
Mereka berdua menyusul Doni yang sedang asyik mengambil gambar dari kandang ternak warga lainnya.
"Disini juga mati Kang, gimana ini? Jumlahnya nggak seperti tahun kemarin, ini hampir tiap rumah ada yang mati!" kata salah satu warga desa dengan panik.
Kang Pur masih belum bereaksi, ia kembali memeriksa hewan ternak yang mati. Semuanya memiliki ciri yang sama. Kang Pur menghela nafas sejenak.
"Udah tenang, jangan panik! Segera siapin ritual tolak bala buat bersihin kampung kita!"
"Baik Kang!" Beberapa warga desa lantas pergi untuk memberitahu warga lainnya untuk menyiapkan ritual tumpeng Sewu dan upacara bersih desa.
"Kalau saya nggak salah dengar tahun lalu juga begini? Apa betul Kang?" Doni bertanya seraya berjongkok disebelah Kang Pur mengambil gambar hewan ternak yang mati.
"Iya mas Doni tahun lalu juga sempat begini tapi jumlahnya nggak sebanyak ini! Sepertinya saya harus menyiapkan sesaji lebih banyak."
"Menurut Kang Pur siapa pelakunya?"
Kang Pur terdiam, ia menatap kambing yang tak bernyawa di depannya lalu menjawab dengan berat.
"Entah mas, saya nggak bisa melihatnya dengan jelas. Tebakan perangkat desa lain kemungkinan hewan liar dari hutan sebelah, menurut tetua desa … mereka, para penghuni kegelapan."
"Penghuni kegelapan? Maksudnya?" tanya Doni penasaran.
"Konon kabarnya di hutan sebelah ada semacam tempat yang penghuninya adalah … makhluk jejadian, pada waktu tertentu mereka keluar dan memakan korban."
"Kan bisa jadi ini ulah kelelawar besar pak, atau mungkin …"
Belum juga Doni menyelesaikan perkataannya Kang Pur sudah memotong, "Bukan, mereka orang-orang terkutuk yang suka menghisap darah. Mereka bersekutu dengan jin dan merubah sisi manusianya."
Doni memperhatikan Kang Pur, wajahnya tampak tegang.
"Banaspati tanah liat, kalo dalam pemahaman saya Kang."
"Banaspati?"
"Iya, dia jenis yang suka menyerang manusia dan menghisap darahnya sampai habis. Hanya saja kenapa ini hewan ternak? Sungguh di luar kebiasaan." Bagas menjelaskan.
"Entah, hanya menebak. Tapi setahu gue kalo mereka tinggal di hutan bisa dipastikan itu jenis banaspati tanah liat."
"Siapa tahu lain daerah juga lain sebutannya Don." sahut Sari.
"Bisa jadi."
Sari melongok ke kandang sebentar, lalu melirik ke arah para penguntit.
Bisa jadi ini ulah binatang, tapi dengan keberadaan mereka disini … aku yakin mereka pelakunya!
Sari masih yakin dengan pendapatnya jika pelakunya adalah komplotan Atikah. Doni berusaha mementahkan pendapat Kang Pur dan Sari.
"Kejadian ini hampir mirip sama kasus di Tapanuli Utara, hewan ternak dimangsa dan darahnya juga terhisap habis. Tapi setelah diselidiki ternyata pelakunya binturong sejenis musang yang ukurannya memang jauh lebih besar dari musang pada umumnya."
"Hmm, mungkin saja mas Doni tapi … kejadian ini pasti berulang setiap tahunnya. Kami sudah mengintai dan berusaha mencari kebenarannya tapi setiap kami mengintai yang ada kami seperti kena sirep. Tau-tau besok paginya hewan ternak kami sudah mati." jelas Kang Pur.
"Don, kamu liat lubang di lehernya? Musang? Binturong? Nonsense! Itu sudah pasti …"
"Sari!" Doni mencegah Sari melanjutkan perkataannya.
Sari menyadari emosinya lalu ia terdiam, Bagas segera menariknya menjauhi Doni dan Kang Pur. "Mending kamu diem aja deh, biarlah mereka menduga duga sesuai keyakinan mereka Sar?!"
"Iya sih Gas, tapi kan … itu memang bukan seperti yang mereka kira!"
"Beb, tenang … sekarang gini, bukti kamu mana kalau pelakunya mereka? Video or saksi mata? Ada?" tanya Bagas beruntun.
"Yaaa, nggak ada sih?" Sari kecewa.
"See, jangan nuduh sembarangan biarpun mereka percaya hal klenik tapi ini sesuatu yang mereka percaya dari hutan sebelah so biarin aja. Jangan ganggu dan berusaha mengganti kepercayaan mereka."
Sari terdiam, Bagas benar ada baiknya menghormati kepercayaan dan adat-istiadat masing-masing daerah apalagi Sari dan yang lainnya hanyalah tamu.