Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 85


"Sehebat apa pun kamu Sar, sekuat apa pun kekuatan kamu jika sudah berurusan dengan takdir tidak ada satupun makhluk yang bisa menyentuh dan mengubahnya."


"Hhm, kamu benar. Aku cuma sedikit … emosi?"


Bayu kembali mengembangkan senyumnya. "Pergilah berendam, segarin badan kamu setelah itu bermeditasi lah. Kamu perlu menyeimbangkan tubuh dengan kekuatan baru itu."


Bayu mendekati dan memeriksa leher Sari. "Racun itu sudah menyatu sempurna dengan tubuhmu. Penawar mungkin sudah tidak dibutuhkan lagi."


"Maksudnya?"


"Tubuhmu sudah bermutasi Sar, kedua racun itu ditambah dengan energi Kujang Siliwangi yang kamu miliki justru menjadi kekuatan baru dan itu menguntungkanmu."


"Hanya saja …,"


"Hanya apa nih? Kok saya curiga, kalo dah begitu nadanya?"


Bayu menatap Sari tajam, "Dalam tubuhmu ada dua hal yang bersemayam dan semuanya tergantung pada pilihanmu menjadi jahat mengikuti racun iblis atau menjadi baik."


"Apa aku juga akan menjadi seperti Lingga? Immortal." tanya Sari tiba-tiba pada Bayu.


Bayu seketika mengeluarkan kujang miliknya dan tanpa memberi peringatan ia menghujamkan kujangnya tepat di perut Sari.


"K-kamu …,"


 


Sari meringis kesakitan, darah menetes dari luka tusukan yang dibuat Bayu. Sari mundur beberapa langkah sambil menekan kuat lukanya.


"Kenapa kamu …," tanya Sari disela menahsn sakit.


"Lihat dan rasakan!" sahut Bayu tanpa ekspresi.


Sari mulai merasakan keanehan, nyeri hebat yang ia rasakan perlahan menghilang. Luka di perutnya kembali menutup tak berbekas. Sari menatap Bayu dengan rumit.


Sari menaikkan pakaiannya menampakkan kulit perutnya yang mulus dan tak sedikit pun ada luka disana.


"Sudah kuduga." Bayu tampak tidak terkejut.


"Apa … ada apa ini maksudnya?"


"Kenapa kamu gitu Bay, sakit tau nggak?" 


"Ini kenapa saya bisa begini? Apa badanku aneh atau gimana?"


Sari terus bertanya dan juga mengeluarkan sumpah serapahnya. Sementara Bayu hanya diam dan menunggu Sari berhenti bicara.


"Sudah selesai? Atau masih mau panjang lagi?" tanya Bayu.


"Badan kamu bisa meregenerasi sendiri, mungkin itu karena tubuh kamu telah bermutasi. Racun yang ditanamkan Lingga melawan racun dari Airlangga. Keduanya tanpa kamu sadari membentuk sel tubuh baru yang lebih kuat."


"Oooh, terus?"


Bayu menatap Sari, gadis cantik di depannya ini sepertinya memang belum menyadari perubahan tubuhnya menuju pada tahap menjadi kekal.


"Kamu, sedang dalam tahap menuju keabadian Sar."


"Oh begitu … eh, apa?! Abadi? Jangan bercanda Bayu?!"


"Sejak awal aku sudah bisa membacanya kemana arah Lingga meminta bantuan ke kamu. Dia akan melakukan pertukaran jiwa denganmu. Itu akan mengakhiri keabadiannya."


"Lho kok bisa gitu, pertukaran gimana ini? Si Lingga kan cuma butuh pedang Sengkayana itu, setelah itu bukan urusan saya lagi!"


"Apa dia sudah tahu jika pedang itu ada padamu?"


"Yaa, belum sih … aku sibuk nyelamatin Ahmad, jadi aku juga belum sempat kasih tau dia."


Bayu diam dan terlihat sedang mikirkan sesuatu. "Lingga menutupi maksudnya dari kamu. Jika sudah waktunya kamu harus memilih Sar, menggantikan posisinya atau … mengakhiri hidup mu."


"Eeh, ada pilihan C nggak? Kok nda enak bener duanya? Jangan nge-prank saya deh Bay, nggak lucu!"


Bayu hanya bisa tersenyum, Sari memang keras kepala perlu sebuah logika untuk menjelaskan padanya. Berdebat dengannya bukan pilihan tepat saat ini.


"Pergilah ke kolam obat sebelum kamu kehabisan energi."


Bayu berlalu meninggalkan Sari dan menghilang begitu saja. 


"Hhhm, untung ganteng coba kalo nggak! Main ninggalin gitu aja lagi, nggak sopan!"


Sari melangkah menuju ke dalam rumah Bayu. Ia sudah hafal dimana letak kolam obat itu. Dua orang abdi Bayu yang sama sudah menunggu Sari disana.


Sambil berendam Sari memikirkan perkataan Bayu. 


"Pertukaran jiwa? Apa maksudnya?"


Lingga menyembunyikan sesuatu dari Sari, dan Sari berpikir sesuatu sedang berjalan dengan tidak semestinya. 


"Aku berubah menjadi Immortal? Yang bener aja, tapi … kejadian kemarin itu gimana penjelasannya? Lukaku bisa sembuh sendiri, bahkan menutup sempurna."


Sari memejamkan matanya mencoba mengingat kejadian yang telah ia alami kemarin. Flashback yang menyakitkan untuk kembali diputar ulang tapi Sari sedang mencari jawaban.


Sari teringat sesuatu, ia membuka matanya. Pertarungannya dengan Airlangga mengingatkannya pada sesuatu.


"Jangan-jangan benar apa yang dibilang Airlangga, kalo Lingga menipuku?!"