Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 92


Sari menyodorkan surat pengunduran dirinya pada pak Arya. Sementara Lingga masih menatap Sari dengan tajam.


"Apa ini Sar, kamu … serius?"


"Ya pak, saya serius. Saya mengundurkan diri dari liputan dan sebagai karyawan disini." jawab Sari tegas dan yakin.


Lingga gusar, dan pak Arya melonjak tak percaya. Sari selama ini sudah seperti otaknya divisi,  kehilangan Sari jelas akan sangat berpengaruh dalam kinerja divisi yang dipimpin pak Arya.


"Nggak, saya nggak setuju ini!" Pak Arya dengan kasar mengembalikan kertas yang diajukan Sari.


"Kamu salah satu karyawan terbaik saya, apa alasan kamu mundur? Apa karena liputan itu?" Pak Arya mencerca Sari dengan pertanyaan menyelidik.


Sari menatap ke arah Lingga dan Bagas secara bergantian lalu ia menjawab pertanyaan pak Arya.


"Saya cuma mau istirahat, saya capek dan ya bapak benar ini karena liputan itu."


"Kalo alasan kamu karena liputan itu, saya bisa pindahin kamu ke bagian lain tapi untuk resign … saya tolak!" Pak Arya dengan tegas menolak keinginan Sari.


"Tapi pak, saya …,"


"Nggak ada tapi tapian lagi! Kalo kamu mau cuti buat istirahat saya kasih kamu waktu dua minggu, habis itu kamu tetap ngantor disini!" Pak Arya tidak main-main dengan perkataannya. Ia benar-benar membutuhkan Sari.


Sari sudah menduga ini akan sulit, pak Arya tidak akan menyetujuinya dengan mudah.


"Baik, saya cancel pengunduran diri saya. Saya juga akan kembali bekerja disini tapi dengan satu syarat, saya tidak mau kembali masuk dalam tim Journey to the East!" ujar Sari sambil menatap tajam Lingga yang bahkan tidak berkedip menatap Sari dari tadi.


Pak Arya menatap Lingga dan Saka sejenak, ia menunggu respon Lingga sebagai sponsor utama.


"Bagaimana Pak Lingga?"


"Baiklah, jika itu kemauan Sari. Saya setuju saja." jawaban Lingga sungguh mengejutkan Saka.


"Tapi pak …," Lingga mengangkat tangannya menghentikan Saka bicara.


"Tapi sebelumnya, saya ingin bicara secara pribadi terlebih dahulu dengan Sari. Bisa?" Lingga bertanya dengan tatapan dingin.


Lingga menarik senyum dengan paksa di bibirnya. "Hanya sepuluh menit saja, dan jangan takut soal setan … bukannya kita berdua sudah melebihi dari itu?"


Ya … ya, kita berdua bahkan melebihi ras manusia dan iblis sekalipun! batin Sari kesal.


"Itu urusan kalian berdua yang jelas, saya tolak surat pengunduran kamu Sar!" Pak Arya langsung menyambar perkataan Lingga tanpa bertanya pada Sari.


"Kalian coba bicara di ruangan lain! Doni, Bagas saya mau bicara sama kalian. Penting!" Pak Arya tampak begitu emosi.


Lingga dan Saka pergi meninggalkan ruangan diikuti Sari. Mereka menuju ruangan yang memang disediakan khusus untuk Lingga dan timnya dulu.


"Kamu tunggu diluar, saya mau berdua aja sama Sari!"


Saka mengangguk dan berjaga di luar pintu ruangan bak seorang bodyguard. Sari melirik ke arah Saka sepintas sebelum memasuki ruangan.


"Penting banget emangnya sampai kita harus bicara berdua gini?!" tanya Sari segera setelah pintu tertutup.


Lingga mendengus berat, lalu melipat kedua tangannya didada.


"Yakin mau berhenti?"


"Saya nggak pernah menjilat ludah sendiri." jawab Sari datar.


"Perjanjian itu mengikat kamu Sar!"


"I know."


"Terus kenapa kamu mundur? Airlangga akan tetap mengejar kamu!"


"Begitu juga dengan anda kan?" Sari balik bertanya.


"Saya hanya tidak mau ada yang harus mati lagi. Saya hanya ingin melindungi orang yang saya sayangi!" kata Sari lagi.


Mata Sari berkilat kemerahan, tangannya menarik pedang Sengkayana dari tempatnya. Portal dimensi terbuka dan menimbulkan kilatan cahaya seperti aliran listrik tegangan tinggi. Pedang Sengkayana yang cantik muncul di tangan Sari.