
Sari kini berada diruang hampa berhadapan dengan ketiga orang asing yang menurutnya sangat aneh itu. Mereka berwajah rupawan dengan pakaian lengkap ala ksatria jaman kerajaan.
"Apalagi sekarang?!" gumamnya lirih.
"Kami sudah menunggu kedatanganmu, dan sesuai dugaan kami ujian pertama untukmu bisa dilewati dengan mudah."
"Ujian? Saya nggak ngerti!" sahut Sari malas.
"Para pemburu itu, mereka bagian dari ujianmu." jawab salah satu dari tiga orang tampan itu.
"Tunggu, mereka bagian dari ujian? Untuk apa, saya nggak lagi ujian kenaikan kelas kan?" tanya Sari seraya mengerutkan keningnya.
Ketiga pria itu saling berpandangan dan tertawa. Bingung dengan pertanyaan ajaib yang keluar dari mulut Sari.
"Kami harus memastikan kamu layak mendapatkannya."
"Dapetin apa dulu nih, pusaka maksud kalian?" tanya Sari.
Mereka mengangguk hampir bersamaan. "Kami harus memastikan kamu yang pantas sebagai pemilik selanjutnya."
"Sebentar deh, kenapa harus pake acara ujian begitu? Bukannya pusaka itu sendiri yang memilih pemiliknya kenapa kalian ikut ikutan jadi panitia seleksi gitu?"
"Bisa dibilang kami penjaganya, kami terikat oleh sumpah setia kami pada pemilik sebelumnya."
"Duh repot bener sih jagad lelembut ni?! Kenapa nggak kalian bikin simple aja sih, segala pake aturan perjanjian leluhur lagi!"
"Sar, sopan sedikit … mereka usianya lebih tua dari kami?!" Bimasena mengingatkan.
"Cck, ini juga udah sopan Bimasena! Saya cuma protes dikit aja!" sahut Sari kesal.
"Baiklah, sepertinya kamu mulai terbawa emosi itu baik untuk tes selanjutnya." jawab pria yang berdiri di tengah.
"Hadeh, apa lagi nih?! Iya deh tes apaan, saya masih ada liputan ini! Jangan pake lama?!"
"Ikuti kami, tapi sebelumnya …"
Salah satu dari ketiga pria itu mengibaskan tangannya dengan ringan ke udara, ia membentuk pola tertentu yang menyerupai heksagram emas lalu melemparkannya ke atas.
Dengan seketika heksagram itu mengunci dan melingkupi bangunan keputren itu. Memberi batasan antara Sari dan keempat penjaganya. Sari terkejut begitu juga dengan Bimasena dan yang lainnya. Mereka berusaha menembus dinding transparan dengan energi kuat itu berkali-kali tapi nihil.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Sari seraya menghampiri penjaganya.
"Sial, apa sih mau mereka?! Pake acara bikin pembatas gini! Kalian apa nggak bisa nembus ini di dinding?!" tanya Sari kesal.
Sari terus memukul dan menendang dinding pembatas karena kesalnya, mencoba merusaknya dengan kekuatannya. Tapi keempat penjaga Sari memintanya untuk berhenti.
"Sar, cukup! Mereka benar kamu harus bisa berusaha sendiri tanpa kami!" kata Bimasena.
"Iya Sar, pergi dan ikuti saja mereka! Kami akan berjaga disini?!" Mahesa menimpali.
"Tapi … kalian yakin mereka di pihak kita? Gimana kalau aku dijebak sama mereka?" Sari memang bukan tipe yang mudah percaya dengan orang yang baru ditemuinya.
"Kamu punya kekuatan baru Sar, kami yakin kamu bisa mengatasi mereka seandainya mereka berbuat curang." kata Bimasena serius. Ia berusaha menenangkan Sari dan meyakinkan kemampuan tuannya itu.
Sari terdiam sesaat, ia menoleh ke arah keputren. Ketiga orang itu sudah tak terlihat lagi.
"Pergilah Sar, semakin lama kamu disini semakin bahaya buat tubuh kamu!" Bimasena kembali mengingatkan.
"Ok, kalian tunggu aku disini! Aku akan kembali …"
"Lima menit?!" sambung Bimasena memotong perkataan Sari.
Sari yang sedang berjalan masuk ke dalam kaputren tertawa. "You're really my guardian!"
****
Sari masuk semakin dalam ke bangunan kuno itu, ada bisikan halus yang membimbingnya menapaki jalan ke dalam keputren. Dalam bangunan itu begitu gelap hanya ada cahaya obor yang menerangi setiap sudut.
Hawa dingin mulai menyapa Sari, suhu didalam bangunan terasa begitu dingin dan lembab. Sari mulai kedinginan, sesuatu yang aneh menyergapnya. Ia merasakan kehadiran orang lain selain dirinya.
Hembusan angin ringan meniup lembut rambutnya. Suhu dingin disekitar Sari terasa menggigit, Sari berhenti di satu titik. Jemarinya terasa membeku dan mulai sulit digerakkan. Bahkan nafasnya pun seolah membeku karena dinginnya.
"Kenapa disini dingin banget?!"
Sari kembali berjalan meski ia tahu sepasang mata memerhatikan dirinya dalam gelap.
"Kemana perginya tiga orang tadi? Katanya mau kasih ujian, eeh kabur! Kan bikin Gedeg bener!" celoteh Sari seraya melirik ke belakang.
Sesuatu sedang mengikutinya, semakin dekat dan dekat. Sari kembali bersiap, ia merasakan aura lain mulai bersinggungan.
"Apa nggak ada cara lain selain bertanding satu lawan satu secara frontal begini? Main catur kek, ular tangga gitu atau … monopoli?!"