Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 21


Sari melangkahkan kaki mundur perlahan menjauhi Rara. Ia bisa merasakan aura iblis yang semakin menguat di tubuh Rara.


Ra, haruskah kita berseberangan? 


Rara menatap Sari tanpa ekspresi, "Sar, kenapa jauhin aku? Kamu takut?"


"Takut? Nggak, mau lipet mukena! Kamu nggak sholat Ra keburu waktunya habis lho?!" Sari berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Lagi dapet!" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari Sari, membuat Sari tidak nyaman.


"Oh, ok. Aku mau tidur dulu bentaran, capek." Sari merebahkan tubuhnya membelakangi Rara.


Sari berpura-pura memejamkan matanya, menunggu reaksi Rara. Namun, ia tidak merasakan pergerakan apa pun dari Rara. Sari memutuskan untuk melihat dari sisi lain dimensi.


Sari tidak menemukan Rara, "Aneh, bukannya tadi dia jelas ada disini? Kemana dia?"


"Sepertinya dia sudah bergabung dengan yang lain." Sang Patih Bimasena menghampiri Sari.


"Aku rasa juga begitu, tapi siapa yang merubah dia jadi begitu?"


"Musuh dalam selimut, musuh dari yang abadi. Hati-hati Sar, yang kamu hadapi sekarang berbeda. Rintangan itu akan datang dari luar dan dalam."


"Oya, wah keren nggak sekalian aja dari atas ma bawah bumi?!" Sari menggerutu.


Bimasena tertawa kecil, "Sanggup ngadepin sendirian?!"


"Cck, ya nggak lah! Apa gunanya saya punya kalian kalo harus ngadepin sendiri!"


Sari terdiam sesaat, "Bimasena, tolong periksa rumah ini?! Aku merasa ada yang nggak beres disini."


"Dari awal kami sudah memeriksa nya untukmu. Rumah ini masih di dalam kuasa Lingga, kamu aman di dalamnya." jawab Bimasena.


"Pak Lingga? Apa menurutmu dia kawan?"


Bimasena menatap Sari, "Dia bisa menjadi kawan dan bisa menjadi musuh, tergantung bagaimana kamu memilih takdirmu untuk berada di sisi yang mana."


Bimasena perlahan menghilang, meninggalkan Sari yang termangu. "Tergantung pada takdir yang aku pilih, bagus another puzzle!"


Sari kembali ke tubuhnya dan tertidur pulas hingga siang hari.


...----------------...


Pak Lingga meminta tim keseluruhan berkumpul, untuk saling berkoordinasi sambil menunggu makan siang yang disiapkan pihak homestay.


"Siang semuanya, saya cuma mau tahu rencana kita hari ini gimana? Bagas?!"


"Sore nanti kita ada janji  dengan salah satu budayawan suku Osing pak. Kita belum follow up lagi, tapi Ahmad sudah kirim pesan ke beliau tadi."


"Ok, terus untuk acara besok gimana?"


"Kita tunggu hasil wawancara dari beliau gimana dulu pak, tujuan kita kan meliput tarian tradisional mereka. Ya semoga aja kedatangan kita bertepatan dengan acara desa jadi bisa langsung bisa kita stok gambar."


Pak Lingga mengangguk, "Saya kasih waktu tiga hari kita disini gimana, setelah itu kita pindah ke Blambangan atau Mojokerto dulu."


"Kita belum bisa pastikan itu pak …"


"Tunggu hasil wawancara?" pak Lingga memotong perkataan Bagas.


"Iya pak. Tapi Mojokerto? Kenapa kesana pak, bukannya nggak ada dalam rencana kemarin?" tanya Bagas yang heran dengan perubahan rencana pak Lingga.


Pak Lingga menatap Sari sejenak, "Ada situs yang dianggap sebagai kerajaan Majapahit disana, saya … pengen jalan-jalan kesana?!"


Doni tersenyum sinis menanggapi pak Lingga lalu berbisik pada Sari, "Hmm, dia kata acara jejak petualang kali pengen jalan-jalan. Susah kalo ngomong ma orang kaya gini." 


"Apa kata dia dah Don, dia yang punya duit kan?" balas Sari


"Iya siiih tapi kan jadi nggak sesuai plan Sar!"


"Halah gayamu Don, pake acara plan segala. Dulu waktu sintren apa kita ngikut plan? Semuanya serba mendadak kan, malah pake acara kita ada tamu dari keluarga nya mas Alaric segala."


"Baik, aku masih suka kirim pesan sama mommy nya. Itu anak spesial bener ya Don, dia punya misi besar di masa depan." 


"Hmm, iya keliatan kok. Pandji itu punya aura yang nggak biasa, banyak yang bakal cari dia mau bangsa lelembut atau manusia." sahut Doni.


"Kenapa kita ngomongin si Pandji sih, Don?" Protes Sari


"Lah ya kagak tau, Lo juga kenapa nyerocos tentang dia? Kangen ya sama si … siapa itu namanya yang godain Lo?"


"Siapa? Tau dah nggak inget namanya. Pesona Pandji lebih menggoda ketimbang dia." Senyum Sari membuat Doni tertawa kecil.


"Ehm, Sari … apa ada yang mau kamu tambahin?!" tanya Pak Lingga yang rupanya sedari tadi memperhatikan Doni dan Sari.


"Eh, saya?? Nggak ada pak, cukup kok. Cuma … boleh nanya kan? Makan siang kapan datang ni pak, saya laper!"


"Astagaaaaaa … Sari!" Bagas tertawa mendengar pertanyaan konyol kekasihnya.


"Wah, Lo mewakili pertanyaan kita semua Sar! Gue juga dah laper nih!" Ahmad ikut menimpali.


"Ya kan kita juga butuh makan kali buat mulai liputan." ujar Sari dengan santai.


Pak Lingga dan kru yang lain hanya tertawa mendengar pertanyaan Sari, dan bersamaan itu makan siang pun datang.


...----------------...


Di sisi lain ruangan, tampak tiga orang asing berbicara dengan serius. Sesekali salah satu dari mereka memeriksa situasi, berjaga-jaga dari orang yang mencuri dengar percakapan.


"Apa mereka targetnya?"


"Iya, aku dengar mereka orang-orang dari stasiun tv. Salah satunya pasti bawa duit banyak!"


"Mereka mau pergi sore ini, itu kesempatan kita?!"


"Bagus, semoga aja kali ini dapet hasil gede!"


Mereka bertiga tertawa, dan keluar dari ruangan itu secara diam-diam. Tanpa mereka bertiga sadari sepasang mata tengah mengawasi mereka dalam gelap, menyeringai membayangkan manisnya darah dari ketiga orang tamak itu.


Sore harinya, keadaan di homestay sepi. Bagas dan timnya sudah menuju ke rumah budayawan suku Osing di sekitar desa Olehsari. Ketiganya masuk dengan mudah ke dalam homestay. Mereka berpencar mencari barang-barang berharga yang sekiranya bisa diambil.


"Wah, lumayan ini ada kamera besar!" teriak salah satu dari mereka saat mendapati tas berisi kamera untuk keperluan liputan.


"Bagus, cari lagi yang lain!" perintah pria dengan tubuh tinggi besar berkulit hitam.


Mereka bertiga kembali mencari dan memasukkan benda-benda incarannya ke dalam karung kecil. Saking asyiknya mencari mereka tidak menyadari kehadiran dua orang yang sedari tadi mengawasi mereka dari balik bayangan.


"Manusia bodoh, rakus, kita habisi mereka sekarang!" 


Dalam hitungan detik mereka berdua telah berdiri di tengah ruangan bersiap menyergap mangsa empuk, para pencuri kelas teri.


"Apa masih banyak yang mau kalian ambil?" yanya salah satu dari makhluk haus darah itu.


Para pencuri itu terkejut, dan gemetar melihat wajah pucat yang menyeringai pada mereka dengan gigi tajamnya.


"S-setan … " 


"Siapa? Kami? No, kami bukan setan tapi … kami butuh darah kalian!"


Tanpa memberi peringatan kedua makhluk itu menyerang ketiga pencuri dengan cepat.  Para pencuri itu melawan dengan senjata tajam yang dibawanya tapi kekuatan mereka tidak sebanding dengan kedua makhluk penghisap darah yang kelaparan. 


Perlawanan mereka sia-sia, kedua makhluk itu menghadang dan menggigit leher, mengoyak dan menghisap habis darah ketiganya. Jerit kesakitan dan lolongan panjang kematian mereka perlahan menghilang. Ketiganya telah menjemput ajal mereka sendiri dengan memasuki rumah yang salah.


Kedua makhluk itu menghabisi ketiganya dengan mudah. Yang tersisa hanya cipratan darah di lantai dan dinding rumah, serta tubuh-tubuh yang terbujur kaku dengan leher terluka.


"Bereskan mayat mereka segera!" Perintah salah satu dari makhluk kegelapan itu kepada pengikutnya yang sedari tadi memperhatikan dari jauh.


"Jangan ada jejak yang tersisa! Aku tidak ingin rencana kita sia-sia!"