Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 90


Sari termangu di dalam kamar. Ia hanya duduk dan menatap kosong foto dirinya dan tim Journey to the East saat liputan pertama mereka. Saat tim baru dibentuk dan belum menyentuh liputan mistis, murni petualangan.


Tampak Ahmad dan Rara berdiri berdampingan dengan senyum terindah mereka bersama anggota dan kru tim Journey to the East. Mata Sari kembali basah, mengenang saat-saat mereka.


"Andai aku dulu tidak mengusulkan liputan mistis semuanya pasti masih utuh." sesal Sari.


Sari menghela nafas panjang. Ia memutuskan untuk menghabiskan malamnya dengan bermeditasi. Menetralkan rasa dan menenangkan diri.


Paginya Sari merasa lebih baik, ia sudah bersiap untuk mengurus surat pengunduran dirinya.


"Pagi beb, rajin bener udah siap-siap?" sapa Bagas yang baru saja mandi dan menuju ke dapur membuat segelas kopi.


"Mau kopi atau …,"


"Hhmm pagi … kopi item aja Gas, kalo nggak keberatan." sahut Sari tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.


"Low sugar or less sugar?" tanya Bagas lagi.


"Dia less sugar Gas, Lo kagak paham aja niih kesukaan dia!" Doni yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menimpali.


"Kan gue nanya Sari bukan Lo! Nyamber aja kek bensin!"


"Lagian calon imam kagak tau kesukaan calon makmumnya! Niat kagak sih, kalo setengah hati mending buat gue aja Sari!" ledek Doni sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Sari tertawa kecil mendengar ocehan Doni.


"Awas aja kalo berani nikung Lo!" Bagas mengancam dengan kode tangan di leher.


"Jiiiah pake ngancem segala lagak Lo! Gas, gue sekalian buatin kopi pake susu tapi jangan kebanyakan takut gue kemanisan kan repot."


"Ngelunjak ni anak! Bikin sendiri, enak aja nyuruh-nyuruh!"


"Eeits dah sewot amat Lo, sekali kali buatin Napa Gas kan pengen juga dimanja kek Sari?!"


"Diih, ogah bin males!" Bagas membuang muka dan berlalu menuju meja dimana Sari sedang asyik dengan laptopnya.


"Nih kopinya beb, udah siap emang surat pengunduran dirinya?" Bagas duduk disebelah Sari dan mengintip ke layar.


"Hhmm udah, tinggal berangkat aja ni abis sarapan." sahut Sari, tangannya memeriksa kertas yang baru saja di print.


"Kapan mau terbang ke Amsterdam?"


"Aku ikut ya?"


"Hhm, emang visa sama paspor sudah jadi semua?"


"Belum." Bagas menjawab dengan senyuman.


"Hmmm, lagak Lo main ikutan! Surat-surat no diurusin dulu! Termasuk surat buat nikahan Lo besok, jangan sampe nih kejadian batal nikah!"


Doni dengan santainya bicara tanpa melihat ke arah Bagas yang mulai memerah wajahnya karena kesal.


"Ni anak bikin kesel aja dari tadi! Lo ada kerjaan lain kagak sih selain ngerusuh dimari?"


Doni dengan wajah tengilnya berpikir lalu menjawab, "Ehm, kagak!"


"Heem, sok mikir Lo!" Bagas melempar Doni dengan bantal kursi.


Doni pun tertawa melihat tingkahnya yang berhasil membuat Bagas kesal begitu juga dengan Sari.


"Udah … yuuk sarapan terus temenin aku ke kantor buat ketemu pak Arya."


"Iya deh, aku juga udah laper! Daripada makan orang nanti, mending makan …,"


"Makan hati Gas, cocok buat Lo keknya!" lanjut Doni yang kembali memancing emosi Bagas.


Bagas yang hampir membalas Doni buru-buru dibekap mulutnya dengan tangan Sari.


"Stop, mau sampai kapan berantem?!"


Doni tertawa keras sementara Bagas pun protes pada Sari. "Kenapa dibelain sih itu anak, sembrono bener si Doni lepasin beb kudu dikasih pelajaran tu anak!"


"Udah ah, ribut terus kalian!"


"Lah, terakhir kalinya beb! Besok juga aku nggak bisa gituin dia!" Bagas berlalu meninggalkan Sari.


Seketika hati Sari berdesir kencang, kerlipan masa depan kembali berkelebat di matanya.


"Terakhir kali?!" gumamnya sambil melihat ke arah Bagas yang tengah berjalan ke arah Doni dengan geram.


Nggak mungkin kan … nggak, itu nggak mungkin terjadi lagi! Awas saja kalo sampai si kembar gendeng itu menyentuh Bagas ataupun Doni!