Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 59


Sari memutuskan untuk berhenti dan menunggu sosok yang bersembunyi dalam gelap itu menunjukkan dirinya. Auranya berbenturan dengan Sari.


Siapa yang bersembunyi di sana? Aku nggak merasakan dia jahat hanya saja sedikit … berbeda, batin Sari dengan membalikkan tubuhnya ke belakang.


Ia mencari keberadaan sosok itu yang selalu berpindah-pindah dalam gelap. Kadang ia dekat kadang menjauh. Mata batinnya berusaha menangkap kelebatan bayangan yang sedari tadi seolah sengaja menjahilinya.


"Hei, kamu! Keluar deh! Dari tadi main petak umpet aja nggak capek apa?! Sini kita kenalan kalau itu mau kamu!" Sari berusaha memancingnya keluar.


Hening. Sari menunggu respon balik dari sosok yang selalu menghindar itu. Matanya diedarkan ke sekeliling ruangan. Sari waspada, bersiap dengan segala kemungkinan. Kujang Siliwangi kembali dimunculkan Sari, memancarkan warna kebiruan yang indah.


Sesosok makhluk muncul di belakang Sari tepat dari dalam bayangannya. Perlahan kepalanya menyembul dari lantai. Matanya yang nyalang menatap Sari dengan penuh amarah. Lalu perlahan ia muncul sempurna di belakang Sari.


Sari sebenarnya bukan tidak menyadari, lebih tepatnya berpura pura tidak sadar. Ia ingin memancing sosok itu agar keluar dari persembunyiannya. Sari bisa merasakan aura kuat dr sosok itu yang telah mujud sempurna di belakangnya.


Satu … dua … rasakan ini! 


Sari segera berbalik dan menghunuskan Kujang miliknya yang seolah tak sabar untuk beraksi. Dengan secepat kilat tangan Dari menyambar tubuh sosok itu dan membuatnya terpelanting jatuh di lantai dengan keras.


Kujang Siliwangi siap dihujamkan tepat di jantung lawan. Sari mengunci dengan tubuhnya. Tapi betapa terkejutnya Sari saat melihat wajah sosok yang sedari tadi bersembunyi dalam gelap.


"Kamu?! Ngapain kamu disini, kok bisa kamu masuk ke alam ini Don?!" 


Sosok yang menyerupai Doni itu tersenyum dan menjawab. "Aku ngikutin kamu dari tadi Sar!"


Jawaban Doni itu tidak lantas membuat Sari percaya, ia memiringkan kepalanya dan tersenyum sinis. "Oh ya, dari tadi? Terus gimana cara kamu masuk? Ada pelindung gaib yang mengelilingi bangunan ini bahkan keempat penjaga ku nggak bisa masuk?!"


"Aku … ehm, aku menyelinap kesini sebelum pelindung itu dibuat." Sosok menyerupai Doni itu kembali menjawab.


Sari tersenyum lebar mendengar jawaban itu, "Well, aku kasih tahu kamu sesuatu! Kamu nggak pandai berbohong! Dan ini hadiah untuk pembohong sepertimu!"


Sari mengangkat tangannya yang memegang kujang tinggi lalu memutarnya dan dalam hitungan detik menusuknya tepat di jantung sosok peniru Doni.


Tapi makhluk itu menghindar ia mengubah lagi dirinya menjadi bayangan dan masuk melalui sisi gelap Sari membuat kujang Siliwangi menembus ruang hampa.


"Damn it! Dia menghilang lagi!" gerutu Sari kesal.


"Kalo begini caranya mau sampai kapan juga gak bakal selesai!"


"Coba tangkap aku kalau kau mampu Sari!" Kata sebuah suara dengan tawa menyertai.


"Kalo berani jangan sembunyi terus gimana mau bertarung kalau kau sembunyi!" Sari mulai kesal tapi juga penasaran siapa sebenarnya yang dihadapi.


Sar, buka matamu baik-baik! Dia ada dalam setiap sisi gelap! 


Bimasena ikut mengawasi dari kejauhan. Sari sudah terlalu lama berada di dimensi lelembut, itu berbahaya bagi dirinya.


Waktumu nggak banyak Sar, cepat selesaikan!


"Iish … berisik bener kamu Bimasena! Aku juga maunya cepet, apa lima menitnya sudah berakhir?" tanya Sari pada penjaganya serta terus memindai ruangan.


"Yup, ini sudah masuk ekstra menit tambahan?! Kamu harus segera keluar dari sini Sar, kalo nggak selamanya kamu bisa terjebak di alam ini!"


"Iya, iya … ini juga lagi usaha, bisa minta injury time kan?" 


"Injury time?" Bimasena bingung 


Bimasena terdiam sesaat ia mencoba membantu Sari tapi sayangnya penglihatan gaibnya sedikit terganggu. Itu karena ketiga orang lelaki penjaga keputren yang tidak mengizinkan Bimasena membantu Sari lebih jauh lagi.


"Bimasena, cepetan dikit bisa gak sih! Kepalaku semakin berat ini!"


Sari mulai merasakan tekanan hebat yang membuatnya semakin tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.


Ini beneran deh rasanya sesak, kepalaku berat … kalo begini caranya, aku bisa mati disini!


Cahaya kebiruan dari kujangnya perlahan meredup, tubuh Sari gemetar keringat dingin mulai membanjiri. Pandangannya kabur dan sejurus kemudian Sari pingsan.


...----------------...


"Sar … Sari, bangun!" Sebuah suara berat terdengar memanggil namanya.


"Gimana Gas, belum bangun juga dia?" tanya Doni yang mulai khawatir.


"Belum, kenapa sih pake acara tidur diluar gini ni anak! Cari penyakit aja?!" gerutu Bagas.


"Lah, makmum Lo tuh?! Makanya semalem Lo kalo tidur jangan pules pules amat! Kan jadi kagak bisa jagain dia!" sahut Doni sambil mengecek nadi Sari.


Bagas memperhatikan Doni, "Jangan kelamaan pegang ya! Pinter bener curi kesempatan Lo!"


"Iiish, yah dikit kan kagak kenapa-kenapa Gas! Mumpung kalian belum sah?!" ledek Doni dengan cengengesan.


"Sialan Lo! Awas aja berani macem-macem, gue end sekalian nih!"


"Eh, siapa? Lo mau end gue? Yang ada Lo kali Gas yang bentar lagi end!" Doni semakin membuat Bagas meradang.


Doni tertawa sejenak tapi kemudian kerlipan peristiwa yang tiba-tiba muncul di depannya membuat tawanya terhenti. Doni melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat. Bayangan kematian.


"Eeh, Napa Lo diem? Abis liat setan?" tanya Bagas sambil melihat ke kanan dan kiri.


Doni masih tidak.menjawab pertanyaan Bagas. Matanya memanas, tangannya mengepal keras menahan rasa yang bergejolak di dalam dadanya.


"Don! Doni, Lo kesambet ya!" Bagas kembali memanggil Doni lebih keras agar tersadar dari lamunannya.


"Jiiiah … ada yang kesambet, tenang Gas gue bantuin!" Ahmad yang melihat Bagas kesal mendekati Doni dan bersiap hendak berteriak di telinga nya.


"Kriboo … bang …" belum juga Ahmad selesai tangan Doni dengan sukses menutup mulut Ahmad yang sudah siap mengeluarkan suara hingga tujuh oktaf.


"Diem Lo! Gue sadar kali, pake segala teriak!" kata Doni kesal dan hampir saja merremas mulut Doni.


Ahmad meronta dan memukul tangan Doni agar melepaskan tangan dari mulutnya. "Gila Lo, hampir mati gue Lo bekep gitu! Lagian kenapa diem aja daritadi bikin orang panik aja!"


"Ngomong sekali lagi gue tambahin pake lakban ni mulut Lo!" ancam Doni.


"Diih, sewot amat Lo! Kek abis makan cabe sebaskom! Pedes!"


"Ssst, udah! Lo pada kapan sih akurnya! Bantuin gue kek bangunin Sari, ni mpe basah semua bajunya jangan-jangan…," Bagas kembali menepuk pipi Sari sedikit keras. Ia khawatir Sari masuk lagi ke dimensi lain seperti biasanya.


"Sar, bangun … " bisiknya kembali dengan lembut di telinga Sari.


Kali ini bisikan Bagas berhasil membuat Sari menggeliat tersadar dari tidurnya. Perlahan Sari membuka mata, dan melihat Doni serta Ahmad yang juga sedang menunggunya bersuara.