
Jika pagi hari tadi Noah bertemu dengan perwakilan negara yang menjalin kerjasama dengannya, siang ini dia pergi ke salah satu lokasi, yang nantinya akan dibangun salah satu pabrik milik NIL Company.
Lokasi yang sangat strategis, dan sudah terdapat tumpukan material bangunan di tempat itu.
“Paman, apa hari ini aku masih ada pertemuan lanjutan dengan perwakilan negara ini?” tanya Noah.
Jacob melihat jadwal kegiatan Noah hari ini, dan disitu tertulis jika malam ini dia harus menghadiri makan malam dengan Perdana Menteri, negara yang dikunjunginya.
Bertemu dengan sosok penting seperti seorang Perdana Menteri suatu negara sama sekali tidak membebani Noah. Dia bukanlah orang yang membutuhkan mereka, melainkan merekalah yang membutuhkan dirinya.
Jadi jelas disini kedudukannya bahkan masih lebih tinggi daripada seorang Perdana Menteri sebuah negara.
Tentu malam ini dia tidak akan datang seorang diri. Akan ada Ellena, Joy, Prilly, serta Jacob yang akan menemaninya. Selain itu masih ada dua puluh pengawal, yang senantiasa memastikan keamanan dirinya dan juga kekasihnya.
Noah terus saja berkeliling, melihat lokasi yang akan dibangun pabrik miliknya. Berjalan di belakangnya ada ke-tiga kekasihnya, dan tidak jauh di belakang ada Jacob.
“Wow, tempat ini langsung terhubung ke pantai yang sangat indah!” ungkap Ellena dengan pandangan lurus manatap ke arah pantai.
Joy dan Prilly juga memandang indahnya pantai, yang bisa dijangkau langsung dari lokasi, yang nantinya akan dibangun sebuah pabrik senjata.
Ikut melihat kearah pantai, Noah akui jika apa yang dilihatnya saat ini cukup indah dan memanjakan penglihatannya.
“Paman, apa kawasan pantai masih bagian dari lokasi ini?”
Noah bertanya pada Jacob yang datang mendekatinya, sementara ke-tiga kekasihnya sudah berjalan ke arah pantai didampingi sepuluh pengawal.
“Kawasan pantai masih satu bagian dari lokasi ini, dan keberadaan pantai adalah salah satu alasan saya membeli tanah ini, tentunya selain letaknya yang sangat strategis,” jawab Jacob.
Noah mengangguk pelan mendengar semua itu.
“Paman, bagaimana kalau kita juga membangun resort, bersamaan dengan dimulainya pembangunan pabrik?” Noah menoleh menatap Jacob.
“Itu bukan ide yang buruk, dan keberadaan resort bisa menjadi tempat tinggal sementara saat Tuan berkunjung ke negara ini untuk melihat keadaan pabrik, ataupun saat Tuan berlibur,” kata Jacob.
“Kalau begitu aku serahkan pembangunan resort pada Paman! Untuk desain dan yang lainnya, aku percaya pilihan Paman adalah yang terbaik!” ungkap Noah.
Jacob mengangguk kepala, dan dia akan berusaha tidak membuat kecewa tuannya.
“Paman, aku sudah puas melihat lokasi ini, dan sebaiknya kita susul mereka yang sudah lebih dulu pergi ke pantai!” kata Noah, lalu dia, Jacob, serta sisa pengawal bergegas pergi ke pantai.
Dengan santai Noah dan yang lainnya berjalan menuju pantai.
Noah segera menghampiri ketiga kekasihnya begitu tiba di pantai, yang airnya begitu jernih dengan ombak cukup tenang.
“Kalian sedang melakukan panggilan video dengan mereka yang ada di Mansion?” tanya Noah begitu melihat Prilly yang sedang melakukan panggilan.
Mereka yang ditanya kompak menganggukkan kepala.
Noah ikut gabung dalam panggilan video, dan jelas dia melihat kelima kekasihnya ditambah Jihan yang saat ini sedang bersantai di pinggir kolam.
Pagi ini waktu bangun dari tidurnya, Noah mendengar kabar baik dari Hans.
Kabar itu tentang bertambahnya jumlah prajurit super, yang kini telah genap menjadi dua puluh ribu orang.
Dengan bertambahnya jumlah mereka, semakin ringan beban yang akan ditanggung Noah dan orang-orang terdekatnya.
Biasanya di jam segini mereka semua masih tertidur lelap, kini mereka bisa beraktivitas normal, selayaknya saat sebelum terjadinya kemunculan monster dan portal.
Namun mereka sama sekali tidak lengah ataupun meremehkan keberadaan monster, yang sewaktu-waktu bisa muncul.
Meski terlihat bersantai, mereka tidak bermalas-malasan dan tetap melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatan fisik.
Setelah selesai melakukan panggilan video dengan mereka yang berada di Mansion, Noah dan ketiga kekasihnya duduk di pasir putih, yang berada di tepian pantai.
Tiga pengawal datang membawakan kelapa muda yang sudah terbuka, dan siap dinikmati.
Di tepian pantai terdapat banyak tumbuhan kelapa, yang memiliki banyak buah.
Jika ingin, siapapun bisa mengambilnya, dan menikmati bersama-sama.
[Tuan, sistem mendapatkan sebuah informasi yang berasal dari dunia tempat tinggal monster yang berdatangan ke Bumi]
[Dalam dua hari akan ada setangan monster bernama Minotaur, dan jumlah mereka mencapai ribuan. Tempat kemunculan mereka adalah ibukota negara, tempat kelahiran dan tempat tinggal Tuan]
“Wow, apa mereka berniat membalas kematian Minotaur yang beberapa waktu yang lalu mati di tanganku?”
[Aku rasa itu tidak saling berhubungan. Kedatangan mereka murni untuk menguasai apa yang selama ini belum berhasil mereka kuasai]
Mendengarnya Noah mengangguk pelan, dan tentunya tidak ada yang melihat saat dia menganggukkan kepala.
“Sistem, apa peluru emas cukup untuk membunuh Minotaur yang akan datang beberapa hari ke depan?”
[Setidaknya dibutuhkan lima peluru emas untuk membunuh Minotaur yang akan datang, karena kekuatan mereka lebih kuat dari yang sebelumnya]
“Di ruang penyimpanan berbagai jenis senjata aku melihat keberadaan peluru berlian, apa itu lebih kuat dari peluru emas?”
[Tuan, belum saatnya menggunakan peluru itu karena musuh masih terlalu lemah untuk dihadapi dengan peluru berlian]
[Di toko sistem ada peluru emas putih, dan itu lebih kuat daripada peluru emas biasa. Peluru emas putih tidak ada di ruang penyimpanan berbagai jenis senjata, jadi jika menginginkannya Tuan bisa membeli di toko sistem]
[Karena beli di toko sistem, setiap harinya Tuan hanya bisa membeli seribu butir peluru emas putih, jadi aku sarankan Tuan membelinya mulai saat ini juga]
Tanpa banyak berpikir Noah langsung saja membeli seribu butir peluru emas putih dari toko sistem, dan dia menyimpan peluru itu di ruang penyimpanan sistem.
......................
Hari menunjukkan pukul dua siang saat Noah dan yang lainnya pergi meninggalkan area pantai.
Mereka memutuskan pergi ke salah satu mall terdekat dari hotel tempat mereka menginap, untuk belanja gaun, yang akan digunakan para wanita saat menghadiri acara makan malam di kediaman Perdana Menteri.
Hujan mulai turun tidak lama setelah mereka meninggalkan lokasi yang akan dibangun pabrik. Deras hujan turun mengguyur daratan, membuat Jacob yang sedang mengemudikan mobil, sedikit mengurangi kecepatan mobil.
‘Musim hujan memang sedikit merepotkan,’ batin Noah, sambil melihat pemandangan hujan di luar mobil.
Noah duduk di sebelah Jacob, sementara Ellena, Joy, serta Prilly, mereka duduk di bangku belakang, dan saat ini sedang tertidur.
“Tuan, hujan yang turun disertai badai, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dalam situasi ini!” Jacob sama sekali tidak bisa melihat jalan, dikarenakan guyuran hujan yang sangat deras, ditambah dengan angin yang bertiup sangat kencang.
Banyak pengemudi yang menepikan mobilnya, dan akhirnya Jacob juga menepikan mobilnya di tempat aman.
Dua mobil ikut menepi di depan mobil yang dikemudikan Jacob, dan dia mobil lainnya berhenti di bagian belakang.
“Semua jangan ada yang lengah! Tetap waspada dan terus perhatikan keadaan sekitar!” kata Jacob melalui alat komunikasi, yang mana dia sedang berkomunikasi dengan seluruh anak buahnya.
Keadaan di dalam mobil terasa sedikit mencekam saat hujan yang disertai badai tidak kunjung berhenti, bahkan kini petir mulai memperlihatkan keberadaannya.
Semakin banyak mobil yang menepi tidak jauh dari tempat mobil yang dikemudikan Jacob.
Mereka tahu keadaan jalanan sangat berbahaya, dan pada akhirnya mereka memilih menepi di pinggir jalan, daripada memaksa melanjutkan perjalanan, dan besar kemungkinan mereka akan celaka.
Tiga puluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda hujan badai mereda. Beruntung tempat Jacob menghentikan mobil berada di daratan yang lebih tinggi, sehingga saat ini mobil masih aman dari genangan air.
Sementara bagian daratan yang lebih rendah, tempat itu sudah tergenang oleh air, dan membuat jalanan tidak lagi bisa dilewati.
Melihat keadaan cuaca melalui layar ponselnya, disitu terlihat jelas jika hujan badai baru akan mereda kurang dari satu jam. Itu cuma mereda, bukan berakhir. Hujan badai sendiri diprediksi akan berakhir saat tengah malam.
“Paman, apa tidak ada hotel di dekat sini?” tanya Noah, yang memutuskan mencari hotel terdekat dari tempatnya saat ini.
Cepat Jacob mencari keberadaan hotel terdekat, dan ternyata terdapat hotel bintang lima yang hanya berjarak ratusan meter dari lokasinya saat ini.
“Tuan, kurang dari lima ratus meter dari tempat ini terdapat hotel bintang lima, apa Tuan ingin pergi ke hotel itu?” tanya Jacob.
“Bawa kita ke tempat itu!” perintah Noah, dan dengan kecepatan kurang dari dua puluh kilometer per jam, Jacob mulai mengemudikan mobil.
‘Acara makan malam sepertinya juga tidak bisa dilangsungkan karena hujan badai baru berakhir saat tengah malam!’ batin Noah.
......................
Bersambung.