
Pagi ini, saat Noah baru sampai di ruang makan untuk makan pagi, dia dikejutkan dengan keberadaan para kekasihnya di ruang makan. Bukan hanya para kekasihnya, tapi ada Nancy yang sedang membantu menyiapkan makanan untuk dinikmati bersama.
‘Rasanya aku benar-benar seperti seorang Raja, yang senantiasa mendapat pelayanan dari para wanita cantik,’ batin Noah dan dia segera menempati tempat duduk kepala keluarga, yang berada di ruang makan.
Noah melihat para wanita yang sedang menyiapkan berbagai jenis makanan. Mereka terlihat kompak, bahkan Nancy sudah membaur dengan mereka. Dia belum menegaskan hubungannya dengan Nancy, tapi melihat bagaimana sikap seluruh kekasihnya pada Nancy, dia bisa melihat jika mereka sudah menerima keberadaan Nancy.
Ketika Noah masih melihat apa yang dilakukan para wanitanya, dia mendapatkan pesan dari Rizal dan Prima, yang mengurus kedua bisnisnya.
Mereka mengirim pesan bukan karena ada masalah, tapi mereka mengirim pesan untuk memberitahu jika uang bulanan sudah di transfer ke rekening Noah. Tidak lama setelah pesan mereka, giliran pihak Bank yang mengirim sebuah pesan padanya. Pesan itu memberitahu jika sejumlah uang telah ditambahkan ke tabungannya.
“Padahal aku tidak melakukan pekerjaan yang merepotkan, tapi pundi-pundi uang terus saja berdatangan padaku. Kalau begini, bagaimana bisa aku menghabiskan seluruh uang, yang aku miliki?” tanya Noah pada dirinya sendiri.
Bukannya berkurang setelah digunakan, jumlah uang dalam tabungannya justru terus bertambah, apalagi dengan sistem yang senantiasa memberi hadiah padanya. Jika di masa lalu dia bingung menghemat uang pengeluaran, sekarang dia justru bingung bagaimana menggunakan uangnya yang terus bertambah. Apalagi, mulai sekarang dia juga akan mendapatkan uang dari kakeknya dalam bentuk Euro, dan itu bukan jumlah yang sedikit.
“Apa kamu sudah lama menunggu?” tanya Ellena begitu menyajikan nasi goreng di atas meja makan.
“Aku belum lama menunggu, tapi aku sudah lumayan lapar,” jawab Noah dan dia menunjukkan senyuman di wajahnya.
“Tunggu sebentar lagi!” Ellena belum mengizinkan Noah makan sebelum seluruh makanan tersaji di atas meja makan.
Tidak lama seluruh makanan sidah tersaji di atas meja, dan seluruh makanan yang ada membuat Noah bingung ingin makan yang mana. Pada akhirnya dia makan semua makanan dalam porsi kecil. Dia ingin menikmati seluruh makanan, jadinya dia memakan semua makanan dalam porsi sedikit.
Awalnya dia ingin menikmati seluruh makanan dalam porsi sedikit, tapi karena rasa dari seluruh makanan yang cocok dengan lidahnya, dia pada akhirnya makan cukup banyak seluruh jenis makanan yang tersaji di atas meja.
Melihat Noah lahap memakan makanan yang mereka siapkan, para wanita tersenyum senang termasuk Nancy yang pagi ini menyiapkan udang goreng, yang dia tahu jika Noah sedari dulu sangat menyukai kadang goreng, apalagi jika dibumbui saos asam manis. Mau pagi, siang, atau malam, Noah pasti lahap memakan makanan itu, dan dulu dia sering memasaknya untuk Noah.
“Aku senang kamu menyukai seluruh makanan yang kami siapkan!” kata Sasa yang melihat seluruh makanan yang tersaji di atas meja sudah habis, hanya menyisakan wadah kotor yang harus segera dibersihkan, sebelum menimbulkan bau tidak sedap.
“Semua yang kalian masak aku sangat menyukainya, lihat! Bahkan perutku sampai buncit,” kata Noah, dan terlihat perutnya yang sedikit buncit.
Para wanita terkekeh pelan melihat perut Noah yang memang sedikit buncit, dan selama mereka mengenal Noah, baru kali ini mereka melihat Noah begitu lahap memakan makanannya.
Selesai acara makan pagi bersama, Noah memutuskan bersantai di taman belakang rumahnya, sambil bermain dengan Jihan yang begitu lengket dengannya.
Sedangkan para wanita, pagi ini mereka yang memang tidak memiliki kegiatan kecuali Jane yang harus pergi ke sekolah, mereka menikmati waktu bersama di ruang keluarga, yang ada di rumah Noah. Nancy ada diantara mereka, dan terlihat jika mereka sudah saling mengakrabkan diri.
Semua terlihat menikmati apa yang sedang mereka kerjakan, tapi Noah tidak lupa jika siang ini dia harus menjemput Jane pulang.
......................
Menggunakan salah satu mobil sport mewah yang ada di rumahnya, Siang ini Noah pergi seorang diri menjemput Jane di sekolahnya. Meski di dalam mobil dia hanya seorang diri, tapi tidak jauh di belakang mobilnya terdapat mobil berwarna hitam, yang mana mobil itu dikemudikan langsung oleh Jacob, dan dia ditemani tiga orang anak buahnya.
“Seperti biasa, banyak pria yang mencoba menggoda Jane,” gumam Noah saat dari kejauhan dia melihat beberapa orang sedang menggoda Jane, tapi tentu saja keberadaan mereka diabaikan oleh Jane.
“Astaga rahimku rasanya menghangat hanya dengan melihat wajahnya.”
“Kalau kamu merasa rahimmu menghangat, aku merasa di bawah sana begitu ingin diaduk-aduk pusaka pria itu.”
“Dasar barang bekas, aku dong masih segelan, dan aku rela buka segel dengannya.”
Suara-suara yang tendang begitu fulgar terdengar, membuat risih Noah yang mendengarnya. Mengabaikan mereka, dia langsung saja melangkahkan kaki menghampiri Jane yang tersenyum menyambut kedatangannya.
“Mau langsung pulang atau ingin pergi jalan-jalan lebih dulu?” tanya lembut Noah, begitu dia sudah berada di hadapan Jane.
Jane ingin pergi ke mall karena ada sesuatu yang ingin dia beli, dan tentu saja dengan senang hati dia mengabulkan apa yang menjadi keinginan Jane. Membukakan pintu dan mempersilahkan Jane masuk ke dalam mobilnya, begitu Jane masuk, Noah segera pergi ke tempat pengemudi mobil, dan setelahnya dia begitu saja tancap gas meninggalkan sekolah Jane.
Banyak murid pria yang sebelumnya menggoda Jane, mereka hanya sanggup menghela napas karena jelas saja mereka tidak mungkin bisa bersaing, dengan pria yang menjadi kekasih Jane. Sedangkan murid wanita, mereka hanya bisa menatap iri pada Jane karena memiliki pria yang sangat sempurna.
......................
Sampai di mall, Jane membawa Noah pergi ke toko elektronik, untuk membeli laptop. Kebetulan kemarin laptop Jane rusak, dan karena ada banyak tugas yang harus segera dikerjakan, daripada memperbaiki laptopnya yang rusak, dia memilih membeli laptop baru. Lagipula, harga laptop baru tidak jauh berbeda dari biaya perbaikan laptopnya yang rusak. Memikirkan jumlah uang yang harus dikeluarkan, membeli laptop baru jelas jauh lebih menguntungkan daripada memperbaiki laptop rusak.
“Sepertinya yang ini saja, spesifikasi sudah mumpuni dan harganya juga pas di kantong,” kata Jane setelahnya menemukan laptop yang ingin dia beli. Dengan harga lima belasan juta, dia merasa laptop pilihannya sangat mumpuni untuk digunakan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
“Bukannya banyak yang lebih bagus dari ini, kenapa kamu memilih yang ini?” tanya Noah, begitu dia melihat laptop pilihan Jane, yang mana menurutnya spesifikasi laptop itu masih kurang mumpuni.
Meminta petugas yang melayani pembeli di toko elektronik mengambilkan laptop terbaik yang dijual, Noah langsung saja membeli laptop yang harganya empat kali lebih mahal dari laptop pilihan Jane. “Ini sudah aku belikan, dan sebaiknya kita makan siang dulu sebelum pulang!” kata Noah sambil menyodorkan laptop yang baru dia beli untuk Jane.
“Sayang, kamu terlalu boros!” kata Jane setelah dia menerima apa yang disodorkan Noah padanya.
“Harga segitu tidak terlalu mahal untukku, kalau saja ada yang lebih mahal, aku pasti membelinya untukmu! Bagiku, untuk orang-orang yang aku sayangi termasuk kamu, aku harus memberikan yang terbaik untuk kalian semua!” kata Noah sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
Jane hanya bisa tersenyum mendengar semua itu, lalu keduanya segera saja pergi ke salah satu restoran untuk makan siang bersama.
Sementara itu, di kejauhan terlihat seorang pria dan seorang wanita sedang menatap tajam keberadaan Jane dan Noah. Keduanya terus saja melihat kemana Noah dan Jane pergi, lalu diam-diam keduanya mengikuti mereka.
“Wanita itu harus menjadi milikku!”
“Ambil wanitanya, dan aku akan menjadikan pria itu milikku!”
Keduanya saling melempar senyum, lalu mereka sama-sama menghubungi seseorang untuk mencari tahu identitas dua orang yang mereka ikuti secara diam-diam.
......................
Bersambung.