
Noah dan Jane masuk ke mall setrong urusan dengan Lucas selesai, untuk saat ini bisa dianggap urusan dengan Lucas selesai, tapi tidak tahu apa di masa depan pria itu kembali mencari masalah atau tidak.
Tentunya Noah sama sekali tidak takut jika ia harus kembali berurusan dengan bocah seperti Lucas. Ia cuma takut jika Lucas justru melakukan sesuatu pada Jane, bagaimanapun juga mereka berada dalam satu sekolah yang sama, dan ia tidak bisa mengawasi keadaan Jane saat berada di sekolah.
Berada di dalam mall, Noah melihat tiga remaja wanita yang belum lama ini ia tolong dari para preman di taman. Ketiganya sedang mengarahkan pandangan ke arahnya, dan mereka sepertinya terkejut melihat keberadaannya.
‘Ini adalah mall dan juga tempat umum, jadi wajar saja mereka ada di sini,’ kata Noah dalam hati, tapi ia merasa ketiga remaja itu memiliki hubungan dengan Jane, dikarenakan mereka memakai seragam yang sama.
“Sayang, perkenalkan, mereka adalah ketiga sahabatku!” kata Jane, dan sekali lagi ia memperkenalkan Noah pada sahabatnya, sama halnya seperti saat ia memperkenalkan Noah pada ketiga pria yang sedari kecil sudah menjadi sahabatnya.
Saat Jane memperkenalkan Wendy, Yuki dan Rhea, akhirnya Noah tahu jika ketiga remaja yang kemarin ia tolong adalah sahabat kekasihnya. Sementara itu, ketiga sahabat Jane, akhinya mereka juga tahu jika pria yang menyelamatkan mereka adalah kekasih Jane.
Setelah acara perkenalan, ketiga sahabat Jane menceritakan kejadian di taman kota, saat mereka diganggu para preman. Semua kejadian mereka ceritakan tanpa ada yang dirahasiakan, termasuk sosok pria yang menolong mereka, yang tidak pain adalah Noah, kekasih sahabat mereka.
“Kakak, kita bertemu lagi, dan aku tidak menyangka jika Kakak adalah kekasih Jane!” kata Wendy dan ia terlihat senang karena dipertemukan kembali dengan penyelamat nya.
Bukan hanya Wendy yang terlihat senang, tapi Yuki dan Rhea juga terlihat senang setelah dipertemukan kembali dengan sosok Noah. Namun, ketiganya yang sebelumnya bertekad menjadikan penyelamat sebagai kekasih, sekarang mereka mengubur tekad itu begitu tahu sang penyelamat adalah kekasih sahabat mereka.
Noah tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Wendy padanya, dan ia sebenarnya masih tidak menyangka jika yang ia bantu adalah sahabat kekasihnya. “Aku juga tidak menyangka jika kalian adalah sahabat kekasihku, dan untung saja aku membantu kalian, kalau aku mengabaikan kalian, mungkin saat ini aku akan merasa tidak enak karena bertemu kalian.”
Mendengar perkataan Noah, ketiga Wendy dan dua orang lainnya tersenyum, begitu juga dengan Jane dan tiga remaja pria bernama Nico, Mike, dan Xavi. Lalu, setelah pembicaraan singkat itu, mereka segera menikmati jalan-jalan di mall, membeli apa yang ingin mereka beli, dan pergi ke tempat yang ingin mereka kunjungi.
Meski jalan-jalan bersama kekasihnya dan para sahabatnya yang masih menggunakan seragam sekolah, Noah yang berada diantara mereka tidak terlihat jauh lebih dewasa, melainkan ia terlihat seumuran dengan mereka.
Penampilan mereka yang cantik dan tampan di usia muda, membuat banyak pasang mata mengarahkan pandangan ke arah mereka, terutama para wanita yang terus saja mengarahkan pandangan pada Noah.
Melihat banyaknya wanita yang terus saja memandangi kekasihnya, Jane merasa kesal dan ia ingin sekali menutupi wajah Noah menggunakan topeng, tapi sayangnya ia tidak menemukan keberadaan penjual topeng di dalam mall.
Noah tahu jika Jane sedang kesal karena ulah para wanita yang terus saja memandanginya. Bukannya khawatir, ia justru tersenyum karena ekspresi kesal Jane, justru membuat wajahnya terlihat sangat menggemaskan, bahkan karena tidak tahan dengan wajah Jane yang sangat menggemaskan, ia membelai lembut wajah Jane, yang seketika itu juga menjadi bersemu merah.
“Sayang, kamu tidak perlu kesal! Mereka cuma bisa melihat, sedangkan kamu bisa memilikiku!” kata Noah di dekat telinga Jane.
Jane yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya pelan, dan menunjukkan senyuman manis di wajahnya. Senyuman manis ditambah wajah yang imut, ‘Rasanya aku langsung ingin menerkam nya saat ini juga,’ katanya Noah dalam hati.
Bukan hanya Noah yang gemas dengan wajah imut Jane dan senyuman manisnya, melainkan banyak pria yang rasanya ingin mengarungi Jane dan membawanya pulang. Namun, mereka tidak mungkin melakukan itu, dikarenakan mereka bisa dianggap sebagai penculik.
Mengabaikan orang-orang di sekitar mereka, Jane yang memeluk lengan kiri Noah, keduanya terus saja berjalan mengikuti enam orang di depan mereka, yang terlihat belum lelah menyusuri setiap tempat yang ada di mall. Namun, tidak lama kemudian mereka memutuskan istirahat sambil mengisi perut di salah satu restoran.
Sebagai anak remaja dari kalangan atas, mereka sudah terbiasa makan di restoran, dan mereka segera memesan makanan serta minuman yang diinginkan. Meski mereka berasal dari kalangan atas, mereka bukan remaja boros yang suka menghambur-hamburkan uang keluarga.
Saat mendengar jika Noah akan membayar semua pengeluaran mereka di mall, mereka tentu saja senang, tapi tetap saja mereka tidak ingin memanfaatkan situasi, dan hanya membeli apa yang memang mereka butuhkan, termasuk kebutuhan makan dan minum.
Semua orang sepakat memesan makanan yang sama, tapi tidak dengan minuman mereka. Berbagai macam jus mereka pesan, dan tidak sampai seluruh menit menunggu, semua yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja.
Kejutan didapatkan Noah yang sedang memakan makanannya. Tanpa ia duga, Sasa datang dan begitu saja duduk di kursi kosong yang ada di depannya. Bukan hanya itu, tapi Sasa begitu saja meminum minuman yang belum sempat dicicipinya.
Para sahabat Jane tentu sudah mengenali Sasa, yang merupakan kakak Jane, tapi mereka tidak menyangka jika Sasa terlihat begitu dekat dengan Noah. Sedangkan Jane yang melihat kedatangan kakaknya, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, kakaknya benar-benar terlihat sangat bar-bar di depan kekasih mereka.
Mengarahkan pandangan pada para sahabatnya, Jane bisa melihat kebingungan di wajah mereka, saat melihat kedekatan Noah dan kakaknya. Melihat itu, akhirnya ia jujur pada para sahabatnya, “Kalian tidak perlu bingung melihat kedekatan Kak Sasa dengan kekasihku! Mereka tentu saja dekat karena aku dan Kak Sasa adalah calon istri Noah!” katanya.
Seketika para sahabat Jane diam dengan mulut menganga lebar. Mereka bukan hanya terkejut, tapi sangat terkejut. Mereka tidak menyangka jika Jane dan kakaknya menjalin hubungan dengan pria yang sama, bahkan mereka terlihat tidak keberatan saling berbagi. Sungguh mereka menganggap semua ini adalah kejadian yang langka.
Namun, Wendy, Yuki, serta Rhea, meraka juga rela berbagi dengan beberapa wanita, jika pria itu adalah sosok sempurna seperti Noah, bahkan mereka rela menjadi yang ketiga dan seterusnya jika Noah menginginkan mereka. Akan tetapi, melihat kesempurnaan Jane dan kakaknya, ketiganya sadar diri jika kecil kemungkinan Noah menginginkan mereka.
Sedangkan tiga remaja pria yang sudah lama bersahabat dengan Jane, awalnya mereka memang terkejut, tapi mereka tiba-tiba tersenyum karena teringat sumpah Jane saat mereka masih di bangku SMP.
‘Aku bersumpah, jika kakakku nanti menikah, aku akan menjadi istri dari suaminya, supaya aku tidak berpisah dengan kakakku,’ sumpah Jane di masa lalu, dan sepertinya sumpah itu akan segera terwujud.
“Kakak, bukannya jam segini seharusnya Kakak masih di Cafe, ini kenapa tiba-tiba Kakak muncul di tempat ini?” tanya Jane setelah acara makan selesai, dan para sahabatnya pamit pulang lebih dulu karena orangtua mereka sudah pada nyariin.
“Cafe aku tutup lebih awal, dikarenakan ada salah satu anggota keluarga karyawan Cafe yang meninggal. Pulang dari rumah duka aku langsung ke mall, dan tidak kusangka aku justru bertemu kalian,” jawab Sasa.
Mendengar jawaban Sasa, Noah dan Jane hanya menganggukkan kepala mereka, dan akhirnya mereka bertiga, bersama-sama pergi meninggalkan restoran.
“Ini aku baru data dan belum berkeliling, apa kita akan langsung pulang?” tanya Sasa yang sebenarnya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Noah dan juga Jane, meski belum lama ini mereka sudah menghabiskan waktu bersama, bahkan dengan para wanita lainnya.
Mengingat keberadaan bioskop di mall yang mereka kunjungi, akhirnya mereka memutuskan pergi ke bioskop. Namun, bukannya membeli tiket reguler, mereka justru menyewa ruang VIP, yang mana nantinya ruangan itu hanya mereka bertiga yang menempatinya. Noah yang membayar semua pengeluaran, ia memang sengaja menyewa ruang VIP, dikarenakan ia tidak ingin kebersamaannya dengan Sasa dan Jane diganggu orang lain.
“Sayang, bukannya ini terlalu berlebihan? Sebaiknya tadi kita beli tiket biasa saja!” kata Sasa, yang merasa kalau Noah sedikit berlebihan, tapi dalam hati ia senang dengan apa yang dilakukan Noah.
“Tidak ada yang berlebihan jika apa yang aku lakukan bisa membuat kita merasa nyaman!” balas Noah, lalu sambil memeluk pinggang ramping Sasa dan Jene yang mengapit posisinya, ia berjalan menuju ruangan yang selama lima jam ke depan bebas meraka tempati.
Berada di dalam ruangan yang hanya berisikan mereka bertiga, mereka benar-benar bisa fokus menikmati film yang sedang diputar, tanpa harus terganggu aktivitas orang lain,
Mereka menikmati film romantis di awal, dan mengakhirinya dengan menonton film horor. Saat menonton film horor, Jane dan Sasa terus saja memeluk Noah, dan sebuah keuntungan bagi pria yang lengannya di peluk wanita, ia bisa merasakan gunung kembar yang terasa hangat dan kenyal.
Di ruang VIP yang tanpa pengawasan, mereka sebenarnya bebas melakukan apapun, dan tidak akan ada yang melerai apapun yang mereka lakukan. Biasanya ruang VIP juga dijadikan ruang pesta, baik itu pesta minum, atau pesta kedewasaan.
Namun, tentu saja Noah dan kedua kekasihnya tidak akan melakukan semua itu, dikarenakan mereka sama-sama memiliki prinsip baru akan melakukan sesuatu yang melewati batasan setelah memiliki hubungan resmi.
‘Rasa-rasanya aku ingin segera meresmikan hubungan dengan mereka semua, supaya aku tidak tersiksa seperti ini,’ kata Noah dalam hati.
Ia benar-benar merasa tersiksa karena disaat Sasa dan Jane memeluk kedua lengannya, di bawah sana junior nya mulai bangkit, dan sepertinya ia harus segera melakukan sesuatu untuk membuat junior nya kembali tidur.
Namun untuk saat ini ia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa, supaya junior nya kembali tertidur. Bukannya tertidur, yang ada juniornya saat ini justru semakin tegak berdiri, dan siap melakukan pertarungan berdarah-darah.
Sebenarnya Sasa dan Jane sama-sama tahu tentang junior Noah yang berdiri kokoh di bawah sana, tapi mereka tidak melakukan apa-apa, selama Noah juga tidak melakukan apa-apa. Namun jika Noah menginginkan mereka saat ini juga, baik Sasa maupun Jane, mereka tidak akan menolak, dan akan memberikan apapun yang diinginkan Noah.
‘Aku kuat dan aku pasti bisa melewati semua ini,’ teriak Noah dalam hati, dan dengan usaha keras ia akan bertahan dari semua godaan yang sewaktu-waktu bisa saja menggoyahkan keyakinannya. Keyakinannya saat ini tinggal setebal lembaran kertas, beruntung sebelum keyakinannya benar-benar habis, Sasa dan Jane bersamaan melepas pelukan mereka.
Keduanya melepas pelukan bersamaan dengan akhir film yang mereka tonton, dan karena merasa sudah cukup bersantai sambil menonton film, mereka memutuskan untuk pulang.
Keluar dari ruang bioskop, Sasa dan Jane sama-sama tersenyum saat melihat wajah Noah. Entah kenapa mereka merasa sangat bangga karena Noah masih bisa menahan diri, dan tidak melakukan sesuatu yang berlebihan saat di ruangan VIP.
Berada di tempat parkir, ternyata mobil Sasa terparkir tepat di sebelah mobil Noah. Dikarenakan ada Sasa yang juga ingin pulang, Jane akhirnya memutuskan ikut mobil Sasa. Sedangkan Noah, ia akan mengikuti mobil mereka, untuk memastikan keselamatan mereka sampai tujuan.
Perjalanan dari mall sampai ke rumah keluarga Sasa dan Jane berjalan lancar. Kedua orangtua Sasa dan Jane masih di luar kota, jadi Noah memutuskan tidak singgah di rumah mereka, dan ia memilih langsung melanjutkan perjalanan pulang.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Noah memasuki komplek perumahannya. Saat melewati depan rumah Agnes, ia melihat Agnes dan Jihan yang sedang bersantai di taman kecil, yang berada di bagian depan rumah.
Noah teesenyu melihat kebersamaan ibu dan anak, yang tidak lama lagi akan menjadi tanggungjawabnya. “Beruntungnya aku kelak bisa hidup bersama mereka,” gumam Noah, dan ia segera memarkirkan mobilnya si garasi yang ada di rumahnya, lalu ia pergi menghampiri Agnes dan Jihan, yang tentu saja senang melihat kedatangannya.
“Sayang, apa Jane kamu antar selamat sampai rumah?” tanya Agnes, begitu Noah duduk di sebelahnya, dan Jihan sudah berpindah ke pangkuan Noah.
Noah senantiasa memberitahu yang lainnya jika ia pergi dengan salah satu dari mereka, jadi Agnes jelas tahu jika ia baru keluar dengan Jihan. “Aku sudah mengantarkannya selamat sampai rumah, dan kebetulan tadi di mall aku juga bertemu dengan Sasa!” kata Noah apa adanya.
Agnes mengangguk dan setelahnya ia tersenyum. Meski ada Sasa yang ikut keluar bersama Noah, ia sama sekali tidak cemburu karena ia sudah tahu pasti status Sasa dan Noah.
Ia baru akan cemburu jika Noah jalan dengan wanita yang tidak memiliki hubungan jelas dengannya, dan cemburunya seorang wanita akan menjadi malapetaka bagi Noah.
......................
Bersambung.