Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 97


Di Sebuah ruang di dalam rumah mewah nan megah milik Lingga.


"Apa tuan yakin Sari akan datang?" tanya Saka.


"Tentu saja, tunangannya ada di tangan kita dia pasti akan datang."


Lingga melihat ke arah Bagas yang masih pingsan dan terikat di sebuah kursi. Wajah tampan Bagas sedikit pucat karena pengaruh lintas dimensi.


Bagas hanyalah seorang manusia biasa. Tubuhnya akan terpengaruh oleh besarnya Medan energi negatif yang terjadi saat lintas dimensi.


Bagas mulai sadar, matanya perlahan membuka dan melihat sekitarnya. Kepalanya sedikit pusing, hingga ia harus menggerakkan kepalanya perlahan untuk menyesuaikan diri.


"Dimana ini?" gumamnya pelan.


Lingga mendekati Bagas dan duduk di kursi tepat di depan Bagas.


"Pak Lingga?" Bagas mengerjap tak percaya.


"Hai, sudah sadar ya?"


Bagas hendak mengubah posisi duduknya ketika ia sadar tangannya terikat kuat.


"Apa apaan ini pak? Ada apa sebenarnya ini?!"


"Maaf kalo kamu sedikit nggak nyaman. Saya bisa lepasin tali itu, dan kita bisa bicara dengan tenang. Gimana?"


Bagas menatap pak Lingga dengan curiga. Tapi kemudian dia mengangguk menyetujui.


Lingga memberi kode pada Saka untuk membuka ikatan tali.


"Maafin anak buah saya, dan maaf juga kamu harus terlibat."


"Jadi benar apa kata Sari? Anda immortal?" tanya Bagas menyelidik.


Lingga tersenyum sinis, "Immortal, itu sangat menyakitkan. Julukan mengerikan dari fase kehidupan manusia."


Bagas diam dan mendengarkan Lingga bicara. "Saya lagi nggak mau bahas immortal. Saya cuma mau bahas kamu dan Sari."


"Saya sama Sari? Ada apa memangnya?!"


"Hhhm, ini agak rumit." Lingga menghela nafasnya dengan berat, ia memiringkan kepalanya dan mengernyit.


"Kamu cinta Sari?"


"Iya."


"Seberapa besar?"


"Apa harus saya jawab itu? Apa untungnya buat bapak kalo saya jawab pertanyaan itu?" Bagas mulai tersulut emosi.


"Saya hanya ingin memastikan kalau apa yang akan saya lakukan nanti adalah benar." Lingga tersenyum dengan liciknya.


"Mau bapak apa sih sebenarnya? Mau jadi manusia lagi? Kenapa harus pake bawa saya kesini segala?"


Lingga berdiri dan mengintip ke jendela besar tak jauh dari mereka duduk. Ia bisa melihat portal dimensi yang terbuka, dan selarik senyum terlihat di sudut bibirnya.


"Ayo kita bicara ditempat lain, sambil ngopi gimana?" ajak Lingga pada Bagas.


Ia memberi kode pada Saka untuk mengantarkan Bagas ke ruangan lain.


"Silakan ikut saya mas Bagas!" Saka dengan patuh menjalankan perintah Lingga.


Bagas menatap tak suka ke arah Lingga, ia mendengus kesal karena merasa dipermainkan.


"Kita bicara diruangan lain."


Lingga berjalan mendahului Bagas. 


"Ayo mas lewat sini!" ujar Saka setengah memaksa.


Mereka berjalan menyusuri koridor rumah Lingga yang megah dan tampak seperti istana. Rumah Lingga sendiri tersembunyi di balik perbukitan. Hanya orang-orang kepercayaannya saja yang mengetahui rumah tinggal utama milik Lingga ini.


Bagas mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri melihat situasi dan peluang untuk bisa melarikan diri. Ia curiga pada Lingga yang hendak mencelakai Sari.


"Jangan berpikir untuk kabur dari sini mas! Ini hutan dan masih banyak hewan liar diluar sana kecuali, kalau mas mau mati konyol di dalam sana!" bisik Saka pada Bagas.


Bagas tersenyum kecut mendengarnya. 


Sial, apa aku harus nekat juga?!


Suara pintu kayu besar berderit, memperlihatkan halaman besar di belakang rumah milik Lingga begitu luas. Halaman belakang itu berada diatas tebing curam dengan kedalaman puluhan meter. Pagar pembatas pendek dibuat mengelilinginya, hingga tetap memungkinkan untuk melihat indahnya alam.


"Silakan duduk!" Saka menarik kursi untuk Bagas.


Sepertinya semua sudah disiapkan sempurna oleh Lingga, meja kebun dengan dua cangkir kopi dan cemilan sudah tersedia disana.


"Kita ngobrol sambil ngopi dulu biar santai." kata Lingga seraya menyesap kopinya.


Bagas sama sekali tidak menyentuh kopinya, ia masih menatap Lingga curiga.


"Jelaskan ada apa?" tanyanya tegas.


Lingga meletakkan cangkirnya dan tersenyum. "Saya cuma mau mengundang Sari untuk datang kesini."


"Mencurigakan!" Bagas tidak percaya.


"Yeah, saya memang membutuhkannya untuk menjadi manusia kembali tapi … sepertinya itu agak sulit, jadi saya terpaksa melibatkan mas Bagas."


"Kenapa?"


"Karena mas Bagas lelaki yang dia cintai, jadi semuanya akan sempurna." kata Lingga dengan senyuman jahatnya.


"Awalnya saya tidak ingin melibatkan mas Bagas juga yang lain, tapi semuanya jadi kacau saat kembaran saya yang bodoh itu ikut campur."


"Airlangga?"


"Mas Bagas sudah tahu rupanya. Bagus kalo begitu."


"Lalu?" Bagas bertanya lagi


"Yaaa dengan terpaksa saya memakai rencana lain."


Saka meletakkan pedang Sengkayana di meja lainnya. Pedang itu dibalut kain putih.


"Pedang ini milik Sari dan hanya bisa digunakan oleh Sari sendiri. Saya … hanya ingin mengembalikannya pada pemiliknya saja."


"Kenapa nggak ngembalikan sendiri aja?" tanya Bagas curiga.


Lingga kembali tersenyum, "Sebentar lagi juga dia akan datang."


Lingga berjalan ke tepian tebing, menghirup segarnya udara pegunungan. 


"Mas Bagas, menjadi immortal bukan tujuan hidup saya. Terjebak dalam keabadian hanya menyisakan duka yang mendalam. Melihat orang yang kita cintai pergi dan terluka itu sangat menyakitkan."


Lingga tersenyum saat merasakan aura Sari menguat. "Waktunya sudah dekat."