Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Saatnya Bermain


Di dalam mobil, Eden dan Tio masih menikmati minuman mereka, dan suara tawa terdengar begitu jelas keluar dari dalam mulut keduanya.


Kaca mobil mereka sengaja dibuka, dan tidak lama dari kejauhan keduanya mendengar suara tembakan.


Bukan hanya sekali, tapi mereka mendengar suara tembakan berkali-kali, bahkan mereka akan memilih menyerah jika harus menghitung seberapa banyak jumlah tembakan yang terdengar.


“Hahahaha... aku sangat yakin saat ini pria itu dan seluruh pengawalnya telah mati, dan setelah ini kita bisa bersenang-senang dengan wanita, yang kita inginkan!” kata Eden sambil menatap arah suara tembakan yang masih terdengar.


“Siapa suruh dia menjadi kekasih dari wanita yang aku inginkan! Menjadi kekasih dari wanita yang aku inginkan sama dengan mencari mati!” ungkap Tio.


Merasa rencana mereka berhasil, keduanya kembali menuangkan minuman kedalam gelas, dan minuman di dalam gelas mereka habis dalam sekali minum.


Namun sayangnya mereka terlalu cepat merayakan kemenangan, disaat belum memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Noah saat ini masihlah baik-baik saja, begitu juga dengan para wanita yang bersamanya.


Keadaan para pengawal di sekitaran restoran juga dalam keadaan baik-baik saja, dan lagi penjagaan di restoran juga sangat ketat dengan keberadaan anak buah Vita dan Prilly.


Sekarang Noah dan para wanita telah meninggalkan restoran, dan mereka dengan santainya pergi ke tempat terparkir nya sebuah mobil di pinggir jalan, tidak jauh dari restoran tempat berlangsungnya acara makan malam.


......................


Di tempat Jacob dan Hans, keduanya bergerak cepat menyerang musuh begitu perintah diberikan oleh Noah.


Dalam waktu singkat mereka menyerang dan membunuh musuh yang kalah dalam jumlah, dan lagi mereka tidak siap dengan datangnya serangan yang begitu tiba-tiba.


Tidak sempat memberikan perlawanan karena anak buah Jacob dan Hans yang begitu cepat melakukan serangan, akhirnya seluruh anak buah Eden dan anak buah Tio mati mengenaskan.


Saat ini Jacob dan Hans bergerak ke tempat Eden dan Tio, sama halnya dengan Noah dan yang lainnya. Keduanya masing-masing membawa empat anak buah, lalu untuk sisa anak buah mereka, saat ini orang-orang itu sedang mengurus mayat musuh, yang nantinya akan dibakar setelah dikumpulkan.


Jacob dan Hans sampai lebih dulu di tempat Eden dan Tio, tapi mereka masih diam di tempat persembunyian, sambil mengawasi para pengawal dua sosok, yang malam ini dijadikan musuh utama bagi Jacob dan Hans.


Tidak sedikit pengawal yang berjaga di sekitar mobil, yang didalamnya terdapat Eden dan Tio. Mereka ada sekitar dua ratus orang, dan tersebar di beberapa tempat.


Meski jumlah mereka banyak, bagi Jacob dan Hans, tidak akan sulit membunuh mereka semua, asalkan itu atas perintah Noah.


“Apa kamu sudah melaporkan keberadaan penjaga Eden dan Tio pada Tuan?” tanya Hans dengan suara pelan, sambil melirik Jacob di sebelahnya.


“Aku rasa Tuan sudah mengetahui keberadaan mereka, sebelum kita selesai melaporkan dimana saja keberadaan pengawal Eden dan Tio!” kata Jacob, dan benar saja, Noah memang begitu jelas mengetahui keberadaan pengawal Eden dan Tio.


Hans yang mendengarnya hanya mengangguk pelan, dan dia harus mengakui jika Noah adalah sosok yang sangat luar biasa, yang bisa mengetahui semua yang ingin dia ketahui.


Setelah pembicaraan singkat, Jacob dan Hans sama-sama terdiam, begitu juga dengan delapan orang lainnya, yang saat ini mengarahkan senjata api di tangan mereka ke arah musuh terdekat.


Satu dari mereka bisa membunuh sepuluh musuh dalam waktu singkat, jadi meski ada banyak musuh di depan sana, mudah bagi mereka membunuh musuh yang hanya memiliki keunggulan dalam jumlah.


“Kalian terus awasi mereka! Aku dan yang lainnya akan segera tiba di tempat mereka!” Suara Noah terdengar di alat komunikasi, yang berada du telinga Jacob dan Hans.


“Baik Tuan!” balas keduanya, dan mereka benar-benar sudah tidak sabar membunuh seluruh musuh di depan mata.


Sementara itu, Eden dan Tio yang masih berada di dalam mobil, keduanya mulai merasa aneh karena tidak kunjung mendapatkan laporan dari anak buah mereka, tentang keberhasilan membunuh Noah.


Suara tembakan sudah tidak lagi terdengar, dan seharusnya mereka sudah mendapatkan kabar baik, yaitu kabar kematian pria yang sangat mereka benci.


“Apa menurutmu ini sudah terlalu lama, jika mereka memuaskan diri dengan menyiksa sampai mati para pengawal pria itu?” tanya Tio, dan pandangan tertuju pada sosok Eden.


“Lima menit, jika dalam lima menit mereka tidak menghubungi kita, maka kita yang akan menghubungi mereka!” kata Eden masih terlihat tenang.


Mendengarnya, Tio hanya mengangguk, dan waktu lima menit bukanlah waktu yang lama jika dipergunakan untuk menunggu sesuatu yang sangatlah penting.


Namun, keduanya entah kenapa mulai merasa was-was, dan setelah lima menit berlalu, keduanya sama-sama menghubungi pemimpin anak buah masing-masing.


Satu kali panggilan, dua kali panggilan, mereka tidak mendapatkan balasan, begitu juga dengan panggilan selanjutnya.


Tidak pantang menyerah setelah melakukan panggilan sebanyak empat kali, keduanya terus saja melakukan panggilan, dan mereka baru berhenti setelah sama-sama melakukan panggilan sebanyak sepuluh kali.


Gagal menghubungi anak buah masing-masing, keduanya masih berpikir positif, dan mereka beranggapan ada yang salah dengan alat komunikasi yang mereka gunakan.


“Sebaiknya kita tunggu beberapa saat, dan nantinya kita kembali mencoba menghubungi mereka!” kata Eden, sedangkan Tio, dia hanya menganggukkan kepala pelan.


Di saat Eden dan Tio menunggu waktu untuk kembali menghubungi anak buah mereka, Noah dan para wanita telah sampai di tempat Jacob dan Hans yang menunggu kedatangan mereka.


Ke-enam kekasih Noah, ditambah Vita dan Prilly, mereka telah memegang senjata, dan kapan saja mereka siap bersenang-senang melakukan pertarungan.


Sedangkan Su Tianjin, setelah menyuruh para wanita mencari tempat yang aman dan nyaman untuk menyembunyikan keberadaannya, dia pergi menghampiri Jacob dan Hans.


“Bagaimana, apa mereka sudah tahu, jika seluruh anak buah yang mereka miliki sudah mati di tangan kalian?” tanya Noah, pada kedua pengawal yang merangkap sebagai asistennya.


“Tuan, sepertinya mereka belum menyadari semua itu!” jawab Jacob, lalu dia menunjukkan alat komunikasi yang ada di tangannya.


Itu bukanlah alat komunikasi yang dirancang dan di buat oleh keluarga Ludwing, melainkan itu adalah alat komunikasi milik anak buah Eden dan Tio.


Ada dua alat komunikasi yang bentuknya sama persis, dan sebelumnya alat itu berkedip beberapa kali, yang menandakan jika ada yang mencoba berkomunikasi dengan pemilik alat komunikasi, tapi sayangnya pemilik asli alat komunikasi sudah mati, dan alat itu saat ini sudah berpindah ke tangan Jacob.


“Ini adalah alat komunikasi, yang sebelumnya dimiliki oleh dua pemimpin anak buah Eden dan Tio. Sesaat yang lalu ada orang yang mencoba menghubungi alat ini, dan saya sangat yakin jika orang itu adalah Eden dan Tio, yang mana mereka ingin menghubungi pemimpin anak buah masing-masing,” kata Jacob menjelaskan darimana datangnya dua alat komunikasi yang berada di tangannya.


Melihat alat komunikasi yang ada di tangan Jacob, Noah tiba-tiba saja tersenyum saat dia terpikirkan sebuah ide yang akan membuat Eden dan Tio merasakan kemarahan, sebelum hal buruk terjadi pada keduanya.


“Berikan alat itu padaku jika nantinya ada yang kembali menghubunginya!” Baru juga Noah selesai bicara, ada yang menghubungi alat di tangan Jacob.


Jacob segera saja menyerahkan salah satu alat pada Noah, yang mana Noah segera memencet sebuah tombol untuk menjawab panggilan orang yang melakukan pemanggilan.


“Kenapa kau begitu lama menjawab panggilanku? Apa kalian telah berbuat macam-macam pada wanitaku?” Terdengar suara orang yang sedang marah-marah, dan Noah tahu jika yang sedang marah-marah bukanlah Tio, melainkan Eden.


Noah telah mendengar rekaman suara Eden dan Tio, saat keduanya sedang menyusun rencana penyerangan malam ini. Oleh karena itu, tidak sulit baginya membedakan suara keduanya.


“Apa kau kira anak buahmu masih hidup untuk menjawab panggilanmu? Maaf saja, sayangnya mereka semua sudah mati, dan aku mewakili mereka menjawab panggilanmu! Oh iya, jangan berusaha meninggalkan tempatmu saat ini, jika tidak ingin kepalamu pecah di tangan anak buahku!” kata Noah dengan santainya, dan dari tempatnya dia bisa melihat jelas, jika saat ini tidak ada pergerakan dari mobil milik Eden.


Melihat itu dia tersenyum. ‘Saatnya bermain!’ batinnya.


......................


Bersambung.