
Setelah berakhirnya akhir pekan yang menyenangkan, hari ini di Mansion keluarga Milito, Noah ditinggal seorang diri karena ke-enam kekasihnya sedang ada kegiatan masing-masing.
Agnes, Ellen, Sasa, Joy, pergi bekerja, sedangkan Nancy dan Jane, keduanya hari ini pergi melihat restoran yang ke depannya akan mereka kelola.
Saat Noah menceritakan perihal tentang restoran, Jane ternyata memiliki ketertarikan pada restoran sama seperti Nancy, jadinya mereka ke depannya akan bekerjasama mengelola restoran milik Noah, yang nantinya akan berganti nama menjadi milik mereka.
Akan tetapi, dikarenakan Noah tidak ingin ke-enam kekasihnya kelelahan bekerja, dia meminta Jacob dan Hans mencarikan asisten untuk membantu kerja ke-enam kekasihnya.
Seluruh asisten tentu saja wanita, dan selain menjadi asisten mereka juga sekalian menjadi pengawal.
Agnes, Ellena, Joy, dan Sasa, mereka pagi ini telah mendapatkan seorang asisten pribadi yang akan membantu seluruh pekerjaan mereka.
Sedangkan untuk Jane dan Nancy, kemungkinan asisten mereka baru akan datang esok hari.
Sementara itu, disaat Noah sedang menikmati waktu bersantai di Mansion keluarga Milito, Joy yang berada di kampus, dia tahu jika sedari tadi ada yang mengawasinya dari kejauhan.
Orang itu hanya sekedar mengawasi dari kejauhan, dan tidak ada pergerakan lainnya yang dilakukan oleh orang itu. Hanya diam di tempat dan terus saja mengawasi dari kejauhan.
“Apa Nona tidak nyaman dengan keberadaan orang itu? Jika Nona tidak nyaman, saya bisa menyuruh pengawal bayangan membereskan orang itu!” ucap Sally, asisten pribadi Joy.
“Beri saja pelajaran pada orang itu, dan jangan membunuhnya!” kata Joy yang memang sudah terganggu, dikarenakan orang itu terus saja mengawasinya sedari pagi, sejak dia sampai di kampus.
Sally hanya menganggukkan kepalanya, dan menggunakan alat komunikasi khusus dia memberi perintah pada dua dari lima penjaga bayangan, yang ditugaskan memastikan keamanan Joy.
Tidak lama kemudian, di sebuah bangunan yang menjulang tinggi bersebelahan dengan kampus tempat Joy bekerja sebagai dosen, seorang pria yang ditugaskan tuannya mengawasi setiap pergerakan Joy, dia dengan baik melakukan tugasnya dan melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan Joy pada tuannya.
“Siapa yang menggangguku siang-siang seperti ini?” ujarnya saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Bangunan yang menjulang tinggi di dekat kampus adalah sebuah hotel, dan biasanya hotel itu dijadikan tempat transaksi para mahasiswi yang ingin mendapatkan uang tambahan untuk kesenangan hidup.
Pria yang mengawasi Joy berada di salah satu kamar hotel yang menghadap langsung ke area kampus, dan saat ini dia benar-benar tidak tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
Langsung saja membuka pintu untuk melihat siapa yang terus mengetuk pintu kamarnya, baru saja pintu terbuka, hal yang buruk segera saja terjadi padanya.
Bugh...
Sebuah tinju langsung saja menghantam wajahnya. Itu bukan sekali, tapi dua kali dan dia pria itu tumbang setelah terkena tinju secara bertubi-tubi.
Begitu pria itu tumbang, dua sosok berpakaian serba hitam dengan separuh wajah tertutup masker, keduanya masuk kamar dan langsung mengunci pintu.
Keduanya menyeret peria yang perlahan pulih, setelah terkenal tinju secara bertubi-tubi.
Belum sempat dia mendapatkan seluruh kesadarannya, dua pria berpakaian serba hitam kembali memukul dan memenangi tubuhnya.
Setelah puas memukuli dan menendang pria yang sudah tergeletak tidak berdaya, sebagai penutup perbuatan mereka, keduanya mematahkan masing-masing satu tangan dan satu kaki pria yang tidak sempat merasakan sakit, dikarenakan dia lebih dulu jatuh pingsan.
Setelah melakukan semua itu, kedua sosok berpakaian hitam pergi keluar dari kamar, dan dengan begitu cepat keduanya menghilang seolah keberadaan mereka sebelumnya tidaklah nyata.
......................
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Joy segera keluar dari ruang kelas dan saat di luar kelas dia merasa tidak lagi ada orang yang mengawasinya.
“Sally, apa mereka telah memberi pelajaran berharga pada orang yang terus mengawasiku?” tanya Joy, sembari melihat Sally.
“Nona, orang itu telah menerima pelajaran berharga!” jawab Sally yang terus saja mengikuti kemanapun Joy pergi.
Meski Sally senantiasa mengikutinya kemanapun dirinya pergi, Joy sama sekali tidak merasa risih atau terganggu pada keberadaan Sally. Dia justru senang karena ada teman bicara, dan dia adalah orang yang bisa dipercaya.
“Baguslah kalau seperti itu, dan untuk ke depannya, segera beri pelajaran pada orang-orang yang ketahuan mengawasiku secara diam-diam!” kata Joy sambil berjalan menuju ruangannya.
“Baik Nona,” balas Sally, dan dia tidak akan melupakan apa yang menjadi keinginan Joy.
“Kita langsung pulang!” kata Joy begitu selesai merapikan meja kerjanya.
Sally hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali dia ikut kemanapun Joy pergi.
Sementara itu, lima orang pria memasuki kamar hotel, setelah beberapa waktu yang lalu mereka menerima panggilan permintaan tolong dari pria yang berada di dalam kamar.
Salah satu pria yang baru masuk ke kamar hotel, pria itu adalah Eden, dan bukannya marah melihat salah satu anak buahnya ditemukan dalam keadaan babak belur dan terluka parah, dia justru terkekeh pelan melihat semua itu.
“Wanita yang sangat luar biasa, bahkan dia tahu bagaimana cara memperlakukan orang uange mengganggunya! Tidak membunuh, tapi memberi pelajaran yang sangatlah berharga. Wanita seperti itu sangat tepat aku pilih menjadi pendamping hidupku, dan aku akan menyingkirkan siapapun yang berani menghalangi keinginanku!” kata Eden.
Memiliki kekuatan yang begitu besar membuat Eden yakin dapat melakukan apa yang dia katakan, tapi dia belum sadar seberapa besar kekuatan yang akan dihadapinya.
“Tidak udah memberi perawatan padanya! Langsung bunuh dan lakukan seperti apa yang sudah biasa kalian lakukan!” kata Eden, memberi perintah pada mereka yang datang bersamanya.
‘Joy, tidak lama lagi aku pasti dapat memilikimu!’ batin Eden, dan begitu saja dia pergi meninggalkan kamar hotel. Di kembali ke mobilnya, dan begitu berada di dalam mobil, supir segera membawa Eden ke tempat yang menjadi tujuannya.
......................
Di tempat pemotretan Ellena, usai selesai menyelesaikan pekerjaannya, Ellena bermaksud segera pulang karena dia sudah merindukan kekasihnya.
Akan tetapi, dia tidak bisa langsung pulang saat mendengar fotografer memanggilnya, dikarenakan ada beberapa foto yang hasilnya masih bisa lebih dimaksimalkan.
Ellena pergi menghampiri fotografer dengan didampingi Cerri yang merupakan asisten pribadinya.
Fotografer yang melihat kedatangan Ellena dan Cerri, dia menjilat bibir bawahnya, dan dengan kode mata dia menyuruh dua orang mengunci pintu ruangan, sampai akhirnya Ellena dan Cerri terkunci dalam ruangan bersama enam pria, termasuk fotografer.
Melihat apa yang saat ini sedang terjadi, tentu saja Ellena dan Cerri tahu jika mereka telah masuk dalam jebakan sang fotografer.
“Nona Ellena dan kamu asisten yang begitu menggairahkan, kalian sudah terjebak di tempat ini, dan jangan harap bisa keluar sebelum memberi kepuasan pada kami!” kata fotografer, bersama dengan empat orang yang mencoba menangkap Ellena dan Cerri.
Namun, sayangnya mereka benar-benar salah memilih lawan. Bukannya berhasil menangkap Ellena dan Cerri, empat orang yang mencoba menangkap mereka, hanya dalam kurun waktu yang begitu singkat, keempat orang itu berhasil ditumbangkan, dan yang melakukannya adalah Ellena dan Cerri.
“Kalian berdua, bagimana kalian bisa melakukan semua itu?” ujar fotografer yang mulai ketakutan, begitu juga dengan pria di sebelahnya.
“Kami bisa melakukannya karena sudah biasa melakukannya! Tetapi biasanya kami langsung membunuh, bukan membuat pingsan!” kata Ellena, dan dia memberi perintah pada Cerri untuk membereskan fotografer dan satu pria lainnya.
Tanpa banyak bicara Cerri langsung bergerak maju, dan cukup dalam hitungan 5 detik, dia berhasil membuat fotografer dan satu pria lainnya pingsan.
“Apa yang sekarang ingin Nona lakukan pada mereka?” tanya Cerri.
“Bukannya Ludwing Hospital bisa membuat mereka menjadi pundi-pundi uang? Lakukan saja semua itu pada mereka, daripada menyerahkan mereka pada kepolisian!” kata Ellena.
Cerri yang mendengarnya, dia segera menghubungi pengawal bayangan, dan mengeluh mereka melakukan sesuai keinginan Ellena.
Setelah seluruh urusan selesai, Ellena memutuskan pulang, begitu juga dengan Cerri yang senantiasa mengikuti Ellena.
“Cerri, lain kali seger jauhkan dariku orang-orang menjijikkan seperti mereka!” kata Ellena.
“Baik Nona, ke depannya apa yang hari ini terjadi, semua itu tidak akan pernah terjadi kembali di masa yang akan datang!” balas Cerri.
Ellena mengangguk mendengarnya, lalu setelahnya mereka sama-sama masuk ke dalam mobil, yang akan membawa mereka kembali ke Mansion keluarga Milito.
‘Huh, satu jam perjalanan akan terasa begitu lama karena aku terlalu merindukannya!’ batin Ellena yang sudah tidak sabar bertemu Noah.
......................
Bersambung.