
Sari dan tim Journey to the East akhirnya tiba di kota Banyuwangi. Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Pak Lingga rupanya telah menyewa sebuah homestay sementara selama mereka melakukan liputan di kota Banyuwangi.
Homestay nan asri yang terletak tak jauh dari pusat kota Banyuwangi, memiliki tiga kamar tidur yang cukup luas untuk ditempati tim Journey to the East. Adzan subuh berkumandang saat mereka tiba di homestay.
Sari turun dengan mata yang masih mengantuk, saat sesuatu menabrak dirinya dengan sengaja.
"Eh, maaf?!" Sari meminta maaf, ia mengerjapkan matanya tapi tidak menemukan apa pun.
"Lho kok, nggak ada?!" Sari kebingungan.
"Kenapa Sar?" tanya Doni yang melihatnya bingung.
"Don, tadi … apa yang nabrak aku?"
"Mana? Nggak ada?!" jawab Doni.
"Kamu nggak liat? Serius?"
"Iya, aku kan baru turun Sar … tapi, memang ada yang aneh. Aku ngerasa ni rumah apa ya…different?"
Sari dan Doni menatap ke arah homestay yang akan mereka tempati selama beberapa hari ke depan. "Don, perasaanku aja apa emang kamu lihat juga nih? Itu serius ada yang pake ayunan di lantai atas?"
"Yup, dan dia sepertinya nggak ramah." sahut Doni sambil terus menatap ke arah makhluk berbaju putih yang sedang asyik bergelantungan layaknya bermain ayunan.
"Alamak, mimpi apa kita dijalan tadi Don?! Apes bener dapet homestay sarang demit begini?"
"Yup, biasanya demit denger adzan lari ini masih nangkring Sar. Luar binasa ni demit!"
"Jangan-jangan bukan demit, orang kali?"
"Mana ada orang gelantungan gitu Sar?"
"Atau …" mereka berdua saling berpandangan. "Vampir?"
"Iish dah ah ngaco ni lama-lama kita, yuk ah masuk ngantuk mau tidur?!" ajak Sari.
"Jangan diliatin terus Sar, ge-er ntar tu demit!" Doni mengingatkan.
"Siapa juga yang mau liatin dia, males!"
Sari dan Doni masuk ke dalam rumah dan mengindahkan kehadiran makhluk itu. Dari ketinggian makhluk itu menyeringai di balik rambutnya yang tergerai panjang.
"Jadi dia, tamu agung itu? Menarik … sayang dia miliknya, seandainya bukan dia akan jadi milikku yang berharga." Tawanya terdengar mengerikan, membuat siapa pun yang bisa mendengarnya meremang.
"Sar, kamu ma Rara di kamar tengah aja biar aku ma yang lain tidur disini aja." Bagas membantu Sari melepaskan tas punggungnya.
"Oke, eh tapi si Rara kemana ya kok aku nda liat dia? Apa udah masuk ke kamar?"
"Mungkin dah dikamar, masuk aja gih!" sahut Bagas.
Sari mengikuti Bagas menuju ke kamar yang dimaksud, kosong. Sari tidak menemukan sosok teman wanitanya itu. "Kemana dia ya, diluar juga nggak ada?!"
"Lagi keluar bentar kali beb, kamu istirahat aja dulu nanti juga dia nyusul."
"Iya deh, aku mau sholat dulu baru tidur lagi. Oh ya jam berapa kita janjian sama budayawan itu Gas?"
"Sore kok, sekitar jam empat mungkin. Nanti kita bikin janji ulang dulu ma dia." Bagas meletakkan tas punggung Sari tak jauh dari tempat tidur.
Bagas memeluk Sari dari belakang dan mencium pipi Sari lembut, ia memeluk Sari untuk beberapa saat sebelum kembali menghujani Sari dengan ciuman, "Aku keluar dulu ya?!"
Sari mengangguk dan tersenyum, Bagas masih memeluk Sari dengan erat saat Doni masuk tiba-tiba, "Astaghfirullah … ternoda mata jomblo gue!"
"Cckk, Lo ganggu aja sih Don! Kalo mau masuk ketok pintu dulu Napa?!" Bagas yang terkejut mengurai pelukannya pada Sari.
"Eh, gimana mo ketok pintu orang pintunya dah kebuka ngejablak begini! Lah Lo berdua aja yang pake adegan mesra kek Titanic gitu!" Doni mengelak.
"Makanya cari pacar, biar kagak jadi jomblo permanen!" sahut Bagas menghampiri Doni dan sukses mendaratkan toyoran kepala pada sahabatnya itu.
"Gue juga dah usaha Gas cari pacar, sayang gue terlalu eksotik buat ngegaet cewek cakep!"
"Dah jangan berisik, sholat sana!" Sari mengingatkan mereka berdua, yang terus berbalas kata.
Sari bergegas melakukan sholat dua rakaat sebelum waktunya habis. Hembusan angin kecil menerpa wajahnya berusaha mengganggu konsentrasi Sari dalam menunaikan ibadahnya.
Sari tidak bergeming, ia tetap melanjutkan ibadahnya hingga ke rakaat terakhir, dan ketika selesai melakukan salam di akhir rakaat Sari dikejutkan dengan Rara yang tiba-tiba saja ada di belakang Sari.
"Astaghfirullah … Rara?!"
Rara duduk tepat di samping kiri sisi ranjang dengan wajah pucatnya. "Ra, kamu kenapa? Aku cariin dari tadi nggak ada?!"
Rara tidak merespon pertanyaan Sari, ia hanya duduk terdiam. Sari yang heran kembali bertanya, "Ra, kamu sakit? Kok pucet banget gini? Tangan kamu juga dingin banget, masuk angin?"
Rara hanya merespon dengan lirikan mata dari balik kacamata minusnya. Lirikan yang membuat Sari bergidik ngeri, mata Rara berkilat merah.
Ra … haruskah kita menjadi musuh?