yang belum terselesaikan dengan Eden, datang saja ke Mansion keluarga Ludwing sebelum siang hari! Kalian bebas melakukan apapun padanya, tapi setelah siang hari, dia akan mati!” kata Noah.


Vita dan Prilly yang mendengarnya hanya mengangguk, dan dengan senang hati besok dia akan datang berkunjung ke Mansion keluarga Ludwing.


......................


Bersambung.