
Sari mengikuti ketiga lelaki penjaga pusaka keramat itu. Pikirannya rumit membayangkan apa yang akan menjadi ujian selanjutnya.
Apa harus bertarung lagi? Kenapa harus selalu fisik padahal ujian otak kan juga bisa?!
"Kita udah jalan lama banget, apa masih jauh? Ini luasnya berapa hektar siih?" tanya Sari konyol, ia lelah harus terus berjalan dan menunduk karena tanaman liar yang masuk ke dalam keputren.
Salah satu dari lelaki itu melirik dan tersenyum pada Sari. "Sebentar lagi kita sampai."
Sari mendengus kasar, perasaannya mulai bergejolak. Pikirannya tertuju pada ketiga orang sahabatnya.
"Feeling ku jelek, ada apa ya? Apa karena kepikiran kata-kata makhluk jelek itu?"
Keadaan lorong yang temaram dan lembab membuat Sari sesak, bukan karena kehabisan nafas tapi ketakutannya pada tempat yang sempit dan gelap. Hal itu membuat pikirannya jauh pergi ke dunia nyata. Ia ingin segera keluar dari dimensi lelembut.
Tanpa ia sadari ketiga lelaki itu sudah berhenti di sebuah tempat yang luas. Sari yang kurang memperhatikan ke arah depan dengan sukses menabrak punggung salah satu dari ketiga lelaki itu.
"Aaaw … upss, sorry saya nggak liat kalo pada berhenti. Apa kita sudah sampai?" tanya Sari.
"Hhm, kita sudah sampai."
Ketiga lelaki tampan itu seolah membuka jalan bagi Sari, dan memberinya ruang untuk dapat melihat pusaka yang ia cari selama ini. Pedang Sengkayana.
Sari terbelalak, pusaka itu berputar lambat dan melayang tinggi di depannya. Pedang itu dilindungi oleh cahaya keemasan di sekitarnya.
"Wow … apa ini pedang itu?"
"Inilah pedang Sengkayana, pusaka yang direbut dengan licik oleh Damarwulan dari pemiliknya Minakjinggo."
"Saya belum paham, kenapa harus pedang ini? Kenapa nggak yang lain seperti kujang Siliwangi milik saya misalnya!" tanya Sari menyelidik.
"Kutukan sang prabu dibuat untuk para abdinya yang telah gagal melindungi Majapahit dari perang Bubat. Perang terkonyol dalam sejarah yang melibatkan cinta."
"Pedang ini diciptakan dari tanduk Kebo Marcuet yang memiliki kesaktian tak tertandingi. Sayang dia memberontak pada Majapahit dan berhasil dikalahkan Minak Jinggo yang dijanjikan akan menikahi ratu Kenconowungu."
"Hhmm, tapi sang ratu mengingkarinya dan malah memerintahkan untuk membunuh Minak Jinggo." sahut Sari yang mulai memahami.
"Betul sekali."
"Pedang Sengkayana sendiri telah memenggal kepala Adipati Blambangan, Minak Jinggo. Dan Damarwulan mendapatkannya dengan menggoda istri Minakjinggo."
"Kutukan sang Prabu karena cinta hanya bisa dimusnahkan dengan pusaka yang didalamnya mengalir darah pemilik terdahulu yang memberontak dan menderita karena cinta."
"Dan itu adalah takdirmu, sesuai ramalan Sari." Ketiganya bergantian memberikan penjelasan pada Sari.
"Karena hanya kamu wanita dengan empat penjaga, yang bisa melintasi dua dimensi, dan pemilik kekuatan hati."
"Tunggu, maksudnya apa yang terakhir? Kekuatan hati?"
"Cintamu pada kekasihmu begitu kuat meskipun kami telah memberikan ujian, begitu juga dengan tekadmu menolong temanmu Rara."
"Saat kamu melawan makhluk bayangan tadi kamu bahkan tidak membiarkan dirimu termakan rayuan iblis. Membiarkan sisi manusianya bekerja."
"Jadi … ujian ini bukan cuma fisik tapi …,"
"Ujian mental mu juga. Bahkan kamu melindungi para penjaga yang seharusnya melindungi tuannya."
"Oh jadi begitu, terus ujian selanjutnya apa? Nggak mungkin kan pusaka itu saya dapat dengan mudah?"
Ketiganya saling berpandangan dan tersenyum. "Silahkan kamu ambil pusaka itu jika kamu bisa."
Naaah kan bener, dari tadi dah curiga aja nih saya bawaannya! Mana mungkin dikasih gitu aja!
Ketiga pria itu mengambil posisi lalu membentuk lingkaran di udara kosong. Lama kelamaan udara kosong itu menciptakan dimensi lain, membuka portal baru. Lama kelamaan semakin membesar, lalu keluarlah ratusan pedang Sengkayana duplikat dari dalam portal.
Sari terkejut melihatnya. Ratusan pedang duplikat itu membaur dan ikut terbang melayang dengan yang asli. Berputar-putar kesana kemari meliuk-liuk seolah mengajak Sari menari bersamanya.
"Silahkan temukan yang asli dan segera keluar dari sini!"
Sari menatap tak percaya pada ketiganya.
Gila, gimana aku nemuin yang asli?! Tadi cuma lihat sebentar, mana mungkin aku ingat!
"Mendekatlah Sar, dan lihat dengan mata batinmu! Yang asli akan menuntunmu ke arahnya, menggodamu agar menggapainya."
Sari mengikuti petunjuk salah satu lelaki itu, ia mendekat lalu mengaktifkan mata tak biasanya. Namun, baru saja mendekat ratusan pedang itu menyerang Sari tanpa ampun menganggap Sari ancaman. Sari pun terkejut.
"Kenapa begini?" teriaknya kepada ketiga lelaki yang kini menjauh.
Sari disibukkan dengan serangan ratusan pedang, tidak ada jalan lain selain mengeluarkan pedang Sang prabu yang mengeluarkan aura kemerahan Ia terus melawan pedang yang tanpa henti menyapanya, dan mulai menggoreskan luka di tubuhnya.
Pedang - pedang itu memaksanya melenturkan tubuh dan ikut menari bersama mereka dalam alunan musik tanpa suara jelas. Hanya dentingan pedang duplikat yang beradu dengan pedang sang prabu.
"Cepat Sar, kamu harus bisa temukan yang asli! Nyawa temanmu sudah diujung tanduk!" seru salah satu pria yang berdiri.paling kiri.
Whaaat … damn it! Kalian menyiksa aku kalau begini caranya!