Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 52


Lingga masih berdiri di tempatnya mengindahkan kehadiran Rey dan Bram yang masih menunggu nya untuk pergi. Ia bisa merasakan Lita. Dirinya dan Lita terkoneksi oleh ikatan gaib yang sengaja dibuat Lingga untuk melindungi Lita.


"Semoga kamu baik-baik saja disana? Untuk sementara aku yakin Airlangga tidak akan menyakitimu lebih jauh. Maafkan aku, Lita?!"


Lingga menoleh ke arah Rey dan Bram, senyuman tipis terangkat di sudut bibirnya. 


"Baiklah aku pergi dulu, jaga diri kalian!"


"Ehm, hampir lupa! Ingat, jika waktunya tiba sebaiknya kalian berdua menjauh dariku dan Sari! Itu jika … kalian masih ingin hidup!" katanya mengingatkan Rey dan Bram yang seketika pasi mendengar ancaman Lingga.


"Apa, menurutmu dia serius Bram?" tanya Rey ketika Lingga berjalan menjauhi mereka berdua.


"Kamu tau kan dia bagaimana, sepertinya dia serius Rey?!" 


"Menurutmu bagaimana? Lanjut atau …"


"Berhenti maksud kamu? Ehm, aku … entahlah?!" jawab Bram sedikit ragu.


Kematian Atikah yang begitu mudah di tangan Lingga secara otomatis menciutkan nyali mereka saat berhadapan dengan Lingga tapi bayangan setumpuk uang dan janji kejayaan yang ditawarkan pada mereka membuat keduanya menguatkan pendirian untuk tetap disisi Airlangga.


"Rey, jika Atikah saja bisa dikalahkan dengan mudah olehnya gimana kita?!"


"Kamu remehkan kemampuan aku? I can fight him!" sahut Rey dengan yakin.


(Aku bisa melawannya!)


"Ya … ya, aku percaya kamu punya kemampuan setara Atikah tapi jangan lupa Lingga memiliki kemampuan sama seperti Airlangga!"


Mereka terdiam sejenak dan menatap Lingga yang menghilang dalam gelapnya malam. Dalam hati keduanya mulai muncul keraguan yang cukup mengganjal. 


"Rey, sepertinya kita perlu memikirkan ulang rencana kita." ucap Bram dengan nada rendah.


"Why should we do that?" tanya Rey sedikit kesal karena Bram terus mengusik dirinya.


(kenapa kita harus melakukannya?)


Mereka saling berpandangan. Bram kemudian melanjutkan perkataannya, "Just think about that! Do you want us to die in vain?".


(Coba pikirkan tentang itu! Apa kamu mau kita mati sia-sia?)


Rey masih menatap Bram, ia setuju dengan Bram. "Entahlah, jadi … gimana baiknya  kita?"


"Lihat situasi, jika Lingga memang lebih bisa menguntungkan kita than we will fight with him and forget about the price?!"


(Kita akan bertarung dengannya dan lupakan hadiah itu?!)


Rey masih terdiam. Berpikir sejenak lalu menjawab. "Ok, kalau begitu kita sepakat! Jika situasi memang tidak menguntungkan, kita akan membantu Lingga!"


"Good, jadi kita tinggal menanti  hari itu tiba."


...----------------...


Saka gelisah dalam tidurnya. Sesekali ia mengerutkan kening keringat membasahi sekujur tubuhnya. Ia larut dalam kesedihan mendalam, kesedihan yang membuatnya mengalami mimpi buruk seumur hidupnya.


"Jangan … kak Lita, jangan kak …" gumamnya dalam tidur.


Saka terus dihantui Lita, bayangan kengerian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuat trauma mendalam bagi Saka.


Saka dibesarkan di panti asuhan milik sebuah yayasan yang dikelola oleh anak perusahaan milik Lingga. Saka tidak lagi memiliki orang tua lebih tepatnya, tidak ada yang mau menerimanya sebagai anak. Saka dibuang.


Ia ditemukan oleh salah satu warga desa tak jauh dari panti asuhan milik Lingga berada, panti asuhan Tunggadewi. Saka yang baru saja dilahirkan dibuang begitu saja oleh orang yang tak bertanggung jawab lengkap dengan ari-ari yang masih menempel di tubuhnya.


Warga setempat menyerahkan Saka ke pengurus panti dan tentu saja atas persetujuan Lingga sendiri. Ketika melihat bayi Saka untuk pertama kalinya, Lingga tahu mereka memiliki takdir yang menyatu. 


Takdir yang akan membawanya pada akhir dari keabadian. Lingga tersenyum saat menyentuh tangan kecil Saka saat itu.


"Akhirnya waktu menjawab doaku, meski aku harus menunggumu dewasa Saka."