
Dan tak lama kemudian, terdengar suara putus asa Sari yang memanggil namanya.
"Bagas!"
Bagas menoleh ke arah Sari yang datang setengah berlari bersama Doni,
"Sar!"
Dengan gembira Sari memeluk Bagas erat, "Syukurlah kamu nggak apa-apa kan!"
"Iya nggak apa-apa kok."
Sari beralih menatap Lingga dengan tajam, ia meminta penjelasan, "Apa ini? Menculik Bagas untuk memancingku datang?"
Lingga menanggapi pertanyaan Sari dengan senyuman. "Jangan salah paham, aku cuma ingin mengajak dia ngobrol dan minum kopi. Iya kan mas Bagas?"
"Ehm, anggap saja begitu." jawab Bagas datar.
Sari melirik ke arah pedang Sengkayana, "Terus kenapa itu ada disana?"
Lingga mengikuti arah pandangan Sari, "Itu milik kamu kan jadi aku mau ngembaliin itu sama kamu."
"Bukannya pak Lingga yang cari pedang sengkayana, kenapa itu jadi milik saya?"
"Ehm, mungkin … tapi, sayangnya aku bahkan nggak bisa menyentuh pedang ini." Pak Lingga berkata seraya menghampiri meja dimana pedang itu diletakkan.
"Pedang ini hanya bisa dimiliki kamu Sar, jadi aku berniat mengembalikannya ke kamu."
Pak Lingga menatap Sari yang masih tampak kesal padanya.
"Oh ya darimana kamu tahu tempat ini? Apa penjagamu mengendusnya or …,"
"Aku yang bawa Sari kesini."
Lita berjalan keluar mendekati Sari dan juga Bagas. Sementara Doni sedikit menjaga jarak dari Sari. Ia bersiaga penuh berjaga jaga dari serangan tak terduga.
Lingga terkejut, ia tidak menyangka akan kehadiran Lita. Seketika lidah Lingga kelu tak tahu harus berkata apa. Dirinya merindukan Lita yang dicintai dulu.
"Kamu …,"
"Iya, aku datang mengantarnya padamu."
"Kenapa?"
"Setidaknya aku bisa melihatmu untuk terakhir kalinya … sayang." Lita menatap Lingga sendu.
Cinta yang masih ada dihati mereka membuat keduanya hanya bisa saling menatap dalam kerinduan.
Tiba-tiba terdengar suara tepukan, satu lagi tamu tak diundang datang tanpa permisi. Airlangga.
"Waaaah, bagus … maaf kalo aku terlambat, apa acaranya sudah dimulai?"
Sari mengambil posisi melindungi Bagas. Ia menoleh ke arah Doni, seolah berkata.
"Hati-hati dan bersiaplah dengan yang terburuk."
"Hai Sar, apa kabar? Apa sekarang kamu sudah menyadari satu hal?"
Airlangga menghampiri Sari, ia mendekat dengan jarak hanya sejengkal lalu menunduk sedikit untuk berbisik pada Sari.
Ia tertawa kecil, sebelum berlalu dan duduk di kursi taman. Dengan santai menuangkan kopi dan meminumnya.
"Kopi yang nikmat sekali! Apa kabar kakakku sayang, aku merindukanmu!" ujarnya dengan tawa yang terdengar menjijikkan di telinga Sari.
Lingga mendengus kesal, "Mau apa kamu kesini?"
"Aku? Aku sekedar mampir dan … ingin melihat pertunjukan kecil disini!" sahutnya dengan mengerlingkan mata sebelah.
"Tidak ada pertunjukan disini! Pergilah dan jangan ganggu aku!" Lingga memberi peringatan.
Airlangga tidak menjawab dan kembali menyeruput kopinya. "Mulailah kak, aku tidak akan mengganggumu!"
Sari bingung apa yang dimaksud Airlangga tapi yang ia tahu itu bukan sesuatu yang baik. Perlahan Sari menggeser posisi Bagas, memberi kode padanya untuk bersiap meninggalkan tempat itu.
"Maaf tapi saya harus pergi, silahkan kalo kalian berdua mau reunian. Tapi ada jadwal penerbangan yang harus saya kejar. Jadi saya permisi dulu!"
Sari menarik tangan Bagas dan hendak pergi tapi Lingga menghalanginya.
"Tidak secepat itu Sar, kalo kamu mau pergi silahkan tapi Bagas milikku!"
"Eeh, apa … ulangi lagi pak?"
"Hij is van mij!" ( Dia milikku!)
Dengan cepat pak Lingga menarik Bagas dan dalam sekejap mata lelaki yang dicintai Sari itu telah ada dalam cengkeraman kuasanya.
Sebuah mantra dibisikkan Lingga ditelinga Bagas. Mantra itu membuatnya tak berdaya, mata Bagas tertutup kabut putih.
"Dia milikku Sar, harusnya kamu yang ada di posisinya sekarang. Tapi, sepertinya adikku tidak mengijinkan hal itu!" Lingga melirik ke arah Airlangga yang dengan santainya mengangkat tinggi cangkir kopinya pada kakaknya dan mengerling kembali.
"Doe hem geen pijn!" (Jangan sakiti dia!)
Sari geram seketika tubuhnya diselimuti kabut tipis kemerahan. Doni pun siaga mengambil posisi di sebelah Sari.
Lingga tidak mengindahkan peringatan Sari. Ia meneruskan rencananya. Tangannya menepuk bahu Bagas ringan.
"Sayang sekali, aku suka anak ini. Dia … begitu mencintai kamu Sar, tapi sayangnya aku harus melakukannya!"
"Jangan membuatku marah Lingga!" Sari berteriak.
"Jangan lakukan itu! Aku mohon!" Lita ikut meminta pada Lingga untuk menghentikan perbuatannya.
Sejenak Lingga menatap Lita, "Seharusnya kamu nggak datang kesini sayang, ini akan menyakitimu!" ujarnya lirih.
"Lingga, tolong jangan lakukan itu! Kita masih bisa bersama, maafkan keegoisanku … apa hanya ini jalan terakhir bagi kita?" Lita kembali membujuk.
Lingga menjawabnya dengan lirih, "Sudah terlambat, aku lelah … lelah sekali."
Lingga mulai berubah, setelah sebelumnya ia menyeringai pada Sari. Tanpa menunggu waktu lama, kuku tajamnya menghujam tepat di jantung Bagas. Membuat lubang menganga di dada Bagas.
Darah segar keluar dari mulut Bagas, kabut yang menutupi matanya menghilang. Tubuh Bagas perlahan jatuh, bersamaan dengan ditariknya tangan Lingga keluar dari tubuhnya.
Gumpalan darah Bagas yang ia ambil dari dada berubah menghitam dan bergerak masuk ke dalam tubuhnya, menyatu dalam aliran darah.
"Akhirnya kutukan ini selesai juga." Lingga menang.