Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 93


Pedang Sengkayana yang cantik muncul di tangan Sari.


"Ini yang anda cari kan?!" Sari meletakkan pedang itu di meja.


Lingga masih terdiam, dan menatap ke arah pedang itu. 


"Tugas saya sudah selesai! Silahkan urus sisanya sendiri, dan jauhi Bagas! Sedikit saja anda menyentuhnya, saya tidak akan ragu untuk membunuh!" Sari memberikan peringatan pada Lingga.


"Tugasmu belum selesai Sar! Ini belum berakhir meski pedang ini sudah kamu dapatkan!" 


"Apalagi?! Pedang ini sudah saya dapatin, sekarang apa lagi?!" tanya Sari kesal.


"Pedangnya memang sudah ditangan tapi tugasmu mengakhiri kutukan belum selesai, masih ada yang harus kamu lakukan." jawab Lingga santai.


"Jangan bercanda, semua kekacauan ini kalian berdua penyebabnya! Jadi kalian berdua saja yang saling membunuh, saya … tinggal jadi penonton!"


"Kami tidak bisa melakukannya tanpa bantuan kamu. Cuma dengan tangan kamu kutukan ini bisa diakhiri."


"Wat een irritant mannetje!" (Sungguh pria yang menyebalkan!)


"Dat ben ik!" (Itulah saya!)


Good, haruskah aku bunuh dia ditempat ini?! Aku muak lihat tampangnya yang sok keren itu!


"Sepertinya sudah cukup, nggak ada yang harus dibicarakan lagi!" Sari berbalik dan hendak meraih handle pintu saat Lingga mengatakan sesuatu yang membuatnya emosi.


"Pergilah, silahkan mundur! Tapi jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada Bagas dan juga Doni!"


Sari masih dalam posisi membelakangi Lingga, tangannya mengepal kuat menahan amarahnya.


"Saya batalkan perjanjian kita untuk menjaga keselamatan temanmu … terutama Bagas! Kamu tahu Airlangga bahkan sudah siap memburu kedua teman kamu." 


Sari tidak bisa menahan emosinya lagi dengan cepat ia merangsek ke arah Lingga, menarik kasar kerah bajunya dan mendorongnya hingga ke dinding. Matanya kembali berkilat merah.


"Bukannya aku sudah memperingatkan tadi, jangan kalian sentuh mereka! Atau … aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh kalian!"


Bagus, ini yang aku cari Sari! Mereka adalah kelemahanmu! 


Lingga tertawa dalam hati, umpannya termakan oleh Sari.


"Sekali lagi kuingatkan, jangan sentuh mereka!"


"Kalau begitu, penuhi ramalan itu dan mereka bisa terbebas." Lingga tersenyum licik.


"Ik wil mijn handen niet vuil maken met jouw bloed!


(Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah kalian!)


"Ons bloed is zoete Sari, misschien moet je het proeven."


(Darah kami manis Sari, mungkin kamu perlu mencicipinya!)


"Kau …," Sari benar-benar sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.


Sari melepaskan cengkraman tangannya kasar lalu memilih pergi meninggalkan ruangan itu. Ia bahkan melewati dan tidak mengindahkan pertanyaan Saka padanya.


Disaat yang bersamaan Bagas dan Doni juga keluar dari ruangan pak Arya. Mereka saling berpandangan melihat ekspresi rumit di wajah Sari. Tanpa banyak berkomentar mereka menyusul Sari masuk lift.


"Ada apa beb? Kok cemberut gitu?" tanya Bagas perlahan.


"Nothing!" Sari menjawab singkat.


"Kita makan siang dulu gimana Sar, laper ni!" pinta Doni.


"Cckk, tadi bukannya dah sarapan di rumah? Laper lagi?" Sari menatap dengan heran pada Doni.


"Iya, abis diomelin bos Arya laper jadinya. Yuuk makan nasi pecel Bu Sumo, kangen aku lama nggak mampir." ujar Doni yang langsung menarik tangan Sari keluar lift saat terbuka.


"Eeh, tangan … itu tangan Lo ngapain Don!"


Bagas terkesiap saat menyadari Doni telah sukses menggandeng Sari menuju parkiran.


Doni hanya mengejek Bagas dari kejauhan dan kegirangan karena berhasil membuat Bagas menekuk wajahnya.


Warung pecel Bu Sumo begitu ramai karena mereka datang saat waktunya makan siang. Untunglah masih tersisa tempat duduk untuk mereka bertiga. 


Sambil menikmati makan siang Bagas dan Doni terus melemparkan candaan yang membuat Sari tersenyum dan juga sesekali tertawa kecil. Melupakan sejenak kesedihan dan ketegangan yang mereka rasakan.


Tapi semua itu hanya sesaat, Sari tiba-tiba saja merasakan perubahan suasana. Benturan energi asing dengan miliknya begitu kuat. Sari waspada dan mulai melihat ke sekeliling mencari si pemilik energi asing yang dengan nakal menyapanya.


Satu … dua … gawat, lebih dari dua! Apa mereka orang-orang utusan si kembar edan itu?!


"Don …," Sari menyenggol lengan Doni sambil memberi kode.


Doni yang paham dengan maksud Sari mengikuti arah tatapan Sari. Seseorang sedang bersembunyi di luar.


"Ada tamu tak diundang rupanya." gumam Doni.


"Yuuk, buruan kita pulang!" ajak Sari seraya beranjak dari duduknya.


"Eeh, ada apaan sih kok buru-buru gini?" Bagas kebingungan.


"Don't ask beb … yuuk, pulang!"


Sari maksa Bagas berdiri dan mereka bergegas ke mobil. Sesekali Sari melirik ke arah orang misterius itu.


Apa maunya dia? Mengawasi ku atau …,


Sari membawa Bagas dalam pelindung gaib yang otomatis terbentuk saat Sari menggamit lengan Bagas. 


"Don, kamu yang nyetir!" perintah Sari.


Diliputi rasa was-was mereka membawa Bagas kembali ke rumah Sari. Bagas yang masih diliputi kebingungan hanya menuruti langkah Sari.


"Don, bawa Bagas ke dalam!"


"Kamu mau ngapain?" Bagas kembali bertanya 


"Beb, please jangan banyak tanya! Ikut aja sama Doni ke dalam!" Sari melirik sebentar ke arah Bagas.


Para pengintai itu masih mengikuti mereka dan menjaga jarak aman. Sari bisa merasakan keberadaan mereka yang ada di segala penjuru.


Sial! Ini bisa jadi panjang urusannya!