Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 101


Secara sadar, Lingga tidak memang tidak berniat melawan Sari. Lingga tidak butuh pertarungan, dia hanya butuh untuk mengakhiri kutukan.


Jadi, saat Sari berada tepat di depannya dengan pedang melintang di dada, Lingga tersenyum masam menantikan kematiannya.


Untuk memberi Sari kepuasan, Lingga sedikit mengatur energi dan membuat strategi melawan seperlunya. Dia harus bergerak cepat sebelum Airlangga datang menyelamatkannya.


Lingga langsung menerjang dengan setengah kekuatan, menangkis beberapa kali saat Sari menyerangnya agar terlihat alami. Hingga di satu titik, dua energi berbenturan dengan keras. 


Sari merasakan nyeri di dada, sementara Lingga terpental tiga meter dan jatuh dalam posisi terlentang. Darah mengucur dari mulut dan hidungnya.


"Not bad, Sari!" ejek Lingga dengan sengaja.


"Itu untuk Bagas!" jawab Sari sengit.


"Oh ya … cinta memang gila, sayangnya kau juga harus menderita seperti ku, harus melihat banyak kehilangan!" Tawa Lingga menggelegar menghina, memancing Sari agar semakin berada dalam puncak amarah.


Berhasil, Lingga berhasil membuat Sari merah padam dan melompat tinggi dengan satu tusukan menukik tajam ke arah jantung Lingga. 


Namun, sekelebat bayangan menubruk Lingga dan memeluk tubuh pria yang masih terlentang itu dengan sangat cepat. Tak ayal, pedang Sengkayana yang sudah diisi tenaga dalam meluncur tanpa bisa dihentikan, menembus punggung wanita hingga ke tubuh yang dipeluknya erat.


"Lita?!" pekik Sari frustasi. Bagaimana mungkin perempuan yang membantunya memilih melindungi kekasihnya dengan cara yang sangat ekstrim? 


"Terima kasih, Sar! Kau telah mempersatukan cinta kami selamanya," kata Lita putus-putus. 


Sementara Lingga hanya mengangguk pelan pada Sari. Tidak lagi memperdulikan sekitarnya yang mulai gelap. Tangannya merengkuh tubuh yang ada diatasnya, membalas pelukan erat Lita hingga akhirnya kedua tangannya terkulai lemah ke samping. 


"Kematian yang sangat indah," desis Lingga di detik terakhir kehilangan keabadian, jiwanya pergi bersama kutukan yang sudah menemaninya selama ratusan tahun. Asap hitam keluar dari tubuh Lingga dan Lita, lalu keduanya hilang begitu saja dari pandangan.


Airlangga menjerit marah dalam tubuh monsternya, hanya sepersekian detik dia datang setelah Lingga dan Lita meninggalkannya. 


Bagi Airlangga yang memiliki kekuatan iblis, Doni bukanlah lawan sebanding. Begitu juga dengan penjaganya. Dia terlalu mudah membuat mereka kalah, bahkan terlalu cepat menurut perhitungannya. 


Namun, situasi akhirnya memaksa Airlangga untuk menolong Lingga, dia masih sempat berpikir kalau Lita pasti akan menyelamatkan kakaknya karena cinta, bukan ikut mati mengakhiri keabadiannya dengan menjadi perisai daging bagi Lingga. Dan semua sudah sangat terlambat sekarang. Airlangga murka.


"Sari! Kau harus membayar semua ini dengan penderitaanmu!" 


Airlangga menyeret tubuh Doni yang sudah sekarat seperti sampah tak berguna, melemparkannya ke depan Sari dengan senyum terluka. Airlangga berniat menghabisi Sari yang sedang terguncang jiwanya.


Sari terkejut melihat kondisi Doni dengan luka menganga di dada dan bagian tubuh lainnya. Sari beralih ke arah keempat penjaganya yang juga terluka parah. Mereka berempat dengan susah payah berusaha berdiri dengan tubuh penuh luka persis seperti Doni.


"Kurang ajar, kau juga harus menyusul kembaranmu Airlangga!"


Tanpa menunggu lagi Sari menyerang Airlangga dengan pedang Sengkayana di tangannya yang memijar panas bak lava. Airlangga terus berkelit dan mencoba menghindar dari jilatan energi panas yang keluar dari ujung mata pedang Sengkayana.


"Ini gila, Lingga benar pedang itu adalah pembunuh immortal! Tubuhku bahkan terasa kaku meski hanya terpapar energi panasnya saja!" batin Airlangga cemas.


"Jangan menghindar dariku Airlangga!" Sari kesal karena Airlangga terus mengelak dan berkelit dari serangannya.


Sari terus menghujani Airlangga dengan sabetan energi pedang Sengkayana. Hingga akhirnya Airlangga lengah dan Sari berhasil merobek salah satu sayapnya.


Airlangga meraung kesakitan, sayapnya terbakar hampir separuh. Tangannya melepuh terkena sabetan pedang. Energinya seolah terhisap oleh kekuatan pedang Sengkayana.


"Cckk, cuma gitu aja kamu menjerit kesakitan? Kemana larinya keangkuhanmu tadi?!" ejek Sari yang bersiap menghabisi Airlangga hanya dengan satu kali serangan saja.


Gawat, aku bisa mati konyol kalau begini