
Airlangga melirik ke arah Saka yang berlindung di balik pohon besar, ia menyeringai padanya. Dengan sisa tenaganya Airlangga mencoba berdiri, ia lalu menuju ke arah Saka dengan cepat. Gerakannya tak terduga dan tidak diprediksi Sari.
Saka yang sedari tadi mengintip pertarungan Sari dan Airlangga terkejut karena merasa tubuhnya tiba-tiba saja terangkat tinggi dari atas tanah.
"Eh apa yang terjadi?" Saka berteriak kebingungan.
Yang selanjutnya ia dengar hanya suara tawa serak yang begitu keras milik Airlangga. Pusaran angin kencang tiba-tiba saja muncul mengelilingi dirinya. Sari langsung memburu Airlangga, ia tidak ingin jatuh korban lagi.
"Lepaskan dia, makhluk jelek!"
Airlangga tertawa, "Dengan senang hati!"
Airlangga mengangkat tubuh Saka dengan pusaran angin yang dibuatnya lalu melemparkan tubuh Saka dengan kuat ke arah Sari.
Sari cukup dibuat kewalahan dengan pusaran angin itu, tapi ia berhasil menangkap tubuh Saka.
"Makasih mbak Sari!" ucap Saka ketika kakinya sudah menjejak tanah dengan sempurna.
Wajahnya pucat pasi karena takut.
"Mas Saka baik-baik saja kan, nggak ada yang luka?"
"Iya mbak, sehat wal afiat saya." jawab Saka sembari mengecek seluruh tubuhnya.
"Menjauh dari sini dan tolong jaga Doni!"
Saka mengangguk, Sari hendak mengejar Airlangga dan berlari ke arah yang berlawanan. Tapi sayangnya, Sari kehilangan jejak.
"Sial! Dia mengecohku! Tapi setidaknya aku sudah melukainya!"
Sari memastikan sekali lagi, mencari jejak energi Airlangga. Dia benar-benar menghilang. Sari mendengus kesal dan segera berlari menghampiri Doni dan Saka.
Sari memeriksa denyut nadi Doni, "Syukurlah Doni masih selamat."
Sari kemudian berjalan gontai mendekati jasad Bagas. Ia jatuh terduduk lemas di depan Bagas yang terbujur kaku di depannya. Direngkuhnya Bagas dalam pelukannya, Sari menangis dan menciumi wajah Bagas. Energinya yang tadi begitu besar dalam bertarung seketika lenyap.
...----------------...
Sari berulang kali mengusap air matanya. Dirinya mendampingi ibunda Bagas yang duduk lemas di kursi rodanya. Matanya kosong menatap jasad Bagas yang siap diberangkatkan ke pemakaman. Lantunan adzan mengiringi keberangkatan jenazah.
Sari berjalan gontai dengan pakaian serba hitam membalut tubuhnya. Sesekali ia menerima jabat tangan dari rekan sejawatnya yang menyampaikan belasungkawa. Sari berusaha tegar menerima takdir Bagas.
Pemakaman Bagas telah usai, para pelayat satu persatu berjalan meninggalkan area pemakaman. Sari masih berjongkok di samping nisan Bagas. Matanya sembab bersembunyi di balik kacamata hitam. Airmata Sari masih sesekali membasahi pipinya.
"Sar, ikhlasin Bagas." Suara lembut menyapanya dan membawanya dalam pelukan.
Mom Adeline baru saja datang dan langsung menuju makam. Ia begitu terluka melihat anak gadis semata wayangnya menangis dalam pilu di depan makam tunangannya.
"Mam, Sari heeft Bagas niet beschermd
(Mom Sari gagal melindungi Bagas)
Mom Adeline diam dan mengusap lembut punggung Sari.
"Je hebt niet gefaald schat, dit is Gods lot."
(Kamu nggak gagal sayang, ini adalah takdir Tuhan)
Sari kembali menangis. Dad Barend ikut memeluk putrinya. Beliau juga ikut meneteskan air mata. Larut dalam kesedihan Sari.
"Kita pulang ya, hampir gelap ini nggak baik terlalu lama disini." ajak Mom Adeline.
Sari mengangguk dan mencium nisan Bagas sekali lagi.
"Slaap zacht daar schat, ik hou zoveel van je."
(Tidurlah dengan tenang disana sayang, aku akan selalu menyayangimu.)
Sari pulang ke rumahnya setelah sebelumnya berpamitan dengan keluarga Bagas. Sepanjang jalan Sari tertidur, ia lelah. Jiwanya terguncang, kehilangan rekannya dan juga tunangannya membuatnya trauma berat.