Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 48


Malam semakin larut seorang pria berbadan tegap dan rambut cepak tampak menyusuri gelapnya malam. Sendiri.


Pria tampan dengan sedikit jambang dan kumis tipis menghiasi wajahnya itu tampak seperti pria matang dengan umur 30 tahunan. Tidak ada yang mengira jika usianya telah mencapai ratusan tahun. Dialah Lingga Aji Candrakanta.


Dia dilahirkan dari seorang ibu yang memiliki gelar kebangsawanan di masa kerajaan Majapahit. Tapi dia tidak sendiri, ia memiliki saudara kembar meski wajah mereka tidak serupa. Airlangga Bayu Candrakanta.


Lingga dan Airlangga sesungguhnya bersaudara. Mereka dilahirkan dari rahim yang sama. Karena kasta sosial mereka yang cukup tinggi, Lingga dan Airlangga dididik oleh para kesatria yang mumpuni di kerajaan Majapahit.


Ayahanda mereka telah melihat bakat yang luar biasa dari kedua putra kembarnya. Aura kesatria mereka begitu kuat hingga ia cukup percaya diri mendaftarkan kedua putranya sebagai bagian dari telik sandi Majapahit.


Kemampuan Lingga dan Airlangga sungguh luar biasa, ilmu kanuragan mereka juga tidak tergolong rendahan. Hingga akhirnya sang Mahapatih Gajahmada mempercayakan keduanya sebagai bagian dari pasukan khusus yang mengawal raja dan keluarganya.


Saat terjadinya perang Bubat Lingga dan Airlangga ditugaskan secara khusus oleh Prabu Hayam Wuruk sebagai pengawal putri Dyah Pitaloka, namun sayang tugas mereka gagal dan mengakibatkan sang putri bunuh diri demi kehormatan maharaja Linggabuana.


Kutukan berlapis yang dilontarkan prabu Hayam Wuruk dan juga Ratu Pasundan telah membuat mereka berdua menerima hukuman kesengsaraan. Keabadian tanpa batas.


Awalnya Lingga dan Airlangga tidak begitu menyadari keadaan aneh yang mereka alami. Mereka tidak mengalami perubahan fisik apa pun, tidak menua dan tidak pernah bisa terluka secara fisik. Mereka hanya bisa menyaksikan orang-orang disekelilingnya menua dan mati. Itu sangat menyakitkan.


Kejadian itu terus menerus berulang selama bertahun tahun, membuat mereka berdua lelah dan menderita dalam diamnya. Hingga akhirnya pada suatu masa, mereka berdua dipertemukan oleh seorang wanita tua yang meramalkan akan seorang wanita yang akan mengakhiri kutukan mengerikan itu.


"Akan ada hari dimana dua dunia menjadi satu dalam raga sang wanodya, dengan empat penjaga yang melindunginya."


Lingga dan Airlangga yang kala itu masih akur dan bersama hanya bisa saling berpandangan. Keduanya bingung menatap wanita tua dengan rambut yang hampir memutih seluruh, memakai kemben dengan tabut putih menyelimuti kedua bola matanya.


"Apa maksud nenek, apa dia bisa membebaskan kami dari siksaan ini?" tanya Airlangga dengan sejuta harapan.


Wanita tua itu mengangguk, ia kemudian berkata. "Kalian akan menemukannya, tapi ketika hari itu terjadi akan banyak korban jiwa sebagai gantinya."


"Perang?" tanya Lingga.


"Jadi … kami bisa terbebas?" tanya Airlangga dengan perasaan penuh suka cita.


Wanita itu menatap keduanya meski tidak bisa melihat. Netranya seolah mampu melihat mereka satu dunia gelap yang menemaninya. 


"Ya, jika ia bersedia dengan sukarela melakukan pertukaran."


"Pertukaran apa yang anda maksud Nek?" tanya Airlangga lagi dengan tidak sabar.


"Menyerahkan sifat manusianya, dan menggantikan salah satu dari kalian."


Lingga dan Airlangga saling menatap, mereka yang sama-sama lelah dengan kutukan itu seolah ingin mengatakan, "Aku yang lebih berhak bebas!"


Perkataan peramal tua yang tersohor pada masa kerajaan Mataram itu pun menyemaikan bibit permusuhan diantara keduanya. Mereka tidak menyadari bahwa ada sosok perempuan tua lain yang mencuri dengar dari balik bilik.


Aura mistis yang menguar dari tubuh keduanya membuat wanita tua yang terlihat ramah itu memiliki niat jahat. Ia ingin memiliki salah satu diantara kedua manusia abadi itu untuk menjadi pengikutnya.


Dan satu satunya cara untuk memisahkan mereka adalah meracuni pikiran keduanya untuk saling bermusuhan. Ia tersenyum sesaat ketika melihat Lingga dan Airlangga saling memandang dari tempat persembunyiannya.


Nenek Surti, wanita tua yang mencuri dengar pembicaraan antara  Lingga, Airlangga dan wanita peramal itu bergegas mendekatinya saat mereka keluar dari rumah sang peramal. Dengan dalih menawarkan bantuan untuk mencari wanita dalam ramalan, ia mengajak keduanya mampir ke gubuknya. Nek Surti menyuguhkan makanan dan minuman pada keduanya.


Lingga dan Airlangga yang tidak curiga pun dengan lahap menyantap hidangan dari nenek Surti. Tanpa mereka ketahui nenek Surti telah mengubah wujud makanan itu.


Air yang mereka minum, adalah darah manusia segar dan daging yang disantapnya dengan lahap tentu saja bagian dari tubuh manusia. Ya … nenek Surti adalah jelmaan dari iblis betina pemangsa manusia. 


Usianya pun sama telah berabad abad lamanya. Kehadiran kedua manusia abadi itu adalah mangsa empuk baginya untuk memiliki pengikut.