
Doni segera membereskan peralatannya, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Waktu berjalan begitu cepatnya.
"Mad, buru cepetan kita nyusul Bagas di Candi Tikus!" perintahnya pada Ahmad yang masih asyik menikmati suasana di taman yang terletak tak jauh dari mereka berada.
"Ccck, bentaran dikit Napa sih Don! Lagian belum sore sore amat lho ini. Gue pengen ngadem dimari dulu bentaran." Ahmad sedikit menggerutu sesudahnya.
"Bentar lagi kabutnya turun lho Mad, kasian si Bagas kalo harus take sendirian!" Doni mengingatkan.
"Si Bagas kan dah gede Don, ngapain khawatir sih!" Ahmad bersungut seraya bangun dari kenyamanannya duduk.
"Yaa, gue khawatir aja takut dia kenapa kenapa Mad! Dari suaranya aja tadi gue tahu dia lagi gelisah." sahut Doni yang telah siap membawa kameranya lagi.
Sejenak ia melirik ke arah bayangan yang mengintainya dari kejauhan. Doni menghitungnya, dan mencoba membuat garis batas pelindung diam-diam. Sebuah mantra dirapalkannya setelah jarak antara ia dan Ahmad dekat.
Doni tidak ingin kecolongan dan kehilangan Ahmad. Mantra turun temurun milik keluarga Doni telah membentuk kubah pelindung sementara.
Semoga ini aman sampai gue ketemu Bagas. Sar, Lo dimana? Gue takut ini bakal panjang urusannya!
Doni mencoba menghubungi Sari, tapi ponsel Sari tidak merespon. Ia melirik ke luar pelindung gaib yang dibuatnya.
Mereka ngikutin, ini artinya mereka memang sengaja cari masalah.
Doni kembali mencoba menghubungi Sari hasilnya tetap saja sama. "Duh, nona besar kemana sih! Teleponnya budeg kali yak kagak diangkat juga?!" Ia kembali menggerutu.
"Lo telepon Sari?" tanya Ahmad yang ikut mengeluarkan ponselnya.
"Iya, gue agak khawatir ma tu anak! Demen bener jalan-jalan ke dunia lain!" gerutu Doni yang kembali menghubungi Sari.
"Cckk, tulalit lagi!" sambung Doni lagi.
"Coba gue deh, makanya tu hp diremajakan jangan kek Lo yang bawaannya jadul Mulu!" ejek Ahmad seraya mendengarkan nada panggilan.
"Lagak Lo, kek hp Lo bagus aja!"
Doni memperhatikan Ahmad yang masih menunggu respon Sari, "Gimana?!"
"Sama Don, kemana ni anak! Calon imamnya butuh malah dia ngelayap!" Ahmad mulai terbawa emosi.
"Hhmm, diremajakan tu hp makanya!" sindir Doni mengulang kembali pernyataan Ahmad.
"Sialan, kena deh gue?!"
Pak Agus yang berjalan beriringan dengan mereka hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Mas Doni ma mas Ahmad udah kayak kucing sama tikus ya? Berantem terus!"
"Kalo nggak berantem belum sah pak, besok-besok juga dia kangen sama saya!" sahut Ahmad yang membuat hati Doni bergetar.
"Ngomong apaan sih Lo Mad, kangen … kangen, gue normal kali!" Doni berusaha mengindahkan kerlipan itu lagi.
Sumpah … rasanya gue pengen teriak denger Lo bilang gitu Mad! Bisa nggak sih Lo diem dan gak kasih petunjuk jelek gini?!
Doni rasanya ingin segera sampai ke lokasi Bagas berada. Jarak 600 meter yang membentang antara candi Bajang Ratu dan candi Tikus terasa begitu panjang dan lama baginya. Semua itu tak lain karena bad feeling yang ia rasakan.
"Masih jauh pak?!" tanya Doni pada pak Agus.
Doni memindai sekitarnya, beberapa bayangan itu masih mengintai dan mengikuti mereka.
Sayang kondisinya ramai kalo nggak udah gue sikat mereka!
Aura keemasan milik Doni menguat perlahan dari tubuhnya, memberi peringatan pada para pengintai untuk menjauh. Namun peringatan Doni seperti angin lalu saja bagi mereka.
Para pengintai itu tak peduli dengan kekuatan besar Doni yang mungkin saja bisa membinasakan mereka.
"Kita sampai mas." kata Pak Agus dengan senyuman mengembang.
Senyuman pak Agus yang semula mengembang di bawah kumis tipisnya seketika hilang ketika melihat Doni dengan aura angker sedang memperhatikan sekitar.
"Mas Doni … apa ada masalah?!"
Doni menatap tajam Pak Agus, ia baru menyadari jika pak Agus memiliki kekuatan supranatural juga.
"Nggak, nggak ada kok pak. Saya cuma … ehm, sedikit terganggu aja!" jawab Doni tanpa mengalihkan tatapannya ke pak Agus.
Pak Agus kini berganti mengedarkan pandangannya, apa yang dikatakan Doni mengusik dirinya.
"Sepertinya kita kedatangan tamu." jawab ringan tapi diselimuti misteri.
"Pak Agus tahu siapa mereka?"
Sebelum menjawab pak Agus tersenyum, "Saya tidak berani mengambil kesimpulan, tapi sepertinya mereka mengincar sesuatu?"
Sial! Gue beneran gedeg kalo gini! Lo dimana sih Sar!
Doni melihat cahaya merah yang menyilaukan mata berpijar lurus ke atas. Dan itu dari arah museum dimana Sari berada.
"Lintang kemukus? Kagak mungkin kan? Ini bahkan masih terlalu sore?!"
"Sepertinya bukan mas, itu kekuatan besar datang mas Doni, arahnya dari sana. Seseorang sedang menerima ilmu baru." Pak Agus setengah berbisik saat melihat ke arah Doni menatap.
Langit yang semula cerah perlahan mulai berubah. Senja mulai datang membawa aura mistis aneh bersamaan dengan turunnya kabut abadi.
Doni mulai mengkhawatirkan kondisi Bagas. Ia berusaha mencari dimana sahabatnya itu.
"Don?!" Bagas melambaikan tangannya dari kejauhan.
Ada rasa lega di hati Doni saat melihat sahabatnya itu. Ia bergegas mendekati Bagas.
"Sori, lama ya nunggu kita?" tanya Doni pada Bagas. Ia meletakkan kameranya tak jauh dari tripod penyangga kamera milik Bagas.
"Santai bro, kita kan dah bagi tugas. Biasanya juga gimana sih!" sahut Bagas yang tersenyum.
Di mata Doni senyuman Bagas bagai embun yang menenangkan hatinya. "Kabutnya dah mulai turun Don, padahal panas bener hawa disini." keluh Bagas dengan menyeka keringat di wajahnya.
"Hhm, kabut misterius." gumam Doni.
Aura gelap Semakin pekat dirasakan Doni. Para pengintai mulai mengikis jarak. Rupanya mereka menunggu waktu yang tepat.
Waktu dimana terjadi pergeseran energi yang besar antara siang menuju malam, dimana energi dunia ghaib memiliki kekuatan yang sama besarnya dengan dunia manusia.