
Doni dan pak Agus kewalahan menghadapi serangan makhluk-makhluk utusan Airlangga itu. Tubuh mereka mulai dipenuhi luka akibat cakaran dan juga gigitan. Makhluk setengah iblis itu memiliki kekuatan bertarung yang luar biasa meski tidak dilengkapi dengan senjata apa pun.
"Mas Doni … saya dah nggak kuat ini, mau sampai kapan kita berantem gini!" keluh Pak Agus disela kesibukannya menjamu tendangan dan cakaran kuku tajam makhluk setengah iblis itu.
"Sampai end story pak! Semangat pak, bayangin aja per kepala seratus ribu dah!" jawab Doni yang membabat habis dua makhluk di sisi kiri dan kanannya menghujamkan keris pusaka tepat di jantung keduanya.
Doni dan pak Agus hanya berharap ada keajaiban yang mampu menolong mereka.
Sar, tolong gue! Gue masih pengen hidup, pengen bahagiain emak gue dulu! Setidaknya gue pengen nikah dulu sebelum mati konyol begini!
Konsentrasi Doni mulai buyar, kelelahan yang teramat sangat mulai menderanya. Hingga tanpa ia sadari makhluk kegelapan dengan tubuh dua kali lebih lebih besar darinya mendekat dan menyerangnya dengan tiba-tiba. Menghadiahi Doni tiga buah cakaran di punggung, dada dan lengannya. Doni terkulai lemas di tanah.
"Mas Doni!" Pak Agus berteriak.
Doni menyerah. Ia tidak peduli lagi dengan hidupnya, ia pasrah membiarkan tubuhnya kembali mendapatkan cakaran dan pukulan. Matanya berkabut menatap ke arah kubah pelindung tempat Bagas dan Ahmad berada.
Ia melihat dengan samar ekspresi kekhawatiran Bagas dan Ahmad yang berteriak dari dalam kubah, memanggil nama Doni untuk segera bangun dan melawan. Doni tak mampu lagi melawan, darah segar keluar dari mulutnya.
"Maafin gue …," gumamnya lemas.
Sesaat kemudian ia hanya mendengar geraman suara yang ia kenali dari seekor maung. Doni memicingkan matanya sejenak, siluet maung besar melindunginya. Menghalaunya dari serangan makhluk yang berhasil membuatnya terluka parah.
Cahaya menyilaukan mata datang membutakan mata Doni. Ia sudah tak mampu lagi menahan matanya untuk terbuka, sekali lagi Doni terbatuk darah dan pingsan.
...----------------...
Sementara itu di dalam kubah sesaat setelah Doni pergi …,
Bagas dan Ahmad hanya bisa menatap punggung sahabatnya pergi. Doni tampak begitu gagah Di Mata keduanya. Ia berjalan bak kesatria menghampiri pak Agus.
"Kribo, kagak nyangka gue?! Lo beneran kek yang di film! You're such a gorgeous man!" ujar Ahmad tak lepas menatap sahabatnya.
Bagas tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun. Pikirannya tertuju pada Sari. Ia sangat mengkhawatirkan calon istrinya itu.
Sar, kamu dimana? Aku tahu kamu bisa menjaga dirimu dari hal seperti ini tapi aku tetap saja nggak mau lihat kamu terluka lagi kayak dulu.
Kabut tebal mulai menutupi kawasan Candi Tikus menambah aura mistis nan mencekam. Keduanya terdiam dalam kubah, menanti apa yang akan terjadi kemudian. Sepi dan tegang. Yang terdengar dalam kubah hanya detak jantung dan suara hembusan berat nafas keduanya.
"Mad, Lo liat sesuatu nggak sih?!" tanya Bagas gelisah memandang jauh keluar kubah.
"Kagak Gas, gue juga bingung ini yang mau dilawan siapa sih?! Kok serius bener tu mereka! Segala pake ancang-ancang begitu lagi?!" Ahmad masih belum bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Bagas diam, ia mulai merasakan pergerakan tak biasa diluar kubah. Matanya melihat sesosok bayangan yang berjalan menembus kabut abadi.
Tidak hanya satu tapi beberapa dan bahkan jumlahnya bertambah lagi ketika Doni dan pak Agus mulai menghabisi satu persatu dari makhluk jejadian itu. Bagas ngeri melihat seringai mereka dengan gigi tajam dan kuku hitamnya.
"Mad, lo liat mereka juga kan?!" tanya Bagas tanpa menoleh sedikitpun pada Ahmad.
Bagas tidak mendengar jawaban sedikitpun dari Ahmad membuatnya sedikit curiga, ia pun kembali bertanya.
"Mad, Lo … astagaaaaaa, Mad! Wooy sadar Mad!"
Bagas terkejut mendapati Ahmad yang ternyata sudah tergeletak.pingsan di sebelahnya.
"Mad, Mad … duh ni anak pake pingsan lagi! Pantes aja sepi ternyata dia dah ndelosor duluan!"
Bagas sibuk menyadarkan Ahmad yang pingsan karena melihat sosok makhluk jejadian yang menyerang Doni dan pak Agus. Dirinya shock, mendapati banyaknya makhluk yang siap menyerang sahabatnya itu.
Setelah sekian lama akhirnya Ahmad bisa disadarkan Bagas dengan susah payah.
"Gas, gue mimpi kan ini?! Serem bener sumpah tu demit!" ujar Ahmad lemah saat baru saja tersadar.
Bagas spontan menampar pipi Ahmad dengan keras, membuatnya mengaduh "Sakit?!"
"Gila Lo Gas, sakitlah! Pelan dikit kenapa sih!" gerutu Ahmad sambil mengelus pipinya yang memerah.
"Nah berarti Lo nggak ngimpi! Bangun gih, badan Lo bau pesing bener Mad bikin kepala gue pusing!"
"Ya maaf Gas, kan gue tadi kelepasan dikit saling takut nya." sahut Ahmad meraih tangan Bagas yang membantunya berdiri.
"Jiiiah, kelepasan dikit apaan banyak kali! Sampe celana gue ikutan kena juga, parah Lo!"
Ahmad cengengesan menyadari kekonyolan nya. Sejurus kemudian mereka berdua larut dalam pertarungan Doni dan Pak Agus melawan makhluk jejadian.
"Astaghfirullah … Gas, Doni! Ya Allah tu bocah ngapain coba Gas! Awas Don! Yaelah … malah ngobrol dia sama pak Agus!" Ahmad berteriak dari dalam kubah.
Tangannya bergerak menendang dan memukul ruang hampa mengikuti Doni dan pak Agus seolah ikut bertarung.
"Eh Onta, jangan bikin gue jantungan bisa?! Gila suara Lo kek geledek, keras bener!"
"Bodo ah, gue gemes sama Doni! Aduh gimana sih tu anak! Serang Don, bales …. Tendang, naaah bagus! Wiiih edyaaan Doni duwe keris Gas, sangar tenan cah iku!"
Ahmad tampak antusias memberi semangat pada sahabatnya meski sebenarnya suaranya bahkan tidak terdengar oleh Doni.
Hingga akhirnya Doni tumbang dan menyerah, keduanya berteriak secara spontan. Meminta Doni bertahan dan terus berjuang.
"Astaghfirullah, Don … Lo harus bangun Don, inget gue Bagas butuh Lo!" Ahmad panik begitu juga dengan Bagas.
Ya Ampun, Doni kalah?! Gimana ini, apa aku nekat aja keluar dari pelindung ini!