
Sosok yang mengintai Sari menyeringai dari balik persembunyiannya. Aura Sari yang begitu kuat seolah memberikan sapaan perkenalan. Tidak … bukan perkenalan tapi ancaman untuknya.
"Jadi, dialah gadis dalam ramalan itu? Hmm, aku bisa mencium darah manisnya dirinya dari sini … Lingga kau sungguh beruntung mendapatkan gadis itu disisimu!"
Di sisi lain, Sari sengaja mengarahkan kameranya ke arah sosok hitam yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Ia penasaran berharap sosok itu bisa muncul di kamera sama seperti sosok hantu penari yang muncul saat syuting sintren di kediaman pak Koswara dulu.
"Coba kita lihat, apa kamu itu sadar kamera atau tidak?!" gumam Sari sendiri.
Bimasena muncul beserta yang lainnya. Sari cuek dan mengabaikan mereka. Ia masih asyik memancing sosok dalam gelap itu agar muncul menemuinya.
"Sar, perlukah kami melawannya?!" tanya Patih Bimasena serta terus memperhatikan sosok yang berani menantang tuannya.
"Hhm, kita tunggu apa maunya dulu Bimasena. Apa kamu tahu siapa dia?!" tanya Sari menurunkan kameranya karena sosok itu bandel dan tak mau menunjukkan dirinya.
"Sepertinya kawan lama dari Lingga. Dia, ancaman untukmu."
"Bener nih, lawan? Jangan salah lagi kek kemarin deteksi Airlangga!" gerutu Sari.
"Kami juga bisa melakukan kesalahan Sar, dia pintar memanipulasi pikiran kami. Airlangga memang kuat sekali." elak Bimasena.
"Halah, ngeles aja kamu. Kalian sama-sama kuat lho Patih kesayanganku … masa bisa kalah ma dia?" Ledek Sari tanpa melihat wajah Bimasena yang datar tanpa ekspresi.
"Jika di dunia kalian manusia juga bisa melakukan kesalahan apalagi kami yang berada di dunia lelembut." kata Bimasena mencoba membela dirinya lagi.
"Ccck, apa kata kamu deh! Bimasena, bisakah kita mendekati dia? Penasaran bener, siapa dia?!"
"Lebih baik jangan Sar, simpan energimu biar kami yang hadapi dia!" ujar Bimasena yang kemudian menghilang bersama ketiga penjaga Sari lainnya.
Yang bisa Sari lihat kemudian kelebatan cahaya dan energi yang menari nari dengan kuat dari balik candi Wringin Lawang. Para penjaga Sari tengah saling berhadapan dengan sosok hitam yang entah memiliki maksud apa.
****
Sari meninggalkan pelataran candi dan kembali bergabung bersama yang lainnya. Urusan sosok tak diundang itu ia serahkan pada Bimasena dan kawan-kawan.
Saka telah menyiapkan penginapan untuk tim tak jauh dari lokasi situs budaya. Sebuah homestay yang asri dan nyaman menjadi pilihannya untuk tempat beristirahat bersama tim Journey to the East.
"Kita akan beristirahat disini semalam sebelum besok mulai pengambilan gambar." ujar Saka pada Sari dan yang lainnya.
Saka hendak berlalu ketika Sari mencegahnya pergi."Dimana pak Lingga?"
"Beliau ada urusan sebentar, nanti juga akan bergabung dengan kita." jawab Saka enteng, ia hendak berlalu lagi ketika tangannya ditarik paksa Sari.
"Rey dan Bram, apa mereka tahu kita disini?"
Saka memiringkan kepalanya, "Kenapa mbak Sari nanya mereka?"
"Mereka tim kalian kan? Wajar kalo saya nanya, saya cuma memastikan mereka nggak akan ganggu jalannya liputan setelah kematian Atikah?!"
"Hhm, Atikah pimpinan mereka. Jika dia sudah mati maka keduanya juga akan pergi. Hanya saja … sebaiknya kalian perlu berhati-hati dengan mereka. Rey dan Bram bisa kembali kapan saja untuk menuntut balas." jawab Saka dengan senyum sinis.
"Kenapa senyum kamu gitu Saka? Saya curiga kamu justru bagian dari mereka!" Tebak Sari tiba-tiba yang membuat Saka melepaskan tangan Sari dengan paksa.
"Jangan sembarangan menuduh mbak Sari! Mereka tidak ada hubungannya dengan saya?!"
"Oh ya? Terus kenapa ekspresi kamu gitu, sepertinya kamu senang kalau mereka menyerang kami!"
Saka kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tuduhan mbak Sari tidak beralasan! Memangnya saya harus gimana masa senyum aja nggak boleh?!"
Sari diam dan menatap tajam Saka, tuduhannya bukan tanpa dasar. Sari melihatnya jauh ke hati terdalam Saka. Ada yang disembunyikan Saka, Sari hanya bisa merasakan kesedihan, amarah dan kecewa yang terpendam begitu lama.
"Maaf kalo saya salah, maaf juga karena sudah menuduh mas Saka sembarangan. Tapi … saya juga mau mengingatkan mas Saka, jangan main-main dengan nyawa orang atau … mas Saka akan berhadapan langsung dengan saya!"
Saka menatap dalam ke mata Sari, membuat dirinya bisa melihat bayangannya sendiri di mata cokelat milik Sari.
"Mbak Sari mengancam saya?! Lucu sekali, saya nggak punya kemampuan apa-apa jika dibandingkan dengan kalian jadi … ancaman mbak Sari tidak mendasar sama sekali!"
Mereka saling bertatapan sejenak sebelum ia berlalu begitu saja meninggalkan Sari.
"Yah … kamu benar Saka, kamu nggak punya kemampuan jika dibandingkan dengan kami tapi kamu memiliki hati yang hitam. Hati yang penuh amarah yang membuatmu jauh lebih berbahaya dari kami!" gumamnya sambil menatap punggung Saka menjauh.
Sari menghela nafas berat, pikirannya rumit. Dirinya harus berhadapan dengan banyak musuh kali ini.
"Apa aku sanggup menghadapi mereka semua?"
Ia terduduk di bangku teras dan menatap kelamnya malam yang menjelang. Meski malam baru saja merambat tapi bagi Sari itu sangat lama. Langit cerah dengan taburan bintang seharusnya tampak indah untuk dinikmati tapi untuk Sari terasa begitu menyedihkan.
"Firasatku buruk, rasanya ada yang aneh … tapi apa?" gumamnya sambil memejamkan mata, membiarkan suara binatang malam memasuki telinganya. Rasanya sunyi dan menenangkan.
"Sar …," suara Bagas menyapanya.
Sari membuka kedua matanya dan beralih menatap wajah tampan Bagas yang kini ada dihadapannya. "Hhmm …,"
"Kenapa, berat bener mikirnya?"
Sari tersenyum mencoba berbohong pada kekasih hatinya itu. "Nggak kok, capek aja."
"Kamu nggak bisa bohong dari aku Sar, tell me beb?"
Sari menatap setiap inci dari wajah tampan Bagas, berusaha membingkai wajah nya dengan teliti.
Kenapa aku sangat merindukan wajah ini? Apakah …, ah nggak ini cuma perasaanku aja!
"Hei, kenapa lagi kok ngelamun?" tanya Bagas lagi sambil menaikkan dagu Sari.
"No, I'm not!" elak Sari dengan senyuman berusaha mengabaikan kegelisahan hatinya.
Bagas tersenyum dan perlahan memberikan ciuman di sudut bibir Sari, ciuman yang hangat dan menuntut. Sari merasakan kerinduan yang begitu mendalam pada Bagas, ia hanya ingin menikmati ciuman hangat dan basah yg diberikan Bagas padanya. Dan sebuah gigitan kecil dari Bagas mengakhiri ciuman panas mereka.
"Aku disini untuk kamu, my love." bisik Bagas di telinga Sari.
"Thank you dear. Stay with me ok?!" pinta Sari dengan suara yang bergetar.
Bagas menatap Sari sejenak dan menangkap kegelisahan hati kekasihnya.
"Aku tahu kamu kuat dan bisa ngadepin ini! Ada Doni dan pak Lingga, jangan khawatir beb. Mereka bakal lindungin kamu."
"Kamu tahu tentang itu?"
Bagas mengangguk, "Pak Lingga cerita banyak kemarin. Kalo dia aja yakin kamu mampu maka aku yakin kamu pasti bisa."
Jari Bagas merapikan rambut Sari dan menyelipkannya di belakang telinga.
"You are my greatest female warrior...and I love it."
Sari tersenyum perkataan Bagas sedikit menghiburnya. Setidaknya ia punya alasan kuat untuk bertahan, ia harus bisa berjuang untuk melindungi lelaki yang amat dicintainya. Bagas.