
Sari dan Doni yang kelelahan tidak menyadari lawan yang mengintai dari kejauhan. Rey, Atikah dan seseorang misterius yang menjadi pemimpin mereka mengawasi setiap gerak gerik Sari.
"Wanita itu luar biasa, aku bahkan bisa merasakan kekuatannya dari kejauhan."
"Kita tinggal mengatur siasat agar bisa memanfaatkan tenaga wanita itu dan membunuh Lingga." sahut Rey.
"Kau benar, jaga dia baik-baik untukku! Atikah, jangan kau sentuh wanita itu sebelum waktunya. Biarkan racunku bekerja dengan sempurna." Seseorang yang misterius dengan jubah hitam menutupi wajahnya itu tertawa dengan keras. Ia perlahan menghilang dan pergi meninggalkan Rey dan Atikah.
"Ciiiih, apa kekuatannya masih belum cukup juga hingga menyuruh kita menunggu waktu yang tepat!" Atikah menggerutu.
"Bersabarlah, jika waktunya tiba dia akan menjadi junjungan kita yang tak tertandingi oleh siapapun. Bisa jadi dia mengangkat kau sebagai ratu kegelapan, dan mendampinginya dalam keabadian." Rey berbisik pada Atikah yang disambut suara tawa penuh kemenangan dari Atikah.
"Kau memang pintar membuat aku bahagia, Rey."
"Yes, I am!" Rey menyeringai dan mereka pun hilang ditelan gelapnya malam.
****
Keesokan harinya, para kru sudah sibuk dengan persiapan lanjutan wawancara dengan Kang Pur. Sejak subuh istri Kang Pur bolak balik ke rumah tempat Sari menginap untuk menyiapkan hidangan ala kadarnya.
Dari informasi yang didapat Sari, di hari Sabtu dan Minggu terdapat pasar pagi yang digelar di depan tiap-tiap rumah adat suku Osing. Mereka akan membuka lapak dagangan yang menjual aneka makanan khas suku Osing.
"Sar, kita bagi tugas gimana? Biar cepet kelar." Bagas bertanya pada Sari yang sedang memperhatikan Doni dan kameranya.
"Ide bagus, gimana kalo aku aja yang keliling ke pasar kaget … kamu ma Doni disini wawancara Kang Pur?!"
"Ok, kayaknya jg udah rame tuh pada gelar dagangan. Mulai aja deh, ajak Rara biar nggak mojok Mulu di sana?!" kata Bagas menunjuk ke arah Rara yang sedari tadi rupanya hanya berdiam diri menatap orang yang berlalu-lalang.
"Sip, aku jalan dulu ya … ini list pertanyaan buat Kang Pur." Sari menyerahkan daftar pertanyaan yang sudah disusun rapi pada Bagas.
"Ehm, ini aja?"
"Ya kalo kurang ditambahin aja lagi sama kamu."
"Ok, hati-hati ya … aku nitip belikan makanan yang enak." ujar Bagas seraya memeluk Sari.
"Jangan lama-lama saya nggak kuat jauh dari kamu?!" Bagas meletakkan kepalanya di bahu Sari.
"Malu dilihat banyak orang Gas, udah lepasin?!"
"Cck, susah bener sih meluk kamu!" Bagas sedikit kesal tapi tetap menunjukkan sikap manjanya.
Sari hanya tersenyum dan menanggapi Bagas dengan mengusap punggungnya, "Kerja dulu, mesra mesraannya nanti lagi."
"Hheem, iya deh. Apa kata kamu aja?!"
Sari meninggalkan Bagas, dan mengajak Rara untuk keliling desa. Mengambil gambar dan membeli makanan khas suku Osing yang unik. Semuanya berjalan lancar sebelum di pertengahan jalan, Rara tiba-tiba menggeram.
Ia menarik tangan Sari dengan keras, hampir saja Sari terjatuh.
"Ra, apa apaan sih kamu?!"
Rara terdiam dan seolah tidak mendengarkan Sari. Ia terus menarik Sari menjauh dari kerumunan pasar.
"Ra, ada apa ini?! Kita mau kemana!"
Sari melepas paksa tangan Rara, lalu berhenti. Rara berbalik dan menatap Rara, ia kembali menggeram dan sesekali mengeluarkan desisan aneh.
"Rara!"
Sejurus kemudian Rara berlari pergi meninggalkan Sari. Entah apa yang ditakutkan Rara tapi Sari bisa merasakan perubahan aura kuat di pasar itu. Sari berbalik kembali menuju kerumunan orang yang asyik melakukan transaksi jual beli.
Medan energi aneh menyapa Sari saat memasuki lagi area pasar. Penglihatan Sari berubah, ia merasakan kehadiran seseorang berbaju hitam. Ruang dimensi terbentuk diantara penuh sesaknya pengunjung.
Sari berhadapan langsung dengan seorang pria berkumis tipis dengan rambut panjang sebahu. Ikat kepala khas suku Osing melekat di kepalanya. Bak pendekar ala jaman Belanda dulu, pria itu memiliki aura angker yang tak biasa. Sari tersenyum masam,
"Siapa lagi ini? Demit pasar? Apa jagoannya desa sini? Hadeeh boleh request nggak sih, kalo mau kenalan antri dulu deh jangan pake acara muncul tiba-tiba!"