Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 65


Sari membuka matanya, berdiri dengan segera dan melesat mengejar makhluk dalam bayangan itu. Menyadari Sari mengejarnya, makhluk kegelapan itu kembali bersembunyi dalam gelap.


Sari tidak membiarkan ia pergi, dengan secepat kilat Sari ikut masuk dalam kegelapan meraih tangan makhluk jelek itu dengan kasar dan menariknya keluar.


"Kena kau sekarang!"


Makhluk itu bukan main terkejutnya, matanya melotot ke arah Sari.


Sari membawa makhluk itu ke sisi terang keputren dengan kekuatannya. Mengunci tubuh makhluk itu dengan cekikan dan menghimpitnya ke tembok.


"Wah, lihat siapa yang sekarang yang terpojok?!"


"Kamu bisa mengejar ku dalam bayangan?"


"Kenapa? Kaget? Tadi kamu mengejek saya kan, kenapa sekarang diam?!"


Makhluk itu tertawa menampakkan barisan gigi hitamnya yang jelek. Rambutnya yang ternyata hanya beberapa helai tampak menjuntai tak beraturan di depan wajahnya. Telinganya runcing dan sedikit lebar dengan kulit yang berkerut dan pucat.


"Beraninya kamu menyamar jadi Doni dengan wajah sejelek ini? Aku nggak bisa maafin kamu karena meniru sahabatku!"


Makhluk itu tertawa, "Dasar wanita bodoh, kamu masuk dalam jebakan Lingga! Kekasihmu, dan temanmu yang lain akan mati dalam sekejap!"


Sari terkejut, matanya melebar."Apa katamu?!"


"Kamu tertipu oleh Lingga, dia menukar keabadiannya dengan dirimu!" Makhluk itu kembali tertawa.


Sari semakin kesal dan semakin menekan kuat jarinya mencekik makhluk itu.


"Kau tahu, aku bisa membunuhmu sekarang hanya dengan satu tebasan aja!"


Dengan suara tercekik makhluk itu berkata, "Aku tahu aku akan mati ditanganmu Sari, tapi tugasku mengambil nyawa kekasihmu belum selesai jadi … aku tidak mungkin kalah!"


Makhluk itu meronta dan melawan dengan menendang Sari, ditepisnya keras tangan Sari hingga cekikannya terurai. Sari terjungkal ke belakang. Matanya berkilat merah.


Racun Airlangga mengambil alih kuasa atas tubuhnya. Sari mengeluarkan geraman. Ia merasakan kekuatan hebat mengambil alih dirinya. Dengan seringai kejam Sari menerjang makhluk jelek yang berjalan setengah pincang karena sebelah kakinya tampak lebih kecil.


"Mau lari kemana kamu?" Sari menarik pakaian makhluk itu dan membantingnya dengan cepat ke lantai.


Makhluk itu menggigit tangan Sari dengan kuat hingga terluka dan menendang perutnya. Ia mendorong tubuh Sari dengan kasar, dan berusaha menghujamkan belati tepat di jantung Sari.


Sari menahan belati tajam itu dengan tangan kanan. Jelas saja tangannya terluka dan meneteskan darah cukup banyak. Mata Sari kembali berkilau merah, tetesan darah itu membuatnya lapar seketika. Ia menelan ludahnya kasar dan mulai mencium manisnya darah.


Makhluk itu tertawa dengan sombongnya dan mengejek Sari. "Lihat darah ini Sari, menggiurkan bukan?! Cobalah sedikit saja dan rasakan nikmatnya?"


Makhluk itu mengarahkan tangan yang penuh dengan tetesan darah mendekati mulut Sari, memaksa Sari mengikuti kemauannya. Sari sekuat tenaga menahan. Tapi rasa haus dan wangi darah seolah memanggilnya.


No, aku nggak boleh ngerasain darah! Lingga sudah kasih aku peringatan, aku harus cari penawarnya bukan mencicipi darahku sendiri! Sial!


Sari berusaha memalingkan wajahnya dari tetesan darah itu, tangan kiri Sari yang bebas terangkat mengambil kujang Siliwangi miliknya dari dimensi lain. Energi dari kujang masuk melalui tangannya bagaikan aliran listrik tegangan tinggi yang membangkitkan sel-sel mutasi dalam tubuh Sari.


Kilatan mata Sari berubah menjadi biru, dan ia menjelma kembali menjadi Dewi kematian. Dalam satu kali kedipan mata saja kujang itu telah menembus jantung makhluk kegelapan yang masih ada diatas tubuh Sari.


Makhluk itu melotot menatap Sari tak percaya, tangannya bahkan masih memegang belati saat ia ambruk ke samping. Perlahan cahaya kebiruan tampak menyebar dari jantungnya ke seluruh tubuh. Membuat retakan yang mengerikan dan sejurus kemudian tubuh makhluk itu lebur menjadi debu.


Sari mengatur nafasnya dan perlahan duduk sambil menatap luka menganga ditelapak tangannya. Matanya masih berwarna kebiruan saat perlahan luka itu menutup sempurna dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.


Cahaya kebiruan itu kemudian meredup bersamaan dengan hilangnya luka dan Sari kembali normal. "Tanganku …,"


Ia mengerjap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Luka besar dan lebar yang tadi terlihat begitu menggiurkan dengan darah menetes kini sudah tak terlihat lagi.


"Lukanya hilang tanpa bekas … apa yang terjadi, apa aku …,"


Sari belum melanjutkan perkataannya ketika sebuah suara memberikan jawaban.


"Selamat Sari, kamu telah menghabisi makhluk itu … silahkan ikuti kami!"


Sari menatap ke arah makhluk tadi yang kini telah berubah menjadi onggokan debu. Ia menoleh pada ketiga pria dengan baju aneh itu.


"Tunggu jelasin dulu ke saya, kenapa saya harus ikuti kemauan kalian?! Lagian ujian apa lagi sih!" Sari mulai kesal.


"Pilihan hanya ada dua … menjadi penghuni alam lelembut atau menjadi kesatria baru?! Tentukan pilihanmu Sari, karena nyawa temanmu dalam bahaya sekarang!"


Eeh, apa maksudnya? Ada opsi tambahan lain nggak ni?!