Sistem Pekerja Keras

Sistem Pekerja Keras
Mengakhiri Permainan


Eden yang masih didalam mobil, dia diam di tempatnya begitu mendengar apa yang dikatakan Noah melalui alat komunikasi.


Tidak lagi terdengar suara tawa seperti sebelumnya, yang ada tubuhnya sudah melai gemetaran karena tahu seluruh orangnya telah berhasil dikalahkan, dan jelas mereka semua telah terbunuh.


“Kenapa kau hanya diam? Apa kau menerima kabar yang sangat baik, dari anak buah yang kau kirim untuk membunuh pria itu?” tanya Tio belum tahu kabar yang baru didapat Eden.


Sesaat kemudian mulut Tio terbungkam rapat setelah dia mendengar dari Eden, informasi apa yang baru didapatnya. Jika anak buah Eden berhasil dikalahkan, dia merasa hal yang sama pasti terjadi pada anak buahnya.


Untuk memastikannya, kembali Tio menghubungi anak buahnya, dan tidak lama dia mendapatkan balasan yang membuat tubuhnya seketika gemetaran.


“Ini tidak mungkin! Bagaimana mungkin mereka semua dikalahkan, sedangkan jumlah pengawal pria itu tidak lebih dari lima puluh orang?” ujar Tio sulit percaya dengan kenyataan yang baru terjadi.


Kemudian Tio mengarahkan pandangannya ke arah Eden, lalu dia bicara, “Sebaiknya kita segera pergi sebelum mereka menyadari keberadaan kita di tempat ini!”


Mendengarnya, Eden pelan menggelengkan kepalanya.


“Mereka sudah tahu keberadaan kita di tempat ini, dan aku mendapatkan peringatan, kita akan celaka jika mencoba pergi melarikan diri dari tempat ini!” kata Eden, yang terus saja melihat sekeliling, mencoba mencari keberadaan Noah dan yang lainnya.


Namun, dia tidak kunjung menemukan apa yang dicarinya.


‘Sial! Sepertinya mereka berada di tempat tersembunyi, tapi dari tempat itu mereka bisa melihat jelas ke tempat ini!’ batin Eden yang tidak kunjung menemukan apa yang dia cari.


Menutup kaca mobil yang merupakan kaca anti peluru, Eden terus saja mencari keberadaan Noah dan yang lainnya.


Saat serius melihat sekeliling, jelas dia mendengar suara tembakan, dan tidak lama kemudian dia melihat pengawalnya yang berada di luar, satu-persatu mereka tumbang.


Bukan hanya pengawalnya yang berjatuhan, melainkan hal yang sama juga terjadi pada pengawal Tio. Mereka semua tumbang, dan terlihat darah menggenang di sekitaran mereka yang tumbang.


Belasan orang dipastikan mati, puluhan terluka, dan setidaknya ada belasan orang lainnya yang tidak mengalami luka saat terjadinya serangan.


“Sial! Aku benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan mereka!” Eden semakin panik karena dia tidak kunjung menemukan keberadaan Noah dan yang lainnya,


Adapun soal tembakan, dia hanya mendengar suara tembakan tanpa tahu dari mana arah asal suara tembakan.


Sedangkan Tio yang turut melihat apa yang dilihat Eden, dia hanya diam di tempat dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Seumur hidup dia belum pernah berada dalam situasi yang mengancam nyawanya. Ini adalah kali pertama dia berada dalam situasi antara hidup dan mati.


Jika sebelumnya Tio senantiasa yakin dapat lolos dari situasi bahaya dengan mengorbankan beberapa anak buahnya, saat ini dia sama sekali tidak memiliki keyakinan dapat pergi dari situasi berbahaya.


Banyak anak buahnya yang sudah mati, maupun yang terluka. Sekalipun ada yang selamat, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuknya.


“Ini benar-benar buruk! Mereka tahu lokasi kita, tapi kita tidak tahu dimana mereka!” gumam Eden.


Mengetahui keberadaan Noah dan yang lainnya memungkinkan melakukan serangan balik pada mereka. Namun selama tidak mengetahui lokasi keneradaan mereka, serangan balik tidak mungkin dilakukan, apalagi saat ini hanya sedikit anak buahnya yang siap melakukan serangan balik.


Kembali melihat sekeliling mengabaikan keberadaan Tio yang hanya diam si tempat, Eden benar-benar tidak menemukan keberadaan Noah dan yang lainnya.


Saat sibuk mencari, dia melihat cahaya redup berkedip dari alat komunikasi yang ada di tangannya, sebagai tanda ada yang menghubunginya.


“Eden, apa kamu menikmati permainanku? Aku rasa kamu dan pria di sebelahmu sangat menikmatinya! Tunggu sebentar lagi, permainan sesungguhnya akan segera dimulai!” Suara Noah terdengar, begitu Eden menjawab panggilan di alat komunikasi khusus yang diciptakan perusahaannya, dan selama ini produk-produk perusahaannya senantiasa kalah saing dengan produk yang dikeluarkan perusahaan keluarga Ludwing.


Seger Eden mematikan alat komunikasi di tangannya. Dia meremasnya kuar, membuat alat itu tidak lagi berfungsi.


Segera saja Eden mengambil senapan serbu yang berada di sebelahnya, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, yang kemungkinan hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya.


Sementara itu, di tempat lainnya, Noah dan semua orang yang bersamanya, mereka berjalan santai menuju tempat terparkir nya mobil Eden, yang didalamnya terdapat Eden dan Tio.


Dua orang sniper berada di tempat yang ditinggalkan Noah dan yang lainnya. Keduanya ditugaskan Noah untuk membunuh seluruh anak buah Eden dan Tio, baik yang berada di luar mobil ataupun yang berada di dalam mobil, dan saat ini mereka sedang mengerjakan tugas itu.


Kedua sniper menggunakan peredam di senjata mereka masing-masing, jadi tidak ada suara tembakan yang begitu jelas terdengar saat mereka menembak musuh.


Saat mereka mulai menembak, yang terdengar jelas adalah suara pecahan kaca mobil yang tertembus peluru, dan membunuh siapapun yang berada di dalam mobil.


Dalam waktu singkat seluruh anak buah Eden maupun Tio berhasil dibunuh oleh kedua sniper, dan hanya menyisakan Eden, Too, serta supir yang bertugas mengemudikan mobil.


Mereka bertiga berada dalam mobil yang sama, dan mereka tidak sadar jika saat ini, hanya mereka bertiga yang masih hidup, sedangkan yang lainnya telah mati.


“Sayang, apa mereka belum tahu jika seluruh anak buah mereka telah mati, dan saat ini sudah tidak ada lagi yang bisa mereka kerahkan untuk melawan kita?” tanya Ellena, begitu dia bisa melihat jelas keberadaan mobil Eden yang terparkir di pinggir jalan.


“Sepertinya mereka belum tahu, tapi aku tahu pasti jika saat ini keduanya sama-sama dilanda ketakutan, terutama takut akan kematian!” jawab Noah dengan santainya, dan dia terus saja melanjutkan langkah kakinya, dengan diikuti orang-orang yang sedari awal senantiasa mengikuti langkah kakinya.


“Tuan, apa tidak sebaiknya kami saja yang maju membereskan mereka?” ujar Jacob yang tidak ingin Tuan ataupun seluruh Nona nya berada dalam situasi berbahaya.


Noah tentu saja tidak menganggap bahaya keberadaan Eden ataupun Tio, dikarenakan mereka hanyalah manusia biasa, yang jauh lebih lemah darinya.


Orang-orang seperti mereka tentu tidak akan bisa mencelakai dirinya, yang kekuatannya berbeda jauh dari manusia biasa. Jika manusia super itu benar adanya, maka dirinya manusia super itu.


“Mereka tidak seberbahaya itu! Aku seorang diri lebih dari cukup untuk mengatasi mereka. Jadi kalian cukup menjadi penonton apa yang nantinya aku lakukan pada mereka!” kata Noah tanpa menghentikan langkah ataupun menoleh melihat ke arah Jacob.


Pandangannya lurus kedepan, dan dia terlihat dia sudah tidak sabar melakukan permainan terakhir dengan Eden dan juga Tio.


Noah dan yang lainnya datang dari arah belakang mobil Eden, sehingga tiga orang yang berada di dalam mobil tidak bisa melihat kedatangan mereka.


Ditambah keadaan sekitar yang begitu gelap, membuat siapapun akan kesulitan melihat Noah dan yang lainnya.


Saat berikutnya Noah bergerak cepat menuju bagian depan mobil Eden, sehingga tiga orang yang berada di dalam mobil jelas melihat keberadaannya.


Bukannya senang karena apa yang dicarinya muncul tepat di depan mobilnya, Eden justru merasakan ketakutan, apalagi setelah dia melihat senyuman di wajah Noah.


Senyuman itu sangat mengerikan baginya, meski senyuman itu hanyalah senyuman biasa. ‘Sial! Kenapa juga aku harus bersinggungan dengan orang sepertinya?’ batin Eden, dan dia mengutuk kebodohannya karena begitu berani menyinggung sosok yang begitu mengerikan.


Tio sendiri yang melihat keberadaan Noah, tubuhnya benar-benar lemas, tidak lagi sanggup bergerak, sekalipun itu hanya gerakan mengangkat senjata yang sudah ada di tangannya. ‘Aku benar-benar tertipu oleh penampilannya yang terlihat selayaknya pria, yang hanya mengandalkan wajah dan kekayaan untuk menarik perhatian wanita!’ batin Tio.


Dia benar-benar ingin pergi melarikan diri, menjauh dari sosok Noah.


Jika berhasil melarikan diri, dia tidak akan lagi mencari masalah dengan Noah, dan dia akan melupakan keberadaan Agnes, wanita yang membuatnya berurusan dengan orang seperti Noah.


Disaat Eden dan Tio dilanda ketakutan, Noah yang berdiri tenang di depan mobil, dia mengangkat tangannya yang memegang pistol ke arah depan, “Sudah saatnya aku mengakhiri permainan ini!” gumamnya.


......................


Bersambung.