
Malam itu Bagas dan pak Lingga membicarakan banyak hal tentang apa yang akan mereka hadapi bersama kedepannya selama liputan. Bagas yang masih belum bisa menerima kenyataan tentang lawan yang dihadapi terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada pak Lingga.
Pak Lingga berusaha menjawab semua pertanyaan Bagas dengan sabar. Ia telah melewati banyak kehidupan selama ratusan tahun, meski sulit dipercaya akal sehat tapi itulah yang terjadi. Kutukan sang prabu yang dibalut kesedihan telah menjadi kontrak mati bagi pak Lingga dan juga Airlangga.
"Apa ada lagi yang mau ditanyakan lagi?" tanya pak Lingga dengan senyuman terukir di sudut bibirnya.
"Sebenarnya masih banyak … entahlah, saya masih sulit menerima hal ini pak?" jawab Bagas dengan menghela nafas berat.
Pak Lingga menatap Bagas dan tersenyum. "Wajar kalo kamu bingung, saya tidak bisa meminta kamu percaya tapi setidaknya percayalah satu hal. Saya akan melindungi kalian, sampai waktunya tiba."
"Kami bisa menjaga diri pak, tenang saja!" sahut Bagas dengan nada sedikit meninggi.
"Bagus jika itu yang ada dalam pikiranmu, tapi apa kamu yakin bisa menandingi kekuatan mereka? Yang kamu hadapi bukan manusia biasa Gas?!"
"Saya yakin bisa." jawab Bagas singkat meskipun hatinya juga meragukan hal itu.
Pak Lingga kembali tersenyum tipis. Pemuda tampan di depannya ini sungguh keras kepala, ia bahkan tidak menerima penjelasan pak Lingga sedikit pun.
Dasar keras kepala! Kita lihat sejauh apa kamu mempertahankan pendapatmu Bagas!
Bagas dan pak Lingga saling bertatapan untuk sesaat seolah saling mengetahui isi hati dan pikiran masing-masing.
"Ccckk, ok! Saya pikir kita harus bikin kesepakatan juga?!"
"Ok, nggak masalah! Apa yang mau kamu ajukan ke saya?!" Pak Lingga menanggapi Bagas.
"Jangan pernah sakiti Sari! Saya hormati keputusannya membantu bapak, tapi tolong lindungi dia dengan baik." Bagas terdiam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan kembali perkataannya.
"Saya akui, saya tidak mampu menjaga dia dengan situasi yang kita hadapi ini jadi … keselamatan Sari dan juga tim, saya serahkan penuh pada Bapak."
"Lalu imbal baliknya?" Pak Lingga menanyakan hal yang harus ia berikan sebagai balasan bantuan Sari.
"Simple, bayaran kami jadi tiga kali lipat dari sebelumnya! Ya itung-itung buat modal nikah saya dengan Sari besok?! Lagipula, liputan kali ini juga nggak gampang kan?" jawab Bagas dengan seringai licik.
Pak Lingga tertawa mendengarnya, "Wah saya nggak nyangka lho, kamu minta bayaran tripel begini? But ok, itu adil."
Pak Lingga mengeluarkan ponselnya, memainkan dengan apik layar ponsel mahal miliknya. Tak lama kemudian sebuah pesan m-banking di ponsel Bagas masuk. Sejumlah uang dengan nominal fantastis telah masuk ke rekening Bagas.
Bagas terbelalak, ia tidak menyangka permintaannya langsung direspon baik oleh pak Lingga, "Ini …"
"Ini bayaran kamu untuk tiga bulan kedepan, anggap saja kado pernikahan kalian dari saya." jawab Pak Lingga enteng.
"Tapi maksud saya juga nggak sebanyak ini pak!"
"Kenapa, kurang? Saya bisa tambahin lagi, butuh tunai atau …"
Bagas hendak melanjutkan perkataannya ketika terdengar teriakan histeris yang menggelegar dari dalam rumah.
"Gas … Bagas! Edyan, rejeki nomplok Iki Gas! Sopo sing kirim duit sak mene akehe to!" Ahmad berteriak layaknya dapat undian lotre
(Gas ... Bagas! Gila, rejeki dadakan ini Gas! Siapa yang kirim uang segini banyak!)
Bagas mengernyit dan melirik pak Lingga yang tengah tersenyum lebar.
"Apaan to Mad?!" tanya Bagas basa basi.
"Iki lho, aku entuk transferan duit akeh men! Weh lah, Sido tuku motor anyar ki aku Gas!" sahut Ahmad dengan mata berbinar.
(ini lho, aku dapat transferan uang banyak bener! wah, jadi beli motor baru ini aku Gas!)
"Ontaaa … ada apaan sih! Berisik bener gue tinggal bentaran ke kamar mandi Lo teriak teriak nggak jelas gitu!" tanya Doni menyusul Ahmad ke teras rumah.
"Iki lho Don, enek rejeki nomplok! Jal cek hp mu Ono transferan duit rak!" (Ini lho Don, ada rejeki! coba hp mu dilihat ada transferan uang nggak!)
Doni bingung, ia merogoh kantongnya dan mengambil ponsel miliknya. Sama seperti Ahmad matanya seketika membola sempurna, kaget.
"Edyan, he eh ik … sopo sing transfer?" (gila, iya lho ... siapa yang transfer?)
"Saya!" sahut pak Lingga.
"Itu hanya sejumlah uang panjar dari saya, dan saya pastikan setelah semua selesai akan ada bonus untuk kalian." katanya lagi.
Mereka bertiga hanya saling bersitatap dengan ekspresi rumit. Sejumlah uang yang menyentuh sembilan digit itu membuat mereka terhenyak.
"Gue nggak maksud deh ini!" kata Doni serius.
"Dah Lo diem aja dulu deh, yang penting sekarang kita pikirkan liputan … dan juga keselamatan Sari." ujar Bagas menatap Doni dan Ahmad bergantian.
"Sari? Kenapa ma dia? Ada apa ini?" Doni bertanya skeptis.
"Nanti gue jelasin, udah malam kita harus istirahat. Besok kita berangkat ke situs budaya di Trowulan, sambil nunggu kabar Kang Pur!" perintah Bagas seraya berlalu masuk meninggalkan mereka.
Doni dan Ahmad hanya bisa saling menatap dan mengikuti ketua timnya itu, meninggalkan pak Lingga yang masih duduk termangu di kursinya.
Maaf semuanya, yang kalian hadapi akan lebih menakutkan dari perkiraan … hanya Sari dan saya yang bisa mengatasinya, saya bahkan tidak yakin dengan keselamatan kalian!
Pak Lingga menghela nafas sejenak, "Anggap aja itu bagian dari kompensasi hidup kalian … maaf!" gumamnya lirih