Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Penyerangan Markas Zero


Noah memimpin anak buahnya masuk kedalam rumah yang dijadikan markas oleh Zero. Mudah baginya dan anak buahnya memasuki markas Zero, dikarenakan penjagaan yang sangat longgar.


“Hans, pimpinan dua puluh orang untuk membereskan mereka yang ada di bagian depan! Sisanya ikut denganku masuk ke dalam!” kata Noah dengan suara yang hanya dapat didengar Hans.


“Baik Tuan Muda!” balas Hans, dan dia langsung pergi bersama dua puluh orang.


Sebenarnya Hans tidak perlu membawa banyak orang untuk membereskan anak buah Zero yang berjaga si bagian depan. Cukup dengan lima orang, jumlah yang sangat cukup untuk memusnahkan mereka semua tanpa terkecuali. Akan tetapi, dikarenakan membawa banyak orang, Hans akan semakin mudah memusnahkan mereka.


Sedangkan Noah yang akan menerobos masuk ke bagian dalam markas Zero, terlebih dahulu dia dan anak buahnya membereskan belasan penjaga, yang berjaga di bagian belakang markas. Tidak sulit membereskan mereka, dikarenakan mereka semua dalam keadaan setengah sadar, bahkan banyak dari mereka yang benar-benar sudah kehilangan kesadaran karena tertidur sangat lelap.


Bugh... Bugh... Bugh... Bugh...


Memanfaatkan ketidakberdayaan musuh, Noah dan orang-orang yang bersamanya dengan cepat melumpuhkan penjaga di bagian belakang. Sebagian besar dibuat pingsan dan ada beberapa yang langsung bertemu dengan kematian tragis.


“Ikat yang pingsan, dan setelahnya kita langsung masuk!” kata Noah tegas. Dengan perlengkapan yang lengkap, anak buah Noah langsung mengeluarkan tali, dan mengikat musuh yang dibuat pingsan.


Selesai mengikat mereka, Noah dan anak buahnya pelan-pelan menerobos masuk kebagian dalam markas Zero. Mereka masuk melalui pintu belakang, dan dengan mudah berhasil menerobos masuk ke bagian dalam markas. Dengan Noah memimpin di bagian depan, mereka masuk ke bagian dalam markas tanpa membangunkan orang-orang yang sedang tertidur.


Keterampilan mata tembus pandang memudahkan Noah melihat keberadaan musuh, dan dengan mudah juga dia berhasil melumpuhkan musuh. Belasan orang di bagian dalam markas telah dilumpuhkan, dan Noah mengutus tiga orang membereskan musuh, yang berjaga di ruang monitor CCTV.


......................


Suasana di bagian depan markas Zero di penuhi orang-orang yang tumbang tidak berdaya, dan mereka semua adalah anak buah Zero yang berhasil dilumpuhkan. Separuh dilumpuhkan, dan sisanya dimusnahkan.


Hans menyuruh orang-orang yang ikut dengannya mengikat musuh yang dilumpuhkan. Rencananya mereka yang dilumpuhkan akan diberikan pada para dokter keluarga Ludwing. Daripada dibunuh, mereka akan dijadikan sumber kekayaan keluarga Ludwing.


Organ dalam mereka adalah komoditas berharga yang akan menghasilkan banyak keuntungan untuk keluarga Ludwing, apalagi akhir-akhir ini semakin banyak orang yang membutuhkan organ dalam termasuk mata. ‘Mereka akan menguntungkan bagi keluarga Ludwing,’ batin Hans, lalu dia masuk ke dalam markas Zero mengikuti Noah.


Kembali ke tempat Noah, dia dan anak buahnya berhasil melumpuhkan musuh secara diam-diam. Puluhan orang sudah berhasil mereka lumpuhkan, dan sekarang tinggal menyisakan Zero dan orang-orang yang selam ini menjadi orang kepercayaan Zero. Noah telah mengetahui identitas mereka, dan dia juga telah mengetahui keberadaan mereka.


Sementara itu Zero yang sebelumnya tertidur, perlahan dia membuka kedua matanya, dan segera bersikap waspada. Dia sudah sangat berpengalaman berhadapan dengan situasi berbahaya, dan sekarang dia merasa jika saat ini sedang berada di situasi berbahaya, yang mengancam hidupnya.


Walau tidak tahu secara pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi, Zero segera saja bersiap menghadapi situasi terburuk dalam hidupnya. Sebuah senapan serbu sudah berada di tangannya, dan tidak lupa sebuah belati sudah berada di pinggangnya. Bukan sebuah, melainkan ada sepasang belati, yang akan menjadi senjata terakhir untuk melindungi diri.


Situasi di kamar Zero benar-benar begitu menegangkan. Berkali-kali memanggil orang di luar menggunakan alat komunikasi khusus, tapi tidak ada satu orang pun yang membalas panggilannya. Terus menerus tidak mendapat balasan panggilannya, dia semakin yakin jika telah terjadi sesuatu yang sangat buruk di luar sana.


Ketika Zero meletakkan alat komunikasi miliknya, begitu jelas di mendengar suara langkah kaki di luar pintu kamarnya. Mendengar itu, tidak peduli siapa yang berada di luar kamarnya, Zero langsung saja menembaki pintu kamarnya, dan berharap tembakannya dapat mengenai mereka yang berada di luar pintu kamarnya. “Siapa pun di luar sana, dia harus mati!” kata Zero.


Door... Door... Door... Door...


Suara tembakan beruntun terdengar saat Zero terus menembaki pintu kamarnya, dan berharap tembakannya telah membunuh mereka yang berada di luar kamarnya. Puluhan peluru telah ditembakan, dan terlihat jelas di kedua mata Zero keadaan pintu kamarnya, yang mana pintu yang semula kokoh, kini telah di penuhi banyak lubang, bahkan dari balik pintu yang tertutup, Zero bisa melihat jelas bagian luar kamarnya.


“Sebaiknya aku segera keluar, dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar sana!” Setelah kembali mengisi amunisi senapan serbu di tangannya, dengan begitu berhati-hati Zero membuka pintu kamar, dan melihat keadaan di luar kamarnya.


Begitu membuka pintu kamar, hal pertama yang dilihat Zero adalah dua orang yang mati di depan kamarnya. Keduanya mati dengan tubuh di penuhi luka tembak, dan kedua mata Zero terbuka lebar begitu melihat siapa yang mati.


Kedua orang yang mati adalah dua anak buahnya, dan saat melangkahkan kaki keluar kamar, dia jelas melihat keberadaab pria, yang mana hanya dengan melihat wajah pria itu, dia sudah mengenali siapa pria itu.


Dia memang belum pernah bertemu dengan pria yang saat ini terlihat oleh kedua matanya, tapi dia sudah berkali-kali melihat foto pria itu, dan pria itu adalah target utama yang harus dia musnahkan. Namun, sebelum dia datang memusnahkan pria itu, ternyata pria itu yang lebih dulu datang menghampirinya.


“Bagaimana, apa kamu terkejut dengan keberadaanku di tempat ini?” tanya Noah, begitu dia melihat sosok Zero keluar dari kamarnya. Ini juga merupakan kali pertama dia melihat Zero secara langsung, setelah sebelumnya hanya melihatnya dari foto dan video.


Mendengar itu, bukannya segera memberi jawaban, Zero justru terkekeh pelan, lalu dia berkata, “Aku tidak menyangka jika kedatanganku dan keberadaanku yang begitu dijaga kerahasiaannya, ternyata dengan mudah dapat kau ketahui!”


“Tidak mudah mengetahui kedatanganmu dan keberadaanmu, semua bisa aku lakukan dengan sangat mudah!” balas Noah sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.


“Sepertinya kau tidak seperti anggota keluarga Ludwing yang lain, yang mana mereka senantiasa gagal menemukan keberadaanku!” ungkap Zero, dan dia memegang begitu erat senjata di tangannya.


Melihat gerak-gerik Zero, Noah tahu jika pria itu sangat ingin segera mengakhiri hidupnya, tapi sebanyak apapun pria itu mengirim tembakan ke arahnya, semua itu tidak akan pernah cukup untuk mengakhiri hidupnya. Baginya, peluru hanyalah sebuah permainan, dan tidak sulit baginya menghakau peluru yang tertuju ke arahnya.


“Aku memang tidak seperti anggota keluarga Ludwing yang lain, dikarenakan aku adalah aku dan bukan mereka!” kata Noah begitu santai, dan entah sejak kapan di tangannya sudah ada sebuah pistol dengan peluru terisi penuh.


Zero menyadari keberadaan pistol di tangan Noah, dan sebelum Noah sempat menggunakan pistol di tangannya, dia sudah lebih dulu memberondong Noah dengan peluru yang ditembakkan menggunakan senapan serbu, yang berada di tangannya.


Door... Door... Door... Door...


“Mati! Mati! Mati!” teriak Zero sambil terus menembaki Noah dengan senapan serbu di tangannya.


Jelas dia melihat bagaimana seluruh peluru yang di tembakan mengenai tubuh Noah, tapi di waktu bersamaan di melihat bagaimana peluru-peluru itu berjatuhan sebelum menembus tubuh Noah. Kejadian itu terlihat jelas olehnya, dan seketika tubuhnya bergetar setelah melihat semua itu.


“I-itu, bagaimana mungkin tubuhnya memiliki kekebalan terhadap tembakan?” gumam Zero, dan secara reflek dia mulai berjalan mundur.


Tentu dia sekarang tahu seberapa berbahaya sosok Noah yang menjadi targetnya. Dia tidak menyangka jika sosok Noah memiliki kelebihan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa. Dia ingin pergi melarikan diri, tapi dia sadar jika tidak ada jalan untuknya pergi melarikan diri.


Zero sangat yakin jika Noah tidak datang seorang diri, dan bisa jadi orang-orang yang datang bersamanya telah menutup aksesnya melarikan diri.


“Tidak seru jika kau pergi melarikan diri, jadi sebaiknya kita selesaikan semua ini dengan cepat!” ungkap Noah, dan dia menunjukkan senyuman lebar si wajahnya.


......................


Bersambung.