Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 40


Mobil pak Lingga memasuki pelataran homestay. Pak Lingga menanti Sari dan timnya ditemani Saka.


"Sesuai dugaan kita pak, Atikah dan timnya tidak sabar menunggu. Mereka terlalu gegabah." Saka membuka pembicaraan sesaat setelah mereka masuk ke dalam rumah.


"Hhm, pancingan kamu ke Sari waktu itu ternyata juga memancing emosi Atikah. Dia memakan umpan kita." sahut pak Lingga datar.


"Sekali kail dua ikan bisa kita atasi." Pak Lingga menatap ke arah Saka, "Apa itu juga bagian dari rencana mu Saka?" tanya pak Lingga dingin.


Saka terkejut mendapatkan pertanyaan itu dari pak Lingga. "Maksud bapak gimana, saya nggak ngerti?" tanyanya dengan sedikit gugup.


"Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dibelakangku Saka!" Pak Lingga masih menatap tajam padanya.


Saka gugup dan gemetar, ia lalu menundukkan kepalanya. Saka ketakutan.


"S-saya masih tidak mengerti maksud bapak?" 


"Saka, sebelum kamu aku izinkan ikut denganku aku sudah menyelidiki mu. Aku tahu siapa dirimu, aku membiarkanmu disisiku agar aku bisa memahami apa tujuan kamu mendekatiku." 


"B-bapak tahu itu … tentang apa?"


"Lita? Dia kerabatmu kan, aku sudah tahu sejak awal ketika kamu datang menolongku saat itu." 


Pak Lingga mengenang saat pertama kali ia bertemu dengan Saka, asisten kepercayaan nya. Wajahnya yang begitu mirip dengan Lita membuat pak Lingga tahu jika Saka adalah salah satu kerabatnya.


Saka menolong pak Lingga yang saat itu hampir saja menjadi korban tabrak lari. Sebenarnya tanpa bantuan Saka pun pak Lingga bisa mengatasinya, dia bukan orang sembarangan yang bisa terluka. He's immortal.


"Jadi bapak tahu tentang Lita?"


Pak Lingga tersenyum sinis, ia beralih menatap keluar dimana Sari dan timnya baru saja datang.


"Kita bicarakan ini lagi nanti, ingat jangan macam-macam denganku atau … kau, akan mati seperti halnya Atikah!"


"Atikah mati?"


Senyum iblis melengkung di sudut bibir pak Lingga. "Apa … kau juga mau menyusulnya?"


"Tidak pak, maafkan saya." Sahut Saka dengan menunduk. 


...----------------...


Sari dan ketiga rekannya turun dari mobil, ada yang hilang dari kebersamaan mereka. Tidak ada Rara diantara mereka.


Sari mengedarkan pandangan berharap ada sosok Rara yang muncul begitu saja dihadapan mereka. Tapi nihil, tak ada sosok Rara disana. Sari sedih.


"Kenapa Sar, berat bener pikiran Lo?! Mikir Rara?" Doni bertanya sambil membantu membawakan tas milik Sari.


"Iya Don, apa yang harus kita bilang ke pak Arya? Masa iya kita bilang Rara hilang trus jadi vampir? Bisa diketawain orang sekantor dewe Don, ndarani wong edyaaan!" sahut Sari bingung.


"Ya, kagak usah laporan lah! Ngapain juga, toh kan belum tentu juga Rara kagak balik Sar. Bisa jadi dia balik lagi sama kita, peluang itu masih ada?!" 


"Hhm, iya sih tapi … aku ragu hal itu, aku nggak yakin aja Don. Aku lihat masa depan Don, dan itu ngeri banget!" Sari menahan suaranya agar tidak terdengar Bagas Dan Ahmad.


"Eeh, lihat masa depan? Gila Lo ya, manusia nggak boleh menyentuh garis takdir Sar biarpun Lo bisa?!" Doni mengingatkan Sari.


"Kan aku cuma lihat, mana bisa aku merubah takdir Don! Impossible!"


"Terus Lo liat apa di sana? Masa depan Lo cerah, sukses, punya anak berapa ma Bagas? Terus gue gimana, dapet istri cantik kek model Lo kagak?!" Doni terus bertanya pada Sari mengabaikan sikap Sari yang mulai jengah dengan pertanyaan Doni.


"Ccck, berisik! Nyesel aku cerita sama kamu! Dah ah mau masuk!" Sari bergegas meninggalkan Doni yang terus memaksanya bicara.


"Sar, ayolah … bilang dong, kasih tau aku clue-nya dikit aja?! Come on … gue kan penasaran Sar?!"


"Bodo!" 


Sari kesal dan mengabaikan Doni, ia berhenti melangkah ketika melihat pak Lingga dan Saka yang telah duduk di dalam menanti mereka.


"Kalian udah sampai?" sambut pak Lingga.


"Belum, baru mau pergi lagi!" jawab Sari ketus. Ia masih kesal dengan tingkah Doni dan juga mimpi mengerikannya tadi.


Sari duduk dengan kasar di sofa dekat Saka duduk. "Mas Saka, si Rey ma Bram juga kabur nih? Lagian kalian ngapain sih bawa mereka kalo pada akhirnya mereka juga kabur nggak bantuin liputan!" 


"Ehm, semuanya terjadi diluar prediksi mba Sari." jawab Saka kalem, matanya melirik pada pak Lingga meminta bantuan untuk menjelaskan pada Sari.


"Ccck, suka bener buang-buang duit! Mubazir pak, sayang tuh duit dikeluarin buat mereka!"


Pak Lingga tersenyum, "Apa sesuatu terjadi? Kok bete bener kamu?!"


"Nggak!" jawab Sari singkat.


Bagas dan Ahmad bergabung bersama Sari. Doni segera mendekati Sari dengan ekspresi konyolnya, "Sar …"


"Bisa diem nggak ni, kalo nggak sandal melayang ni Don!"


"Yah, Lo sukanya PHP doang! Cerita setengah-setengah aja bikin penasaran!" Doni mengalah dan memilih duduk di sebelah Ahmad.


Bagas yang penasaran hanya menatap Sari meminta penjelasan. "Never mind beb, don't ask?!"


Sari memijat kepalanya yang pusing. Sejak mereka memutuskan untuk meliput Banyuwangi, Sari tak hentinya mendapatkan serangan. Berkali kali memasuki dimensi gaib, dan bahkan harus bermimpi aneh yang menguras tenaganya.


Pak Lingga tertawa kecil, itu membuat Saka terkejut. Selama menjadi asistennya Saka tidak pernah sedikitpun melihat pak Lingga tertawa. Dan Saka hanya bisa ikut tersenyum bahagia.


"Saya mau bicara dengan kalian, ini penting!" kata pak Lingga dengan serius.


Mereka yang ada di ruangan terdiam dan mulai memperhatikan pak Lingga.


"Situasi sepertinya ada diluar kendali kita. Maaf jika harus melibatkan kalian dalam masalah saya." 


Mereka masih diam dan mendengarkan apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pak Lingga. "Doni, saya tahu kamu paham dengan maksud perkataan saya. Boleh saya meminta bantuanmu?"


"Bantuan apa dulu ni pak?"


Pak Lingga menghela nafas berat, lalu menatap mereka yang ada di ruangan itu satu persatu. "Lindungi mereka yang ada disini, kita harus saling menjaga satu sama lain mulai sekarang. Dan untuk Sari, dia tanggung jawab saya."


Bagas yang bingung langsung menyela, "Tunggu pak, ini maksudnya apa ya? Melindungi dari apa, terus kenapa? Kok saya nangkepnya ada sesuatu yang mengerikan begini."


"Ini … menyangkut teman kalian Rara dan juga tim sialan yang saya bawa!" jawab pak Lingga dengan serius.


"Maksudnya, Atikah?" tanya Bagas lagi.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih bikin penasaran aja? Jelasin dengan singkat dan padat dong pak, jangan setengah-setengah!" Bagas tampak emosi.


"Beb, tenang dulu bisa? Biar aku yang jelasin." Kata Sari.


Sari menatap ke arah pak Lingga sejenak lalu melanjutkan perkataannya. "Rara sudah bergabung dengan musuh. Dia … sudah tidak mungkin kembali lagi seperti dulu ke kita."


Bagas mengerutkan keningnya, ia masih bingung. "Emang dia kenapa?"


"Ini sesuatu yang sulit diterima dengan akal sehat Gas."


"Try it, tell me what happened?!" pinta Bagas.


"Rara telah berubah dia … bukan manusia lagi Gas?"


"Eeh, mana mungkin Sar?! Jangan ngadi-Ngadi deh!" Bagas menolak perkataan Sari.


"Kalo bukan manusia terus jadi apa dia?" lanjut Bagas.


"Makhluk kegelapan. Teman kalian telah menjadi bagian dari kegelapan. Satu satunya cara untuk kembali menjadi manusia adalah memberikan penawar yang tersembunyi di suatu tempat."


"Penawar?"


"Itu juga kalo belum terlambat, kalo temen kalian sudah pernah mencicipi manisnya darah manusia, itu akan sulit."


"Apa?!" Bagas dan Ahmad berteriak bersamaan. Mereka berdua saling berpandangan.


"M-maksud pak Lingga … Rara jadi …," Ahmad gemetar hingga tak bisa melanjutkan perkataannya.


"Makhluk jejadian penyuka darah." jawab pak Lingga.


"Walah … Rara?! Lah kok koyok neng film-film barat to … Twilight Saga!" seru Ahmad yang kemudian melanjutkan perkataannya lagi dengan lemas 


"Wes jiiian apes tenan nek ngene Gas, ngalamat jomblo permanen aku! Tapi sing penting ojo mati gasik, jek Joko he!"